Little My Wife

Little My Wife
Tolong jaga dia dan jangan sakiti dia



Bab 55


.


.


Sore hari, Nasywa dan Victor mengantar Arina kebandara. Karna Arina memaksa pulang sore itu juga. Meski dilarang Nasywa namun Ibu satu anak itu tetap tidak mau.


Tiba dibandara, Arina segera turun diikuti Nasywa dan juga Victor.


"Jam terbang mama masih setengah jam lagi, Mama belum makan tadi bagaimana jika kita makan dulu ??" Ajak Nasywa.


"Itu ide bagus."tambah Victor.


"Tidak usah. Nasy, belikan mama Bakery itu.."tunjuk Arina.


"Ow.. Baiklah.."Nasywa segera melangkah.


"Biar Aku saja."Victor mencegah Nasywa.


"Tidak. Biar Nasywa saja."timpal Arina seraya menatap penuh arti pada Victor. Sadar akan ada sesuatu Victor akhirnya mengalah.


Nasywa segera melanjutkan langkahnya menuju toko roti didalam Bandara


"Aku tidak menyangka putri kecilku saat ini sudah menjadi seorang istri."Ucap Arina seraya tak melepas pandangannya pada Nasywa.


"Iya. Bahkan sewaktu aku tinggal diJakarta, dia masih sangat kecil."balas Victor.


"Kau tau Vic, awalnya aku benar-benar meragukan ketulusanmu. Mengingat kasusmu dulu."Ujar Arina.


Victor setia mendengarkan. Meski tak berbeda usia jauh, namun Arina tetaplah mertuanya.


"Tapi setelah apa yang kau lakukan demi bisa bersama Nasywa, aku jadi sangat yakin kau memang telah berubah."Tambah Arina.


"Victor.."Panggil Arina seraya mengarahkan tatapannya pada menantunya.


Victorpun membalas tatapan Arina. "Aku tidak pernah meminta apapun darimu. Aku akan membiarkan Nasywa disini mendampingimu, tapi aku mohon satu hal padamu, Tolong jaga dia dan jangan pernah sakiti dia. Aku benar-benar sangat takut putriku terluka seperti apa yang aku rasakan. Aku mulai percaya padamu, jadi aku harap kau jangan mengecewakan aku.."Terang Arina dengan tatapan penuh permohonan.


"Aku tau ketakutanmu kak..aku bisa faham semua itu. Aku juga tidak akan meyakinkanmu dengan ucapan, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan Nasywa. Menjaga dia dengan sepenuh hatiku. Dari dia hatiku bisa terbuka lagi setelah penyesalanku beberapa tahun lalu."Balas Victor yang juga penuh ketulusan.


Arina tersenyum lebar "Vic, kau lupa aku ini mertuamu.."


Victor langsung turut tersenyum seraya menunduk. "Maaf. Mama mertua.. Aku belum terbiasa."


"Iya.. Aku faham. Aku percayakan Nasywa padamu..dan biasakan memanggilku mama, karna Nasywa pasti akan protes padamu jika kau terus memanggilku kakak.."Timpal Arina dengan candaannya.


"Kakak.. Kau ini ngeyel sekali, Aku kan sudah bilang besok saja barengan sama Amara. Kok pulang sekarang sih ?? Kau tidak betah tinggal dirumahku ?? Rumahku kecil begitu ??" celoteh Ani seraya mendekati Arina dan Nasywa juga Victor.


"Bibi.. Kkenapa malah marah-marah.."Tegur Nasywa.


"Itu lenganmu kenapa An ?? Kok diperban ??" Tanya Arina yang tak menjawab celotehan Ani. Arina bisa melihat lengan Ani terbungkus perban.


"Oh ini. Aku tidak sengaja terjatuh diproyek."balas Ani.


"Lain kali hati-hati..kau ini selalu ceroboh."timpal Arina.


" Lagian kau ini kenapa sudah berangkat keproyek ??"tambah Victor.


"arsitek kita ganti Vic, Aku harus melihat bagaimana pekerjaannya."balas Ani.


Terdengar suara pemberitahuan keberangkatan tujuan Jakarta.


" nah sudah waktunya. Mama pulang dulu ya.."Arina memeluk Nasywa dengan erat.


"Mama.. Aku pasti merindukanmu.."Ucap Nasywa.


"Jika rindu kalian main saja kejakarta."balas Arina dengan candaan.


Selesai memeluk Nasywa beralih pada Ani. "Segera cari pasangan. Usiamu sudah tua. Nanti kalau Nasywa sudah punya anak kau akan dipanggil oma juga.."Goda Arina.


"Kakak.. Kau membuatku menjadi tua.." pprotes Ani.


Hal itu membuat semua tersenyum. Arina bersalaman dengan Victor. "Jika Nasywa nakal kau boleh menghukumnya. Dia milikmu sekarang. Tapi jika kau berani menyakitinya, aku tidak akan minta ijin untuk mengambilnya darimu."


"mama tenang saja.. Aku akan ingat semua itu."balas Victor.


"ha..ha..ha.. Beda 3 tahun kau memanggil kakakku mama"tawa Ani pecah seketika. Victor hanya ikut tersenyum saja.


"Memang harusnya kan begitu bik, Mama kan mamaku.."timpal Nasywa.


"sudah.. Sudah.. Mama berangkat ya.."Arina segera menarik koper miliknya dan berjalan masuk.


Lambaian tangan mengiringi Keberangkatana Arina.


.


.


.