
*
*
"Kamu yakin akan pergi sepagi ini?" Rama membawakan tas dan berbagai barang keperluan Kaysa begitu mobil kantor yang di kemudikan oleh Bram tiba saat hari masih gelap.
Banyak hal yang harus perempuan itu persiapkan di kantor, dan tidak bisa di rumah seperti biasanya.
"Yakin. Sudah aku bilang harus berangkat pagi-pagi kan?" Kaysa menjawab.
"Kenapa juga harus dengan mereka? Aku juga bisa mengantarmu." Pria itu menggerutu.
"Tidak apa-apa Papa, kebetulan mereka lewat."
"Hmm ..." Rama menggumam.
"Pagi Pak?" Manda turun untuk membukakan pintu belakang.
"Pagi. Kalian hanya berdua?" Rama menjawab dengan pertanyaan.
"Iya Pak." Manda menjawab.
Kemudian pria itu memasukkan barang-barang yang di bawanya ke dalam mobil.
"Baiklah, terima kasih. Aku pergi dulu ya?" Kaysa memeluk suaminya dengan erat seolah mereka akan berpisah untuk waktu yang lama.
"Iya, hati-hati." Rama membalas pelukannya tak kalah erat.
"Baiklah Papa, cukup. Manda dan Bram memperhatikan kita sekarang ini." Kaysa mencoba melepaskan diri, namun Rama menulikan pendengaran.
"Ram!" Dia mendorong pundak suaminya, dan membuat pria itu terkekeh.
"Kamu meliput lagi kan nanti siang?" Akhirnya Rama melepaskan rangkulannya.
"Iyalah, apa lagi? Itu tugas utamaku untuk saat ini."
"Hmm .. baiklah Bu."
"Oke."
"Sana, cepat pergi. Kalau tidak, nanti aku berubah pikiran."
"Baiklah, baik." Kaysa tertawa, kemudian segera masuk ke dalam mobil.
"Jangan lupa nanti makan dulu ya? Aku juga sudah menyiapkan pakaian untukmu. Awas kalau tidak kamu pakai?"
"Iya cerewet, sudah lebih dari tiga kali kamu mengatakannya."
"Habisnya nanti kamu tidak melakukan apa yang aku katakan."
"Kapan?"
"Nanti."
Rama hanya tersenyum.
"Sudah, sana berangkat. Sudah hampir pagi." Rama sedikit merunduk untuk melihat Bram di balik kemudi yang belum menggerakkan kendaraan roda empat itu.
"Baiklah, ayo berangkat!!" Kaysa berujar.
"Yakin sudah selesai pamitannya?" Bram memastikan.
"Sudah."
"Tidak mau ciuman dulu?" ucap pria itu lagi.
"Ish, apa sih kamu ini?" Kaysa menepun pundaknya dari belakang, namun membuat dua orang di depan tertawa cukup keras.
Bram kemudian melajukan mobilnya keluar dari pekarangan, diikuti oleh pria itu yang menutup pintu pagar setinggi orang dewasa itu.
***
"Sekarang aku mengerti kenapa dia tida suka ada orang lain di rumah." Bram nemulai percakapan.
"Apa?" Manda menyahut.
"Sebenarnya bukan suamimu, tapi kamu Kay." Pria itu tertawa terbahak-bahak.
"Jangan di bahas." Kaysa memilih untuk tak menanggapinya, meski kenyataannya apa yang di katakan oleh Bram itu ada benarnya juga.
"Iya kan?"
"Tidak ada hubunganya dengan pekerjaan kita, sudahlah. Aku bilang jangan di bahas.
Namun dua orang di depan tetap saja tertawa. Mereka tidak akan pernah lupa dengan apa yang terjadi pagi ini. Bayangan tentang Rama sebagai polisi galak pupus sudah. Kini mereka tidak merasa segan lagi seperti sebelumnya. Sesaat setelah membaca track record dari pria itu dan segala sepak terjangnya selama ini.
"Eh, tunggu, pelankan mobilnya!" Kaysa kembali menepuk pundak Bram sehingga dia memelankan laju mobil yang dia kendarai.
"Apa sih Kay?" Bram bereaksi.
"Sepertinya itu Alan." Kaysa menunjuk ke arah depan di mana serang pria mengendarai motor dengan santai.
"Mana?"
"Itu, jaket cokelat dan motor itu." tunjuknya lagi, dan dia tidak akan pernah lupa dengan sosok Alan.
"Kamu yakin?"
"Yakin sekali. Nomor polisinya, juga postur tubuhnya."
"Hmm ... benar-benar mereka itu ya, bisa di beli dengan uang!"
"Sudah rahasia umum!"
"Memang ...
"Kita lihat saja, jika dia masuk ke apartemen yang aku tahu, maka dia benar Alan."
"Kamu tahu tempatnya tinggal?"
"Tahu. Suamiku pernah mengatakannya dulu. Jadi, ikuti saja dia." ucap Kaysa.
"Ikuti?"
"Ya."
Lalu Bram menurutinya.
Dan benar saja, pengendara motor itu masuk ke area gedung apartemen tempat Alan tinggal.
"Nah kan, benar? Dia pasti Alan." Kaysa berujar.
Kaysa terdiam dan berpikir.
"Kalian, bawa ini semua ke kantor. Harus ada yang aku lakukan sebentar." tiba-tiba saja Kaysa berujar.
"Apa?"
"Mana, aku pinjam hoodie mu?" pintanya kepada Bram.
"Apa Kay?"
"Ish, kamu lelet." Perempuan itu menarik hoodie milik Bram yang tersampir di sandaran kursi, kemudian mengenakannya.
"Aku merasa harus menyelidiki sesuatu. Kalian duluanlah, nanti aku menyusul. Tolong persiapkan semua yang belum aku siapkan. Catatannya ada di dalam sini." Dia menepuk tas laptopnya, kemudian membuka pintu.
"Kamu mau ke mana Kay?" Manda mengikutinya dengan pandangan.
"Aku harus mendapatkan sesuatu untuk berita kita." Dia juga mengenakan masker untuk menutupi wajahnya.
"Jangan bilang kamu akan mengikuti Alan?" Bram pun ikut berbicara.
"Kamu sudah tahu." Kayss menjawab sambil mengenakan hoodie milik pria itu.
"Itu berbahaya Kay!"
"Tidak, aku hanya akan mencari tahu, setelah itu keluar."
"Tapi Kay, ..."
"Cepat pergi sana! Aku hanya sebentar. Hanya meyakinkan jika Alan memang masih bebas berkeliaran."
"Kamu tahu reputasinya seperti apa. Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadamu?"
"Tidak akan, aku hanya akan mengikutinha saja tanpa dia ketahui." ucap Kaysa lagi, dan dia bergegas memasuki gedung tersebut tanpa mengindahkan apa yang Bram katakan.
Kaysa segera memasuki lift begitu tiba di dalam gedung, bersama dengan beberapa orang yang di perkirakan adalah penghuni, dan dia berlagak seolah sebagai penghuni salah satu unitnya tanpa ada yang mencurigai.
Secara kebetulan, orang terakhir pun tiba, dan sosok yang tentu saja dia kenal masuk. Kaysa segera mundur ke sudut dan mengenakan kerudung hoodienya untuk menutupi kepalanya agar tak ada yang mengenali.
Kotak besi itu bergerak ke atas kemudian berhenti di lantai empat, dan Alan pun keluar ketika pintunya terbuka. Lalu Kaysa mengikutinya dari belakang.
Pria itu tampak berhenti ketika merasa seperti ada yang mengikuti, namun Kaysa segera menyadari, yang kemudian membuatnya berbelok ke lorong lain yang dia lewati.
Kaysa menunggu untuk beberapa saat hingga dia yakin jika Alan mungkin telah melanjutkan langkahnya, kemudian mengintip dari balik tembok. Dan pria itu memang tetap berjalan hingga dia tiba di depan sebuh unit.
Alan tampak membuka pintu kemudian masuk, lalu Kaysa segera berlari. Beruntung unit tersebut tidak terlalu jauh sehingga membuatnya dapat mencapai pintu yang belum tertutup rapat itu dengan cepat.
Kaysa menahan benda tersebut denga ujung sepatunya sehingga benda itu tetap terbuka, lalu dia mengintip dari celah tersebut.
Alan tampak masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup pintunya rapat-rapat.
Kaysa merasakan jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya, dan dia berpikir untuk berhenti sampai di sini. Namun nalurinya mengatakan jika dirinya pasti akan menemukan sesuatu. Yang membuatnya berniat melanjutkan penyelidikan meski rasa takut seketika menyerangnya.
Tapi sudah terlanjur sejauh ini, dan bukankah ada hal yang harus dia selesaikan ketika memutuskan untuk memulainya? Dan baginya, tak ada kata menyerah sebelum dia mendapatkan hasilnya.
Lalu dia menguatkan tekad, dan mendorong pintu itu sehingga terbuka lebar, kemudian menahnnya dengan tas kecil miliknya agar tidak tertutup.
Perempuan itu menyalakan ponsel, melakukan panggilan video kepada Bram yang mungkin sudah sampai di gedung CTNEWS. Dan benar saja, pria itu segera mejawab panggilan.
"Kay?" Wajah Bram terpampang di layar.
"Jangan bicara apa pun yang terjadi. Hanya rekam saja apa yang tengah aku selidiki." jawab Kaysa.
"Kamu masuk ke sana? Kamu gila!"
"Diam saja, dan lakukan apa yang aku katakan." lanjut perempuan itu seraya berjalan mengendap memasuki ruangan demi ruangan yang temaram itu.
Dia mendekati kamar, kemudian menempelkan telinganya ke pintu. Mendengarkan jika sesuatu sedang terjadi di dalamnya.
Hening.
Kaysa kemudian melanjutkan penyelidikan sambil sesekali menoleh ke arah pintu depan yang masih terbuka, dan memindai keadaan yang sepi.
Tidak ada yang mencurigakan, dan semuanya tampak normal-normal saja. Pantas polisi tak menemukan apa pun meski kabarnya mereka sudah menggeledah tempat itu. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah ponsel tergeletak begitu saja di atas bufet.
Kaysa berjalan mendekat, dan dia menatap benda tersebut untuk beberapa saat. Seingatnya Alan langsung masuk ke dalam kamarnya tadi tanpa meletakkan apa pun terlebih dahulu.
Dia memberanikan diri untuk mengambil benda pipih berukura 5,5 inci berwarna rosegold tersebut.
Ponsel berwarna rosegold milik seorang pria? hmm ... sepertinya aneh. batinnya, seraya menekan tombol on off di pinggirannya.
Tanpa di duga benda itu menyala, dan sesaat kemudian bola matanya terbelalak ketika dia menggeser layar dan sebuah wajah yang di kenalnya muncul.
"Livia?" gumamnya.
"Siapa kau? Sedang apa di sini?" Suara Alan menginterupsi, yang membuat Kaysa segera memasukkan benda di tangannya ke dalam saku hoodie.
"Siapa kau?" Alan mengulangi pertanyaan seraya mendekat.
Kaysa memutar tubuh, dan mendapati pria itu hanya berjarak dua meter di belakangnya, haya mengenakan joggerpants tanpa atasan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Alan lagi dengan raut curiga. Dia mencoba mengenali siapa sosok di depannya yang mengenakan hoodie dengan masker menutupi wajahnya. Tapi dia yakin jika itu adalah perempuan.
"Siapa kau?" teriaknya, dan dia berusaha meraih sosok Kaysa. Namun perempuan itu dengan sigap bergeser, kemudian berlari ke arah pintu.
Dia sudah meraih tas kecilnya dan hampir berlari keluar ketika Alan berhasil meraih tangannya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Mencuri hum?" Pria itu menriknya sehingga Kaysa mampu dia rengkuh, kemudian berusaha melepaskan penutup kepalanya.
Bukanlah Kaysa jika menyerah begitu saja. Dia berusaha sekuat tenanga melepaskan diri meski sulit, dan Alan pun tidak dengan mudah melepaskannya.
Namun instingnya seketika bekerja, ketika secara refleks dia menjejakkan kakinya, menginjak kaki Alan sehingga pria itu mengaduh dan melonggarkan cengkeraman.
Kaysa kemudian menggerakkan tangan dengan keras sehingga sikutnya bersarang di perut pria itu, dan membuat cengkeramannya terlepas. Dia kemudian menendangnya dengan keras sehingga Alan terhuyung ke samping, lalu dia menambahnya dengan beberapa pukulan mematikan. Membuat pria setinggi suaminya itu ambruk di lantai. Dan tanpa menunggu lama, Kaysa segera berlari keluar tanpa menoleh lagi.
*
*
*
Bersambung ...
Oh my, Mama Kay!!ππ
minta like komen sama hadiahnya dulu yang banyak!!
lope lope sekebon kormaππ