Kopassus And Me

Kopassus And Me
Rumah Tangga



*


*


Pergulatan terjadi ketika seorang tersangka melakukan perlawanan, saat mereka di giring untuk di masukkan ke dalam mobil tahanan dan akan di pindahkan ke penjara lainnya. Dia berusaha kabur dengan mengelabui anggota yang berjaga pada hampir dini hari itu.


Namun bukan Rama namanya jika dia membiarkannya begitu saja. Apa pun tak dapat menghentikannya sekalipun itu harus menghadapi hal yang lebih berbahaya.


Baku hantam terjadi untuk beberapa saat, dan orang itu bahkan mengeluarkan senjata yang di sembunyikan dari balik pakaiannya, yang entah dia dapat dari mana. Sebuah pisau belati yang kemudian dia sabetkan dan sedikit mengenai lengan Rama.


"Sial!" pria itu berteriak, namun tak melepaskan cengkeramannya.


Sebelah tangannya yang lain membekap leher pria tersebut, kemudian membalikkannya, membuatnya tertelungkup di tanah dengan lutut yang menahan punggungnya. Sementara kakinya yang lain menahan tangan yang memegangi pisau berukuran kecil tersebut.


Dua rekannya menghampiri setelah mengejar mereka sejauh puluhan meter. Membantu mengamankan tersangka yang kabur ini setelah memastikan tersangka yang lainnya aman di tempat semula.


"Lepas Ram, sudah kami pegangi." ucap Adam yang bersama Junno memegang kedua tangan pria itu dengan penuh kesiagaan.


Rama melonggarkan cengkeramannya, kemudian bangkit.


Adam menariknya, dan mereka menggiringnya untuk kembali ke mobil yang sudah di sediakan.


"Kau menghajarnya habis-habisan Ram." Junno menggelengkan kepalanya. Setelah memasukkannya ke dalam mobil khusus bersama tersangka lainnya.


"Masih beruntung tidak aku ledakan kepalanya. Melawan petugas, belum lagi dia melukaiku. Seharusnya satu atau dua peluru bersarang di kakinya tadi." Rama denga kesal, seraya membuka topi dan penutup wajahnya.


"Jika saja komandan tidak memperingakan kita untuk menangkap mereka hidup-hidup, aku akan membiarkan kau melakukannya." Adam berujar.


"Jangan bicara soal komandan saat ini, aku sedang kesal kepadanya." Rama mengetatkan rahangnya saat dia menekan lukanya yang lumayan terasa perih.


"Ada masalah apa dengan komandan?" Garin datang menghampiri, setelah memastikan para tahanan yang akan di pindahkan ke penjara dengan keamanan maksimum di suatu daerah itu aman di mobil.


Rama tak menjawab, namun raut wajahnya sungguh tak enak di lihat.


"Jangan katakan jika panggilannya menggagalkan malam pengantinmu?" rekannya itu berkelakar, membuat dua orang lainnya tertawa.


"Salahmu sendiri mendadak menikah, jadi tak dapat cuti, sementara tugas kita masih banyak." Junno menyela.


"Tidak ada hubungannya." Rama menjawab dengan gusar.


"Lantas apa?" junno menelisik.


Namun Rama tetap bungkam.


"Cepatlah, jangan terlalu banyak bicara. Kita selesaikan tugas malam ini, agar bisa cepat pulang. Anak dan istriku pasti merajuk karena aku meninggalkan mereka di saat liburan di pantai." Adam menginterupsi.


"Akan kubuat perhitungan dengannya jika Kaysa marah kepadaku." Rama bergumam, namun masih dapat Garin dengar dengan jelas. Dan hal itu membuatnya kembali tertawa.


"Ah, beruntung sekali aku masih lajang. Tidak ada yang akan protes kapanpun aku pergi." katanya, sedikit mengejek. Sementara Rama hanya memutar bola matanya.


Mereka di bagi ke dalam dua kelompok dan berada di dua mobil berbeda, masing-masing empat orang. Satu mobil berada di depan, dan satu mobil lainnya berada di belakang. Mengawal mobil khusus tahanan dari penjara semula menuju ke penjara khusus narapidana dengan kejahatan tingkat satu, dengan pengamanan maksimum.


*


*


Kaysa menyeka keringat di dahinya, setelah menyelesaikan pekerjaannya selama seharian ini. Membersihkan rumah yang sejak saat ini akan menjadi tempat dia dan Aslan tinggal bersama Rama. Menata ulang beberapa perabotan, membersihkan debu-debu yang menutupi permukaan sebagian barang yang tertata di sekeliling rumah. Menjadikannya lebih nyaman untuk di huni.


Rama memang benar, dia jarang membersihkannya sehingga membuat rumah tersebut tampak tak teratur. Memang tidak ada sampah sedikitpun, namun jelas tempat itu tidak terlalu terawat.


Sepertinya sejak kepergian Livia, Rama pun tak terlalu bersemangat manata rumah mereka.


Beberapa barang yang sudah tak layak Kaysa masukkan kedalam wadah, kemudian dia letakan di sisi lain rumah. Sementara barang yang lainnya dia benahi dan di bersihkan kembali.


Beberapa foto dia tata ulang. Foto keluarga, tampak sepasang pria dan wanita, mungkin orang tuanya Rama. Juga foto lainnya yang menampilkan suasana rumah itu pada jaman dulu.


Ada foto anak perempuan dengan penampilan yang lucu, dari mulai dia bayi hingga beranjak remaja. Sepertinya itu Livia. Kemudian foto anak laki-laki dengan situasi yang sama. Bayi, balita, anak-anak, remaja, hingga dewasa. Jelas sekali itu adalah Rama. Terakhir fotonya sendirian mengenakan seragam polisi namun dalam usia yang lebih muda. Sepertinya itu setelah kelulusan di akademi kepolisian.


Kaysa mendengus sambil memicingkan mata. Tiba-tiba saja dia merasa kesal, apa lagi teringat kejadian semalam ketika mereka gagal melewati malam pertama sebagai suami istri. Rasanya malu sekali.


"Ugh! dasar pria menyebalkan!" gerutunya, masih di depan foto yang menempel di dinding.


"Awas saja kalau kamu pulang nanti," tunjuknya pada foto tersebut.


"Mama aneh?" Aslan muncul di belakangnya.


"Apanya yang aneh?"


"Suka ngomel-ngomel sendiri, kemarin-kemarin di depan hape, sekarang di depan foto. Kenapa nggak waktu ada om Rama nya sekalian?" katanya.


"Orangnya juga tidak ada, ya di depan fotonya." jawab Kaysa yang melenggang ke arah dapur.


"Kalau ada nggak berani?" Aslan mengikutinya.


Kaysa tak menjawab.


"Mama udah masak belum? aku laper." ucap anak itu yang duduk di kursi makan.


"Belum. Tidak ada bahan masakan, mama kan belum belanja. Belum keluar rumah juga, jadi belum tahu tempat belanja di sekitar sini."


"Pesan online?"


"Alamatnya tidak tahu."


"Dari map aja mah."


"Nanti salah."


"Ah, mama banyak alasan!" protes Aslan.


"Eh, ... kok bilang begitu?"


"Habisnya aku laper."


"Iya nanti, kalau papamu datang, kita belanja. Sekarang mama buatkan mi instan ya? mau?"


"Papa?" Aslan mengerutkan dahi.


"Aku nggak mau sama papa, nanti ketemu tante galak." katanya, sepertinya dia salah faham.


"Bukan. Bukan papa Radit."


"Terus?"


"Papa Rama." kemudian Kaysa tertawa.


"Papa Rama?"


"Iya, masa panggil om terus? kan sudah menikah dengan mama?"


Aslan terdiam.


"Nggak mau ah, ... " katanya kemudian.


"Eh, Aslan?"


"Om Rama kan temen aku. Masa sama temen nyebutnya papa? kan aneh."


"Kan sudah menikah dengan mama, ya jadi papa kamu juga." Kaysa mengingatkan.


Aslan terdiam lagi.


"Mulai sekarang jangan panggil om lagi, tapi panggil papa. Atau ayah juga boleh."


"Ayah?"


Kaysa menganggukkan kepala.


"Aneh." anak itu turun dari kursinya.


"Aslan?"


"Pokoknya bikinin aku makanan, udah laper." ucapnya, yang melenggang ke ruang depan.


"Ish, ... anak itu!" Kaysa menggerutu, namun tak urung juga dia melakukan apa yang di minta oleh putranya.


***


Semangkuk mi kuah instan dengan toping telur rebus yang dia temukan di lemari penyimpanan makanan menjadi penghilang rasa lapar Aslan sore itu. Mereka benar-benar mengalami rumah tangga di awal pernikahan dari nol.


"Mama yakin nggak mau?" tawar Aslan sekali lagi.


"Tidak, roti dan kopi tadi masih ada di sini." perempuan itu menepuk perutnya sendiri.


"Ya udah, jangan salahin aku kalau nanti habis. Tapi nanti kalau Om Rama udah pulang mama masak ya? Soalnya kalau makan mi juga kenyangnya cuma sebentar." Aslan melanjutkan acara makannya dengan lahap. Menghabiskan makanan itu hingga di suapan terakhir.


Tak berapa lama, terdengar suara mesin berhenti di depan rumah mereka, dan keduanya sama-sama bergegas untuk melihat.


Tampak mobil hitam milik Rama yang sudah terparkir di depan teras, dan pria itu yang segera turun. Dengan wajah lelah dan penampilan berantakan.


"Om Rama!" Aslan segera membukakan pintu, dan menghambur ke arah luar.


Rama menyunggingkan senyum, seketika rasa lelah dan kantuknya menguap entah ke mana, mendapatkan sambutan dari penghuni baru di rumahnya.


Anak dan istrinya.


"Om kerjanya udah selesai?" Aslan dengan antusias.


"Sudah, makanya pulang." Rama menjawab, seraya mengedarkan pandangan ke dalam rumah. Mengharapkan sosok lain yang juga datang menyambutnya. Meski dirinya mengira mungkin itu tidak akan terjadi karena insiden semalam yang cukup memalukan bagi mereka.


"Kirain om pulangnya seminggu lagi?" mereka berjalan ke dalam rumah.


"Tidak, itu hanya sesekali." Rama berhenti sebentar di ambang pintu. Mendapati keadaan di dalam rumahnya yang tampak berbeda dsri sebelum dirinya pergi.


Sebagian perabotan sudah bertukar tempat, dan beberapa furnitur yang posisinya juga berpindah. Namun terasa lebih nyaman dan enak di lihat.


"Mama mu ..." baru saja pria itu akan bertanya, namun Kaysa sudah muncul.


"Aku bersihkan rumah, aku pindahkan beberapa barang." katanya, seraya menyodorkan cangkir keramik berisi air putih untuk Rama minum.


"Umm ...


"Duduk!" katanya, yang segera di turuti oleh pria itu. Dia duduk di sofa yang paling dekat dengan dirinya.


"Tidak apa-apa kan? habisnya aku bingung, seharian tidak ada yang bisa aku kerjakan." katanya, dengan nada datar.


Rama menerima cangkir berisi air itu, kemudian di teguknya hingga hampir habis, lalu dia serahkan kembali kepada Kaysa.


"Om semalam nangkep penjahat lagi?" Aslan bertanya.


"Ya, begitulah." pria itu menjawab.


"Tangannya luka kenapa?" Aslan menunjuk lengan yang di balut verban.


"Tidak apa-apa."


"Nggak apa-apa kok berdarah?"


"Hanya ...


"Sudah di obati?" Kaysa merangsek, kemudian duduk di sampingnya. Dia meraih tangan suaminya yang terluka. Tiba-tiba saja dia lupa dengan kekesalannya kepada pria itu.


"Sudah di jahit tadi di kinik markas." jawab Rama sambil menarik tangannya, merasa ngeri jika saja perempuan akan meyentuhnya.


"Oh, ... aku kira belum, tadinya mau aku obati." ucap Kaysa yang melepaskan tangannya.


"Tidak usah Kay, terimakasih."


"Hmm ...


"Baik. Mau aku siapkan airnya?" Kaysa menawarkan.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." tolaknya, dan dia melenggang ke dalam kamarnya.


***


Rama keluar setelah menyelesaikan urusannya. Keadaannya lebih segar dan lebih rapi, dengan kaus polos berwarna hitam dan celana panjang. Dia tampak berbeda dari biasanya.


"Mau makan?" Kaysa bertanya begitu dia berada di depan pintu.


"Tapi aku belum masak. Tidak ada bahan makanan yang bisa ku masak. Belum belanja juga karena aku tidak tahu tempat di sekitar sini." ucap Kaysa.


"Astaga! kenapa aku bisa sampai lupa? lalu kalian makan apa dari pagi?" Rama berjalan menghampiri mereka yag berada di ruang tengah.


"Mi instan," jawab Aslan. "Aku minta pesan online mama bilang nggak tahu alamatnya. Padahal kan ada di map ya?" katanya lagi.


"Hhh ... " pria itu menghela napas pelan. "Baiklah, tunggu sebentar." dia mengambil ponselnya.


Barang-barang keperluan tiba satu jam kemudian. Setelah Rama melakukan pemesanan lewat aplikasi online.


Beras dan bahan pokok lainnya, juga kebutuhan yang Kaysa pilih sendiri yang tidak pernah Rama tahu apa saja jenisnya.


"Banyak juga ya?" pria itu tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ini belum apa-apa pak." jawab perempuan itu yang membereskan belanjaannya di dapur. "Kalau aku beli semuanya, bisa pingsan kamu."


"Masa?" Rama tertawa.


"Iya, apalagi aku ini masih kesal. Ah, ... aku menyesal kenapa tadi tidak pesan semua sekalian saja ya?" Kaysa mengusak wajahnya sendiri.


"Mau balas dendam?" Rama mendekatinya.


"Begitulah."


"Maaf Kay, aku terbiasa merespon tugas dengan cepat. Jadi, ...


"Tidak usah di bahas! nanti aku jadi kesal lagi." sergah Kaysa yang kemudian mendelik.


Namun Rama tertawa, merasa lega karena apa yang dia perkirakan ternyata tidak terjadi. Akhirnya pria itu membantunya merapikan dapur mereka lagi dari barang belanjaan yang semula berserakan di meja makan.


"Aku tahunya jajanan Livia saja, yang lainnya dia yang atur." dia meletakan barang terakhir di lemari penyimpanan, kemudian duduk di kursi makan.


"Lalu setelah kepergian Livia, bagaimana hari-harimu?" Kaysa menyiapkan beberapa bahan makanan untuk dia masak.


"Biasa saja, hanya ... kesepian."


"Kalian sangat dekat ya?" perempuan itu mulai mengolah bahan makanannya. Beberapa potong ayam, satu jenis sayuran hijau, juga sedikit beras yang akan dia masak.


"Hmm ... saking dekatnya, sampai aku selalu tahu kalau dia sedang datang bulan. Tugasku membeli pembalut ke swalayan karena dia merasa malu. Seolah aku ini tidak." pria itu terkekeh.


"Dan kamu mau melakukannya?"


"Ya apa lagi? aku tidak punya pilihan."


"Uuhh, ... kakak yang baik." Kaysa mengusap pundaknya sambil tersenyum.


"Lalu kalau aku yang memintanya apa kamu bersedia melakukannya?" katanya lagi, yang kembali pada pekerjaannya.


"Melakukan apa?"


"Membelikan pembalut? seperti di novel-novel kan begitu? pemeran perempuannya tiba-tiba datang bulan, dan laki-lakinya terpaksa beli ke supermarket." dia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapi.


"Apa kamu sekarang sedang datang bulan?" Rama bertanya.


Kaysa terdiam sebentar.


"Tidak, hahaha ..." perempuan itu tertawa. "Aku hanya bertanya, pak." katanya.


"Ish, ... aku kira kamu datang bulan?" Rama tampak lega.


"Memangnya kenapa? baguslah kalau memang iya, kebetulan aku sudah pesan pembalutnya tadi sekalian." ucap Kaysa.


"Apa?"


"Ya bagus. Kalaupun tidak, belum tentu juga bisa itu ..."


"Bisa apa?" Rama menahan senyum.


"Sudahlah, jangan di bahas. Aku kesal lagi kalau ingat itu."


"Karena pernikahan kita dadakan Kay, jadi aku belum mendapatkan cuti. Ada beberapa tugas lagi yang ...


"Tugas lagi?" Kaysa setengah berteriak.


"Ee ... ya."


"Kalau begitu kenapa kita buru-buru menikah? kalau akhirnya seperti ini."


"Mm ... itu .. aku ...


"Kenapa tidak menunggu sampai tugasmu selesai dulu? kan tenang, dapat cuti, dan kita santai memulai rumah tangga ini."


Rama terdiam.


"Malam ini ada tugas lagi?" Kaysa kembali bertanya.


"Tidak tahu."


"Kamu bilang masih banyak tugas, jadi pasti ada kan?"


"Mungkin."


"Lagi pula, kenapa tugasnya harus malam-malam? apa tidak bisa di lakukan siang hari seperti pekerjaan normal lainnya?" perempuan itu mulai protes.


"Tidak bisa. Lagi pula pekerjaanku tidak senormal orang lain."


"Oh ya? lalu bagaimana?" Kaysa memutar tubuh, kemudian bersedekap.


"Pekerjaanku sangat rahasia, dan harus diam-diam."


"Aku tidak mengerti."


"Kami membereskan kasus-kasus besar yang tidak bisa di tangani oleh petugas lainnya. Atau terkadang kami menggantikan tugas pasukan lain yang tidak bisa mengerjakaannya karena satu alasan. Bisa karena masih menyelesaikan kasus lain, atau salah satu anggota mereka tidak bisa ikut."


"Pasukan? itu berarti kamu tidak bekerja sendirian?"


"Ya, ada tujuh anggota lain yang bergantung kepadaku. Karena aku yag memimpin misi. Jadi, jika aku tak bisa pergi, maka yang lainnya juga tidak akan pergi."


"Hmm ... apakah aku menikahi anggota pasukan khusus?" Kaysa mendekat kepadanya.


"Bisa di sebut begitu, Kay."


"Suamiku pemimpin pasuka khusus?"


"Ya,"


"Bukannya pasukan khusus itu angkatan darat ya? kamu kan polisi?"


"Itu yang kebanyakan orang tahu,"


"Jadi polisi juga bisa masuk pasukan khusus?"


"Secara teknis jelas tidak bisa."


"Lalu, bagaimana kamu bisa masuk?"


Rama terdiam lagi.


"Apa aku sedang berbicara dengan istriku, atau wartawan?" katanya, kemudian tertawa.


"Apa sih? aku kan pengangguran. Ya aku bertanya sebagai istrimu lah. Agar aku tahu dan faham dengan pekerjaan suamiku dan tidak akan merasa curiga." dia memutar bola matanya.


"Curiga soal apa?" Rama tergelak.


"Karena kamu lebih sering pergi tengah malam? atau sampai berhari-hari. Jangan sampai aku salah sangka ya?"


"Baiklah, Bu. Begitulah pekerjaanku. Mereka merekrut anggotaku dari beberapa kesatuan. Jadi kami semacam pasukan paling khusus dari yang khusus."


"Begitu ya?"


"Ya."


"Ah, aku pusing memikirkan pekerjaanmu." Kaysa kembali pada kegiatan masaknya.


"Makanya, cukup bertanya soal itu." Rama bangkit dari duduknya.


"Ya kan aku juga ingin tahu."


"Terlalu banyak tahu bisa berbahaya untukmu." Rama mendekati Kaysa.


"Tidak tahu apa-apa juga sama berbahayanya."


"Benarkah?" pria itu sudah berada di belakangnya.


Kedua tangannya merayap di pinggang Kaysa, dan tubuh mereka hampir merapat.


"Ya, aku pernah di posisi itu, dan membuatku seperti orang bodoh."


Rama terkekeh.


"Aku tidak akan melakukannya, Bu." dia melingkarkan kedua tangannya di perut Kaysa, sementara wajah mereka sudah begitu dekat.


"Benarkah?" perempuan itu menoleh, dan posisi seperti ini terasa mendebarkan bagi mereka.


"Hmm ... kamu bisa memegang kata-kataku." jawab Rama yang merasa tak bisa menahan diri.


Dia hampir saja meraih bibir menggoda milik Kaysa ketika Aslan terdengar berteriak.


"Mama!!" membuat keduanya segera menjauh.


"Apa?" Kaysa balas berteriak.


"Masakannya udah mateng? aku lapar lagi." bocah itu berlari ke ruang makan.


"Astaga, Aslan!"


"Kan udah aku bilang, makan mi kenyangnya cuma sebentar. Nggak kayak nasi."


"Alasan, dasar kamu gembul!" Kaysa dengan gemas, membuat Rama tertawa terbahak-bahak.


*


*


*


Bersambung ...


Terus mp nya mana? 🙄


kirim like komen sama hadiah dulu dong 😉