Kopassus And Me

Kopassus And Me
Polisi Garang



*


*


Rama meletakkan tiga cup minuman dingin di meja, yang di pesannya beberapa waktu yang lalu dari aplikasi online. Lalu dia mendatangi tempat di mana Kaysa dan dua rekan kerjanya tengah bercakap-cakap di pelataran gedung pengadilan.


"Hey, kenapa kamu di sini?" Perempuan itu menoleh saat suaminya duduk di kursi kosong di sampingnya.


"Hanya mau berpamitan. Sidangnya di tunda hingga minggu depan." Rama menjawab.


"Ditunda? kenapa? Karena keributan tadi?"


Rama menganggukkan kepala.


"Astaga! Jadi masalah ya?"


"Bukan aku, tapi mereka."


"Lalu bagaimana?"


"Tidak bagaimana-bagaimana, ya di tunda saja sampai minggu depan."


"Mereka mengulur waktu ya?" Kaysa menggeser dua cup minuman di dekatnya ke arah dua rekannya yang menyimak percakapan tersebut.


"Mungkin."


"Apa sih yang mereka mau dengan mengulur waktu seperti ini?" Perempuan itu menatap ke arah di mana dia melihat pihak Alan yang memasuki mobil mereka.


"Entahlah, mungkin hanya ingin melakukannya dengan santai." Rama terkekeh.


"Santai katamu? Masalah begini mana bisa santai? Kalau aku sih maunya cepat selesai. Bukanya malah berlama-lama seperti ini." Kaysa menyesap minuman miliknya.


"Harusnya."


"Apa mungkin ini bagian dari strategi?"


"Bisa ya, bisa tidak."


"Aneh sekali mereka itu? Buktinya kuat kok, lalu mau menunda untuk apa lagi? Kenapa tidak mengaku saja sih? Kan gampang."


"Tidak semudah itu Kay."


"Menurutku mudah, kalau mereka mau menerima keadaan, dan mengakui kesalahan. Apa susahnya mengaku salah, dan meminta maaf. Setelah itu bisa dengan mudah di putuskan soal hukumannya. Mungkin dengan begitu akan sedikit meringakan hukuman."


"Tapi mereka bukan kamu, yag akan dengan berlapang dada mengakui kesalahan. Mereka akan berkelit dan mencari celah agar hukuman menjadi seringan-ringannya, atau bahkan terbebas."


"Gila! Bukannya sudah banyak bukti? Dan saksi Ahli juga sudah memberikan keterangan?"


"Tidak ada pengaruhnya bagi mereka."


"Sangat tidak masuk akal." Kaysa menggelengkan kepala, dan dia kembali menyesap minumannya.


"Eh, ini untuk aku kan? Lupa." Kemudian dia tertawa sambil menggeser cup tersebut kepada suaminya.


"Minumlah, ini untukmu." Rama kembali menggesernya. "Apa kamu sudah makan?" Lalu dia bertanya.


"Sudah."


"Baiklah kalau begitu."


"Kamu mau langsung pulang?"


"Mungkin. Kamu sendiri?"


"Jam kerjaku masih lama Pak." Dia melihat jam di layar ponselnya, yang baru menunjukkan pukul dua siang.


Rama mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kamu mau wawancara dulu sebelum pulang dan aku kembali ke kantor?" Kaysa menyiapkan peralatannya.


"Tidak mau." Rama menolak.


"Lho? Kan sudah janji?"


"Janji apa?"


"Wawancara eksklusif?"


"Nanti sajalah di rumah." Pria itu kemudian bangkit.


"Di rumah?"


"Rama mengangguk lagi.


"Aku sampai rumah pasti sudah malam."


"Tidak apa-apa, wawancara malam juga bisa kan?" Satu sudut bibirnya sedikit tertarik.


"Humm?" Dan kening Kaysa sedikit berjengit.


"Telefon saja kalau mau pulang oke? Nanti aku jemput. Jangan pulang sendirian." Pria itu mengecup puncak kepalanya sambil mengusap perutnya sebentar. "Jangan bekerja terlalu keras, ingat anak kita." Dan dia berbisik.


"Umm, ..." Perempuan itu melirik kedua rekannya yang berusaha mengalihkan perhatian dari mereka dengan raut canggung. Namun Rama tampak tidak terganggu sama sekali.


"Pergi dulu Kay." Katanya, yang segera pergi tanpa menunggu jawaban.


Mereka terdiam untuk beberapa saat, kemudian salah satunya tertawa.


"Apa dia memang seperti itu?" Bram, sang kameraman menutup mulutnya untuk menahan tawa. Dia merasa ini merupakan hal yang sangat lucu.


"Umm, ... sebenarnya tidak. Tapi tadi itu ...


"Aku tahunya dia galak dari video yang aku lihat. Suka memukul dan menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Dari berita yang pernah aku baca juga dia nggak ramah. Ingat tidak dengan berita TV7 yang bilang kalau dia itu polisi bermasalah?" Manda menimpali.


"Eh, bukankah itu berita bikinan kamu ya waktu itu?"


"Hah? Masih ingat ya?"


"Ingatlah, itu berita yang cukup menggemparkan." Bram tertawa lagi.


"Jadi, setelah ini kita kembali ke kantor?" Manda menyela.


"Sepertinya iya, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan." Mereka membereskan kamera dan peralatan lainnya.


"Apa tidak sebaiknha kamu pulang dulu ke rumah?"


"Ke rumah? Untuk apa?" Kaysa mengerutkan dahi.


"Untuk mewawancarai suamimu. Tadi kan dia bilang begitu?"


"Iya, mungkin sebaiknya kita wawancarai dulu suamimu, agar semuanya selesai sekaligus. Setelah itu kita kembali ke kantor dan mengedit semuanya."


"Um, ... soal itu ...


"Ayolah, biar pekerjaan kita cepat selesai." Bram bersiap.


"Eee ... aku rasa kita tidak bisa melakukannya." Kaysa mengejar kedua rekannya yang sudah lebih dulu berjalan ke arah mobil.


"Kenapa? Bukannya kita memang membutuhkam keteranga suamimu ya? Sekalian aku mau lihat bagaimana kalau dia di rumah. Apa seperti tadi?" Bram tertawa lagi, mengingat kelakuan pria yang dia kenal sebagai polisi garang yang menjadi suami rekan kerjanya itu.


"Mm ... dia ...


"Kenapa?"


"Dia tidak suka kedatangan orang asing, jadi aku rasa itu tidak akan berhasil." Kaysa beralasan.


"Masa?"


"Serius, dia sulit berinteraksi denga orang yang tidak telalu di kenal. Dan aku yakin dia juga tidak akan bersedia jika kita wawancarai sekarang."


"Lalu bagaimana kita akan mendapatkan berita tentang suamimu?"


"Biar aku yang mewawancarainya sendiri nanti."


"Begitu?"


"Ya memang setiap kali wawancara juga begitu."


"Aih, ... wawancara secara pribadi ya?"


"Begitulah." Kaysa tergelak.


"Ah, tidak asik. Padahal kan aku mau lihat seperti apa polisi yang di kenal garang seperti Rama Hadinata itu kalau dia tidak sedang bertugas?" Manda sedikit kecewa.


"Tidak usah, nanti kamu kaget."


"Hah? Kaget kenapa?"


"Ya ... kaget saja."


"Dia memang seperti tadi ya kalau di rumah?" Manda menggodanya, sementara Bram tertawa dengan keras.


"Ish, aku tidak bisa membayangkan kalau memang iya dia semanis itu." Perempuan yang usianya terlihat lebih muda darinya itu menepuk kedua pipinya sendiri sambil tersenyum, membuat Kaysa menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Polisi garang tapi manis. Sepertinya kita harus membuat reality show yang berhubungan dengan itu? Pasti seru." Bram dengan ide briliannya.


"Haih, apa itu?"


"Bagus kan? Kita ajukan untuk pembuatam program baru. Aku yakin ratingnya akan bagus, apalagi kasus adiknya sedang naik lagi. Suamimu juga mulai di kenal orang sekarang."


"Wah, masa?"


"Tidak lihat di medsos ya? Orang-orang sering membahasnya, juga kasus adiknya itu. Kau tidak tahu seberapa hebat berita di dunia maya cepat menyebar."


"Aku tidak main medsos tahu?"


"Ish, ... main dong, biar up to date." Sahut Manda.


"Malas ah, aku sibuk."


"Sibuk sayang-sayangan ya? Hahahah ..." Dan ejekan itu terus berlangsung hingga mereka meninggalkan tempat itu untuk kembali ke kantor CTNEWS.


*


*


*


Bersambung ...


Upnya kesorean nih gaess, maklum dunia nyata emak riweuh. Tapi like komen sama hadiahnya tetap di tunggu ya.


lope lope sekebon korma. 😘😘