Kopassus And Me

Kopassus And Me
Masa Tenang



*


*


"Kenapa sih kita rumahnya pindah-pindah?" Mereka tiba di depan rumah peninggalan orang tua Rama.


Setelah berpikir beberapa hari dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Rama memutuskan untuk membawa kembali keluarga kecilnya ke rumah lama yang sudah dia miliki sejak remaja.


"Yang kemarin bukan rumah kita." Rama menurunkan tas berisi pakaian mereka.


"Terus kenapa kemarin kita tinggal di sana?" Aslan masih terus bertanya.


"Kenapa? Aslan tidak suka kita kembali ke sini? Rumahnya jelek ya? tidak sebagus yang kemarin?"


Anak itu terdiam.


"Yang kemarin bukan milik kita, itu milik negara yang sewaktu-waktu akan diambil lagi kalau papa sudah tidak bekerja. Sedangkan ini akan selamanya menjadi milik kita selama dijaga baik-baik." Rama berjongkok di depannya untuk mensejajarkan tinggi mereka.


Dia menatap wajah lugu anak sambungnya itu lekat-lekat.


"Ooo, ..." Aslan membulatkan mulutnya sehingga membentuk huruf O.


"Walaupun jelek, tapi ini milik kita sendiri." ucap Rama lagi, kemudian dia bangkit.


"Nggak ih, kata siapa jelek? aku kan cuma tanya." Aslan berjalan mendahuluinya masuk ke dalam rumah dengan riang.


Rama tersenyum lega.


"Mas Rama tinggal lagi di sini?" Seorang tetangga muncul di depan pagar, diikuti tetangga lainnya setelah beberapa saat mengawasi.


"Iya pak." Pria itu memutar tubuh.


"Kasusnya sudah selesai?" Mereka berjalan menghampirinya di pekarangan rumah.


"Belum, masih dalam proses penyelidikan."


"Akhirnya terungkap juga ya Mas? walaupun harus berjuang dulu?"


"Hmm, ... benar. Mungkin sudah waktunya." Rama mengamini.


"Tega ya Mas pelakunya? harus dapat hukuman yang berat itu."


Rama mengangguk-anggukkan kepala.


"Sekarang Mas sudah baikan?"


"Sudah, makanya kami memilih kembali pulang."


"Syukurlah, kita disini sempat was-was setelah mendengar berita itu. Nggak nyangka kalau itu Mas Rama sama Mbak Kay."


"Iya, memang tidak terduga."


"Tapi syukurlah semuanya sudah berakhir. Yang sabar Mas, Insya Alloh mereka akan mendapat balasan yang setimpal. Tapi mudah-mudahan sih lebih berat." Pria itu menepuk-nepuk pundak Rama untuk memberikan dukungan, sementara orang-orang di sekitarnya mengangguk-angguk.


"Terimakasih, doakan juga prosesnya agar cepat selesai dan tidak ada hambatan sama sekali."


"Pasti Mas, pasti. Bukan cuma doa, semua dukungan yang di perlukan akan kami berikan. Dan saya yakin satu negara juga begitu." Mereka kambali mengamini.


"Iya iya, sekali lagi terimakasih." Dan setelah itu, mereka pun membubarkan diri.


***


"Ya, baik nanti saya hubungi lagi ya? kami baru saja tiba di rumah dan belum sempat memikirkan soal itu." Kaysa mondar-mandir di ruang tengah dengan ponsel menempel di telinga.


Ini merupakan panggilan kelima sejak mereka tiba di rumah lama, dan berasal dari lima stasiun tivi yang berbeda. Yang ke semuanya memberikan penawaran terbaik baginya.


"Mereka masih menghubungi?" Rama muncul dengan dua gelas teh hangat yang dia letakan di meja. Kemudian duduk di sofa depan televisi yang menyala menayangkan berita.


"Sudah satu minggu lho, dan ini bahkan sudah malam. Tapi mereka menghubungi terus. Membuatku pusing." Kaysa menjatuhkan tubuhnya di samping Rama yang segera mengulurkan tangan untuk merangkulnya.


"Kamu terkenal ya sekarang?" Rama berujar, kemudian tertawa.


"Terkenal apanya? mereka hanya menawarkan pekerjaan, padahal dulu selalu menolak waktu aku mengajukan lamaran." Perempuan itu meletakan ponselnya di sudut sofa.


"Bagus dong? sekarang kamu adalah reporter paling di cari di Indonesia. Aku yakin mereka semua menyesal karena telah menolak lamaranmu dulu."


"Hah, bagus apanya? itu karena aku telah menjadi bagian dari para pahlawan yang telah mengungkap kasus paling menggemparkan di dunia. Coba kalau tidak?"


"Hum? kenapa?"


"Tidak mungkin mereka melirikku walau hanya sedikit."


"Benarkah?"


"Hmmm ..." Kaysa menganggukkan kepala.


"Mereka tidak tahu saja jika kemampuanmu memang sebaik itu." Rama menyandarkan kepalanya pada Kaysa.


"Memang, mereka hanya melihat dengan sebelah mata saja, makanya begitu."


"Apakah kamu tidak terpengaruh?"


"Soal apa?"


"Popularitas itu?"


"Tidak."


"Serius?"


"Iya."


"Kenapa bisa?"


"Karena itu akan surut seiring waktu. Kalau kita hanya mengandalkan popularitas, maka semuanya akan hilang dalam sekejap mata."


"Tapi itu menguntungkan bukan?"


"Memang, tapi tidak selamanya. Aku hanya ingin benar-benar bekerja tanpa memanfaatkan keuntungan itu. Tahu kenapa?" Kaysa mendongak.


"Kenapa?"


Rama tersenyum.


"Lagi pula, memangnya kamu mengijinkan jika aku bekerja di stasiun tivi?"


"Tentu." Rama meganggukkan kepala.


"Kenapa?"


"Bukankah itu mimpimu? apakah kamu tidak mau mengejar mimpi dan mewujudkannya?"


"Memang, tapi apa kamu tidak akan keberatan?"


"Tidak akan."


"Serius? nanti aku sibuk lho."


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Asal kamu bisa membagi waktu, apa lagi untuk Aslan, bagiku tidak masalah."


"Masa?"


"Aku serius."


"Nanti jangan menyesal ya? karena waktuku akan habis di luar rumah."


"Masa separah itu? memangnya mereka tidak punya aturan apa?"


"Ya kan siapa tahu?"


"Hmmm ..." Rama menghela napas pelan. "Kalau aku, terserah kamu saja. Mau di ambil atau tidak, selama kamu merasa nyaman dengan itu, lakukanlah. Aku tidak akan menghalangimu."


"Uuuhh, ... so sweet."


Rama tersenyum lagi.


"Senyummu bikin aku diabetes Pak." Kaysa menatap wajah suaminya lekat-lekat.


Sebelah tangannya menyentuh bekas luka di pelipisnya yang memanjang hingga ke kepala, bekas siksaan yang dia terima ketika menyelamatkan putranya.


"Kamu ngomong apa sih?" Pipi Rama segera memerah, dan hidungnya yang sedikit bergerak-gerak.


"Kamu lucu kalau sedang ke geeran." Kaysa kini menyentuh wajahnya yang telah di tumbuhi bulu-bulu halus dan kumis tipis yang menghiasi bagian atas bibirnya.


"Stop Kay, kamu membuatku berdebar-debar." Rama menarik tangan perempuan itu dari wajahnya.


"Baguskan? itu artinya kamu masih hidup."


"Hmm ... memang." Rama tergelak. Rasanya ini konyol sekali, dan perempuan itu memang mulai membuatnya merasa tak karuan.


"Kamu merindukan aku tidak?" Kaysa berucap, dan hal itu sukses membuat kening Rama berkerut dalam.


"Kenapa aku harus merindukanmu? kita kan selalu bersama-sama beberapa minggu ini?"


"Ish, kamu ini!" Perempuan itu menepuk dadanya dengan keras sehingga membuat Rama sedikit terbatuk.


"Kamu ini kenapa?" Namun dia tertawa seraya menggenggam tangan Kaysa yang bertumpu di dadanya.


"Dasar tidak peka!"


"Tidak peka soal apa? aku mengatakan yang sebenarnya. Kita memang selalu bersama-sama, jadi kenapa aku harus merindukanmu?" Pria itu menahan senyum, karena ekspresi perempuan ini begitu menggemaskan.


"Ah, terserahlah!" Kaysa hampir saja membalikkan tubuhnya ketika secara tiba-tiba Rama merangkulnya dari belakang.


"Tapi aku sangat merindukanmu!" katanya, dan dia memeluknya dengan erat.


Rama kemudian menariknya sehingga tubuh mereka merapat, dan dia segera membalikan posisi Kaysa seperti semula sehingga kini mereka berhadapan.


"Segitu saja kamu marah?" katanya, yang membingkai wajah perempuan itu.


"Habisnya kamu menyebalkan." Kaysa mulai merajuk.


"Iya, memang." Rama terkekeh.


"Ramm!!" Kaysa kembali menepuk dada suaminya.


"Iya Kay?" Pria itu kembali tergelak, dan dia segera membungkamnya dengan cumbuan yang dalam.


"Eh, Aslan?" Kaysa mendorong dadanya, lalu melihat ke belakang di mana pintu kamar putranya tertutup rapat.


"Dari tadi sepi. Mungkin dia tidur?" Rama juga menoleh ke belakang.


"Benarkah?"


"Aku rasa begitu." jawab Rama, kemudian mereka melanjutkan cumbuan.


"Mama belum masak ya? aku lapar." namun nyatanya anak itu keluar dari dapur dengan segelas air putih di tangannya. Mengejutkan dua orang dewasa itu yang tengah bercumbu mesra. Sehingga keduanya segera melepaskan pertautan bibir mereka.


"Bukannya sudah beli tadi ya?" Rama menoleh setelah mereka saling menjauh.


"Udah habis aku makan barusan, Hehe, ..." Aslan dengan cengiran khasnya.


"Hah, serius?" Kaysa bereaksi.


"Iya, habisnya aku lapar." Anak itu duduk di tengah-tengah mereka.


"Astaga Aslan!" Sang ibu menggelengkan kepala.


*


*


*


Bersambung ...


Ah Aslan, makin nggemesin deh, apa lagi papanya 😂😂