Kopassus And Me

Kopassus And Me
Alasan



*


*


"Stop Ram, aku lelah." Kaysa menahan dada pria itu yang kembali merapat kepadanya, setelah pergumulan panas mereka terulang kembali beberapa saat sebelumnya.


Ini sudah lewat tengah malam namun Rama tampaknya belum puas mengerjainya. Dia masih berusaha mengulanginya lagi dan lagi. Walau sempat mendapat penolakan, namun pria itu mampu menguasainya, dan membuat Kaysa kembali pasrah di bawah kendalinya.


Pria itu tergelak, tapi Kaysa benar juga. Mungkin dirinya sudah kelewatan kali ini.


"Baiklah, ..." Rama mengusap kepalanya, lalu mengecup pelipisnya yang agak berkeringat sisa percintaan mereka. Kemudian dia membiarkannya tertidur, sama seperti dirinya yang juga merebahkan tubuhnya di samping Kaysa, seraya memeluk tubuh telanjangnya di bawah selimut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kaysa merasakan hawa yang cukup dingin menerpa kulitnya, membuatnya membuka mata meski rasanya berat. Ruangan itu masih temaram, namun dia tahu jika hari sudah pagi. Terlihat cahaya terang di balik tirai yang masih tertutup rapat.


Belum lagi Rama yang sudah tak berada di tempatnya tidur semalam. Sepertinya pria itu sudah terbangun lebih dulu.


"Oh, ... astaga." gumamnya sambil memegangi kepalanya yang terasa pening.


Perlahan dia terbangun dan merasakan tubuhnya yang seolah remuk seperti habis di amuk banteng.


"Ya Tuhan, aku kira dia tak seganas itu." dia menyugar rambut panjangnya yang berantakan, kemudian terkikik pelan.


"Bujangan konon?" katanya lagi seraya bangkit dan duduk di tepi ranjang.


"Hhh, ... hari-harimu akan sangat sibuk Kay." dia merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal dan kaku, kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dia keluar setelah beberapa saat, dan mendapati rumah yang sepi. Suaminya tidak ada di sana seperti biasanya. Tapi mobilnya masih ada di pekarangan, mungkin dia pergi ke suatu tempat?


Tapi Kaysa mendengar suara percakapan di samping, dan dia sangat hafal jika itu suara milik Rama.


"Eh, Mbak Kay? selamat pagi?" sapa perempuan paruh baya di balik pagar samping rumah mereka.


Kaysa mengangguk sambil tersenyum, namun dia tidak berniat untuk mendekat.


Rama menoleh, dan dia juga tersenyum kepadanya. Lalu dia melanjutkan latihan tinjunya.


"Aslan belum bangun mbak? hari ini belum lihat?" Fatma bertanya.


"Tidak ada, kemarin di jemput papanya." mau tidak mau Kaysa menjawab pertanyaannya.


"Papanya?" perempuan itu mengerutkan dahi.


"Iya, mantan suami saya." Kaysa memperjelas jawabannya.


"Oo, ..." Fatma mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Rumahnya jadi ramai lagi ya Mas Rama? coba dari dulu."


Rama hanya tersenyum.


"Setelah Livia pergi semuanya sepi. Rumah ibu juga. Anak-anak juga biasanya suka ngumpul di rumah kalau ada Livia, tapi sekarang mereka asyik dengan urusannya sendiri-sendiri."


"Iya bu."


"Tapi kalau sekarang pasti ramai lagi, apa lagi kalau Aslan sudah punya adik."


Pria itu berhenti sejenak, kemudian menoleh lagi ke arah Kaysa yang tertegun di tempatnya berdiri.


"Ya, Mbak Kay?" Fatma beralih lagi kepada Kaysa.


"Umm, ... hehe." perempuan itu hanya tertawa.


"Ah, ... jadi ke asyikan ngobrol kan? padahal ibu lagi masak." Fatma pun tertawa, kemudian berpamitan untuk kembali ke dalam rumahnya.


***


"Kamu sudah lama tinggal di sini?" Kaysa memilih untuk duduk di kursi malas tak jauh dari suaminya yang masih asyik dengan latihannya.


Meski keringat sudah membasahi sebagian besar tubuhnya, namun Rama tampaknya belum mau berhenti. Samsak menjadi benda sepadan untuk melatih kekuatan kaki dan tangannya.


"Sejak lulus SD." pria itu menjawab.


"Pantas."


"Apa?"


"Kamu akrab dengan tetangga sebelah. Apa dengan penghuni lainnya juga begitu?" perempuan itu menyesap teh hangat yang di buatnya beberapa menit yang lalu.


"Hanya dengan bu Fatma, dengan yang lain tidak terlalu." jawab Rama.


"Kenapa?"


"Dia tetangga yang paling dekat. Dan lagi, dulu komplek ini masih sepi, penghuninya masih tinggal berjauhan. Tidak sepadat sekarang."


"Oh ya?"


"Ya."


"Lalu, sebelumnya kamu tinggal di mana?"


"Di Bandung."


"Bandung?"


"Iya, orang tuaku orang Bandung."


"Terus kenapa kalian pindah ke Jakarta?"


"Karena pekerjaan ayah."


"Oh, ..." Kaysa mengangguk-anggukkan kepalanya.


Rama kemudian berhenti, dia mundur mendekat kepada Kaysa dan duduk di sampingnya.


"Mau minum?" perempuan itu menyodorkan botol minum kepadanya, yang langsung di terima oleh Rama. Dia segera menggaknya hingga habis setengahnya.


"Tumben tidak lari ke GBK? biasanya kamu lari? kan lagi cuti?" Kaysa kembali berbicara.


Rama terkekeh pelan dengan napasnya yang masih tersengal-sengal.


"Jauh, nanti aku harus meninggalkanmu sendirian di rumah."


"Biasanya juga begitu, apa lagi kalau ada Aslan."


"Selain karena ingin mengajak Aslan, juga sebagai alasan saja." Rama menyandarkan kepalanya pada tembok rumahnya.


"Alasan untuk apa?" Kaysa memiringkan tubuhnya.


"Alasan untuk bertemu denganmu." pria itu mengulum senyum.


"Apa?"


Kemudian dia tergelak.


"Dasar."


"Kalau tidak begitu aku tidak punya alasan lain untuk bertemu denganmu, tahu?" Rama mengacungkan tangannya yang masih berbalut sarung tinju kepada Kaysa.


"Modusmu itu ...


"Kalau tidak begitu kita tidak akan menikah." pria itu menumbuk pelan punggung Kaysa, kemudian tertawa.


"Haha, ... benar juga. Pintar sekali kamu ini ya?" Kaysa mencondongkan tubuhnya ke arah Rama.


"Tentu saja, aku." pria itu menggendikkan bahunya dengan bangga, lalu bangkit menegakkan tubuhnya.


"Benar sekali, bapak Rama." Kaysa tertawa pelan.


"Begitulah, ... bu Kaysa, bukankah itu bagus?" Rama tersenyum lagi seraya mendekatkan wajahnya.


"Iya, benar-benar bagus."


"Aku lapar Kay, apa kamu sudah masak?" katanya dengan suara pelan.


"Belum, bahan makanannya sudah habis. Kita harus belanja lagi."


"Baru kemarin?"


"Kan sudah aku bilang itu baru sebagian."


"Hmm ...


"Yang lain?" wajah mereka mendekat hingga hanya tersisa beberapa senti saja.


"Apa?"


"Sarapannya?"


"Tidak ada."


"Kalau ini bagaimana?" pria itu menarik wakmjah Kaysa dan bibir mereka hampir saja saling menempel, namun panggilan dari balik pagar menginterupsi.


"Mas Rama sama Mbak Kay mau cicipi rendang buatan ibu nggak?" katanya yang menyembulkan kepalanya dari pagar setinggi dada orang dewasa itu. Membuat dua sejoli yang hampir saja bercumbu itu saling menjauh.


"Umm, ...


"Jadi ingat Livia lagi kan, dia paling girang kalau ibu masak ini." ucap perempuan itu lagi.


"Mbak Kay belum masak kan?" lalu dia bertanya.


"Ya sudah, ini rendangnya. Wadahnya nanti aja ibu ambil." katanya, menyodorkan sebuah mangkuk keramik hingga akhirnya Kaysa menerimanya.


"Terimakasih."


"Iya, selamat makan ya? ibu tinggal lagi ke dalam ya?" katanya, yang kemudian pergi.


Pasangan itu sama-sama terdiam, kemudian mereka tertawa.


***


"Ingat ucapannya bu Fatma aku jadi berpikir." keduanya duduk di sofa depan televisi. Setelah menghabiskan makanan pemberian tetangga mereka di tambah makanan sisa semalam yang masih mereka miliki.


"Apa?"


"Soal adiknya Aslan."


"Hum? ingin cepat memberi adik untuk Aslan? ayo, aku siap." Rama mencondongkan tubuhnya ke arah Kaysa, dan dengan riang hampir saja melepaskan kausnya yang sudah dia ganti selepas mandi tadi.


"Bukan itu, ..." Kaysa menahan pria itu, lalu menarik pakaiannya kembali. "Kenapa sih kamu jadi begini? padahal dulu judesnya minta ampun!" protesnya dengan perasaan gemas.


"Eee, ... karena kamu Kay," jawabnya.


"Hah, pandai sekali kamu menyalahkan orang ya?"


"Tidak, itu memang benar." Rama menariknya hingga mereka tetap berdekatan. Sementara Kaysa mencoba untuk melepaskan diri.


"Stop, stop! aku mau bicara dulu." dia mendorong dada suaminya agar menjauh.


"Bicara saja." Rama tanpa melepaskan rangkulan tangannya.


"Tapi jangan seperti ini, ugh!" Kaysa mulai merasa kesal karena pria ini tak mau melepaskannya. Namun Rama hanya tertawa dengan gemasnya.


"Baiklah, cepat bicara. Sebelum aku berubah pikiran." ucap Rama yang akhirnya mengalah dan melepaskannya.


"Soal tadi yang bu Fatma bilang." Kaysa kembali memulai percakapan.


"Ya, soal adik untuk Aslan?"


Kaysa menganggukkan kepala.


"Kan ini sedang proses, kita baru menikah beberapa hari, tidak mungkin langsung jadi kan?" Rama menahan senyum.


"Bukan itu pak."


"Lalu apa yang mau kamu bicarakan?"


"Apa kamu ingin segera punya anak?"


"Um, ... tidak terlalu juga, tapi kalau itu terjadi sekarang-sekarang ini bagus kan?"


"Tapi tidak harus secepat itu?"


"Tidak, aku santai kok."


"Serius?"


"Iya."


"Baiklah, kalau begitu aku lega."


"Maksudnya?" Rama menjengit.


"Kalau misalnya aku bermaksud menunda kehamilan, apa boleh?" Kaysa menjelaskan maksudnya yang sejak tadi dia pikirkan.


Rama tampak berpikir sejenak.


"Kenapa? apa ada masalah?"


"Tidak, aku baik-baik saja."


"Lantas?"


"Aku ingin fokus mengurus Aslan dulu. Seperti yang kamu ketahui jika keadaannya sekarang ini belum benar-benar pulih. Aku takut perhatianku nantinya akan terbagi dan malah mengabaikan Aslan." Kaysa mengutarakan apa yang menjadi kekhawatirannya.


"Tidak terpikirkan sebelumnya?" Rama merespon.


"Aku juga baru berpikir setelah bu Fatma berbicara tadi. Dan aku rasa kita harus menunda untuk punya anak dulu."


Rama terdiam.


"Bolehkah? setidaknya sampai Aslan benar-benar pulih, tidak seperti sekarang ini. Aku tidak mau dia merasa di abaikan nantinya. Kasihan."


"Aku janji, setelah Aslan pulih kita bisa merencanakan lagi untuk punya anak."


Pria itu belum menjawab.


"Ram?" Kaysa menyentuh tangannya.


"Jadi kita akan pasang alat kb?" dia akhirnya menanggapi.


"Sepertinya begitu."


"Apa tidak terlambat? seharusnya itu di pikirkan sebelum kita menikah ya?" pria itu terkekeh.


"Sudah ku bilang itu juga baru terpikirkan hari ini."


Rama mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jadi bagaimana?" Kaysa bertanya lagi.


"Apa?"


"Soal menunda anak?"


Rama terdiam lagi.


"Rama, ...


"Ya baiklah, terserah padamu." akhirnya dia menjawab.


"Benarkah?"


"Ya. Aku rasa kamu benar. Saat ini Aslan harus menjadi prioritas utama. Mengingat kondisinya yang tidak begitu baik. Kita bisa menunggu untuk adik-adiknya." Rama tertawa.


"Serius?"


Pria itu mengangguk. "Aku rasa menunda satu atau dua tahun tidak apa-apa."


"Tidak selama itu juga." sergah Kaysa. "Bisa saja Aslan pulih dalam beberapa bulan kan?"


"Yeah, ... kamu benar. Baiklah." ucap Rama.


"Aaaa, ... kamu baik sekali, terimakasih." Kaysa merangkul pundaknya, kemudian mencium pipinya. "Kamu memang paling mengerti." katanya, sekalian memeluknya.


"Umm, ... tapi ...


"Kalau begitu, sebentar lagi ke dokter ya, untuk pasang kb?" ucap Kaysa dan dia bermaksud melepaskan rangkulannya.


"Sebentar lagi?"


"Iya, harus secepatnya. Aku khawatir nanti terlambat."


"Terlambat?"


"Akunya terlanjur hamil. Kamu kan ...


Rama menyeringai.


"Boleh, tapi sebelum itu ...


"Tidak!" Kaysa mengerti arti seringaian itu. Membuatnya segera bangkit dan menjauh.


"Kay?"


"Tidak mau." tolaknya.


"Sebentar saja."


"Tidak! sebelum pasang kb, aku tidak mau melakukannya."


"Tapi, ...


"Pokoknya aku mau pasang kb dulu!" perempuan itu berlari ke kamar, lalu mengunci pintunya.


"Hah, ... dasar. Alasan." Rama bergumam.


*


*


*


Bersambung ...


Ngebet amat pak? 🙄🙄


like komen hadiah dan votenya ya, biar kang korma makin semangat.


lope lope sekebon korma 😘😘