
*
*
Rama mengenakan pakaian terbaiknya pagi itu, upacara penerimaan kenaikan pangkat sudah di mulai di aula utama markas besar pasukan khusus tempatnya bernaung sejak dia di nyatakan lulus sebagai anggota Pasukan Hantu.
Beberapa pihak turut hadir untuk menyaksikan acara tersebut termasuk para perwira dan komandan yang menjadi atasannya. Juga rekan-rekannya di kesatuan yang di undang secara khusus untuk menyaksikan perhelatan tersebut.
Rama berjalan dengan gagah sementara Junno turut pula di sampingnya. Meski cedera masih terlihat, namun tidak mengurangi aura kebanggaan mereka.
Semua prosesi sudah di laksanakan, dan kini waktunya penyerahan tanda kepangkatan yang akan di lakukan oleh petinggi TNI dan POLRI.
Pada formalitasnya, Rama mendapatkan kenaikan pangkat satu tingkat di kepolisian untuk keberhasilan misi yang dia jalankan bersama timnya, begitu juga dengan Junno.
KAPOLRI memasangkan tanda pangkat berupa tiga balok warna emas di pundaknya sebagai bentuk penghargaan atas apa yang telah di lakukannya. Sementara Junno mendapatkan tambahan satu bintang yang di pasangkan oleh Jenderal tertinggi Tentara Nasional Indonesia.
Mereka juga mendapatkan piagam dan kompensasi dalam bentuk jaminan kehidupan yang tidak terbayangkan nilainya. Begitupun enam rekan lainnya yang mendapatkan hadiah sama.
"Aku harap setelah ini semangatmu semakin tinggi dalam menjalankan tugas." Fandi menepuk pundak bawahannya.
"Siap Pak."
"Jangan berhenti di sini karena negara akan selalu membutuhkan pengabdianmu."
"Siap Pak."
"Resikonya mungkin sangat besar tapi jangan jadikan itu sebagai beban. Karena kami semua mengandalkanmu."
"Siap!"
Prosesi pun berakhir, dan seluruh tamu yang hadir segera membubarkan diri. Kecuali rekan-rekannya yang masih merasakan euforia keberhasilan dari dua rekan mereka yang menjadi ujung tombak di setiap misi yang mereka jalankan.
"Selamat Pak, kau membuat kami bangga telah berada di bawah kepemimpinanmu." Garin menepuk punggung rekan satu kesatuannya tersebut.
Rama meresponnya dengan senyuman.
"Kau juga Jun, kenekatanmu membawa kami pada titik ini." mereka semua tertawa.
"Tapi hati-hati, karena ibu negara sudah memperingatkan. Kau di larang cedera, apa lagi kalau sampai menghilang seperti kemarin." Adam menambahkan, membuat rekan-rekannya tertawa, bersamaan dengan Kaysa yang berjalan menghampiri mereka.
Perempuan itu tampak cantik dalam balutan pakaian resminya. Seragam Bhayangkari berwarna merah muda yang membuatnya tampak anggun. Dengan rambut hitamnya yang di tata rapi, sementara Aslan di sampingnya mengenakan stelan berdasi kupu-kupu.
Rama terdiam menatapnya untuk beberapa saat.
"Umm, ... kami ... pamit Ram." Adam menyadari situasi yang mulai hening itu. Dia juga menarik rekan-rekannya untuk mundur dan meninggalkan pasangan ini untuk berinteraksi.
"Ehm, ...iya." Rama berdeham. "Terimakasih kalian sudah hadir." katanya, seraya meredam debaran di dadanya.
"Baiklah, sampai bertemu di misi selanjutnya." Garin kembali menepuk punggungnya.
"Selamat Pak." Kaysa tersenyum seraya memberikan penghormatan kepadanya.
Rama hanya menjawabnya dengan senyuman, namun dia berjalan mendekat.
"Apakah setelah ini kamu akan jadi lebih sibuk lagi?" Perempuan itu bertanya.
"Mungkin." Rama berhenti ketika jarak mereka hampir menghilang.
Dan tak dapat terelakan lagi, kedua tangannya segera merangkul pinggang perempuan itu. Menariknya ke pelukan dan mendekapnya dengan erat.
"Ini bukan di rumah, tahu?" Kaysa berbisik.
"Aku tidak peduli." Rama terkekeh.
"Malu."
"Malu kepada siapa?"
"Atasan dan rekan-rekanmu."
"Mereka akan mengerti."
"Tapi, ..." Kaysa berusaha mendorong dada suaminya.
"Diamlah, ...
"Pelukannya diteruskan nanti di rumah saja Pak. Kasihan yang jomblo memperhatikan."
"Setiap hari para jomblo juga meperhatikan."
"Benarkah? bagaimana bisa?"
"Itu, pembaca. Kamu pikir mereka semua punya pasangan?" Rama menarik kepalanya.
"Ish, ... kalau itu tidak usah di bahas." kemudian mereka tertawa.
Rama merasakan ujung seragamnya di tatik-tarik. Dan pada saat dia menunduk Aslan menengadah ke arahnya.
"Udah Om peluk-peluknya, aku mau pulang." bocah itu menginterupsi.
Pria itu terkekeh lalu melepaskan rangkulan tangannya dari Kaysa.
"Kamu lucu sekali!" dia mengusap puncak kepala Aslan kemudian mencubit pipi tembem anak sambungnya itu.
"Aku nggak lagi ngelawak Om, tapi mau pulang." Aslan mengusap-usap pipinya yang memerah.
"Baiklah kalau maumu begitu." Rama meraih tangan istri dan anaknya.
"Tidak mau pergi ke mana dulu?" tawarnya sambil berjalan.
"Tidak usah, cederamu belum pulih benar." Kaysa mengeratkan genggaman tangannya.
"Baiklah, ...
"Mending latihan tinju lagi Om, biar kuat." Aslan menyahut.
"Kuat untuk apa?"
"Kuat lawan penjahat."
"Kamu benar, Aslan." Kaysa menutup mulutnya sambil tertawa.
"Om sudah kuat, tidak tahu ya?" Rama menjawab.
"Tapi tertangkap? di pukulin lagi?" Aslan mencibir.
"Mereka banyakan." Rama membela diri.
"Kalau gitu Om harus lebih kuat lagi biar bisa lawan mereka yang banyakan." Aslan terus menjawabnya.
Membuat pria itu tak bisa lagi berkata-kata selain tersenyum sambil menggelengkan kepala. Sementara Kaysa hanya terus tertawa.
***
"Jadi setelah ini kita tidak sebebas dulu ya?" mereka dalam perjalanan kembali ke rumah baru di sisi lain kota.
"Begitulah, ...
"Kerja apa?"
"Mencari berita."
"Kamu masih mau bekerja? mungkin kegiatanmu setelah ini akan bertambah."
"Kegiatan apa?"
"Kamu tahu, sebagai istri polisi kegiatanmu akan bertambah di komunitas. Akan ada banyak agenda yang harus kamu ikuti, dan itu bisa mengisi waktumu."
"Apa harus?"
"Setidaknya untuk kegiatan inti kamu harus ikut. Selain agar kamu kenal dengan istri-istri polisi lainnya, juga agar kamu tahu bagaimana menghadapi beberapa hal."
"Humm, ...
"Kebebasanmu tidak akan hilang hanya karena kamu masuk komunitas itu, jangan khawatir."
"Ya ya ya, ... seperti sekarang ini bukan?" Kaysa melihat ke depan dan belakang mobil mereka yang di kawal dua mobil hitam berpengamanan ketat.
Masing-masing berisi dua prajurit yang siaga setiap waktu ketika di butuhkan atau untuk menjaga keamanan dan memastikan keselamatan mereka.
Rama hanya tertawa.
"Eh, tunggu!" Kaysa menjeda tawa suaminya.
"Sepertinya aku kenal dengan motor itu." Dia menunjuk ke arah depan di mana seorang pria mengendarai motor dengan tenang.
"Siapa?" Rama mengikuti arah telunjuknya.
"Bukankah itu Alan?"
"Hum ...
"Dia tidak di undang ke acara tadi ya?"
"Tidak, hanya petugas khusus yang di undang."
"Oh, ... pantas." Kaysa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Eh, tapi sekarang dia bertugas di mana?" dia kemudian bertanya.
"Entahlah, terakhir dia di divisi humas. Setelah menyelesaikan skorsingnya karena aku." Rama sedikit terkekeh mengingat sepak terjangnya dulu.
"Tapi dia sering keluar di jam kerja ya?"
"Entahlah, mungkin."
Namun Rama mengerutkan dahi ketika melihat pria yang merupakan rekannya di kantor dulu sebelum masuk ke pasukan khusus seperti sekarang itu membelokkan motornya ke arah lain.
Yang seingatnya merupakan jalan menuju salah satu pemakaman umum terbesar di Jakarta.
"Ada yang meninggal ya?" Rama bergumam sendiri.
"Apa?"
"Sepertinya dia mau ke makam."
"Benarkah?"
"Berhenti!" Rama berteriak kepada sopir di depan.
"Maaf Pak?"
"Bisa berhenti, dan kita kembali ke sana?" pintanya.
"Maksud Bapak?" Sopir memelankan laju kendaraannya.
"Kembali ke jalan tadi dan mampir ke pemakaman?"
"Bapak mau ke makam?" pendamping di depan bertanya.
"Ya."
"Untuk apa Ram?" Kaysa menginterupsi.
"Aku baru ingat belum pernah membawamu ke makam keluargaku." pria itu berucap.
Kemudian ke tiga mobil itu berputar arah untuk kembali setelah pendamping menginformasikan pada dua mobil pengawalnya.
Mereka memasuki area pemakaman besar yang sepi itu. Suasananya terasa hening dan sendu meski berada di area ramai kegiatan penduduk.
"Tidak ada yang meninggal?" Kaysa mencari sosok yang di kenalnya, namun nihil.
Mereka kemudian berhenti di persimpangan setelah Rama memberi tahu lokasi makam keluarganya, kemudian mereka memutuskan untuk turun.
Keadaan tetap sepi. Hanya ada beberapa pegawai pemakaman yang tengah menjalankan tugasnya membersihkan area dari rumput dan tanaman liar yang tumbuh di sekitar.
Lokasinya tak jauh dari persimpangan dan mereka dapat menemukannya dengan mudah. Rama menata peristitahatan terakhir keluarganya secara khusus dengan menanaminya bunga anyelir di atas pusara kedua orang tua dan adik perempuannya yang berdampingan.
Tapi lagi-lagi dahinya berkerut ketika mendapati satu ikat bunga mawar putih tergeletak di pusara sang adik, yang tampaknya masih baru.
"Sudah ada yang berkunjung ya?" mereka berhenti tepat di depan makam, dan Kaysa sudah langsung mengenalinya setelah membaca tulisan di batu nisan.
"Siapa?" Rama bergumam.
"Entahlah, mungkin kerabatmu?" Kaysa merangkul lengan suaminya.
"Kerabatku tidak ada yang tinggal di Jakarta."
"Lalu siapa?"
"Entahlah." Rama mengingat-ingat kembali.
Sepertinya dia ingat jika ini bukan pertama kalinya ada yang meletakan bunga di pusara Livia. Telah dua kali berkunjung dan dia mendapati hal yang sama.
"Ada yang menyayangi keluargamu selain kamu, dan kita patut bersyukur akan hal itu. Doa lain lebih banyak terkirim dan aku yakin merupakan hal baik."
Rama terdiam.
"Sekarang lebih baik kita doakan saja keluargamu, agar mereka semakin tenang di sana."
*
*
*
Bersambung ...
waktunya vote gaess, tapi jan lupa like komen sama hdiahnya juga ya.
lope lope sekebon korma 😘😘