Kopassus And Me

Kopassus And Me
Bertugas Lagi



*


*


"Antar belanja Mas?" seorang ibu menyapanya yang tengah berbelanja di sebuah toko kelontong sebelum tiba di rumah.


"Iya bu." Rama menjawab. Dia menunggu di kursi di luar toko, sementara Kaysa memilih barang yang hendak di belinya.


Beberapa barang kebutuhan pokok yang di ingatnya, juga barang tambahan lainnya yang tidak terlalu penting tapi sangat di butuhkan.


"Jajannya sekarang sembako ya Mas? bukan camilan anak-anak lagi." ibu lainnya berkelakar sambil tertawa. Mereka tidak akan pernah lupa kebiasaan pria itu yang sering berbelanja makanan ringan untuk adiknya.


"Iya." Rama menjawab lagi. "Eh, camilan anak-anak juga masih, cuma di tambah beras, minyak, gula dan lain-lainnya." pria itu pun tertawa.


"Betul. Tambah banyak kan ya?"


"Iya bu, begitulah."


"Sudah." Kaysa datang menyela.


"Ya?"


"Bayar." katanya seraya mengulurkan tangan.


Rama merogoh dompetnya di saku celana, kemudian menyerahkannya kepada perempuan itu.


"Aku yang bayar?" Kaysa menunjuk wajahnya sendiri.


"Kamu saja." Rama menjawab.


"Jangan menyesal ya? nanti banyak tambahannya lho." katanya, yang meraih benda tersebut.


Namun Rama hanya tersenyum.


Kaysa kembali ke dalam toko untuk melakukan pembayaran. Dia membuka dompet milik pria itu, dan tertegun untuk beberapa saat. Menatap beberapa foto kecil yang berada di bagian depan, di antara beberapa kartu pengenal, dan bukti keanggotaan atas kesatuan yang menaungi suaminya itu.


Yang paling menarik perhatiannya adalah tentu saja fotonya bersama mendiang adik perempuannya, juga beberapa temannya di kesatuan. Sepertinya itu sangat berarti baginya.


Namun lamunan Kaysa buyar saat si pelayan toko memanggilnya, dan menyebutkan sejumlah uang yang harus dia bayarkan untuk belanjaan yang di belinya.


"Terimakasih." katanya, setelah dirinya selesai.


Dia keluar, bersamaan dengan Rama yang hampir memeriksa ke dalam.


Perempuan itu menunjuk tumpukan barang yang di belinya barusan. Rama tertegun sebentar, namun sesaat kemudian dia mengambilnya untuk di masukkan ke dalam mobilnya.


"Banyak juga ya?" dia terkekeh setelah menyelesaiankan tugasnya.


"Hum, ... aku sengaja membeli kebutuhan untuk satu bulan pak. Tapi itu yang intinya saja, belum untuk lauk sehari-hari." Kaysa sudah duduk di kursi penumpang.


"Kenapa tidak sekalian? biar kamu tidak usah bolak-balik belanja?"


"Harian sajalah kalau itu, ... nanti kamu tambah kaget lagi?" dia menyerahkan dompet milik pria itu.


Rama menerimanya kembali.


"Periksa dulu." Kaysa berujar.


"Apanya?"


"Dompetnya."


"Tidak perlu, aku tahu isinya berkurang. Lihat, tipis begini?" Rama menunjukkan benda itu.


"Hum ... siapa tahu nanti kamu terkeget-kaget karena uangnya berkurang banyak?"


"Untuk kebutuhan kita kan? kenapa harus terkaget-kaget? bukankan aku harus mulai terbiasa?" Rama tertawa, lalu kembali memasukkan dompet tersebut ke dalam saku celananya.


"Jangan menyesal ya?" Kaysa mengacungkan jari telunjuknya.


"Kenapa sih kamu selalu bilang begitu?"


"Ya siapa tahu nanti kamu meyesal karena uangmu aku pakai untuk belanja?"


"Ngaco kamu? aku memang tak sekaya mantan suamimu, juga tidak memiliki perusahaan yang besar, atau keuangan yang tidak terhitung jumlahnya. Dengan kartu-kartu kredit dari bank ternama. Tapi kalau untuk urusan semacam itu, aku yakin bisa memenuhinya. Hanya katakan saja apa yang kamu butuhkan."


Kaysa mengulum senyum.


"Katakan saja, kalau ada akan aku berikan. Seandainya tidak ada, akan aku usahakan. Hanya aku minta kamu untuk bersabar, karena aku bukan konglomerat yang bisa dengan mudah menunjuk barang yang aku inginkan." dia mulai menjalankan mobilnya.


"Uuhh, ... manis sekali bapak ini!" Kaysa menguluran tangan untuk mengusap wajah suaminya.


"Aku memang manis. Baru tahu ya?" Rama dengan kerlingan genitnya.


"Ish? mulai." perempuan itu memutar bola matanya.


***


"Kamu lapar tidak?" perempuan itu di sela kegiatannya membereskan barang belanjaannya.


"Lapar." Rama menjawab, dia juga tengah memeriksa senjata dan beberapa peralatan kerja yang biasa di bawanya menjalankan misi.


"Mau makan apa?"


"Makan kamu juga boleh." ucap Rama sekenanya.


"Um, ...


"Bercanda. Hahaha, ..." pria itu tertawa.


"Ish ... aku serius menawarimu makan. Kalau mau akan ku masakkan sekarang. Kalau tidak, ya nanti saja."


"Nanti saja, tidak apa-apa."


"Benar?" Kaysa memasukkan benda terakhir ke dalam lemari penyimpanan di samping kulkas.


"Ya."


"Baiklah kalau begitu." lalu perempuan itu duduk di sampingnya.


"Ini semua yang biasa kamu bawa kalau bertugas?"


"Ya."


"Banyak sekali, isinya apa saja?" Kaysa hampir menyentuh tas milik Rama yang di letakan di atas meja.


"Jangan sentuh!" pria itu berteriak, seraya menarik benda tersebut menjauh dari perempuan itu.


"Ish! bikin kaget!" Kaysa menepuk paha suaminya dengan keras.


"Jangan, ini ada bahan peledaknya. Bahaya." Rama berucap.


"Kalau bahaya, kenapa kamu bawa ke dalam rumah?"


"Tadinya tidak, kan selalu aku simpan di mobil." pria itu menjawab.


"Iya, kenapa kamu bawa-bawa juga."


"Persiapanmu menakutkan." Kaysa melihat ke dalam tas yang isinya merupakan beberapa jenis senjata yang belum pernah di lihatnya, tetapi dia tahu apa fungsinya.


"Ya, memang itulah aku. Me-na-kut-kan." Rama menekan kata menakutkan pada kalimat yang di ucapkannya.


Lalu dia beralih pada rompi anti pelurunya yang di dalamnya terdapat barang-barang kecil namun cukup penting. Dan Rama memeriksanya satu per satu.


Sebuah senter kecil dengan cahaya yang sangat terang, belati, juga dua buah pengisi peluru untuk pistolnya yang masih terisi penuh.


"Lengkap." gumam pria itu yang membereskan kekacauan yang diciptakannya. Kemudian mengembalikan barang-barang tersebut ke belakang mobilnya setelah memastikannya aman.


"Lusa berarti kamu mulai bertugas lagi ya?" Kaysa merebahkan tubuhnya, meringkuk dengan nyaman di sofa. Televisi di depan mereka menyala menayangkan acara berita petang.


"Hhmm ..." Rama menjawabnya dengan gumaman. Kemudian dia duduk setelah mengangkat kedua kaki perempuan itu dan meletakannya di atas pahanya.


"Perginya malam?"


"Tidak tentu. Bisa tengah malam, dini hari, pagi-pagi atau pun tengah hari."


"Bisakah kamu pindah ke tugas yang lebih ringan? yang biasa seperti polisi pada umumnya? yang pergi pagi, dan pulang di sore hari?" dia merubah posisi tidurnya.


"Tidak bisa."


"Hmm ... yakin sekali, langsung menjawab?" lalu dia bergumam.


"Memangnya apa yang seharusnya aku katakan?" Rama tergelak.


"Apa sajalah. Misalnya, akan kamu pikirkan dulu atau semacamnya agar aku tidak terlalu kecewa."


Rama kemudian tertawa.


"Tidak bisa Kay, aku sudah memilihnya di awal, dan tidak ada yang bisa aku rubah soal itu. Aku tidak bisa mundur, kecuali jika masa tugasku berakhir nanti."


"Jadi selamanya kerjamu akan begini?"


"Bisa jadi."


"Tidak punya pilihan lain lagi ya?"


"Tidak ada."


"Hmm ..." Kaysa mengerucutkan mulutnya.


Rama bergeser sehingga posisi mereka begitu dekat. Dan Kaysa meraih tangannya, kemudian menautkan jari-jari mereka berdua.


"Tidak apa Kay, ada Aslan."


"Yeah, ... benar pak."


"Hmm ...


"Tapi kalau aku bekerja lagi boleh?" Kaysa kemudian bertanya.


"Bekerja lagi?"


"Iya. Mencari berita, wawancara ...


"Entahlah, ...


"Hanya mencari berita seperti dulu, dan menyetorkannya ke stasiun televisi."


"Tidak seharian?"


"Tidak."


"Apa kamu akan baik-baik saja? apa Aslan tidak akan kehilangan perhatian?"


"Tidak, aku janji."


"Untuk tivi 7 lagi?"


"Tidak akan, aku sudah bersumpah tidak akan menginjakkan kakiku di tempat terkutuk itu lagi."


"Kenapa? Tv 7 kan salah satu stasiun nasional terbesar di negara ini? dan kamu pernah bekerja di sana. Segalanya akan lebih mudah."


"Pokoknya aku tidak mau ke sana. Aku akan mengirimnya ke tempat lain."


"Hmm ..." Rama menghembuskan napasnya sambil mengerucutkan mulutnya.


"Papa?" panggil Kaysa, yang bagi Rama terasa seperti panggilan untuk hal lain.


"Hum?" pria itu menoleh.


"Aku mau bekerja lagi, boleh ya? tidak akan menghabiskan waktu seharian di luar rumah, aku janji." bujuknya dengan wajah memelas.


Rama terdiam.


"Papa, ..." Kaysa bangkit kemudian menyampirkan kedua tangannya di pundak pria itu.


"Baiklah, baiklah. Terserah kepadamu." baru sekejap Rama sudah menyerah.


"Benarkah? Aaa, ... terimakasih!" katanya, yang kemudian memeluk pria itu dengan erat.


Rama mengulum senyum, dengan sebelah tangannya yang menyelinap di pinggang Kaysa, dan menariknya sehingga jarak di antara mereka menghilang.


"Aku janji tidak akan menghabiskan waktu seharian. Tetap bisa memperhatikan Aslan, dan juga mengurusmu. Aku janji." katanya, lalu menarik kepalanya ke belakang.


"Mengurusku?" Rama mengulang kata-katanya.


"Iya." jawab Kaysa.


Pria itu kemudian tersenyum.


Dan tanpa menunggu lama, dia meraih bibir menggoda Kaysa kemudian memagutnya dengan sepenuh hati. Perasaannya tentu saja segera memanas dengan sendirinya.


Degupan jantungnya meningkat dengan cepat, dan dan dirinya segera kehilangan kendali. Dan dengan cepat mendorong perempuan itu sehingga mereka saling menindih di atas sofa.


*


*


*


Bersambung ...



oh iya, sekalian mau promo deh


siapa yang kangen Papa Bear dan Mama Fia? sekarang mereka hadir dalam versi cetaknya lho. Buat kalian yang pengen peluk bukunya, cuss dm otor di instagram @tiyanapratama, atau bisa juga pc.


Pre Order di buka dari tanggal 25 Mei sampai degan 26 Juni. Cus ikutan biar nanti bisa sama-sama peluk bukunya.