
*
*
"Kamu yakin mau melanjutkan ini? Mungkin sebaiknya kamu istirahat, biar yang lain yang menggantikan." Sekali lagi Manda menyakinkan kepada Kaysa, mengingat keadaannya yang sempat drop seusainya melihat beberapa video yang membuat perasaan siapa pun sesak.
"Aku sudah tidak apa-apa. Aku yang memutuskan mengambil kasus ini untuk pekerjaanku, jadi aku harus terlibat hingga selesai." Kaysa menjawab.
"Tapi keadaanmu ...
"Tidak apa-apa, aku sudah istirahat sebentar. Jadi sepertinya aku bisa melanjutkan." Perempuan itu tetap kukuh dengan pendiriannya.
"Sebenarnya bisa saja reporter lain yang menggantikan, jika kau mau ..." Willy dan beberapa crew sengaja ikut ke pengadilan untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Dan menghindari adanya sabotase yang mungkin terjadi jika pihak Alan mengetahui siapa yang menyusup ke apartemennya tadi pagi.
"Tidak, tidak usah Pak. Saya bisa."
"Kau yakin Kay?"
"Ya, tentu saja. Saya yang harus menyelesaikannya sendiri."
"Baiklah kalau kau tetap pada pendirianmu. Tapi jika tidak sanggup, katakan saja."
"Iya Pak."
"Beberapa crew akan tetap di sini untuk menemani kalian, jadi tidak usah khawatir. Kalian bekerja saja dengan tenang," ucap Willy lagi yang bersiap untuk pergi.
"Baik Pak."
***
Beberapa pihak sudah hadir pada hampir siang itu. Mereka semua sudah siap dengan sidang yang mengagendakan pembuktian dari barang dan beberapa hal sebagai alat bukti yang sudah di dapatkan sebelumnya.
Orang-orang sudah berkerumun sejak pagi, menanti apa yang akan terjadi hari itu. Segala spekulasi bermunculan, dan pembahasan tentang kasus ini menjadi semakin meruncing saja. Meski hal tidak terduga bisa saja terjadi, namun semua orang tetap bertahan dengan pendapatnya masing-masing.
Rama pun tiba bersamaan dengan kubu Alan, dan lagi-lagi mereka berhadapan. Tak ada yang saling bicara, karena dua-duanya sama-sama berusaha menghindar agar tak terjadi insiden yang tak di inginkan.
"Kamu baik-baik saja?" Rama menyempatkan diri untuk menemui Kaysa yang seperti biasa berada di barisan paling depan bersama crewnya yang hari itu terlihat lebih banyak.
Melihat keadaannya yang tampak tidak terlalu baik tentu saja membuatnya sedikit khawatir.
"Ya, aku baik. Hanya sedikit mengantuk." bohong Kaysa, padahal dia mati-matian menahan sesak di dada. Melihat wajah suaminya yang belum sepenuhnya mengetahui banyak hal, dan membayangkan bagaimana reaksinya nanti jika sudah mengetahui apa yang telah di lakukan oleh Alan kepada Livia.
"Kamu berangkat terlalu pagi Kay." Rama mendekat, lalu memindai keadaannya.
"Aku tahu, tapi kan itu memang harus." Kaysa menjawab.
"Jangan membuatku khawatir." Pria itu hampir menghapus jarak di antara mereka.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Kaysa sedikit terkekeh.
"Tadi Aslan menelfon, dia meminta pulang."
"Terus kamu jawab apa?"
"Nanti sore kita jemput. Mungkin sudah terlalu lama dia bersama Radit." Rama tak mengalihkan pandangan dari wajah Kaysa.
"Iya, baik."
"Baiklah, kalau begitu aku masuk." ucap Rama setelah melihat isyarat dari Junno.
"Oke." Dan Kaysa menganggukkan kepala.
Pria-pria itu berlalu dari hadapan Kaysa, dan melenggang ke arah pintu masuk gedung yang sudah terbuka sejak beberapa menit yang lalu.
"Junno!" Kaysa memanggil ketika Rama dan Adam sudah masuk terlebih dahulu ke dalam gedung.
"Ya?" Pria itu menoleh, dan Kaysa tampak berlari kecil menghampirinya.
"Bukankah seharusnya hari ini sidang untuk menunjukkan alat-alat bukti?" Kaysa bertanya.
"Ya."
"Aku tidak yakin alat bukti yang mereka temukan akan memberatkan Alan dan Frans, jadi ..." Dia mengeluarkan ponsel yang di temukannya di apartemen Alan.
"Mungkin kalian akn memerlukan ini." Lalu Kaysa menyerahkannya kepada Junno.
"Ponsel siapa ini?"
"Apa kamu percaya kalau aku katakan bahwa ini ponselnya Livia?"
Junno mengerutkan dahi.
Aku harap bukti yang mereka punya sudah memberatkan hukuman bagi Alan, jadi kalian tidak harus melihat apa yang ada di dalam ponsel ini. Tapi ... jika tidak ada yang bisa membuktikan jika Alan bersalah, maka dengan tetpaksa kamu harus menunjukkan ponsel ini kepada hakim." mata Kaysa tampak berkaca-kaca.
"Apa yang ada di dalam ponsel ini?"
"Sesuatu ... yang jika kamu adalah manusia, maka kamu tidak akan kuat untuk melihatnya."
"Apa maksud kamu?"
"Serius, aku bahkan bisa merasakan bagaimana sakitnya jadi Livia saat mereka melakukannya."
Kening Junni masih berkerut.
"Cepatlah masuk dan ingat yang aku katakan. Tunjukkan ponsel ini hanya jika mereka tidaj memiliki bukti yang cukup untuk menghukum Alan."
"Kenapa harus begitu?"
"Aku takut dengan reaksi Rama jika kalian melihatnya." Bayangannya tentu saja buruk saat ini.
Bagaimana suaminya itu akan bertindak nanti jika hal ini di tunjukkan? Atau apa yang akan dia lakukan setelah melihat video-video tersebut? Yang pasti Rama tidak akan tinggal diam.
"Tapi, kalau pada akhirnya ini harus di serahkan ke pengadilan dan kalian semua melihatnya, aku harap kamu dan Adam bisa menahan Rama."
"Apa ini hal buruk Kay?" Junno mengangkat ponsel di genggamannya, dan Kaysa menganggukkan kepala. Diikuti dengan buliran bening yang mengalir dari sudut matanya.
Junno faham.
"Baik." Kemudian dia melakukan panggilan kepada rekan-keannya yang sudah berada di dalam.
"Bersiap untuk hal buruk, dan bersiaga untuk menjaga Rama." katanya, pada orang di seberang, lalu dia mematikan panggilan.
"Kamu meliput di dalam?" kemudian dia abertanya.
"Ya."
"Lalu kenapa kita tidak sama-sama masuk ke sana?"
"Kamu duluan, aku menunggu yang lain." Kaysa menjawab.
"Biklah, kalau begitu aku duluan?"
Kaysa mengangguk lagi.
***
Sidang di mulai pada menjelang siang. Dengan menghadirkan saksi-saksi yang memberikan keterangan sesuai dengan yang mereka terangkan di penyidikan sebelumnya. Kemudian menunjukkan beberapa barang bukti yang di dapatkan pada penggeledahan di beberapa tempat.
Beberapa orang saksi di hadirkan, termasuk dokter forensik yang mengidentifkasi kondisi mayat Livia setelah di temukan.
"Keterangan di dalam hasil autopsi tidak di temukan tanda lain selain bekas cekikan, benar?"
"Benar Pak."
"Tidak ada sidik jari atau hal lainnya sebagai petunjuk?"
"Tidak ada. Hanya saja waktu itu kondisi mayat seperti baru saja di angkat dari air. Keadaannya basah."
"Kemungkinan terendam air di gorong-gorong?"
"Mungkin, tapi kedaannya seperti sudah di rendam lebih dari 12 jam."
"Dan anda tidak menemukan petunjuk apa pun?"
"Tidak Pak."
"Benarkah korban sering datang ke kantor polisi?" Jaksa bertanya kepada saksi yang pada saat kejadian berada di pos piket.
"Sering."
"Apa yang korban lakukan di kantor?"
"Hanya berkunjung. Menemui kakaknya, atau kadang menemui Alan."
"Apa lagi setelah itu?"
"Apa yang terakhir anda lihat sebelum korban menghilang?"
"Dia hanya datang, lalu menunggu di atas. Di dekat ruangan Pak Fandi."
"Apa ada yang terjadi di sana sebelum korban menghilang?"
"Tidak ada, saya hanya melihat ada beberapa orang yang datang menemui komandan, selebihnya hanya Livia yang mau menemui kakaknya. Tapi kebetulan tidak ada."
Kemudian sebuah video di putar pada layar proyektor. Dimana Livia yang berdiri menempelkan telinganya pada pintu ruangan Fandi. Tak lama kemudian Alan muncul dari dalam.
Dia menyeretnya ke sebuah ruangan lain yang tak memiliki cctv, lalu keluar setelah beberapa saat, dan kembali dengan sebuah kotak besar.
Alan kemudian membawa kotak besar tersebut keluar dari kantor polisi. Memasukkannya ke dalam mobil Fandi, lalu pergi.
"Itu cara anda membawa korban keluar?"
Alan tak langsung menjawab.
"Anda memukulnya sampai dia pingsan? Lalu memasukkannya ke dalam kotak?"
"Saya tidak memukulnya, ... itu hanya sebuah tamparan ... tapi dia malah pingsan."
"Sebuah tamparan?"
"Kau memukulnya bodoh! Makanya dia pingsan." Rama menyela.
"Jadi itu benar, bahwa anda membawa keluar korban dengan kardus dalam keadaan pingsan setelah anda pukul?" Jaksa kembali bertanya.
"Saya tidak memukulnya Pak."
"Tapi dia pingsan."
"Iya, tapi ...
"Anda membawanya di dalam kotak kardus."
"Ya, ... saya hanya ...
"Aku bahkan tidak berani mencubitnya walau hanya sedikit." Rama menggeram.
"Komandan tahu perihal ini?"
"Tahu."
"Dan dia mengizinkanmu memakai mobilnya untuk membawa Livia?"
"Ya, dia tahu." Alan pasrah saja untuk mengakui.
Mata semua orang tertuju kepada Fandi yang sengaja di hadirkan juga di persidangan hari itu.
"Saya tidak tahu bahwa korban meninggal." Pria itu mengelak.
"Tapi dia akan selamat jika saja kau tak membiarkannya di bawa pergi." Rama dengan suara datar namun terdengar keras.
"Apa korban meninggal sebelum, atau sesudah Anda memp*rk*sanya?"
Semua orang menahan napas sejenak. Tentu saja, ini merupakan hal yang paling di nantikan. Pengakuan Alan yang mungkin akan mengakhiri sidang yang cukup melelahkan ini, meski baru berlangsung selama tiga bagian.
"Dalam hasil interogasi, anda mengatakan jika korban meninggal setelah Frans melakukannya?"
"Ya."
"Berarti korban meninggal setelah Frans menyetubuhinya juga?"
"Mungkin."
"Dia yang mencekiknya! Itu menjadikannya sebagai pembunuhnya, bukan aku!" Frans buka suara. Dia tak terima dengan pernyataan sepupunya.
Rama berdiri sambil menggebrak meja dengan keras.
"Kalian sama saja!" lalu berteriak.
"Ram, duduk." Adam menghentikannya.
Rama dengan terpaksa menuruti perintahnya, dia kembali menghempaskan bokongnya pada kursi. Meski amarah kian menyeruak, namun tak ada hal lain yang mampu dia lakukan selain menurut.
"Pihak keluarga korban ada yang ingin di sampaikan?" Hakim beralih kepada Rama.
Juno menoleh ke arah Kaysa yang siap di belakang kameraman. Dia berpikir, apakah harus sekarang? Karena keadaan benar-benar tak bisa membuat mereka menunggu lagi. Dan menurutnya, sidang kali ini harus membuahkan hasil. Tidak boleh terlalu berlarut-larut lebih lama lagi.
"Kami punya bukti baru Yag Mulia." Junno bangkit dari kursinya.
"Bukti baru?"
"Ya."
"Bukankah semua bukti sudah di dapatkan pihak penyidik?"
"Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya rasa penyidik melakukan kekeliruan dengan tidak mengambil semua hal yang di perlukan." Pria itu keluar dari teritorialnya di balik meja.
"Maksud anda?" Pembela dari pihak Alan pun bangkit.
"Tidak semua bukti di ambil, dan kami telah mendapatkannya dari seseorang yang bisa di percaya." Junno melirik kr arah Kaysa.
"Maksudmu apa Jun?" Rama beraksi, namun rekannya tersebut mengisyaratkan dengan tangannya untuk diam.
"Apa kami bisa menyerahkan bukti itu sekarang?" Tanya Junno lagi.
Sang hakim terdiam, kemudian dia berunding dengan orang-orang di dekatnya.
"Jika berkaitan dengan kasus ini, silahkan." lalu dia menjawab.
Junno maju ke hadapan meja hakim, kemudian menyerahkan sesuatu kepadanya setelah benda itu dia nyalakan. Meski pria itu belum melihat apa yang ada di dalamnya, tapi dia yakin bahwa Kaysa tak akan mengecwakan mereka.
"Ponsel?" Sang hakim mengangkat benda pipih itu sehingga semua orang dapat melihatnya.
Rama mengerutkan dahi saat merasa mengenali benda tersebut, sementara Alan membulatkan mata. Dia hafal benar dengan benda itu, yang tadi pagi menghilang setelah sesorang yang tak di kenal masuk ke apartemennya.
"Apa anda bercanda?" sambung hakim, yang meragukan hal tersebut.
"Bisa anda lihat isinya, maka anda akan mengetahui apa saya bercanda?"
"Baiklah, ..." Lalu dia menyerahkannya kepada seorang petugas.
"Dari mana kau mendapatkannya?" Alan ikut bereaksi, membuat semua orang memalingkan perhatian kepadanya.
"Kenapa? Kau kenal dengan benda itu?" Junno balik bertanya.
"Umm ...
"Kita lihat, apa ada sesuatu di dalamnya?"
Pria itu menahan napasnya sejenak, menyadari bahwa dirinya hampir tiba di akhir. Mungkin saja, ...
"Apa itu Jun? Dari mana kau menemukannya?" Rama bertanya saat pria itu kembali ke tempat duduk di sampingnya.
"Seseorang memberikannya kepadaku tadi pagi."
"Apa?"
"Dia bilang itu barang bukti, tapi ... kita lihat saja. Mungkin dia benar."
"Kau bahkan belum melihatnya?"
Junno menggelengkan kepala.
"Lalu mengapa kauberikan kepada hakim?"
"Dia memintaku untuk melakukannya."
"Siapa?"
"Dia ..." Pria itu melirik lagi ke arah Kaysa yang menggelengkan kepalanya dengan samar.
"Nanti kau akan tahu."
*
*
*
Bersambung ...