Kopassus And Me

Kopassus And Me
Kekacauan



*


*


Bagi orang-orang seperti mereka, tidak harus ada alasan untuk menyakiti orang lain. Mereka hanya senang melakukannya, dan akan mendapat kepuasan setelahnya. Selebihnya hanya dianggap sebagai permainan saja.


***


Pengacara menarik mereka keluar, dibantu oleh beberapa orang petugas kepolisian yang sudah bersiaga untuk mengamankan keadaan. Namun mereka tak pernah menyangka akan terjadi hal tidak terduga pada sidang hari itu.


Emosi Frans hampir saja meledak setelah mendapat pukulan dari Rama. Dia tak terima dengan apa yang di lakukan pria itu kepadanya. Sehingga ketika seorang petugas lengah, Frans mencabut pistol dari sabuk pria itu, dan tanpa menunggu lama lagi dia menarik pelatuknya sehingga benda itu memuntahkan dua peluru ke arah depan, di mana Rama hampir saja kembali ke hadapannya.


Keadaan menjadi hening dan semua orang memindai dari mana letusan itu berasal. Dan mereka menahan napas ketika melihat moncong senjata itu muncul dari kerumunan petugas, dan berada dalam genggaman Frans.


Lalu beberapa detik kemudian Rama ambruk dengan darah yang mengalir dari tubuhnya.


"Tidak!!" Kaysa tentu saja jadi orang pertama yang bereaksi, di susul rekan-rekan Rama di belakangnya.


"Tidak! Jangan begini!" Perempuan itu segera menghampirinya.


"Ram, jangan! Jangan begini! Bertahanlah!" Kaysa membalikkan tubuhnya yang tertelungkup di lantai. Lalu meletakan kepala pria itu di pangkuannya.


"Rama!" Kaysa histeris.


Garin melepaskan kemeja miliknya, kemudian menggulungnya menjadi satu gumpalan yang cukup besar, lalu meletakkannya di atas luka Rama.


"Tekan seperti ini." Katanya kepada Kaysa.


Lalu perempuan itu melakukan apa yang di katakan Garin. Dia menekannya dengan keras untuk menghentikan pendarahan. Sehingga terdengar Rama menggeram karena menahan rasa sakit di perut sebelah kanannya. Diikuti napasnya yang tersengal-sengal.


"Pertahankan agar posisinya tetap seperti ini!" ucap Garin yang membenahi letak kepala Rama.


"Bertahanlah kawan!" katanya lagi, kemudian dia bangkit.


"Seseorang panggil ambulance!" Pria itu berteriak.


"Ada yang terluka! Seseorang panggil ambulance!" teriaknya lagi.


Lalu perhatiannya dia alihkan pada kerumunan yang berusaha menenangkan Frans yang masih mencoba meletuskan tembakkan. Walau pistol di tangannya jelas sudah kosong. Tapi pria itu masih melakukan usaha terakhirnya. Dia sudah tak peduli dengan akibat apa pun yang akan dihadapinya nanti.


"Mengapa kalian hanya bisa begitu?" Garin menerobos kerumunan, kemudian mencengkeram leher Frans begitu dia bisa mencapainya.


Pria itu menyingkirkan beberapa orang yang berusaha menghadang, lalu menarik si tersangka keluar dari perlindungan orang-orang tersebut.


"Kau pikir kau akan selamat?" geramnya, seraya menarik Frans, lalu melayangkan tinju di wajahnya.


"Buktinya kuat, dan semua orang sudah melihat." Dua pukulan kembali bersarang di wajahnya sehingga Frans terjatuh ke lantai dan Garin segera menindihnya dengan lutut sehingga pria itu tak bisa berkutik lagi.


Orang-orang datang untuk membawanya kembali, tapi ke enam pria lain segera menodongkan senjata ke arah mereka. Adam, Junno, dan empat rekannya siaga dengan pistol mereka untuk mengantisipasi keadaan.


"Jangan pernah berpikir untuk melakukan apa pun." ucap Adam dengan suara menggeram.


"Jika kalian tidak bisa menghukum dia dengan benar, maka kami yang akan melakukannya." sambungnya, dan dia bersiap untuk menarik pelatuk pada pistolnya yang mengarah pada kepala Frans yang ada di bawah kuasa Garin.


Keadaan ini sungguh sangat menegangkan. Mereka seperti tengah berada dalam sebuah peperangan yang paling menentukan. Dsn perebutan sandera tengah berlangsung.


"Anda sudah melihat semuanya, Yang Mulia." Lalu Junno mendekat kepada hakim yang duduk mengkeret di kursinya.


"Seluruh dunia sudah mengetahui kebejatan dua baj*ngan ini. Jadi, apakah anda masih mempertimbangkan hukuman apa yang pantas bagi mereka? Lihat bagaimana dia berbuat hal buruk bahkan di depan pengadilan? Bukankah ini sudah jelas?" Pria itu dengan tatapan tajamnya.


"Jadi, lakukanlah apa yang seharusnya anda lakukan sebagai hakim. Berikan hukuman yang setimpal untuk terdakwa, dan berikan keadilan untuk korban." katanya, yang kemudian berbalik ketika mendengar suara sirine ambulance yang mendekat.


Bersamaan dengan Bima Sakti yang muncul untuk menghentikan keributan.


"Turunkan senjatamu, prajurit! Biarkan yang berwajib melaksanakan tugas mereka. Aku percaya, dengan bukti sejelas itu, tidak akan ada siapa pun yang bisa mengelak lagi." katanya, yang mengisyaratkan kepada paramedis untuk membawa Rama.


"Duduklah Kay, jangan seperti itu." Garin mengingatkan perempuan itu untuk kembali ke tempat duduknya, di ruang tunggu sebuah rumah sakit militer di Jakarta.


Setelah menempuh perjalanan dari gedung pengadilan dalam keadaan genting saat pria itu jatuh tak sadarkan diri. Dan Kaysa terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya.


Suara detakan jam dinding tedengar memekakan telinga, di lorong ruang tunggu yang cukup sepi pada hampir sore itu.


Sudah dua jam, namun tak ada tanda-tanda operasinya selesai. Entah mereka sudah berhasil mengeluarkan peluru dari tubuh Rama atau belum, tak ada yang tahu.


"Kay!" Garin mengingatkan.


"Kenapa mereka lama sekali? Apa sih yang mereka lakukan di dalam sana?" Dia masih dengan nada panik.


Bagaimana tidak, Kaysa harus melihat kejadian yang begitu menegangkan ketika suaminya terlibat keributan dan mendapatkan luka tembak. Pakaiannya bahkan masih terdapat noda darah yang semula mengalir dari tubuh pria itu saat dia memeluknya sepanjang perjalanan ke rumah sakit.


"Tenanglah, mereka sedang berusaha menyelamatkan suamimu." Pria itu berusaha menenangkannya, meski oada kenyataannya dia pun merasakan kepanikan yang sama.


"Aku tahu, tapi kenapa lama sekali?"


"Tidak bisa buru-buru Kay."


Kaysa mengusap wajahnya kasar, seketika keputus asaan melanda, dan rasa bersalah menguasainya. Bagaimana bisa dia menyerahkan ponsel itu kepada Junno, yang akhirnya membuat keadaan menjadi kacau seperti ini? Padahal dirinya tahu akan seperti apa reaksi Rama jika dia mengetahui apa yang ada di dalam benda itu.


Dan perkiraannya benar, pria itu tak bisa di hentikan begitu dia mengamuk.


"Ya Tuhan, ini salahku!" ucapnya, lalu dia terisak.


"Andai saja aku tak menyerahkan barang itu kepada Junno, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini." Dia meunduk dengan kedua yangan yang menyangga kepalanya.


"Jangan bicara begitu Kay." Garin berujar.


"Semua berjalan seperti seharusnya. Tidak ada yang bisa menghalangi jika hal itu memang harus terjadi." lanjut pria itu yang berusaha untuk tetap tenang.


"Tapi aku sudah menyebabkan kekacauan."


"Bukan kamu. Hanya keadaannya saja yang memang sudah kacau sejak awal."


"Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada Rama? Apa yang harus aku lakukan?"


"Jangan bicara begitu!"


Bersamaan dengan itu, pintu ruang gawat darurat pun terbuka, dan seorang dokter muncul masih lengkap dengan pakaian operasinya.


"Bagaimana dokter?" Kaysa segera bangkit dan berjalan menghmapiri.


"Masa kritisnya sudah lewat, dan proyektil peluru sudah dikeluarkan seluruhnya dari luka korban. Hanya tinggal menunggu dia siuman." jawab sang dokter, sedikit membuat lega.


"Tapi dia baik-baik saja kan?"


"Sejauh ini baik, tapi bisa kita lihat nanti setelah dia siuman."


Dua orang itu menghembuskan napas lega.


*


*


*


Bersambung ...