Kopassus And Me

Kopassus And Me
The Dark Side



*


*


"Sssttt, Kakak?" Suara lembut itu terdengar begitu dekat saat Rama membuka matanya.


Dia menoleh ke samping kiri, dan tampaklah gadis itu yang tengah tersenyum, dalam balutan pakaian yang indah seperti yang pernah dia lihat sebelumnya.


"Kenapa Kakak ada di sini lagi? Bukankan sudah aku bilang kalau ini belum saatnya?"


Rama bangkit dengan dahinya yang berjengit.


"Pulang sana!"


"Livia?"


Gadis itu tersenyum, dan itu merupakan senyum paling manis dari yang pernah dia ingat.


"Apakah Kakak tidak percaya kalau aku sudah bahagia di sini? Sehingga kakak memutuskan untuk kembali?" Livia memiringkan wajahnya.


Rama menatapnya yang tampak berseri-seri. Ini pasti mimpi karena semua hal di sekitar mereka terlihat begitu indah.


Padang yang luas dengan taman bunga yang indah bermekaran. Suasana yang tenang, dan aroma wewangian tercium membuat siapa pun betah untuk berada di sana.


"Aku baik-baik saja Kak, nggak usah khawatir. Lagi pula ... sekarang aku bersama ayah dan ibu." Gadis itu menoleh ke belakang di mana dua bayangan muncul dari balik pepohonan yang rindang.


"Ayah dan Ibu?" Rama kembali menjengit.


Livia tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Jadi kakak tidak usah khawatir, karena kami sudah bersama."


Pria itu masih melihat ke arah pohon besar di belakang Livia, di mana dua siluet tetap berada di sana.


"Kakak mau bertemu ayah dan ibu." Rama bermaksud menghampiri mereka.


"Jangan!" Livia menahan tubuhnya.


"Tapi kakak mau bertemu ayah dan ibu."


"Belum saatnya."


"Tapi Liv?"


"Nanti, kalau sudah saatnya Kakak pasti ketemu. Sekarang Kakak pulanglah, semua orang sudah menunggu." Livia berujar.


"Livia, Kakak ...


"Jangan khawatir, kami baik-baik saja." Gadis itu menghambur ke pelukannya.


Rama merasakan pelukannya begitu hangat, dan berbagai macam wewangian menguar dari tubuhnya.


"Jangan lagi mengkhawatirkan aku." Livia berbisik.


Rama memeluknya begitu erat, hingga lama kelamaan dia merasakan tubuh Livia berangsur menghilang dari dekapannya.


"Livia?"


"Pulanglah Kak, mereka menunggu Kakak." Dan suara itu perlahan menghilang.


***


Rama membuka mata, dan kini yang dia dapati adalah suasana yang hening. Angin semilir berhembus dari sela jendela yang terbuka sedikit. Menyibak tirai yang menggantung bebas di sisi kiri dan kanannya.


Dia mengerjap untuk menarik kesadarannya yang sempat menghilang beberpa saat. Lalu menoleh ke arah kanannya saat dia mendengar langkah yang tergesa dari luar.


Pintu terbuka, dan sosok Kaysa yang muncul kemudian.


"Ram!" ucap perempuan itu yang dengan tergesa masuk ke dalam ruang rawat. Mendapati suaminya yang sudah sadarkan diri pasca operasi pengangkatan proyektil peluru dari perut sebelah kanannya dua hari yang lalu, dan Kaysa segera menghambur memeluknya.


"Aku kira kamu tidak akan bangun!" Perempuan itu berujar.


"Ya Tuhan, aku takut sekali!" katanya, seraya mengeratkan pelukannya.


Pria itu tak langsung merespon, namun tertegun untuk mengingat peristiwa terakhir yang dia alami.


"Kamu membuatku takut Ram!" Kaysa membingkai wajah suaminya, kemudian menempelkan kening mereka berdua.


"Maaf." katanya lagi, dan hal itu membuat Rama mengerutkan dahi.


"Kalau aku tidak ..." Kaysa menggantung kata-katanya saat dia hampir saja membuat pengakuan. Namun dia ingat perkataan Junno yang melarangnya untuk mebicarakan hal tersebut demi menjaga kestabila emosinya.


"Apa?" Rama buka suara.


"Bagaimana keadaanmu? Ada yang sakit?" Kemudian dia bertanya seraya memeriksa keadaannya.


"Tidak, hanya saja disini ..." Rama meraba perutnya yang terasa nyeri.


"Tentu saja, dua peluru menembus perutmu, bagaimana tidak sakit?" Kaysa menyeka sudut matanya yang basah, tapi dia merasa lega.


"Hmm ..." Pria itu bergumam.


"Lalu bagaimana persidangannya? Apa di tunda lagi?" Rama kemudian bertanya.


Kaysa menghembuskan napas pelan.


"Banyak aspek yang harus di kaji ulang, di tambah barang bukti yang terus di temukan. Apa lagi banyak saksi yang dua hari belakangan terus bermunculan."


"Barang bukti dan saksi baru?"


Kaysa menganggukkan kepala.


"Sebentar," katanya, yang kemudian menyalakan televisi yang menempel di dinding tan jauh dari suaminya.


Seorang pembaca berita dari chanel CTNEWS tengah menerangkan rangkuman peristiwa yang baru-baru ini terjadi.


"Beberapa saksi dari kasus terdahulu pun bermunculan. Perempuan-perempuan yang pernah menjadi korban dari Frans, dan beberapa di antara mereka adalah reporter yang sempat bekerja di stasiun televisi milik keluarganya."


"Kasus ini semakin berkembang luas. Tidak hanya masalah pelecehan dan pembunuhan atas korban Livia yang terjadi dua tahun yang lalu, tapi juga menyebabkan terbongkarnya beberapa kasus penyelundupan barang ilegal termasuk obat-obatan terlarang yag melatar belakangi motiv awal pembunuhan itu. Juga terhubung dengan kasus suap yang melibatkan beberapa petinggi aparat yang ada pada saat kejadian. Dan hari ini di usut juga kasus pelecehan yang terjadi kepada beberapa orang perempuan lainnya, yang kasusnya sempat menghilang."


"Mereka juga ikut berjuang bersama kita untuk mendapat keadilan yang sama." Kaysa duduk di tepi ranjang.


"Dan aku yakin, meski berjalan lambat, tapi semua akan menemukan akhirnya. Apalagi dukungan masyarakat begitu besar terhadap kasus ini. Belum lagi tekanan media. Dan apa kamu tahu, jika beberapa petinggi di kepolisian dan pejabat pemerintahan juga ikut terseret karena secara bersamaan kasus-kasus besar pun ikut terungkap. Hubungan mereka dengan Alvaro juga ikut di usut. Jadi bukan hanya Fandi, bahkan atasan lainnya pun turut di selidiki."


"Satu kasus terbongkar, lalu kasus besar lainnya pun tidak bisa di tutupi lagi." Adam pun muncul, yang membuat perhatian dua orang ini teralih.


"Semesta pun tidak rela ketika mereka berusaha mematahkan perjuangan orang-orang sepertimu. Maka, kami pun yakin bahwa kita akan memenangkan perkara ini." lanjut pria itu yang berjalan mendekat.


"Maka mintalah kepada pengadilan untuk memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada mereka yang berbuat keji kepada adikmu. Selebihnya, biar hakim yang memutuskan. Setidaknya Livia akan mendapat keadilan, apa pun itu bentuknya." Junno menambahi.


Rama termenung.


"Dan aku yakin setelah ini mereka tidak akan bisa mengelak lagi. Apa kau tahu, tim pengacara Alan dan Frans segera mengundurkan diri setelah terjadi peristiwa penembakan itu?"


"Benarkah?"


"Ya, bahkan pengacara kelas internasional pun angkat tangan setelah mereka mengetahui segala kebenarannya. Apa lagi muncul fakta juga jika mereka berdua melakukan peleceha juga terhadap adik kembarnya Alan."


"Astaga!" Kaysa menutup mulut dengan tangannya.


"Bahkan keluarga sendiri pun jadi mangsa mereka. Ini benar-benar di luar nalar." Junno menggelengkan kepala.


"Mereka bukan manusia."


"Entah harus meyebut mereka apa? Bahkan iblis pun sepertinya tidak sudi di samakan dengan mereka."


"Hmm ...


"Menurutmu apa yang menyebabkan seseorang bisa memiliki perangai seperti itu?" Kaysa tampak mengorek keterangan sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan kepenasarannya.


"Entahlah, bisa apa saja. Banyak faktor yang memungkinkan sesorang berbuat di luarbatas." Junno menjawab.


"Dan apa kalian tahu, jika kita sebenarnya memang terlahir sudah memiliki sisi psikopat masing-masing. Tapi seiring bertambahnya usia dan pengalaman, hal itu bisa berkurang atau bahkan menghilang, tapi juga bisa bertambah. Tergantung hidup yang kita jalani, dan peristiwa apa saja yang kita alami."


"Sebagian orang bisa mengendalikannya sendiri, tapi sebagian lainnya membiarkan, malah menikmatinya sebagai cara hidup yang lain. Seperti yang di lakukan oleh Alan dan Frans. Dan mungkin banyak orang di dunia melakukannya sehinga bermunculanlah banyak kasus serupa, yang bahkan tidak pernah kita pikirkan."


Beberapa diantara mereka mengangguk-anggukkan kepala.


"Dan mempertahankan kewarasan adalah cara yang tepat untuk mengendalikan sisi gelap itu."


"Jadi aku harap, kau bisa tetap mempertahankan kewarasanmu, meski kegilaan seperti ini terjadi di sekeliling kita, atau bahkan kau alami sendiri." Dia menepuk bahu Rama untuk memberikan dukungan kepadanya.


*


*


*


Bersambung ...


Beberapa episode lagi mendekati ending. Tapi emak berharap kalian masih mendukung cerita ini sampai akhir.


lope lope sekebon korma 😘😘