Kopassus And Me

Kopassus And Me
Keuntungan



*


*


"Jangan lari-lari Kay, ingat kamu sedang hamil!" Rama merasa ngeri sendiri melihat perempuan itu setengah berlari ke arahnya. Dan dengan senyum sumringah dia segera menghambur memeluknya.


"Ish, jangan beginilah! Ini di tempat kerja." Rama hampir saja menghindar. Namun terlambat, Kaysa sudah lebih dulu memeluk pundaknya.


"Ada apa denganmu ini?" Pria itu menggerutu.


"Aku bahagia sekali!!" Kaysa belum melepaskan pelukannya dari Rama. Dia tak perduli saat ini mereka sedang ada di mana. Yang ada hanya ingin mengungkapkan kebahagiaannya saja.


"Iya, tapi tidak begini juga. Malu dilihat orang!" Rama berusaha melepaskan diri. Dengan sedikit panik dia melihat sekelilling di mana seorang sekuriti menatap mereka dengan raut yang entah harus dia sebut apa. Juga beberapa orang yang masuk dan keluar dari tempat tersebut.


"Ish! Dasar kamu ini?" Dengan terpaksa Kaysa melepaskan lilitan tangannya, kemudian menciptakan sedikit jarak di antara mereka.


"Malu Kay, masa peluk-pelukan di tempat seperti ini?" ucap Rama lagi, dan masih melihat sekelilingnya.


"Eh, mana Aslan?" Kaysa melihat ke belakang pria itu, namun dia tak menemukan putranya di sana.


"Tuh ..." Rama menunjuk sebuah area teduh yang menaungi motor miliknya, juga Aslan yang asyik duduk di kursi dengan ponsel di tangannya, tak jauh dari mereka.


"Kamu beri dia hape?"


"Agar tidak mengomel terus karena menunggu lama." Rama beralasan.


"Huh, cuma sebentar?"


"Sebentar katamu? lihat jam berapa ini?"


Kaysa pun melihat jam di layar ponselnya yang menunjukkan pukul dua siang.


"Astaga!" Perempuan itu tergelak.


"Kalau tahu akan selama ini aku pulang saja dulu, kan aman tidak akan mendengarkan omelan Aslan?"


"Maaf Papa, tadi aku terakhir breefing dulu." Kaysa kembali mendekat.


"Kenapa tidak beritahu dulu? Kan aku tidak akan menunggu selama itu. Kalau aku sih tidak apa-apa, tapi putramu yang mengoceh terus."


Kaysa tertawa.


"Iya, iya maaf. Aku lupa. Habisnya tadi pembahasan pekerjaanya serius sih, jadi aku tidak ingat. Maaf ya?"


Rama memutar bola matanya.


"Papa? Jangan ngambek, nanti aku sedih. Padahal ingin berbagi kebahagiaan denganmu." Dia merayu.


"Kebahagiaan apa?"


"Aku resmi bekerja besok!" Kaysa dengan keceriaannya. Tampak sekali dia merasa begitu senang dengan apa yang di dapatnya hari ini.


"Wow! Itu bagus. Selamat!" Rama juga merasa senang karenanya.


"Bagus kan? Sudah aku katakan, pasti akan ada jalan. Jadi tidak usah risau!"


"Iya iya, kamu benar Bu."


"Memang."


"Lalu apa pekerjaannya? Apa sesuai dengan yang mereka janjikan dari awal?"


Kaysa menganggukkan kepala.


"Bahkan lebih baik dari itu," katanya lagi.


"Apa?"


"Umm ...


"Hey? masih lama nggak sih pulangnya kita? Aku pegel nih!" Aslan menginterupsi percakapan mereka berdua.


"Dengar? Anakmu mengomel lagi?" Rama menyentakkan kepalanya.


"Baiklah, baik. Ayo kita pulang? Bicaranya di rumah saja. Huh, kalau bos besar sudah bicara susah di hentikan ya?" Kaysa berujar.


"Kamu tahu sendiri kan?" Kemudian mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.


***


"Makan siangnya enak Mama, terima kasih." Rama meletakkan peralatan makan bekas mereka ke bak cuci piring, sementara Kaysa membereskan meja. Dan tiba-tiba saja pria itu mengecup pelipisnya.


"Umm, ... makan siangnya agak telat." Perempuan itu tertawa. Agak aneh sebenarnya, karena akhir-akhir ini sikap suaminya sedikit berubah.


"Tidak apa-apa, yang penting kita makan." Rama menjawab, dan dia masih berdiri di belakangnya, ketika Kaysa beralih membersihkan perabotan di bak cuci.


"Ada lagi yang kamu mau?" Perempuan itu menoleh sekilas.


"Tidak ada." Rama menjawab.


"Terus mau apa kamu di situ?"


"Menunggumu menyelesaikannya." Pria itu menyandarkan bokongnya pada pinggiran meja. Namun kemudian dia mendekat, lalu kedua tangannya menyelinap di pinggang Kaysa, lalu merayap ke parutnya.


"Ram?"


"Hmm ..." Pria itu merapatkan tubuhnya pada bagian belakang Kaysa, lalu menyurukkan wajahnya di tengkuk perempuan itu.


"Apa anakku baik hari ini?" Dia berbicara pelan.


"Baik." Kaysa menjawab.


"Dia tidak berulah?"


"Tidak."


"Tidak merepotkanmu?"


"Tidak juga."


"Baiklah. Itu bagus."


"Ya, dia sangat pengertian."


"Apa atasanmu tahu kamu sedang hamil?"


"Tahu, aku mengatakannya begitu kami berbicara pada saat breefing tadi."


"Dan tidak ada masalah soal itu?"


"Tidak. Pak Willy malah berpesan kepadaku untuk berhati-hati."


"Pak Willy? Atasanmu laki-laki?"


"Ya, masa perempuan aku panggil Pak?" Kaysa tertawa.


"Apa dia masih muda?"


"Tidak, dia seumuran ayahku. Dan dia pimpinan editor di CTNEWS."


"Oh, baiklah. Aku kira ...


"Apa?"


Rama hanya tertawa.


"Oh iya, mau tahu soal pekerjaan pertamaku?"


"Apa?"


"Ini mengenai persidangan kasus Livia."


"Benarkah?"


"Kenapa harus jadi masalah?"


"Entahlah, apa kamu setuju?"


"Itukan pekerjaanmu, kenapa aku harus tidak setuju?"


"Karena mungkin nanti akan ada pengajuan wawancara eksklusif dari CTNEWS kepadamu."


Rama terdiam.


"Apa boleh?" Kaysa menghentikan kegiatannya sejenak.


"Untuk kepentingan berita?"


"Ya." Perempuan itu menoleh.


"Siapa yang wawancara?"


"Ya akulah, siapa lagi?"


Pria itu berpikir.


"Aku tidak akan memaksa, kalau memang kamu tidak mau. Itu hanya sebagai tambahan saja, karena tugas utamanku hanyalah meliput persidangannya saja."


"Apa wawancaranya akan memberikan keuntungan untukmu?"


"Harus aku katakan ya, terlebih untuk kantor beritanya. Kamu tahu, ini merupakan kasus besar yang mendapat sorotan dari media dan menyita perhatian masayarakat. Jadi, mendapatkan wawancara denganmu adalah hal penting. Selain akan dapat mengangkat beritanya, juga akan menambah rating. Aku tidak akan menutupi soal itu."


"Dan keuntungam untukku?"


"Aku pastikan semua media, juga yang mengikuti beritanya akan lebih menyoroti lagi. Dan itu bisa di jadikan alat untuk memberi sedikit tekanan tambahan kepada mereka. Kamu tahu, persidangan ini tentu tidak akan mudah untuk di jalani. Karena yang kita hadapi adalah pihak yang cukup kuat. Sementara kekuatan kita hanya ada pada bukti. Aku pikir mungkin tekanan media akan sedikit memberikan perlawanan yang cukup berarti."


"Jadi cukup menguntungkan ya?"


"Lumayan."


"Baiklah, ..." Rama menyetujui.


"Kamu bersedia?"


Pria itu menganggukkan kepala.


"Untung reporternya kamu, kalau orang lain aku tidak akan mau."


"Kenapa?" Kaysa terkekeh.


"Aku malas menghadapi keingin tahuan wartawan. Mereka itu cerewet dan pantang menyerah!" Pria itu melepaskan rangkulan tangannya, kemudian mundur.


"Hey, aku juga wartawan tahu?"


"Tapi kamu istriku, dan aku sudah terbiasa."


"Semua wartawan sepertinya sama?"


"Tidak semua."


"Sama. Kalau tidak serba ingin tahu, tidak cerewet dan tidak pantang menyerah ya bukan wartawan namanya. Karena di situlah pekerjaan kami."


"Kalau tidak begitu apa namanya?"


"Tukang rebahan."


"Ada-ada saja kamu ini." Rama tertawa. "Tapi ada bedanya antara kamu dan wartawan lain."


"Apa?"


"Setelah wawancara ada sesi yang lain."


"Maksudnya?"


Rama hanya tersenyum.


"Hah, paling modus?" Sementara Kaysa memutar bola matanya.


"Ini pada ngapain di dapur? Aku cari-cari malah di sini?" Aslan seperti biasa, muncul tiba-tiba.


"Ada apa?" Kaysa bertanya.


"Nggak apa-apa, cuma mau ngasih tahu, kalau minggu depan aku udah ujian."


"Oh ya? Apa ada pengumuman di grup kelas? Mama belum memeriksa hape?" Kaysa cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya.


"Kayaknya ada deh, soalnya tadi ibu guru bilang gitu."


"Baiklah, nanti Mama periksa ya?"


"Hmm ..." Aslan menganggukkan kepala.


"Terus?"


"Apa?"


"Mau apa lagi kembali ke dapur selain memberi tahu mama soal itu?"


"Hehe, ..." Aslan hanya terkekeh.


"Mencurigakan."


"Mau minta cemilan boleh? buat temen ngerjain pr," ucap anak itu dengan mengedip-ngedipkan matanya.


"Kamu baru saja makan, Aslan."


"Iya, makan kan tadi, sekarang mau cemilan."


"Hah, kamu memang hobi makan."


"Tu Mama udah tahu?"


"Memang, ...


"Ayolah, ambilin aku cemilan, biar prnya cepat selesai." Anak itu menunjuk lemari di samping Rama.


"Yang banyak yang banyak!!"


"Segitu cukup," ucap Kaysa kepada Rama yang mengeluarkan beberapa bungkus makanan ringan dari lemari penyimpanan.


"Sekalian lah, biar aku nggak bolak-balik."


"Sudah, untuk nanti."


"Nanti beli lagi aja, Ma. Jangan pelit."


"Duh?"


Lalu anak itu berlari ke ruang tengah dengan banyak makanan di tangannya. Sementara Rama tertawa dengan keras melihat tingkah anak dan istrinya.


*


*


*


Bersambung ...


Emang cuma Aslan yang berani sama Mama Kay, PapaRam aja nggak berani macam-macam πŸ˜…πŸ˜…


Cus klik like komen sama kirim hadiahnya


lopelope sekebon Korma😘😘😘