
*
*
"Ayolah Kay, bangun! ini sudah pagi." Rama menarik lengan Kaysa yang memeluk erat bantal gulingnya.
"Jangan ganggu aku, masih ngantuk." perempuan itu menolak, lalu dia kembali berbaring.
"Ayolah, mumpung udaranya masih bagus, kita olah raga." Rama terus berusaha membuatnya terbangun.
"Tidak mau, aku tidak suka olah raga."
"Ini untuk kesehatan."
"Aku sehat."
"Agar kamu kuat."
"Aku kuat, menghadapimu saja kuat, jadi aku tidak butuh olah raga, hanya butuh makan yang banyak dan bergizi."
"Oh ya?" pria itu berhenti membujuknya.
Namun Kaysa merasakan jika selimut yang menutupi tubuh telanjangnya ditarik ke bawah, sehingga semuanya terpampang nyata. Kemudian tempat kosong di sampingnya terasa begoyang. Dan di detik kemudian Rama sudah berada di atasnya. Dia sudah siap dengan celana pendek dan kaus tanpa lengannya yang menjadi pakaian olah raganya.
Perempuan itu membuka mata.
"Benarkah? kalau begitu aku olah raganya di sini saja?" ucap Rama dengan wajahnya yang begitu dekat. Dia mengungkung tubuh telanjang Kaysa di antara tubuh dan kedua lengannya yang berotot.
Kaysa berpikir ulang, namun kemudian dia tersadar.
"Baiklah baik," katanya yang segera bangkit lalu mendorong pria itu. Dan dia segera berlari ke dalam kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Masih?" perempuan itu meletakan botol minuman yang sudah habis setengahnya. Tubuhnya sudah berkeringat, dan pakaian olah raganya sudah basah, namun suaminya tampak belum akan mengakhiri kegiatan olah raga mereka.
Catat, olah raga. Kegiatan yang sebenar-benarnya yang setiap hari Rama lakukan. Dan kini dia mengajak Kaysa untuk melakukannya juga.
"Masih lah, yang barusan itu baru pemanasan." jawab rama yang memasang handwrap di tangannya. Sejenis kain yang cukup panjang yang di gunakan sebagai pelapis sebelum menggunakan sarung tinju.
"Terus, setelah ini apa?" Kaysa berdiri memperhatikan.
"Aku akan mengajarimu beberapa hal." pria itu mengeluarkan handwrap lain dari sebuah tas, dengan sarung tinjunya yang berukuran kecil.
"Apa?"
Rama segera memasangkan benda tersebut di telapak tangan Kaysa, melingkari sela ibu jari hingga bagian bawah kelingkingnya yang kecil.
"Tapi sebelumnya, kita pastikan keselamatanmu dulu. Aku tidak mau tanganmu yang indah ini cedera nantinya." katanya yang memasangkan ke tangan lainnya.
"Iya, tapi untuk apa? kamu mau mengajariku tinju?" perempuan itu terkekeh.
"Kamu tahu Muai Thai?"
"Kick boxing?"
"Ya, ... seperti itulah."
"Aku tahunya kick boxing. Dulu waktu SMA pernah mau ikutan. Tapi papa melarangku."
"Tapi pernah?" Rama bertanya.
"Pernah ikut latihan satu kali, setelah itu tidak boleh lagi."
Rama terkekeh.
"Nah, sekarang mimpimu akan terwujud." Rama menyelesaikan pekerjaannya.
"Mimpi apa?"
"Ikut kick boxing."
"Di mana?"
"Di sini, aku yang ajari."
"Kamu bilag Muai Thai?"
"Hampir sama."
"Memangnya kamu bisa?"
"Bisa lah, apa yang aku tidak bisa?"
"Romantis, kamu tidak bisa?"
"Beda lagi Kay. Urusan semacam itu aku angkat tangan. Tapi kalau soal senjata, kamu bisa mengandalkan aku."
"Senjata?"
"Iya, ...
"Senjata yang mana?"
"Umm ...
"Eh, maksudnya ... terus kenapa aku harus belajar ini?" Kaysa mengalihkan topik pembicaraan.
"Agar kamu bisa jaga diri." jawab Rama.
"Jaga diri dari apa?"
"Dari bahaya."
"Bahaya apa?"
Rama terdiam sebentar.
"Aku banyak tanya ya? hehe." namun Kaysa malah tertawa.
"Bahaya bisa datang kapan saja, terutama saat aku sedang tidak ada. Jadi kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri."
"Memangnya kamu mau kemana sih?"
"Iya, kamu anggota pasukan Khusus." Kaysa sedikit berbisik.
"Apa istri anggota pasukan khusus harus bisa bela diri?"
"Tidak juga."
"Terus, kenapa aku harus bisa?"
Rama menatap wajah istrinya untuk beberapa detik.
"Aku merasa kamu harus bisa, karena mungkin saja suatu hari nanti kamu akan membutuhkannya."
"Butuh untuk apa?"
"Untuk apa saja. Bukankah kamu ingin kembali bekerja?"
"Iya, tapi apa hubungannya?"
"Kamu tahu, pekerjaan wartawan sekarang ini bisa saja berbahaya? mengingat kamu akan mencari informasi ke tempat yang kamu tidak tahu, dan menghadapi orang-orang yang mungkin berbahaya? apa lagi kamu perempuan."
"Pikiranmu kejauhan pak. Aku kan wartawan hiburan, yang aku cari berita soal gaya hidup, masalah sosial ...
"Tapi siapa tahu kamu tiba-tiba menghadapi kasus kriminal?"
"Hah? bercanda ya? itu bahaya."
"Itulah kenapa kamu harus bisa bela diri. Setidaknya untuk jaga-jaga."
"Aku menyesal dulu tidak mengajari Livia, kalau tidak mungkin saat ini dia masih ada. Dan aku tidak akan merasakan kehilangan yang sangat berat."
"Umm, ....
"Jadi, mengerti kan kenapa aku mengajarimu hal seperti ini?" dia mengeratkan tali di ujung ikatan.
Kaysa menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Baik." pria itu bersiap.
"Ikuti aku." dia berdiri dengan posisi tubuh yang agak membungkuk. Kedua tangannya terkepal di depan dada.
"Tunggu, kenapa aku tidak pakai sarung tinjunya?" Kaysa tidak segera mengikuti arahannya.
"Nanti. Sekarang kita belajar teknik dasarnya dulu."
"Kan sudah pemanasan?"
"Itu beda Kay."
"Beda lagi?"
"Hhhh ..." Rama mulai kesal, dan dia menurunkan tangannya.
"Baik, baik pak." perempuan itu melonjak-lonjak sambil tertawa.
Kemudian latihan awal pun di mulai. Rama menggerakkan kepalan tangannya, meninju di udara beberapa kali secara bergantian. Beberapa langkah maju, dengan gerakan tubuh yang terkadang tegap, dan sesekali menunduk seperti menghindari pukulan. Kemudian Kaysa mengikutinya setelah memperhatikan terlebih dahulu.
Berkali-kali Rama menghentikannya ketika gerakan yang dia lakukan tak seperti yang di ajarkan. Kemudian pria itu mengulanginya lagi hingga Kaysa mengerti dan melakukannya dengan benar.
"Ulangi!" katanya, untuk ke sekian kali. Dan Kaysa melakukannya lagi.
Melakukan gerakan memukul, meninju, kemudian menendang.
"Masih kurang!" ucap Rama lagi.
"Aku kan pemula, masa langsung bisa?" Kaysa mengeluh.
Keringat terus bercucura dari kepalanya. Melewati wajah, lalu turun ke leher. Hingga pakaian olah raganya kembali terlihat basah. Namun dia tetap melakukan yang di perintahkan. Walau kenyataannya, tubuhnya sudah terasa letih.
"Sekali lagi." Rama kembali berucap.
"Kapan sih latihannya selesai? aku sudah lelah. Tidak lihat ya?"
Namun Rama hanya tersenyum.
"Senang sekali kamu menyiksaku ya?" Kaysa mengusap keringatnya di dahi, dengan napas yang tersengal-sengal.
"Baiklah, baiklah. Cukup untuk hari ini."
"Hhhh ...." perempuan itu mejatuhkan tubuhnya di lantai.
"Hey, jangan dulu istirahat." Rama menunduk di dekatnya.
"Apa lagi? bukankah sudah selesai?" Kaysa merengek.
"Pendinginan dulu. Baru kamu bisa istirahat."
"Tapi aku sudah lelah. Nanti juga dingin sendiri." perempuan itu menjawab.
"Tidak bisa Kay, nanti kamu akan cedera." Rama kembali menarik lengannya.
Namun Kaysa tak merespon.
"Kay?" Rama menggoyangkan tangannya.
"Kalau aku cedera, maka kamu harus bertangung jawab." ucap perempuan itu dengan suara parau. Bahunya bergerak naik turun dengan napas yang tersengal-sengal.
"Apa?"
"Nanti, kamu harus bertanggung jawab kalau aku mengalami cedera." ulangnya, kemudian bangkit.
*
*
*
Bersambung ...
sampai di situ dulu latihannya ya? 😂😂