
*
*
Alan mendekati pintu yang sedikit terbuka setelah menunggu beberapa lama. Dan yakin jika kegiatan di dalamnya sudah berhenti ketika suara raungan seorang perempuan tak lagi terdengar.
Benda tersebut kemudian terbuka, dan sosok Frans yang muncul setelahnya. Sebatang rokok menyala di mulutnya, dan dia hanya mengenakan celana panjangnya tanpan atasan, yang menampilkan tubuh bagian atasnya yang terdapat beberapa luka bekas cakaran di pundak.
"Kau sendiri?" Dia menilik ke arah samping.
Alan menganggukkan kepala.
"Baiklah." Pria itu menyentakkan kepalanya ke samping, seraya berjalan ke arah ruangan di sebelah. Dan Alan mengikutinya.
"Kenapa kau memilih bangunan tua ini untuk bersenang-senang? aneh sekali." Alan melirik celah pintu yang terbuka sedikit, dan samar-samar melihat tubuh perempuan telanjang tertelungkup di atas tempat tidur.
"Itu urusanku."
"Kau tidak pernah berubah ya?"
Frans terdengar mendengus.
"Mangsa baru heh?" Kemudian dia bertanya.
"Hmm ... hanya sedikit bermain-main."
"Kau sewa?" Mereka kini sudah berada di dalam ruangan yang tampak seperti ruang kerja tersebut.
"Tentu saja, mereka tidak akan mau datang dengan cuma-cuma." Frans menjatuhkan tubuhnya di kursi.
"Kecuali gadis itu." Lalu dia terkekeh seraya meniupkan asap dari rokok yang di sesapnya ke udara.
"Kau tahu dia tidak datang begitu saja, ...
"Tapi bagus juga kan? kita mendapat mangsa yang sepadan. Belum tersentuh oleh siapa pun, dan itu bagus." Frans tertawa cukup keras.
"Diamlah, aku datang kemari bukan untuk membicarakan itu."
"Ada apa sepupu? kau sudah bosan? Dapat mangsa baru lagi? sebaiknya kau bawa kemari agar kita bisa berbagi lagi." Frans mematikan rokoknya di asbak yang tersedia, kemudian menyesap minuman berwarna pekat yang dia tuangkan dari botol.
"Kau tahu itu tidak akan pernah terjadi lagi, dan satu-satunya kesalahan yang aku buat karena membaginya denganmu."
Tawa Frans menyembur begitu saja.
"Omong kosong, lalu dengan siapa kau akan berbagi? sejak dulu kita selalu berbagi, bukan? Bahkan Aline sekalipun." Pria itu mencondongkan tubuhnya dengan ekpresi yang tidak terlalu menyenangkan.
"Jangan ingatkan itu!"
"Kenapa? kau malu?" Frans tertawa lagi. "Karena berbagi adikmu yang sakit denganku?"
Alan menggelengkan kepalanya. "Seharusnya dia hanya milikku." katanya.
"Kau tahu, ini mulai terasa membosankan." Frans kembali menyalakan rokoknya.
"Dua tahun hanya bermain-main seperti ini, tanpa sesuatu yang menantang." asap menguar memenuhi udara yang sejak awal memang terasa pengap.
"Sayang sekali kau memghabisinya, kalau tidak ... kita akan punya mainan yang sangat bagus."
"Kau tahu, dia memberontak dan aku tidak dapat menahan emosiku."
"Lalu mengapa kau tidak mencari gadis lain seperti biasanya? seperti yang aku katakan kau mulai membosankan."
"Keadaannya tidak kondusif sekarang ini, lagi pula aku tidak sengaja menjeratnya waktu itu. Kalau saja dia tidak memergoki pembicaraan kita, sudah di pastikan dia selamat."
"Dan lagi Rama mulai bergerak lagi untuk mencari bukti."
"Hmm, ... dan Kaysa sudah mulai ikut campur kan?" Frans menunjukkan layar laptopnya yang terhubung dengan cctv, yang menampilkan sosok Kaysa yang tertangkap kamera di tihang bangunan dengan jelas. Kemudian dia bangkit.
"Jelas mereka sudah menaruh kecurigaan kepadamu, dan ini karena kebodohanmu! Kalau saja kau tak sering mengunjungi makamnya, maka hal ini tidak akan terjadi. Dasar bodoh!" hardiknya, dan dia melemparkan puntung rokok yang masih menyala ke depan Alan.
"Sebaiknya kau perbaiki masalah ini, dan buat mereka terkecoh." katanya lagi.
"Bukankah uang dan kekuasaanmu bisa membungkam segalanya? seperti yang sudah-sudah?"
"Yang kita hadapi ini berbeda, dan kau lebih tahu dari pada aku. Jadi sebaiknya cepat kau lakukan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu boleh kembali ke posmu, Dikka." Kaysa turun meletakkan tas kecilnya di atas meja, sementara Dikka meletakkan barang belanjaannya.
"Tidak ada lagi yang mau ibu lakukan?" Pria tegap itu berdiri tak jauh dari counter.
"Tidak ada, mau apa lagi? mau melihat situasi tadi kan kamu larang?" Kaysa mendelik.
Dan Dikka hanya tersenyum.
"Baiklah bu, kalau begitu saya kembali. Ibu bisa panggil saya kalau ada apa-apa."
"Sudah tahu."
Kemudian pria itupun pergi.
Kaysa menyandarkan bokongnya pada counter di belakang, memikirkan cara apa yang bisa membuatnya keluar dari tempat ini sendirian tanpa pengawalan. Karena keberadaan pengawal membuatnya tak leluasa melakukan sesuatu.
Tapi pergi sendiripun akan membuatnya ada dalam masalah karena jelas membahayakan. Dan Rama tidak akan bisa di ajak berkompromi soal itu.
Kemudian terdengar suara pintu di buka dan di tutup dengan cepat.
"Ya?" Kaysa bergegas ke ruang depan untuk melihat.
"Aku kira Dikka kembali, taunya kamu?" katanya, ketika mendapati Rama sudah berada di dalam rumah.
"Syukurlah." pria itu segera memghampiri, kemudian memeluknya dengan erat.
"Ada apa? kamu baru sampai?" Kaysa memundurkan kepalanya untuk menatap suaminya.
"Oh iya, ini sudah sore, dan kita harus menjemput Aslan sebentar lagi." Dia melepaskan diri, dan hampit berbalik ketika Rama menghentikannya.
"Umm ...
"Kamu tidak usah keluar, jangan pergi ke manapun, biarkan mereka yang melakukan sesuatu, oke?" Rama berbicara dengan suara bergetar.
"Maksud kamu?"
"Tidak ada, hanya tunggu saja di rumah."
"Apa terjadi sesuatu?" Kaysa balik bertanya, dan dia menatapnya dengan kening berjengit.
"Tidak, hanya saja ...
"Apa terjadi sesuatu kepada Aslan?" pikirannya segera tertuju kepada putranya.
Rama tak menjawab.
"Ram! katakan!"
Bibir Rama tampak berkedut-kedut. Tampak sekali dia ingin mengatakan sesuatu, tapi segalanya bagai tertahan di tenggorokkan. Namun dia tetap harus mengatakannya.
"Seseorang menabrakkan mobilnya pada mobil Radit dalam perjalanannya mengantarkan Aslan kemari." Rama tak punya pilihan lain.
Kaysa terdiam dengan mulut menganga, dan dia merasakan tubuhnya lemah seketika.
"Mereka tidak sadarkan diri sementara Aslan ...
"Kenapa Aslan?" kemudian dia bereaksi.
"Aslan ...
"Ada apa dengan Aslan?" Kaysa setengah berteriak. Tentu saja rasa panik segera menyerangnya begitu nama putranya dia sebut. Dia tahu keadaannya tidak baik-baik saja.
"Katakan Ram, ada apa dengan Aslan? apa dia terluka?"
Rama malah menatap kedua bola matanya yang mulai tergenang. Hatinya pasti hancur ketika harus mendengar apa yang terjadi, tapi ini bukan hal yang bisa dia rahasiakan darinya.
"Katakan kenapa Aslan!" Kaysa memukul dadanya dengan keras.
"Sebuah ... mobil tiba-tiba menabrak mereka dari belakang hingga terpental dan membentur pembatas jalan. Radit dan dua pengawal terluka parah dan tak sadarkan diri, sedangkan Aslan ..."
"Aku tanya kenapa Aslan!?" Kaysa mulai histeris. Pikirannya tentu saja buruk saat ini, dan dia merasa tak kuasa mendengar apa yang akan pria itu katakan selanjutnya.
"Aslan menghilang. Seseorang membawanya pergi dari tempat kejadian." Kaysa merasakan dunianya runtuh seketika. Nyawanya seperti ditarik secara paksa dan dia merasa tak ada daya dan upaya.
"Tidak, jangan Aslan!" Dia hampir saja ambruk jika Rama tak memeluknya.
"Maafkan aku, tapi aku janji akan menyelamatkannya."
"Tidak! Aslan!" Kaysa berteriak sekeras yang dia bisa.
Perempuan itu berusaha melepaskan rangkulan tangan Rama di tubuhnya.
"Kamu bilang dia akan aman!" Kaysa menjauh begitu Rama melepaskannya.
"Kay!"
"Kamu bilang mereka akan menjaganya!" Dia menunjuk wajah suaminya.
"Tenang Kay!"
"Kamu bilang mereka akan melindunginya!"
"Dan kamu bilang mereka akan selalu mengawasinya, tapi lihat?" Kaysa berbalik ke arahnya.
"Mereka bahkan membiarkan Aslan dibawa pergi!"
"Lihat? sebagai aparat kamu benar-benar tidak berdaya. Mereka bahkan tidak memandangmu yang telah melakukan banyak hal demi negara ini. Kematia adikmu pun sepertinya tidak berarti, lalu bagaimana dengan Aslan?"
"Aku tanya, bagaimana dengan Aslan!" Kaysa berteriak kencang di depan wajahnya.
"Jika Livia saja mampu mereka lukai, lalu bagaimana dengan Aslan?" Kaysa kemudian Ambruk di lantai, dan dia tergugu dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
"Bagaimana dengan Aslan!" katanya lagi, lalu sesaat kemudian dia bangkit.
Perempuan itu berlari keluar rumah, kemudian berteriak memanggil Dikka. Yang segera keluar dari pos penjagaan.
"Tenang dulu Kay, kita tidak boleh gegabah." Rama mengejarnya.
"Tidak! aku harus menyelamatkam anakku!"
"Kita lakukan hati-hati!" Rama meraih tangannya.
"Hati-hati katamu? sampai datang kabar jika mereka juga membunuh Aslan? begitu?"
"Aku pernah kehilangan dia sekali. Aku tidak mau kehilangan dia lagi. Meski itu harus mengorbankan nyawaku sekaipun!"
"Entah denganmu, tapi aku tidak ingin diam saja sampai bertahun-tahun tanpa kepastian. Aku harus memyelamatkan Aslan!"
Namun Rama segera memeluknya lagi untuk menahannya, kali ini lebih erat.
"Lepaskan aku!" Kaysa meronta.
"Kita akan menyelamatkannya."
"Dengan cara apa? meminta tolong pada mereka yang bisa di kendalikan musuh? begitu?"
Rama terdiam sebentar.
"Kita akan menyelamatkannya, aku janji. Apa pun akan aku lakukan untuk membawa Aslan kembali." katanya, sebelum akhirnya Kaysa kembali ambruk di tanah dengan tangisnya yang terdengar memilukan.
*
*
*
Bersambung ...