
*
*
"Tumben pagi-pagi kamu sudah mandi? mau latihan lagi?" Rama yang sudah siap dengan pakaian olahraganya.
Aslan tak menjawab, namun dia melenggang ke dapur di mana ibunya berada.
"Mama?"
"Ya, sayang? sudah lapar? mau makan?" tawar Kaysa yang telah menyelesaikan pekerjaannya pagi itu. Mengolah beberapa macam makanan untuk sarapan mereka.
"Seragam aku mana?" Aslan mendekat kepadanya.
"Seragam?" Kaysa mengerutkan dahi.
"Hu'um, seragam."
"Seragam sekolah?" Kaysa memperjelas ucapannya.
"Iya, masa seragam polisi? nggak akan muat." jawab aslan sekenanya.
"Untuk apa?"
"Kok Mama tanya untuk apa? Ya untuk sekolah lah." jawab bocah itu lagi.
"Sekolah?"
"Ish, Mama lama! Malah banyak tanya lagi. Ya untuk sekolah lah, masa untuk camping?" Aslan tampak kesal.
"Memangnya kamu sudah mau sekolah lagi?" Rama muncul setelah mendengarkan percakapan ibu dan anak tersebut.
"Iya."
"Kenapa?"
"Kok tanya kenapa? ya karena harus sekolah. Nanti aku ketinggalan banyak lho?"
"Begitu?"
"Iyalah, masa gitu aja Papa nggak ngerti?"
Rama tergelak mendengar ucapannya.
"Memangnya kamu sudah berani?" Pria itu kembali bertanya.
"Udah dong, emangnya kenapa harus nggak berani sih? nggak ada apa-apa di sekolahnya juga kan?"
Suami istri itu saling pandang.
"Mau tetap di sekolah itu, atau mau pindah?" Kaysa juga bertanya, mengingat kejadian terakhir yang putranya alami sehingga dia tak mau bahkan sekedar lewat saja di depan sekolah tersebut.
"Nggak usah." Aslan menjawab.
"Kamu yakin? sudah tidak takut lagi?"
"Yakin, dan nggak takut lagi." jawab Aslan dengan tegas.
"Benarkan?" Rama menyela. "Bukankah waktu itu kamu masih takut?"
"Sekarang udah nggak."
Mereka kembali saling pandang.
"Ayo cepet! seragamnya mana? nanti aku kesiangan. Kan malu sama temen-teman." ucap Aslan yang menarik lengan ibunya ke dalam kamar.
***
"Papa nggak jadi latihannya?" Aslan menemukam ayah sambungnya sudah siap dengan mobinya.
"Bisa nanti, sekarang kita antarkan kamu sekolah dulu." Rama melirik kepada Kaysa. Dia tidak yakin dengan keputusan anak itu soal kembali ke sekolah, mengingat traumanya yang begitu parah setelah mengalami perundungan beberapa bulan yang lalu.
"Ya udah, kalau gitu cepetan!" Aslan segera masuk ke dalam mobil begitu Rama membukakan pintunya.
Jarak dari rumah ke sekolah Aslan tidak terlalu jauh. Dalam waktu lima menit saja mereka sudah sampai, dan ketiganya di sambut dengan begitu terbuka oleh pihak guru dan kepala sekolah, yang telah Kaysa kabari sebelumnya.
"Selamat datang, apa kabar?" Kepala sekolah langsung menyambut.
"Baik Bu, terimakasih."
"Aslan sudah baikkan sekarang?"
"Udah, aku mau belajar lagi sama temen-temen." jawab Aslan tanpa canggung sedikitpun.
"Bu Kaysa yakin?" sang guru bertanya.
"Aslan sendiri yang pagi ini meminta. Kami hanya menuruti keinginannya saja Bu." Kaysa menjawab.
"Begitu ya? baik. Syukurlah kalau misalnya Aslan sudah membaik."
"Iya Bu."
"Apa absennya beberapa bulan tidak akan berpengaruh terhadap nilainya nanti?" Rama menyela percakapan.
"Karena alasannya kuat, maka untuk Aslan ada pengecualian Pak. Apa lagi Aslan selalu mengerjakan tugas yang saya berikan. Saya rasa itu tidak akan terlalu berpengaruh."
"Baiklah kalau begitu."
"Kalau mau, Aslan sudah boleh masuk kelas. Teman-teman sudah menunggu." Ucap sang guru.
"Oke." Anak itu bangkit dari duduknya.
"Kamu benar-benar yakin ya?" Dan Rama bereaksi karenanya.
"Iyalah, ngapain ke sekolah kalau nggak masuk kelas?" anak itu menjawab lagi.
"Ada saja jawabanmu ya?" Rama mengacak puncak kepalanya.
"Papa, ish! Rambut aku berantakan jadinya!" Aslan merapikan rambutnya dengan raut kesal, namun hal tersebut membuat kedua orang tua beserta guru dan kepala kelasnya tertawa bersamaan.
Kemudian mereka memutuskan keluar dari ruang kepala sekolah, dan mengantarkan Aslan sampai ke dalam kelas. Yang segera di sambut oleh teman-teman yang bersemangat menunggu kedatangannya ketika mereka juga mengetahui bahwa bocah itu akan kembali bersekolah bersama mereka.
Dan hal yang tidak di duga pun terjadi. Ketika dengan mudahnya Aslan berbaur bersama teman-teman sebayanya, dan dia tidak tampak ketakutan sama sekali seperti sebelumnya.
"Dia benar-benar sudah pulih Kay." Rama bergumam.
"Iya, dan itu membuat lega bukan?" Kaysa mengamini.
"Hmm ... kita tidak usah khawatir lagi. Dia sudah membaik."
"Kamu benar."
***
"Lalu bagaimana dengan perkembangan kasusnya?" kepala sekolah bertanya dalam perjalannya mengantar Rama dan Kaysa ke tempat mereka memarkirkan mobil. Keduanya memutuskan untuk pergi setelah yakin jika Aslan akan baik-baik saja.
"Saya dengar anak-anak itu masuk rehabilitasi." Rama menjawab.
"Anda tidak menghadiri sidangnya?"
"Tidak, karena Aslan selalu histeris kalau salah satu dari kami pergi. Dia tidak mau ditinggalkan."
"Sayang sekali anda tidak mengawal sidangnya sampai mendapatkan keadilan untuk Aslan."
"Tidak apa, karena memang sulit juga. Apa lagi dengan pekerjaan saya ini."
"Benar. Dan bagaimana juga kemajuan kasus yang satu itu? semua orang tahu ya Pak?
"Masih tahap penyelidikan."
"Semoga semuanya cepat selesai Pak."
"Iya, terimakasih."
"Baik."
"Kami titip Aslan, Bu. Semoga tidak ada lagi kejadian seperti yang di alami putra kami di sini."
"Iya Pak. Kami berusaha sebaik mungkin agar hal itu tidak terulang lagi."
"Itu bagus. Terimakasih sekali lagi."
"Iya Pak, sama-sama."
Kemudiam keduanya segera pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mau menjenguk Radit?" tawar Rama ketika mereka dalam perjalanan pulang.
"Untuk apa?" Kaysa sibuk dengan ponselnya.
"Untuk apa katamu? dia terluka saat sedang bersama putramu, tapi kamu tanya kenapa?"
"Ah iya, aku lupa."
"Sebenci itukah kamu kepadanya? sehingga dalam keadaan seperti ini pun kamu tidak memiliki empati?"
"Aku tidak membenci dia Ram." Kaysa menoleh kepadanya.
"Lalu mengapa sikapmu selalu seperti itu kepada Radit? dia kan papanya Aslan."
"Memangnya aku harus bermanis-manis ya kepadanya? dia kan cuma mantan suami. Memangnya kamu tidak akan merah melihatku seperti itu?"
"Ya tidak bermanis-manis juga, tapi setidaknya jangan menunjukkan kebencianmu kepadanya. Walau bagaimanapun kalian pernah saling memiliki."
"Ish! kesal sekali aku kalau ingat itu!" Kaysa menggeram mendengar perkataan suaminya.
"Kenapa harus kesal?" Rama tergelak.
"Jangan ingatkan aku soal itu, menyesal aku waktu itu tidak kabur saja. Toh tidak akan terjadi apa-apa walau tidak menikah dengannya."
"Kalau begitu kamu menyesali keberadaan Aslan?"
"Siapa bilang? Aslan itu hal terbaik yang aku miliki. Kalau dia tidak ada, mungkin aku sudah tersesat di dunia kelam!"
"Maka jangan berkata seperti itu Kay."
"Apa?"
"Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Kamu tahu, semuanya sudah di gariskan sejak sebelum kita lahir. Alur hidupnya seperti apa, lalu bagaimana kita melaluinya, dan bagaimana kita menghadapinya. Jadi jangan sesali apa pun, karena sudah begitu jalannya."
"Uuuhhh, ... bijak sekali Bapak Rama Hadinata ini ya? Selain hebat menjalankan misi, pemberani dan tangguh, kamu juga bijaksana. Membuat aku jadi semakin mencintaimu deh." Kaysa mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi suaminya.
"Kamu ini apa-apaan sih?" Rama dengan pipinya yang merona.
"Serius, kamu membuatku jatuh cinta berkali-kali setelah semua yang kamu lakukan untuk aku dan Aslan. Itu manis sekali, walaupun kamu tidak romantis." Perempuan itu tertawa melihat ekspresi suaminya. Dia selalu merasa senang setiap kali Rama bereaksi atas segala yang di ucapkannya.
"Buat apa aku romantis? kamu sudah gombal duluan." Rama memutar bola matanya.
"Tidak apa-apa, aku kan gombal kepada suamiku sendiri? dari pada gombal kepada suami orang?"
"Awas saja!" Rama mengangkat tangannya yang terkepal.
"Tidak aka berani Pak. Amukanmu menakutkan." Perempuan itu memasukkan ponselnya ke tas, kemudian bergeser dan mencondongkan tubuh, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.
"Kamu sudah tahu kan?" Rama dengan bangganya.
"Hu'um, ... jadi ayo kita pulang? kamu bisa mengamuk sesukamu karena Aslan tidak ada di rumah." Kaysa mendongak, kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya.
Sementara Rama menahan senyumnya dengan dada yang kian berdebar.
*
*
*
Bersambung ...
Hadeh, .. pada-pada bucin 😂😂😂 gaskeun lah, mumpung kagak ada bocah di rumah 😉
jan lupa like komen sama hadiahnya
lope lope sekebon korma 😘😘