Kopassus And Me

Kopassus And Me
Tanggung Jawab



*


*


"Om bajunya agak kegedean." Aslan keluar dari kamar dengan pakaian baru yang di belikan Rama untuknya dari market place online tiga hari yang lalu.


Namun pria itu tak merespon. Dia asyik memperhatikan Kaysa yang tengah membereskan meja setelah mereka sarapan bersama, seperti biasa.


"Ck! om!" bocah itu berteriak.


"Hah? apa?" Rama akhirnya mengalihkan perhatian.


"Bajunya kegedean!" Aslan berjalan ke arahnya.


"Oh, ...


"Cuma oh?" protes anak itu dengan kesal.


"Ya ... bagus kan? jadi tidak akan cepat kekecilan. Jadi bisa di pakai lama, dan mamamu tidak harus sering-sering beli baju."


"Kedodoran om!"


"Oh ya? sepertinya tidak. Lihat Mama?" ucapnya kepada Kaysa, yang langsung menoleh.


"Kalau pakai ukuran ini apa kebesaran?" Rama bertanya seraya sedikit menarik jaket hoodie yang di kenakan Aslan.


"Umm, ... cukup. Memang harus agak kebesaran sedikit." jawab Kaysa.


Tadi itu apa ya? huh, bikin aku kaget saja! batinnya, lalu kembali pada pekerjaannya.


"Nah kan? om bilang juga apa?" Rama kembali kepada Aslan.


"Ah, ... emang susah kalau mama sama om udah sekongkol." keluh Aslan yang akhirnya harus pasrah dengan hal tersebut.


"Apa?" Rama tergelak.


"Mama sama om udah sekongkol, nggak kayak biasanya." ulang Aslan yang kemudian mengenakan sepatunya. Sementara Rama hanya tertawa.


"Kamu serius tidak mau ikut?" dia beralih kepada Kaysa.


"Sepertinya tidak. Aku banyak pekerjaan." perempuan itu setengah berbisik.


"Pekerjaan apa?"


"Ya pekerjaan rumah lah, apa lagi? aku kan ibu rumah tangga. Dua minggu ini mengurusi Aslan membuat apartemen ini tidak karuan, lihat?" dia melihat sekeliling ruangan tidak terlalu besar itu yang agak berantakan.


"Hmm ..." Rama bergumam.


"Sementara kamu ajak Aslan keluar, aku akan membereskan apartemen kecil ini, oke?" katanya, dengan ekspresi imut-imutnya.


"Hah, alasan. Bilang saja kamu takut aku suruh olah raga?"


"Nah itu tahu? eh ..." Kaysa menutup mulut dengan tangannya, lalu tertawa.


"Kan?" Rama bereaksi.


"Cepat sana! nanti GBK nya keburu penuh." Kaysa mendorong Rama ke arah pintu.


"Tidak akan, memangnya GBK hanya sebesar tempat parkir apartemen ini apa?"


"Ya kan siapa tahu semua orang Jakarta olahraga disana hari ini? kan akhir pekan?"


Sementara Rama hanya mencebik.


"Cepat, sana! nanti keburu siang, panas."


"Baru selesai sarapan? nanti Aslan sakit perut?"


"Tidak akan, jalan santai saja. Bagus juga dia menggerakkan badannya."


Rama mendengus pelan.


"Aslan, ayo nak." namun akhirnya dia menurut juga.


***


"Om emangnya nggak kerja ya?" mereka berjalan santai menuju Stadion kebanggaan negara itu.


"Akhir pekan, Aslan." Rama menjawab.


"Emang kalau akhir pekan libur?"


"Tidak juga."


"Kok pagi-pagi udah bisa ke rumah?"


"Kebetulan tidak ada panggilan tugas."


"Oh, ... emang harus ada panggilan dulu baru om kerja ya?"


"Begitulah."


"Om cowok panggilan dong?"


"Apa?" Rama berhenti berjalan.


"Iya, kan kerjaannya setiap ada panggilan aja?"


Rama tertawa sambil menggelengkan kepala.


"Aslan, Aslan. Kamu ada-ada saja sih?" pria itu mengacak rambut di kepalanya, kemudian mereka kembali berjalan.


Namun Aslan tiba-tiba berhenti tepat beberapa meter sebelum bangunan yang dia hafal sebagai tempatnya bersekolah selama hampir satu tahun ini.


"Ada apa?" Rama juga ikut berhenti.


"Kenapa sih pakai lewat sini segala?" Aslan bergumam.


"Memangnya kenapa?" pria itu bertanya.


"Kita bisa lewat jalan lain nggak?" pinta Aslan kepadanya.


"Lewat sini lebih dekat, kalau jalan lain jadinya kita memutar lebih jauh."


Aslan terdiam.


"Kamu takut?" pria itu berjongkok di depannya.


"Tidak apa-apa. Itu hanya sebuah bangunan, benda mati yang tida akan menyakitimu sama sekali."


Aslan balik menatapnya dengan bibir bergetar. Dia hampir menangis ketika ingatannya kembali berputar saat terakhir kali menjalani hari-harinya di tempat itu.


"Hal yang normal jika kita merasa takut, karena kita manusia. Itu akan menghentikan kita dari berbuat hal yang berbahaya. Tapi jangan membiarkan rasa takut itu menguasai kita, Aslan. Keberanianmu harus lebih besar dari rasa takut itu sendiri."


"Om pernah merasa takut?" anak itu bertanya.


"Pernah."


"Takut apa?"


"Takut sendirian."


"Masa? om kan udah dewasa, masa takut sendirian? lagian om juga polisi."


"Takut itu tidak memandang seseorang sudah dewasa atau masih kecil. Polisi atau orang biasa. Tapi Itu satu bentuk perasaan alami manusia." dia mengulurkan tangannya.


Aslan menatap wajah Rama, kemudian tangannya yang terulur secara bergantian.


"Ayo, kita jalan lagi, jangan berhenti karena kamu merasa takut. Tapi hadapilah rasa takut itu agar kamu bisa mengalahkannya." ucap pria itu sambil menggendikkan kepalanya.


Aslan tidak langsung merespon, tapi sesaat kemudian dia meraih uluran tangan pria itu, kemudian mengikuti langkahnya melewati gerbang sekolah itu yang terkunci rapat.


"Jangan di lihat kalau takut." ujar Rama, namun Aslan tetap menatap bangunan tersebut yang tampak menakutkan baginya.


Genggaman tangannya pada Rama bahkan mengencang dengan sendirinya. Hingga setelah beberapa langkah mereka berhasil melewatinya, dan keduanya melanjutkan langkah ke halte bus terdekat kemudian naik angkutan yang datang bersamaan. Hingga setelah setengah jam kemudian keduanya tiba di depan bangunan megah itu.


Orang-orang sudah memenuhi tempat tersebut, dengan maksud akan melakukan hal yang sama. Berolah raga, setelah satu minggu penuh menjalani aktifitas dan berjibaku dengan kesibukan.


Ada yang berlari mengitari stadium, bersenam ria di pelataran parkir, atau bahkan bersepeda dan bermain di arena lari yang tersedia. Namun semuanya memiliki aura yang sama, yakni bersemangat.


Begitu juga dengan dua orang yang berbeda usia ini. Mereka berlari saling menyemangati, walau sebentar-sebentar berhenti karena Aslan yang mulai kelelahan.


"Capek om." anak itu berhenti lalu membungkukkan tubuhnya.


Keringat membanjiri dari kepala hingga ke leher dan wajahnya memerah. Matahari jelas telah bersinar cukup terik hari itu, padahal belum sampai pada tengah hari.


"Mau berhenti?" tawar Rama kepadanya.


"Boleh?"


"Ya boleh. Masa tidak boleh?" dia menariknya ke pinggir lintasan.


"Kayaknya seharusnya tadi kita nggak makan dulu ya?" Aslan duduk di pelataran, menerima air mineral yang di sodorkan Rama kepadanya.


"Memangnya kenapa?"


"Perut aku agak sakit." dia memegangi perutnya.


"Seharusnya begitu, tapi mama mu memaksa."


"Harusnya om nolak dong, masa nurut terus apa yang mama bilang?" Aslan mengusap wajahnya yang berkeringat.


"Kamu sendiri, mau-mau saja di suruh mama?"


"Kalau nggak nurut bahaya om, bisa kena omelan."


"Nah itu, makanya om juga nurut."


"Om kan udah dewasa, bisa malawan. Nggak kayak aku yang masih kecil."


"Sama saja."


"Benarkah?" pria itu terkekeh.


"Iya, eh tapi nanti ujungnya berantem ya? kayak mama kalau lagi ngomong sama papa, pasti akhirnya berantem, terus marahan."


"Hmmm ...


"Ya udah, jangan lawan mama deh om, nanti jadinya berantem. Kan aneh." Aslan tertawa.


"Kenapa kamu tertawa seperti itu? ada yang lucu ya?"


"Aneh aja, masa polisi berantem sama ibu-ibu?" anak itu tertawa lagi.


"Hmmm ..." Rama mengusak puncak kepalanya.


"Pulang yuk om?" Aslan kembali berbicara, setelah beberapa saat beristirahat.


"Kenapa? kan masih pagi." Rama melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh menjelang siang.


"Udah rame banget." Aslan mulai merasa tak nyaman.


"Begitu ya? kamu tidak suka berada di tempat ramai seperti ini?"


"Hu'um." Aslan mengangguk.


"Takut?"


"Bukan takut."


"Lalu apa?"


"Rasanya nggak enak. Berisik, terus bikin gemeteran." Aslan menunjukkan tangannya yang gemetar.


"Gugup?"


"Kayaknya gitu."


Rama terdiam menatap anak itu yang menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Bailkah, ayo kita pulang?" akhirnya pria itu bangkit dan menarik tangan Aslan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau tahu Kay, aku sangat mengkhawatirkan Aslan. Keadaannya yang seperti ini membuatku tidak bisa mengabaikan kalian lagi." Radit yang tiba beberapa saat yang lalu, bermaksud menjemput Aslan yang ternyata tidak ada di sana.


"Itu normal, karena kamu papanya." Kaysa sengaja membiarkan pintu apartemennya terbuka lebar-lebar.


"Bukan hanya itu,"


"Lalu apa?"


"Kejadian kemarin membuatku berpikir lagi."


"Soal apa?"


Radit menatapnya lekat-lekat.


"Pulanglah Kay, kembalilah ke rumah. Aslan membutuhkan kita berdua."


"Hhh ... itu lagi." Kaysa bangkit, lalu berusaha mengalihkan perhatian.


"Kita tidak perlu kembali menikah, dan aku tidak akan menuntutmu untuk menjadi istriku lagi."


"Tentu saja, aku juga tidak mau. Sudah ada Kristina di sana kan?"


"Hanya pulanglah, Aslan butuh tempat yang layak untuk tumbuh, dan dia butuh kedua orang tuanya."


"Mas jangan bahas soal ini lagi, kamu sudah tahu jawabannya."


"Aku mohon Kay, aku mengkhawatirkan pertumbuhan Aslan. Bukankah akan lebih baik jika di dapat perhatian penuh dari kita. Bukannya malah membiarkannya pergi dengan orang asing."


"Orang asing katamu?" Kaysa bereaksi.


"Ya, polisi itu. Kau membiarkan anakku pergi dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali, dan dia bahkan sulit aku bujuk. Sementara dia dengan mudahnya mengajaknya pergi. Lalu kau anggap apa aku ini?"


"Mas, orang asing itu yang selalu ada untuk Aslan. Dia yang menyisihkan waktunya untuk anak yang bahkan baru dia kenal karena sesuatu hal."


"Halah, ... semua orang juga begitu jika di punya maksud tertentu. Apa lagi jika sasarannya adalah kau Kay. Aku tahu, aku ini laki-laki, dan pikiran kami sama."


"Tidak, kalian tidak sama!" Kaysa mengacungkan telunjuknya kepada Radit, merasa tak terima dengan ucapan pria itu.


"Ya apa lagi? semua pria memiliki pemikiran yang sama. Apa lagi pria seperti dia. Lagi pula bukankah ini aneh? dia itu polisi atau apa? kenapa sempat-sempatnya mengurusi hidup orang lain, padahal tugas negara juga lebih banyak? aneh sekali."


"Jangan bicara sembarangan mas!" Kaysa memperingatkan.


"Aku bicara fakta. Banyak sekali orang seperti itu di dunia ini. Menggunakan atribut untuk menarik seseorang agar terjerat, lalu memanfaatkannya. Setelah itu pergi. Apa lagi?"


"Dan apakah kamu lebih baik dari pada dia?" Kaysa membalikkan ucapannya.


"Setidaknya dia memenangkan kepercayaan Aslan, dan membuatnya merasa aman. Dia meluangkan banyak waktu untuknya agar Aslan mau mengikuti proses penyembuhan. Kamu tahu, trauma yang di alami Aslan lebih dalam dari yang kita tahu, dan itu sulit untuk di pulihkan. Dia bahkan tidak mau untuk keluar dari sini, apa lagi pergi ke sekolah. Tapi Rama terus berusaha membujuknya."


Kini Radit yang bungkam.


"Kalau merasa sama, apa bisa kamu seperti dia? bisakah kamu meluangkan waktu untuknya, berusaha memahami dia bukan hanya memberinya uang dan membelikan apa yang dia inginkan? tapi memahami dia sebagai ayah kepada putranya. Bisa mas?"


"Dan bisakah kamu mengesampingkan hal lain demi menghabiskan waktu bersama Aslan walau hanya sebentar saja. Menyingkirkan apa pun yang membuatnya merasa tak nyaman, meski itu harus menjauhkanmu dari Kristina? sebentar mas, hanya sebentar."


"Tidak bisa kan? itulah yang membedakan dia denganmu. Rama tidak kenal kami, tidak tahu juga apa pun tentang kami, tapi dia dengan mudahnya menyisihkan waktu hanya untuk Aslan. Aku rasa tidak ada hubunganya dengan aku."


Radit terlihat mendengus.


"Dan kamu tahu, jika anak-anak itu memiliki perasaan yang peka. Mereka akan tahu, mana orang yang tulus, dan mana yang tidak. Dan itu terbukti, Aslan bukan anak yang mudah bergaul dengan siapa pun. Tapi dengan Rama dia bisa berinteraksi tanpa merasa canggung."


"Dan kau aka terus membiarkannya berdekatan dengan Aslan?"


"Jika Aslan maunya begitu, apa lagi? yang penting Aslan aman."


"Bagaimana jika tidak?"


"Maksud mas?"


"Bagaimana jika ternyata Aslan tak aman bersamanya? bagaimana jika dia hanya berpura-pura saja?"


"Kamu konyol mas!"


"Tidak. Aku hanya seorang ayah yang sedang mengkhawatirkan anaknya."


"Kalau begitu perhatikan Aslan. Jangan hanya membual dan menjanjikan banyak hal kepadanya, tapi nyatanya kamu membuat dia kecewa karena tak dapat menepati janjimu."


"Dan harus aku biarkan kau melepasnya bersama orang lain?"


"Karena kamu tidak bisa melakukannya, dan jika itu berarti kebaikan untuk Aslan, maka jawabannya adalah ya."


"Bagaiamana kalau sesuatu terjadi kepadanya? kau aka bertanggung jawab?"


"Terjadi apa?"


"Apa saja, bisa sesuatu yang buruk atau apa pun itu. Kau akan bertanggung jawab?" ulang Radit.


"Kalau terjadi sesuatu kepada putraku siapa yang akan bertanggung jawab?"


"Aku tanya, Kaysa. Siapa yang akan bertanggung jawab?" pria itu berteriak.


"Aku." suara bariton lain menginterupsi perdebatan yang sebentar lagi di pastikan akan menjadi pertengkatan jika tidak ada seorsng pun yang menghentikan.


Dan Rama memutuskan untuk maju setelah mendengar percakapan itu cukup lama. Sementara Aslan bersembunyi di belakangnya.


"Kalian tidak sadar ya? pertengkaran seperti ini yang membuat Aslan selalu merasa tertekan?" Rama mendorong pelan anak itu ke samping pintu, menyembunyikannya agar tak melihat pemandangan tak mengenakan di dalam tempat tinggalnya.


"Kau lupa apa yang dokter katakan soal psikologisnya Aslan?" Rama berjalan mendekat dengan tatapan dia tujukan kepada Radit.


"Aku rasa tidak perlu aku jelaskan lagi, karena kau pasti sangat ingat." lanjutnya.


"Dan itu yang sedang berusaha aku katakan kepadanya." sergah Radit.


"Soal apa? soal kembali tinggal bersama padahal mereka tidak mau, atau soal bahayanya Aslan jika dekat denganku?" ucapan Rama tepat pada sasaran, setelah dia mendengar banyak hal.


"Kau tahu, pak? bukan orang asing yang berbahaya untuknya, tapi ketidak pedulianmu kepadanya yang akan membuat dia menjauh darimu. Bukan aku." katanya lagi.


"Dan alasanmu klise sekali untuk membuat mereka kembali ke dalam kurunganmu. Kau pikir mereka akan merasa nyaman?"


"Ram?" Kaysa mencoba menghentikannya, namun Rama mengisyaratkan dengan tangannya.


"Bukan rumah yang megah atau hidup yang mewah, tapi orang-orang di dalamnya yang akan membuatnya nyaman. Kau ingin tahu buktinya? Kau pikir kenapa Kaysa memilih hidup di tempat sempit seperti ini padahal dia terbiasa hidup mewah bahkan jauh sebelum bertemu denganmu?"


"Dan tidak usah mengkhawatirkan siapa yang akan bertanggung jawab atas mereka, karena aku yang akan melakukannya."


Mata Kaysa membulat seketika.


"Lagi pula, bukankah kita akan menikah, Kay?" ucapan itu tentu saja membuat napas Kaysa terhenti sebentar, sementara Radit mengerutkan dahi.


"Lalu bagaimana bisa jika setelah kami menikah nanti dia harus tinggal di tempatmu?" lanjut Rama, membuat dua orang di depannya sama-sama bungkam.


*


*


*


Bersambung ...


oh my God? serius om?🤭🤭


hayu atuh, sok di segerakan nikahannya😂😂


tapi like komen sama kirim hadiahnya dulu dong biar afdol.