
*
*
Kaysa mengerutkan dahi ketika mobil yang mereka tumpangi berbelok ke arah lain, bukan ke arah apartemennya. Melainkan ke arah sebaliknya, yang beberapa saat kemudian tambah membuat dahinya lebih berkerut lagi.
"Aku kira kita mau pulang, tapi kenapa malah ke sini?" perempuan itu bergumam saat mobil berhenti di depan pagar.
Rama pun begitu, dia malah tertegun setelahnya.
"Kenapa juga aku malah membawa kalian ke sini ya?" namun akhirnya dia tergelak.
"Om kurang minum ya, jadinya nggak fokus?" Aslan bangkit di belakang, kemudian mendekat ke arah mereka berdua.
"Om kelelahan Aslan, dan hanya ingin pulang." ucap Rama yang menoleh kepadanya.
"Ya emang, tapi pulangnya malah ke sini?" jawab bocah itu.
"Ini kan rumah om." pria itu berujar.
"Maksudnya, kenapa nggak ke apartemen aku?" Kaysa menyahut.
"Umm, ... iya ya kenapa?" pria itu tergelak lagi. "Sudah lah, mau balik lagi sudah tanggung sampai di sini, lebih baik kita turun saja." Rama melepaskan sabuk pengaman, kemudian membuka pintu mobilnya.
"Kamu tidak memasukan mobilnya ke dalam?" Kaysa pun ikut turun.
"Tidak. nanti juga kan pergi lagi antar kalian pulang?" jawab Rama yang berjalan ke arah pintu belakang di mana Aslan berada, lalu membukanya.
"Ayo, kita turun?" dia mengulurkan tangannya yang segera di sambut oleh anak itu.
"Awas, jangan injak itu." dia melirik ke arah tas besar di bawah.
"Isinya apa sih om?" Aslan melirik tas besar tersebut.
"Perlengkapan kerja." Rama menjawab.
"Banyak amat?"
Sementara Rama hanya tersenyum.
Mereka masuk ke dalam pekarangan rumah yang selalu sepi karena memang tidak berpenghuni.
"Sudah pulang mas Rama?" seorang tetangga menyapanya, seperti biasa.
"Iya bu." Rama menjawab sapaannya.
"Tugasnya kali ini lama ya?"
"Lumayan." pria itu dengan Ramah. "Masuk dulu bu?" katanya, yang membuka pintu yang terkunci.
"Iya, silahkan." kemudian mereka melenggang ke dalam rumah.
Suasana sunyi langsung terasa, di tambah gorden yang selalu tertutup rapat membuat ruangan di dalamnya tampak pengap dan temaram.
"Sepi amat?" Kaysa bergumam seraya menatap ke sekeliling ruangan.
"Nanti juga ramai." Rama menggiring mereka masuk lebih ke dalam. Ruang keluarga yang cukup besar dengan dekorasi antik di sekelilingnya.
"Oh ya? kenapa?" Kaysa sedikit memutar tubuhnya.
"Ya kalau kalian sudah pindah ke sini." pria itu menahan senyum.
"Ish, ...
"Ya masa setelah menikah kita mau tinggal di apartemenmu? kan kasihan Aslan." Rama meneruskan perkataannya.
"Kenapa kasihan Aslan?"
"Masa dia mau terus-terusan tidur sekamar dengan kamu? kan nanti tambah orang dengan aku?" Rama menunjuk wajahnya sendiri yang tiba-tiba saja memerah.
"Umm, ...
"Lagi pula di sini gratis, tidak perlu bayar kontrakan. Hanya perlu bayar listrik dan air saja kan?" lanjut pria itu yang membuka gorden di beberapa bagian sehingga cahaya masuk ke dalam rumah tersebut.
"Ugh, ... rumah ini jarang aku bersihkan." keluhnya saat melihat debu tipis di beberapa tempat.
"Jelas saja, kamu jarang di rumah. Pergi kerja tidak tahu waktu, apa lagi pulangnya. Contohnya minggu ini kan?" Kaysa berujar.
"Hmmm. ..." pria itu hanya tersenyum.
"Malah senyum-senyum?" Kaysa bergumam lagi.
"Umm, ... kalau begitu tunggulah di sini, sepertinya aku harus mandi dulu." pria itu berjalan ke arah sebuah pintu yang di perkirakan sebagai kamarnya, namun dia berhenti kemudian berbalik.
"Dapur ada di sana, siapa tahu kamu mau ambil minum. Tapi ambil yang di kulkas saja, kalau mau ambil makanan juga boleh. Siapa tahu kalian lapar?" katanya yang menunjuk ke arah sebelah kanannya.
"Oke." Kaysa mengangguk.
"Anggap saja rumah sendiri." ucap Rama lagi sebelum akhirnya dia berbalik dan menghambur ke dalam kamarnya.
"Astaga, kenapa aku berkata seperti itu ya? konyol sekali, duh." Rama menempelkan punggungnya di balik pintu, kemudian terkekeh.
"Ugh, perempuan itu membuatku sering bertingkah aneh!" katanya seraya melepaskan seluruh pakaiannya, kemudian segera membersihkan diri.
***
Kaysa melihat-lihat beberapa ruangan di dalam bangunan tersebut. Rumah yang tidak terlalu besar, tidak juga kecil. Cukup untuk ukuran di pemukiman menengah tersebut yang sepertinya sebagian besar di huni oleh karyawan perusahaan atau pekerja menengah. Namun tampaknya terasa nyaman jika saja tak sering kosong karena di tinggalkan penghuninya.
Ada beberapa ruangan seperti yang terdapat di rumah pada umumnya. Yaitu tuang tamu, ruang tengah dengan televisi berukuran sedang, juga dapur yang menyatu dengan ruang makan
Tidak lupa juga teras belakang dengan halaman yang tidak terlalu besar juga, di lihat lewat jendela dari dalam sini di penuhi tanaman yang tidak terlalu terawat. Tapi masih lebih baik dari pada apartemen kecilnya yang dia sewa selama setahun belakangan yang pembayarannya sering menghabiskan sebagian besar gajinya sebagai wartawan lepas di sebuah kantor pemberitaan nasional.
"Mama, aku haus." Aslan mengekorinya di belakang.
"Iya, ini mama mau ambil minum." Kaysa kembali pada niat awalnya.
"Kata om Rama ambil di dapur, di kulkas ma. Lihat, galonnya kosong?" Aslan menunjuk sebuah dispenser di samping lemari pendingin dengan galon kosong yang terpasang di atasnya.
"Ck! benar-benar bujangan!" Kaysa memutar bola matanya, lalu dia mendekati benda tersebut.
Kaysa membuka lemari pendingin, yang membuatnya tertegun seketika. Benda itu terisi penuh dengan berbagai jenis makanan dan minuman ringan yang masih utuh. Ada beberapa susu kotak dengan satu macam rasa, juga makanan untuk anak-anak.
"Sudah ketemu?" suara Rama menginterupsi, membuat ibu dan anak tersebut terkejut.
"Kamu bikin aku kaget!" protes Kaysa, namun Rama malah tertawa. Dia dengan jogger pants berwarna hitam dan kaus oblong putih, juga keadaannya yang sudah segar berdiri di ambang pintu penghubung antara dapur dan ruang tengah.
"Cepat benar kamu mandi?" Kaysa memalingkan perhatian ketika di rasanya suasana itu cukup membuat canggung.
"Memangnya harus lama-lama ya?" pria itu mendekat.
"Ya, tidak juga. Tapi benar-benat cepat."
"Hmm ..." Rama berdiri di dekat mereka, dan seketika aroma segar menguar di indera penciumannya. Perpaduan antara maskulin dan mint, kemungkinan besar berasal dari pasta gigi yang dia pakai, atau mungkin sabun mandi yang di gunakan, juga parfumnya yang ...
Kaysa menggelengkan kepala.
Kenapa aku malah merasa gugup? batinnya bermonolog.
"Aslan mau minum, jadi ...
"Air mineral di sini," Rama membuka lemari kayu di samping, tampak beberapa botol air mineral berjajar rapi.
"Karena jarang di rumah aku hanya menyediakan ini." dia mengambil dua botol.
"Oh, ...
"Aslan mau apa? ambil saja. Tapi lihat tanggal kadaluarsanya, siapa tahu sudah lewat."
"Hah?"
"Aku mengisinya beberapa bulan yang lalu setelah membuang yang sudah kadaluarsa." pria itu terkekeh. "Itu makanan dan susu kesukaannya Livia. Terkadang aku merasa jika suatu hari dia akan pulang, padahal tahu kalau dia sudah tidak ada." tiba-tiba saja tenggorokkannya terasa seperti tercekat. Mengingat adik perempuannya memang selalu membuatnya merasa begitu sedih.
"Umm ...
"Aku mau susu sama kuenya, boleh?" Aslan menyela, mencairkan suasana dingin dan sendu yang sempat melingkupi mereka.
"Boleh, mau apa saja boleh." Rama mengusap puncak kepalanya. "Tapi lihat dulu, masih bisa di makan atau tidak ya?"
"Oke." anak itu mengangguk.
"Mama, aku mau itu, ... yang itu juga, ... itu juga ..." dia menunjuk beberapa makanan di dalam lemari pendingin tersebut.
"Aslan!" Kaysa bereaksi.
"Om Rama bilang juga apa aja boleh, asal masih bagus."
"Ah, ... kesempatan kamu!"
"Nggak apa-apa, dari pada nanti keburu kadaluarsa nggak bisa di makan. Kan mubadzir?"
"Huh, ... kamu ini ...
***
"Lain kali jangan mengisi kulkasnya terlalu penuh, sayang kan?" mereka duduk di ruang tengah dengan televisi menyala menayangkan film kartun kesukaan Aslan.
Sementara Rama berbaring di sofa panjang, dengan Kaysa yang duduk di sampingnya, mengobati lukanya. Mengusapkan cairan rifanol di luka dan lebamnya, lalu membubuhkan obat luka, kemudian mengoleskan jel di sekitar lecet yang memerah di wajah pria itu
"Kebiasaan. Livia suka protes kalau kulkasnya kosong. Dia tidak bisa berhenti makan kalau ada di rumah. Ke sekolah saja aku sering membekalinya makanan seperti ini." Rama melirik kepada Aslan yang duduk di sofa kecil yang asyik dengan kartun dan camilannya.
"Kamu lihat swalayan yang kita lewati sebelum ke sini?" Rama menatap wajah Kaysa yang tampak serius dengan tugasnya. Keningnya berkerut-kerut, diikuti mulutnya yang sesekali mengerucut.
Huh, menggemaskan! batinnya.
"Ya." perempuan itu mengangguk.
"Itu swalayan langganan kami, setiap sore ada saja yang Livia pesan kalau aku pulang dinas. Dia tidak mau di ajak bicara semalaman kalau aku lupa membawakan pesanannya." Rama tertawa pelan, mengenang segala tingkah laku adik perempuannya semasa dia hidup.
"Dan seperti kataku tadi, aku selalu merasa bahwa dia akan pulang suatu hari nanti, dan menyediakan makanan kesukaannya sudah menjadi semacam ritual bagiku."
"Kamu sangat menyayangi adikmu ya?" Kaysa berhenti sebentar, lalu menatap wajah Rama.
"Hmm ..." pria itu membalas tatapannya. "Dia satu-satunya teman yang aku punya."
"Ck! sampai segitunya? memangnya tidak ada yang mau berteman denganmu ya?" Kaysa masih dalam posisinya, wajahnya menunduk di atas wajah Rama.
"Bukan begitu."
"Terus kenapa kamu bilang begitu?"
"Maksudku ... tidak ada yang sedekat dia."
"Tentu saja, dia kan adikmu. Masa temanmu mau bersikap seperti adikmu? aneh sekali." Kaysa melanjutkan pekerjaannya mengobati luka di wajah pria itu.
Rama terkekeh, namun kemudian dia meringis.
"Aduh, jangan keras-keras Kay, sakit." dia memegang tangannya.
"Habisnya ini luka bekas apa sih sampai begini?"
"Sudah aku bilang penangkapan yang beresiko. Aku harus berkelahi dulu untuk bisa menangkap dia."
"Memangnya siapa yang kamu tangkap? atlit taekwondo ya?"
"Bukan."
"Terus siapa?"
"Umm, ... itu ...
"Siapa?"
Rama kembali menatap wajah perempuan itu lekat-lekat.
"Pekerjaanmu sangat beresiko ya?" Kaysa berbicara lagi.
"Begitulah."
"Apa bisa mengancam keselamatan?"
"Mungkin."
"Lalu kenapa kamu memilih pekerjaan itu? bukannya bekerja di kantor saja lebih aman?"
"Ini masalah prinsip."
"Prinsip apa?"
"Mm ... Kamu sendiri, kenapa dulu memilih jadi wartawan?" Rama balik bertanya.
"Ish, ... kamu malah tanya balik?"
"Iya, sekarang aku tanya, kenapa kamu jadi wartawan? apa gajinya besar?"
"Tidak juga."
"Terus?"
"Ya ..." Kaysa berpikir. "Mungkin karena pashionnya aku di situ?"
"Nah, munkin aku punya alasan yang sama denganmu."
"Hmmm ...
"Ini masih belum selesai ya?" Rama bereaksi ketika dia merasakan kegiatan ini menjadi terlalu lama.
"Karena kamu ajak aku bicara terus jadinya aku lupa sebelah sini sudah aku kasih gel belum ya?" Kaysa menekan lecet di pipi Rama.
"Arggh, ... itu sakit Kay!"
"Alah, waktu berkelahinya tidak sakit?"
"Itu lain ceritanya tahu?"
"Masa?"
"Iya. Sudah lah, cukup!" pria itu kemudian bangkit.
"Hey? belum selesai tahu?"
"Sudah, aku tidak tahan!" mereka mulai berdebat, dan Rama menarik tangan Kaysa dari wajahnya. Membuat tubuh perempuan itu pun tertarik kepadanya.
"Ugh!!" tanpa sengaja bibir mereka bertabrakan, dan segera saja rasa hangat menjalar ke segala arah.
"Umm ...
Tak ada yang menjauh, keduanya malah meneruskannya seperti sudah di atur akan terjadi seperti itu.
Rama menyesap bibir Kaysa dengan begitu lembut, lalu kedua tangannya membingkai wajah perempuan itu, sehingga membuat cumbuan mereka menjadi semakin dalam.
Jemarinya bergerak ke belakang kepalanya, meremat rambut panjangnya untuk menyalurkan rasa yang mulai bergejolak di dada.
Sesekali matanya melirik ke arah belakang Kaysa di mana Aslan ternyata sudah tertidur nyaman di sofanya. Membuat Rama merasa leluasa untuk melanjutkan kegiatan yang mulai di sukainya itu.
"Mmm ... Aslan, ..." Kaysa sempat menjeda cumbuannya, namun Rama tak membiarkannya lepas begitu saja. Dia malah menariknya sehingga tubuh mereka merapat.
Rama membiarkan perasaannya menguasai mereka untuk beberapa saat, hanya untuk meyakinkan jika dirinya benar-benar menginginkan perempuan itu. Dan rasanya ternyata lebih dari yang dia kira.
Dadanya berdegup kencang, dan darahnya berdesir cepat. Akal sehatnya bahkan mulai berhamburan ke segala arah dan dia mulai kehilangan kesadaran.
Begitu juga Kaysa, dia terbawa suasana dengan sendirinya ketika pria itu melanjutkan cumbuannya.
Dia merasakan dirinya ingin menyerah. Mendapat perlakuan semesra ini dari seorang pria selain Radit, membuatnya merasa tak mampu mengelak.
Pria ini memperlakukannya dengan lembut, membuatnya merasa di cintai, terlebih lagi dia juga merasa diinginkan. Yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya saat bersama mantan suaminya.
Kaysa membuka mata saat merasakan Rama menghentikan cumbuannya. Namun pria itu tak menjauh darinya, malah dia menempelkan kening mereka berdua.
Napasnya terdengar menderu-deru dan dadanya naik turun dengan cepat. Kaysa bahkan menyentuh dadanya untuk merasakan degup jantungnya.
Mereka tersenyum bersamaan.
"Aku ... mungkin tidak akan bisa tahan jika kita berdekatan seperti ini." Rama berbicara.
"Aku mungkin tidak akan mampu menahan diri ...
"Setelah ini aku tidak akan bisa lagi ..." napasnya semakin menderu-deru.
"Kita harus segera menikah." katanya, kemudian dia melepaskan Kaysa.
Rama bangkit, lalu meraup tubuh Aslan yang tengah tertidur di sofa.
"Aku antar kalian pulang, setelah itu aku akan mengurus segala hal." katanya lagi kemudian berjalan tergesa keluar dari rumah, diikuti Kaysa yang berlari di belakangnya.
*
*
*
Bersambung ...
Omegaaaattt!!ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
buruan bang, buruan. Sebelum meledak, harus di segerakan 😂😂
cuss kirim like, komen sama hadiahnya yang banyak buat bekel nikahannya mereka. 🤣🤣