Kopassus And Me

Kopassus And Me
Gugup



*


*


"Aslan yakin tidak mau pulang? Besok kan kamu ujian. Masa perginya dari sini?" Mereka seperti biasa menjemput Aslan pada minggu sore. Setelah berbicara di telefon dan anak itu mengatakan jika dia belum mau pulang.


"Iya, nggak apa-apa. Kan ada nenek." Aslan menjawab.


"Aslan benar, biarkan sajalah dia disini dulu. Lagi pula kalian pasti akan sibuk, bukankah besok akan menghadapi sidang pertama?" Radit mengamini.


Rama dan Kaysa saling pandang.


"Aku rasa sebaiknya Aslan di sini dulu, setidaknya sampai dia selesai ujian. Kebetulan ada ibu juga, jadi aku yakin dia akan terurus." lanjut pria itu, meyakinkan.


"Entahlah, apa tidak merepotkan?" Kaysa akhirnya menjawab.


"Tentu saja tidak, Aslan tidak pernah merepotkan." Rengganis kini yang menjawab.


"Tidak apa-apa Kay, biarkan saja Aslan bersama kami, sehingga kalian bisa fokus pada persidangannya. Dan bukankah kamu juga harus meliput di sana?" lanjut perempuan itu.


"Mm ... baiklah, memang akan sedikit sibuk minggu-minggu ini." Kaysa akhirnya menyetujui.


"Baik, nanti aku kirimkan bukunya Aslan untuk belajar." katanya lagi, yang membuat semua orang lega.


***


"Kau tahu, jika mereka telah melakukan penggeledahan di rumah Frans dan apartemennya Alan?" Adam dan Junno tiba saat hari lewat petang.


"Aku kira mereka tidak melakukan itu."


"Mereka melakukannya, tapi sepertinya hanya formalitas saja."


"Memangnya kenapa?"


"Tidak ditemukan barang yang mencurigakan. Keadaannya tampak normal-normal saja."


"Serius?" sahut Kaysa.


"Apa mereka tidak menggeledah gedung tua yang waktu itu pernah aku datangi?" lanjut perempuan itu yang mengingat apa yang pernah di lakukannya.


"Gedung tua?" Rama membeo.


"Iya, waktu itu aku dan Dikka pernah mengikuti Alan dan ...


"Apa? Kamu mengikuti Alan dan aku tidak tahu?" Rama bereaksi.


"Iya, soalnya waktu itu ...


"Disana juga tidak di temukan apa pun, percayalah. Kami sudah melakukan pemeriksaan di tempat itu."


"Kau tahu soal ini?" Rama beralih kepada Adam.


"Tahu, kami menerima lokasi dari Dikka waktu itu."


Rama menatap tidak percaya.


"Dan kalian tidak memberi tahu aku soal ini? Tidak bisa di percaya!" Pria itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak penting untuk di perdebatkan sekarang, hanya saja memang ada banyak kejanggalan. Dan kami memang sudah menduganya." lanjut Adam, kemudian dia mengeluarkan beberapa hal dari tas yang di bawanya.


"Ini adalah yang kemungkinan mereka pertanyakan di sidang pertama besok. Aku harap kau mau mempelajarinya agar bisa mengantisispasi beberapa hal. Jangan sampai jawabanmu di pelintir dan di balikkan untuk menyerangmu." Junno menjelaskan.


"Kau tahu, akan ada banyak pertanyaan jebakan meski ada bukti yang kuat. Mereka tidak akan memihak siapa pun, atau akan memihak salah satu dari kita karena apa yang akan mereka dapatkan nanti. Jika itu terjadi, bersiaplah untuk rencana B." lanjut Junno.


"Rencana B? Kau memang selalu punya rencana cadangan untuk setiap hal ya?" Rama menerima beberapa catatan dari rekannya itu.


"Kita harus mengantisipasi segala hal bukan?" Junno menjawab.


"Lalu apa rencana B nya?"


"Nanti setelah kita mendapatkan bukti tambahan."


"Masih ada bukti tambahan?"


"Sedang di usahakan. Untuk sementara kita ikuti saja dulu alurnya, sambil mengawasi apa yang mungkin mereka rencanakan. Karena aku mendengar pihak Frans bahkan telah menyewa pengacara terkenal untuk membelanya?"


"Yeah, ... aku sudah bertemu mereka. Tapi itu tidak membuat dia terbebas dari tuduhan. Tetap saja mereka pembunuh."


Kemudian mereka terdiam.


"Kau takut Jun?"


"Takut? Kenapa aku harus takut? Mereka hanya manusia, sama seperti kita. Apa yang harus aku takutkan? Karena mereka pengacara terkenal dan aku tidak? Aku rasa itu tidak akan menjadi masalah."


"Aku hanya meyakinkan."


"Yakinlah pada dirimu sendiri. Jika kau ada di pihak yang benar, segala hal akan ada jalannya. Meski mungkin tidak mudah, tapi setidaknya kau berusaha." Junno berujar.


Rama tertawa sambil menepuk pundak rekannya tersebut.


"Terimakasih sudah menemaniku menjalani hari-hari seperti ini. Mungkin hidup kalian juga akan sulit ke depannya." katanya, dan dia menatap dua rekannya itu secara bergantian.


"Yeah, ... aku rasa begitu. Tapi bukankah kita memang sudah terbiasa? Inilah misi yang sebenarnya, dan kita harus bisa melewatinya juga bukan? Sama seperti misi-misi yang pernah kita selesaikan. Kita bahkan hampir kehilangan nyawa, tapi lihat? Kita masih selamat."


Dua pria di depannya mengangguk-anggukkan kepala.


"Baiklah kalau begitu, sepertinya kami harus pulang? Harus menyiapkan banyak hal untuk besok." Adam melihat jam di pergelangan tangannya.


"Baik, terimakasih untuk semuanya."


"Yeah, ... tidak masalah soal itu." Kemudian dua pria itu pun pergi.


***


"Kamu gugup?" Kaysa naik ke tempat tidur di mana Rama sudah berbaring setelah selesai membaca beberapa catatan yang Adam berikan sebelumnya.


"Tidak, aku pikir kamu yang gugup?" Rama merangkul pundak Kaysa ketika perempuan itu merebahkan kepalanya di dada.


"Gugup? Sedikit. Tapi lebih gugup menghadapi malam pertama dari pada bekerja." Kaysa tertawa.


"Apa?"


Kaysa mendongak, lalu menatap wajah suaminya yang juga tengah menatap ke arahnya.


"Aku pikir karena kamu sudah berpengalaman maka tidak akan merasa gugup?" Rama menahan senyum. Ingat saat pertama kali mereka berhubungan badan yang mengalami kegagalan fatal karena panggilan darurat.


"Bercanda ya? Gugupnya sama saja, karena pertama kalinya melakukan dengan orang yang berbeda."


"Oh ya? Aku pikir aku saja yang merasa gugup." Rama meraih tangan kecil Kaysa yang bermain-main di dadanya.


"Apa laki-laki juga gugup waktu peetama kali melakukannya?"


"Tentu saja. Setidaknya itu yang aku rasakan, karena segalanya pertama bagiku. Berhadapan dengan perempuan selain adikku, berdekatan seperti ini, saling menyentuh, dan ... selebihnya ... dan selebihnya ..." Suara Rama memelan dengan sendirinya.


"Kamu tahu, aku sempat tidak percaya jika kamu memang belum pernah melakukannya." Kaysa menatap dua bola mata Rama yang mengerjap di bawah cahaya lampu tidur mereka yang temaram.


"Benarkah? Kenapa?"


"Entahlah, hanya ... tidak percaya saja jika jaman sekarang ada pria antik sepertimu."


"Antik katamu?"


Kaysa menganggukkan kepala sabil tersenyum.


"Di jaman seperti ini mana ada laki-laki sepertimu? Yang tidak pernah menyentuh perempuan lebih dari berciuman. Rasanya ...


"Apa aku kuno?"


Senyum Kaysa bertambah lebar.


"Aku hanya tidak mudah memiliki perasaan kepada lawan jenis. Kamu tahu, rasanya sulit untuk merasa tekesan kepada seorang perempuan. Aku hanya merasa kalau perempuan itu berisik seperti halnya Livia. Dan setelah dia pergi aku rasa aku tidak tahu bagaimana caranya memulai hubungan dengan orang asing. Maka aku memilih menyepi saja."


"Apa? Kamu bilang perempuan itu berisik?"


"Yeah, ... seperti kamu, banyak mengomel, banyak aturan dan ...


Tiba-tiba saja Kaysa menepuk dada pria itu dengan keras.


"Aww!! kenapa kamu memukulku?" protes Rama sambil mengusap-usap dadanya.


"Kamu bilang perempuan itu berisik!"


"Ya, memang kenyataannya begitu. Lalu?"


"Berarti aku juga berisik?" Kaysa menunjuk wajahnya sendiri.


"Ya, ... hahaha ..." Rama tergelak.


"Kamu!"


"Tapi itu yang membuatku selalu ingat kepadamu. Dan Aslan."


Kaysa mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Apa kamu sudah menyelesaikan persiapanmu untuk besok?" Pria itu kemudian bertanya.


"Sudah."


"Baiklah." Rama meletakan sebelah tangannya di wajah lalu dia memejamkan mata.


"Umm ... Ram?" Kaysa mendekatkan wajahnya.


"Apa kamu tidur?"


Rama tak merespon.


"Rama?"


"Hmm ...


"Kamu mau langsung tidur?"


"Ya, aku ngantuk. Hari ini sangat melelahkan." Pria itu menjawab.


"Umm ... tidak mau melakukan sesuatu dulu?" ucap Kaysa lagi, dan dia perlahan bangkit.


"Apa?" Rama membuka mata, dan dia mengerjap ketika mendapati istrinya yang tiba-tiba naik ke atas tubuhnya.


"Mm ... Kay?"


"Aku rasa aku harus menghilangkan kegugupannya sekarang."


"Gugup?"


Kaysa mengangguk sambil tersenyum.


"Padahal aku baru saja mau tidur." sedangkan Rama menyingkirkan tangannya.


"Oh mau tidur? Ya sudah ..." Kaysa bermaksud turun ketika pria itu menahan kedua pahanya.


Rama kemudian menariknya sehingga dia menunduk dan membuat bibir mereka bertemu.


"Untuk menghilangkan kegugupan, hum?" Pria itu bangkit, kemudian melepaskan kaus yang menempel di tubuhnya. Begitu juga yang dia lakukan kepada Kaysa.


Suara decapan segera mengudara saat malam kian beranjak larut, dan sentuhan-sentuhan itu di mulai seperti biasa.


Rama menyusuri setiap bagian tubuh Kaysa yang sebagian besar pakaiannya sudah dia lepaskan. Sementara mulutnya menyesap kulit mulus perempuan itu yang bisa dia jangkau.


Hasrat mereka terbakar begitu saja, dan kesadaran sudah menguap entah kemana. Keduanya segera tenggelam dalam percintaan yang begitu memabukkan.


Rama mendorong Kaysa sehingga kini perempuan itu ada di bawahnya. Kemudian dia melepaskan kain terakhir yang menutupi bagian bawah tubuh mereka. Dan segera saja, dia membenamkan miliknya tanpa aba-aba.


"Ah!" Des*han keras keluar dari mulut Kaysa, dengan keningnya yang berkerut dalam. Lalu dia menatap ke bawah sana, di mana mereka sudah saling menempel erat.


"Hmm ..." Dia melenguh ketika Rama mulai menggerakkan pinggulnya, dan kedua tangannya mencengkeram kuat bahu kokoh pria itu. Membuat dada keduanya saling melekat dan kulit mereka beegesekan. Menimbulkan perasaan lain yang lebih menyenangkan.


Rama kembali menyesap bibir mungilnya yang merekah dan terbuka setiap kali dia menghentakan tubuhnya. Kemudian melanjutkannya menyusuri leher hingga ke dada. Dan menemukan gundukan indah milik Kaysa yang semakin hari terlihat semakin menantang saja. Yang segera dia lahap bergantian dan sesekali mempermainkannya. Yang tentu saja membuat Kaysa semakin kehilangan akal karenanya.


"Oh, ... ayolah ..." racau perempuan itu dengan nada frustasi, dan dia memeluk tubuh Rama semakin erat. Menekan belakang kepala pria itu dan membuat sesapannya menjadi semakin dalam.


Napas mereka menderu-deru, debaran jantung semakin tak terkendali, dan gerakan tubuh yang mengikuti ritmenya. Peluh bahkan sudah bercucuran membasahi apa pun yang di sentuhnya, dan keadaan di tempat tidur pun sudah tak karuan.


Keduanya semakin tenggelam dalam lautan hasrat yang kian menggelora. Berpacu dalam indahnya percintaan yang semakin lama semakin bertambah indah rasanya, dan entah apa lagi mereka harus menyebutnya.


"Rama!" Erangan dan des*han terus mengudara seiring semakin meningkatnya intensitas percintaan itu. Dan Kaysa sudah tak mampu lagi menahan ledakan pelepasan yang menghantamnya tanpa ampun.


Rama menarik kedua tangannya, lalau menautkan jari-jari mereka di atas kepala Kaysa, kemudian mempercepat hentakannya ketika tanda-tanda klim*ks itu sudah mulai dia rasakan juga. Bersamaan dengan perempuan itu yang mengangkat pinggulnya ke atas sehingga dia merasakan denyutannya yang begitu kuat.


"Ah, ... Kay!" Hentakannya semakin cepat, dan dia sudah tak mampu lagi menahan diri, hingga di detik berikutnya, dia pun mengalami hal yang sama. Yang membuatnya membenamkan diri sepenuhnya kepada Kaysa ketika segala apa yang ada padanya memancar hebat di dalam sana.


*


*


*


Bersambung ...


Huh, ... gimana, udah nggak gugup lagi sekarang? 🤣🤣🤣


like komen sama hadianya terus kirim atuh gaess, mau sidang nih, butuh amunisi.


lope lope sekebon korma 😘😘