Kopassus And Me

Kopassus And Me
Extrapart #3



*


*


"Rama?" Suara seorang perempuan membuyarkan lamunan Rama yang tengah menunggu kepulangan Aslan di depan sekolah. Membuatnya menoleh ke arah suara itu berasal.


"Rama Hadinata?" Andini melepaskan helmnya, sehingga wajahnya tampak lebih jelas.


"Anak kelas 3C SMP 1 Bandung?"


"Kamu Rama Hadinata yang itu?" Perempuan itu mendekat.


"Dini." Pria itu menjawab tanpa reaksi yang berlebih.


"Benar ini kamu!"


Rama turun dari motornya.


"Aku pikir kamu Rama yang lain?" Andini terkekeh namun matanya berkaca-kaca, lalu dia terdiam.


"Maaf, aku hanya merasa senang karena bertemu dengan orang yang aku kenal." Dia menyeka sudut matanya yang basah.


"Walau beberapa kali melihatmu di tivi, dan terakhir di sini saat mengantarkan Aslan. Aku pikir bukan kamu." Perempuan itu terisak.


"Stop Din!" Mereka hanya berjarak satu meter, dan Rama berdiri dengan kedua tangan dia masukkan ke dalam saku celana.


"Aku tahu, maaf. Aku senang karena bertemu denganmu."


Rama tak menjawab.


"Satu tahun ini terasa sulit. Aku sendirian, dan hanya bersama Maira. Tidak ada yang aku kenal apalagi untuk dimintai pertolongan."


"Lalu kenapa kamu tidak pulang ke Bandung? Bukankah keluargamu di sana?" Rama menatapnya dengan raut sendu.


Andini menggelengkan kepala.


"Kenapa?"


"Mereka tidak merestui pernikahanku dengan Mas Hanggar, dan kami dikucilkan. Lalu bagaimana aku akan kembali?"


Mereka terdiam.


"Oh, ... aku senang sekali bertemu denganmu." Andini mendekat.


Rama menggelengkan kepala sambil mengangkat sebelah tangannya. Kemudian mundur dua langkah hingga bagian belakang tubuhnya membentur kendaraan beroda dua milikya.


"Mama!" Maira berlari keluar dari gerbang diikuti Aslan seperti biasa, bersama dengan anak-anak lainnya.


"Hari ini aku dapat nilai A plus untuk menggambar." Anak perempuan itu menunjukkan lukisannya.


"Wow, bagus!" Andini beralih kepada putrinya.


"Aslan juga." ucap Maira, menunjuk lukisan milik Aslan.


"Keren Aslan!" puji Andini kepada teman sebangku putrinya itu.


"Makasih tante."


Andini tersenyum kepada dua bocah di depannya.


"Papa, ayo ke tempat kerja Mama, aku mau kasih lihat lukisannya. Mama pasti senang?" Aslan kepada ayah sambungnya.


"Ayo?" Rama merangkul pundak anak itu, lalu memasangkan helm di kepalanya.


"Dah Maira, aku duluan ya?" Aslan melambaikan tangannya.


"Iya Aslan, dah ...." Maira balas melambail.


Setelah itu Rama menghidupkan motornya dan segera pergi dari tempat tersebut. Meninggalkam Andini yang menatapnya dengan raut sendu.


"Mama habis nangis ya?" Sang anak memperhatikan.


"Umm ...."


"Mama udah capek ya? Ngojeknya hari ini rame?" Maira mendekati ibunya


Andini tak menjawab, namun pertanyaan sang anak membuat hatinya terasa perih.


"Kalau gitu ayo pulang? Mama istirahat dulu dirumah, habis itu lanjut lagi kerjanya?" Maira dengan wajah ceria, seperti biasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aslan berlari kecil memasuki gedung CTNEWS setelah mendengar pemberi tahuan dari petugas di dalam jika ibunya sudah menyelesaikan siarannya.


Sambil menggoyang-goyangkan kertas di tangannya dia menghampiri Kaysa yang sudah menyadari kedatangan mereka.


"Kalian tepat waktu." Perempuan itu menyambut kedatangan anak dan suaminya.


"A plus lagi Mama!" Dan Aslan menunjukkan hasil kreasinya di sekolah.


"Keren!" Seperti biasa, Kaysa memuji sang anak dengan bangga.


"Sudah selesai?" Rama pun mendekat, dengan tas sekolah Aslan yang dia genggam di tangannya.


"Sudah."


"Sudah berfoto dengan bintang tamunya?" Pria itu berhenti saat jarak mereka hanya setengah meter saja.


"Sudah."


"Sudah meminta tanda tangan?"


"Sudah juga."


"Sudah memeluk dia juga?" Rama melirik ke arah di mana segerombolan orang keluar dari dalam lift bersama beberapa orang yang sering dia lihat di tivi bersama Kaysa.


Perempuan itu menatapnya sambil tersenyum. Dia tahu Rama sedang merasa sedikit cemburu, seperti ketika setiap kali mereka menonton televisi dan sosok itu muncul. Seorang aktor yang cukup terkenal dan tengah menjadi sorotan karena tokoh yang di perankannya di sinetron cukup menyita perhatian.


"Sudah puas atau belum? Kalau belum sebaiknya kamu puaskan dulu, agar tidak tsrus membicarakannya di rumah." Pria itu dengan raut tak suka.


Kaysa tertawa, dan dia segera merangkul pinggang suaminya. Akhir-akhir ini dirinya memang bertingkah sedikit konyol, menyukai beberapa hal yang sebelumnya tidak pernah dia sukai, namun itu cukup mengganggu bagi suaminya.


"Senang sekali ya kamu ini?" Rama berlagak mengacuhkannya.


"Oh ayolah, dia kan hanya idolaku. Bisa dilihat tapi tidak bisa di miliki. Sedangkan kamu?"


"Apa?"


"Bisa dilihat, bisa di pegang, apalagi di miliki." Kaysa berbisik di telinganya.


"Apa itu?" Rama memutar bola matanya.


Perempuan itu tertawa lagi, melihat pipi suaminya yang mulai merona membuat dia merasa tak tahan untuk terus menggodanya.


"Kebiasaan ih bisik-bisik? Nggak sopan tahu?" Protes Aslan yang menyimak interaksi kedua orang tuanya.


Namun membuat Kaysa kembali tertawa.


"Mama kerjanya udah selesai belum?" Anak itu kemudian bertanya.


"Sudah, kenapa memangnya?"


"Ayo kita pulang? Tapi mampir dulu ke jagonya ayam ya? Aku lapar. Hehe ...."


"Tidak bisa, Papa sudah masak dirumah. Ke jagonya ayam lain kali saja!" ucap Rama sambil meraih tangan Kaysa. Kemudian mereka berjalan keluar dari gedung tersebut.


"Wah, ... kamu masak lagi? Keren sekali!" Perempuan itu bergelayut manja di lengannya.


"Sudah biasa, tidak usah berlebihan." Rama menggendikkan bahu.


"Kan aku maunya ke keefsi." Aslan mengikuti mereka dengan lesu.


"Iya, nanti kalau Papa atau Mama tidak masak." Rama memasangkan helm di kepala anak dan istrinya, kemudian dia memasangkan pula pada kepalanya.


"Tiap hari Papa masak terus?"


"Sengaja."


"Kenapa?"


"Biar kita tidak sering beli diluar." Rama kemudian tergelak.


"Bagus, bagus Pak. Kamu benar-benar sangat keren!" Kaysa menepuk-nepuk pundak suaminya.


"Ah, Mama sama Papa mulai nggak asik!" Sementara Aslan yang duduk di tengah-tengah mulai menggerutu.


***


Rama menutup pintu kamar Aslan setelah membereskan kekacauan pada saat megerjakan kerajinan tangannya untuk tugas sekolah. Dan anak itu yang segera tertidur begitu semuanya selesai.


Dia mendapati ruang tengah di mana Kaysa menyelesaikan pekerjaannya sudah sepi dan rapi seperti semula. Televisi mereka bahkan sudah dimatikan. Lalu dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jika waktu memang telah larut.


Pria itu berjalan ke kamarnya, lalu membuka pintu perlahan. Mengintip dari celah yang terbuka, memeriksa keadaan. Dan di sanalah Kaysa, tengah merapikan pakaian mereka ke dalam lemari yang baru tiba dari loundry.


"Aku kira kamu sudah tidur?" Rama masuk ke dalam kamar.


"Mana bisa? Kresek loundryan ini tidak akan membereskan isinya ke dalam lemari sendiri."


Rama terkekeh. Dia lupa barang itu tiba di rumah tiga hari yang lalu, dan dirinya tidak sempat untuk membereskannya.


"Apa pekerjaanmu hanya membawakan talkshow saja sekarang?" Pria itu merangkul tubuh Kaysa dari belakang.


"Untuk sekarang iya. Tapi sesekali juga diminta mengedit hasil liputan yang lain." Kaysa masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Kenapa? Aku bertemu artis hanya sesekali lho, selebihnya ya orang-orang biasa tapi dengan cerita kehidupan mereka yang tak biasa."


"Aku tahu, aku kan menonton acaramu."


"Benarkah?"


"Ya."


"Apa acaraku bagus?" Kaysa menoleh sebentar.


"Bagus sekali, dan sangat bermanfaat. Membuat penonton menjadi lebih bersyukur dan memiliki empati. Juga lebih semangat menjalani hidup."


"Masa?" Kaysa tersenyum puas.


"Kecuali acara tadi."


"Hum? Kenapa memangnya?"


"Aku tidak suka bintang tamunya. Berlebihan." Rama mengingat acara yang dia tonton tadi siang. Di mana Kaysa yang melakukan siaran dengan riang gembira, dan interaksi antara dia dan bintang tamunya cukup akrab.


"Apa?" Perempuan itu memutar tubuh.


"Aku tidak suka melihatmu akrab dengan artis itu ...."


"Akrab?" Kaysa mengerutkan dahi. "Akrab apanya? Itu kan hanya interaksi antara pembawa acara dan bintang tamu?"


"Iya, tapi cara bicaramu terlalu ramah kepadanya."


"Terlalu ramah? Masa aku harus judes-judes dengan dia? Kan nanti acaranya jadi aneh."


"Tapi tetap saja, aku tidak suka."


"Ck! Itu kan pekerjaanku. Masa aku harus bersikap tidak baik kepada bintang tamu? Memangnya kamu?" Kaysa tertawa lagi.


"Apa hubungannya denganku?"


"Lupa ya, waktu kita bertemu seperti apa?"


"Memangnya seperti apa?"


"Haih, kamu amnesia."


Rama tertawa.


"Kamu cemburu?" Kaysa menatap dua bola mata milik suaminya.


"Memangnya tidak boleh ya kalau suami cemburu kepada istrinya?" Pria itu menjawab.


"Kecemburuan kamu konyol."


"Kecemburuan itu tanda cinta."


"Oh ya?" Kaysa tergelak.


"Tentu saja. Siapa yang tidak akan merasa cemburu jika melihat istrinya akrab dengan pria lain?"


"Aku kan sedang bekerja, bukan menemui orang sembarangan?"


"Aku tahu."


"Lalu mengapa kamu merasa cemburu?"


"Sudah kodratku sebagai laki-laki merasa cemburu jika miliknya dekat dengan orang lain."


"Jadi aku harus bagaimaan?"


"Tidak bagaimana-bagaimana."


"Tadi katanya kamu cemburu, lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Tidak harus melakukan apa-apa, lanjutkan saja."


"Tapi kamu bilang ...."


"Aku hanya mengungkapkan perasaanku tahu? Agar kamu mengerti bagaimana harus bersikap."


"Tentu saja aku mengerti. Aku juga akan membatasi diri di luar pekerjaan. Jangan khawatir."


"Hmm ...." Pria itu melepaskan rangkulan tangannya, kemudian mundur.


Dia menjatuhkan bokongnya di pinggiran tempat tidur, dan Kaysa mengikutinya.


"Apa ini akan jadi masalah untuk kita?" Lantas dia bertanya.


"Tidak, mengapa itu harus menjadi masalah?" Rama menggelengkan kepala.


"Tidak tahu, sepertinya kamu mulai tidak menyukai pekerjaanku?"


"Tidak Kay." Rama tertawa.


"Aku hanya tidak suka dengan acara yang tadi. Meski aku tahu jika itu bagian dari pekerjaan tapi tetap saja."


"Kecemburuanmu tidak beralasan." Kaysa mendekatkan dirinya.


"Memang."


"Dan kamu sadar?"


"Iya." Pria itu tersenyum lebar.


"Apa ini karena bayinya?" Kaysa mengulurkan tangan untuk menyentuh pundaknya.


"Apa hubungannya?"


"Tidak tahu, mungkin saja kehamilanku ini berpengaruh kepadamu?"


"Mana bisa seperti itu?" Rama menyentuh perut Kaysa. Merasakan permukaannya yang mulai mengencang. Kemudian menyingkap kausnya sedikit sehingga dia dapat melihat kulit mulus di baliknya.


"Bukankah ini luar biasa? Tuhan menciptakan kehidupan di dalam kehidupan lain yang sudah lebih dulu berlangsung tanpa merusaknya sedikitpun?" Pria itu berujar.


"Kamu ngomong apa sih? Aneh." Lagi-lagi Kaysa tertawa. Mendengar ucapan suaminya yang tidak seperti biasanya.


"Aku seriua Kay."


"Jangan begitu, kamu jadi aneh." Perempuan itu terus mendekat sehingga jarak di antara mereka menghilang.


Rama belum melepaskan tangannya dari perut Kaysa, kemudian dia menempelkan wajahnya di sana. Merasakan keberadaan janin di dalamnya yang sudah begitu dia cintai meski belum meihat wujudnya secara nyata.


Kemudian dia menarik Kaysa untuk duduk di pangkuannya.


"Aku hanya seorang suami Kay." Rama setengah berbisik,


"Memangnya siapa yang bilang kalau kamu cuma satpam?" kedua bibir Kaysa terus tertarik ke belakang hingga membentuk sebuah senyuman.


Rama mendongak seraya menarik wajah perempuan itu, sehingga dengan segera saja bibir mereka bertemu.


Cumbuan berlangsung begitu intens, dan mereka begitu menghayati setiap pagutan yang terjadi. Dan suara decapan terdengar mengiringi aktifitas tersebut.


Kaysa merangkul pundak Rama sehingga dada mereka menempel dengan eratnya. Sementara kedua tangan pria itu sudah merayap di balik kausnya. Menelusuri setiap lekuk tubuh perempuan itu yang mulai memanas.


"Apa Aslan sudah benar-benar tidur?" Kaysa berbisik disela napasnya yang sudah menderu-deru.


"Hmm ...." Rama hanya menggumam seraya melepaskan pakaian bagian atas mereka berdua.


Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher perempuan itu dan menyesap kulitnya dengan penuh perasaan.


Tubuh Kaysa mengejang merasakan sesuatu yang merambat, dan menghadirkan perasaan berdebar yang menyenangkan. Membuatnya mengeluarkan ******* pelan yang membangkitkan hasrat.


Kaysa mendorong Rama sehingga tubuh pria itu terlentang di bawahnya. Mengusap dadanya, kemudian tersenyum sebelum akhirnya dia melanjutkan cumbuan.


Rama mendorongnya, sehingga posisi mereka kini berbalik. Dia lantas melucuti kain terakhir yang menempel di tubuh mereka, dan segera mengungkung tubuh menggiurkan di bawahnya.


Membelainya dengan lembut, dan merasakan geliatan lambatnya setiap kali dia menyentuhnya.


Dua bulatan indah yang puncaknya telah mengeras itu dilahapnya secara bergantian, membuat si empunya semakin menggeliat dan men*esah tak karuan. Sementara tangannya tak diam di bawah sana.


Dan Kaysa mengerang ketika merasakan sesuatu menerobos inti tubuhnya. Dia mengerjap-ngerjap dengan dahi yang berkerut.


Kedua tangannya mencengkeram pundak Rama ketika pria itu mulai menghentak. Menahannya agar dia tak kehilangan kendali. Namun tetap saja, pada akhirnya mereka tak lagi bisa menahan diri.


Rama berusaha menghentaknya dengan hati-hati, mengingat ada janin yang masih sangat kecil di dalam perut perempuan itu. Namun perasaannya tetap saja tak bisa dia kendalikan.


Sentuhan Kaysa, raut wajahnya, dan suara des*hannya yang selalu begitu membuatnya kehilangan akal. Apalagi benda di bawah sana yang terus berkedut kencang seolah sudah diatur harus seperti itu.


"Oh, Rama ...." Dada Kaysa narik turun dengan cepat seiring dengan deru napasnya yang terus memburu.


Kulit tubuh mereka terus bergesekkan menghadirkan perasaan yang semakin lama semakin menyenangkan. Dan suara-suara erotis terus mengudara di ruangan temaram pada hampir tengah malam itu.


Hingga setelah beberapa lama, saat keduanya merasakan sesuatu di dalam tubuh mereka kian bergolak. Berputar dan berkumpul di pusat tubuh dan berusaha meruntuhkan perasaan keduanya. Yang akhirnya berhasil mengantarkan mereka pada puncak percintaan yang begitu indah. Dan seketika pelepasan menggulung keduanya tanpa bisa di tahan lagi. Membuat Rama mempercepat hentakannya, dan setelah itu menekan miliknya dalam-dalam pada Kaysa bersamaan dengan tubuh perempuan itu yang mengejang hebat di bawahnya.


*


*


*


Umm ... Anu Pak 😜😜