
*
*
"Selesai." Rama menautkan tali sepatu di kaki Kaysa yang bertumpu pada pahanya. Sementara perempuan itu menatapnya sambil menyunggingkan senyum.
"Padahal pakai sepatu flat saja aku bisa. Kenapa harus pakai sepatu ini?" Kaysa menurunkan kakinya.
"Sepatumu tampak mengkhawatirkan. Selain sepertinya kekecilan, juga terlihat tidak nyaman." Rama melirik sepatu-sepatu milik Kaysa yang tertata rapi di raknya sendiri.
"Mau bilang kakiku membesar ya?" Perempuan itu tertawa sambil menggerak-gerakkan kakinya.
"Apa kamu merasakannya?" Rama kembali meraih sebelah kaki Kaysa yang lain, kemudian bermaksud memasangkan kaus kakinya.
"Iya, memang membengkak." Perempuan itu tertawa lagi sambil melihat sebelah kakinya yang memang membesar.
"Apa sakit?" Rama mengusap-usapnya perlahan.
"Tidak. Hanya kadang-kadang pegal." jawab Kaysa dengan suara manja.
"Hmm ... tapi tidak berbahaya kan?" Pria itu segera memasangkan kaus kaki dan sepatunya.
"Tidak, memang normal. Ada sebagian perempuan hamil yang mengalami hal seperti ini. Kamu tahu, tangan dan kakinya membengkak, juga tubuhnya membesar." Kaysa memeluk dirinya sendiri.
Rama tertawa.
"Dan itu sudah mulai terjadi kepadaku." Kaysa mengusap-usap perutnya yang sudah mulai terlihat. Di usia ke tiga bulan ini dia sudah merasakan getaran janin di dalam kandungannya.
"Kamu yakin baik-baik saja dan masih bisa bekerja?" Rama menarik kedua tangan Kaysa yang di ulurkan untuk membantunya bangkit dan berdiri.
"Iya, aku tidak apa-apa. Dokter juga bilang begitu kan kemarin?" Dia mengingat kunjungannya ke dokter kandungan sepulang bekerja kemarin.
"Hmm ...." Rama menggumam.
"Kamu sendiri kapan mulai bertugas?" Kaysa balik bertanya.
"Awal bulan depan." Dan Rama pun menjawab.
"Tugas rahasia lagi?"
"Bisa jadi."
"Dan kamu akan jarang di rumah lagi?"
"Mungkin."
"Hmm ...."
"Atau aku batalkan saja? Aku benar-benar mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain?"
"Pekerjaan apa?" Kaysa terkekeh saraya mendekat.
"Entahlah, menurutmu aku cocok untuk pekerjaan apa?" Rama mengulurkan tangannya dan meraih pinggang perempuan itu.
"Jadi polisi biasa saja bagaimana? Yang bertugas di siang hari, pergi pagi dan pulangnya sore. Bagaimana?"
"Kalau aku masih jadi polisi, itu artinya aku harus bersedia menerima tugas lain."
"Seperti tetap jadi anggota pasukan hantu?"
"Ya."
"Kalau begitu jadi sekuriti saja. Kan jam kerjanya sudah pasti teratur."
"Sekuriti?"
Kaysa menganggukkan kepala.
"Kamu pasti akan jadi sekuriti yang keren." Kaysa merangkul pundaknya.
"Begitu?"
"Ya. Di CTNEWS sedang ada perekrutan sekuriti. Mungkin kamu bisa melamar ke sana nanti, jadi kita bisa bekerja bersama setiap waktu?"
"Lebih keren jadi pasukan hantu." Aslan berjalan melewati kedua orang tuanya yang seolah lupa ada orang lain di rumah itu.
"Apa?" Perhatian Rama beralih kepadanya.
"Aku nggak setuju kalau papa berhenti jadi polisi. Nanti kalau temen-temen tanya, aku gimana jawabnya?"
"Hum?"
"Aku mau jawab gini, papaku polisi lho, nangkap banyak penjahat sama selamatin banyak orang." Anak itu berceloteh.
"Sekuriti juga keren. Menjaga perusahaan punya orang." tukas Kaysa seraya melepaskan rangkulan tangannya dari tubuh Rama.
"Tetep aja lebih keren polisi. Actionnya lebih nyata. Bam bam bam ...." Aslan memperagakan gerakan menembak dengan kedua tangannya.
"Action sekuriti juga nyata. Kamu nggak tahu ya kalau ...."
"Sudah, semua pekerjaan itu sama keren sesuai dengan porsinya." Rama menghentikan perdebatan anak dan istrinya.
"Jadi polisi atau sekuriti juga sama-sama menjaga keamanan kan?" Pria itu meraih kunci motor yang menggantung di dekat pintu.
"Ayo kita berangkat?" ajaknya sambil mengenakan helm. Begitu juga dia lakukan kepada Aslan dan Kaysa untuk memastikan keamanan bagi mereka.
***
"Ingat, kalau belum ada yang menjemput jangan dulu pulang oke?" Kaysa mengingatkan saat mereka berhenti di depan gerbang sekolahan Aslan.
"Iya, kan setiap hari juga gitu? Kecuali kalau ikut mamanya Maira." Anak itu menjawab.
"Iya, Mama baru ingat dengan mamanya Maira." Kaysa melihat ke sekeliling, kemudian tersenyum ketika melihat wajah yang dikenalnya.
"Aslan!" Anak perempuan itu berteriak begitu motor ibunya berhenti dan dia segera turun.
"Panjang umur." Kaysa berujar.
"Halo tante? Halo Om?" Sapa Maira kepada keduanya begitu dia sampai di hadapan mereka.
"Hai Maira?"
"Apa?"
"Padahal aku udah bawa lebih lho." Aslan menunjukkan bungkusan di tangannya.
"Maira?" Andini pun memghentika ocehan putrinya.
"Maaf, dia tidak sopan." katanya, yang menghampiri Kaysa dengan malu-malu, sementara Rama memindahkan motornya ke sisi lain, bersiap untuk pergi.
"Tidak apa-apa kalau Maira bawa bekal, nanti dibagi dengan teman yang lain saja ya Aslan?" Perempuan itu kepada putranya.
"Oke Mama."
"Sudah, sana cepat masuk, nanti belnya keburu berbunyi."
"Siap!" Lalu kedua bocah itupun menghambur ke dalam area sekolah.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" Kaysa beralih kepada Andini.
"Baik."
"Syukurlah. Dan pekerjaanmu?" Perempuan itu melirik motor matic milik Andini sekilas.
"Sudah lebih baik, sekarang aku mulai hafal jalan-jalan di Jakarta, dan itu cukup membuat pekerjaanku lebih lancar."
"Oh iya? Bagus. Memang sebelumnya kamu tidak tinggal di Jakarta?"
"Baru satu tahun di Jakarta, ikut suami. Tapi suaminya malah meninggal."
"Hmm ... memangnya sebelumnya kalian tinggal di mana?" Kaysa penasaran.
"Di Bandung, tapi tahun lalu suamiku di pindahkan ke Jakarta oleh atasannya."
"Oh, Bandung?"
Andini menganggukkan kepala.
"Rama dulu juga tinggal di Bandung." Kaysa menoleh kepada suaminya.
"Benarkah?" Andini tampak antusias.
"Ya, lulus SMP dia dan keluarganya pindah ke Jakarta."
Andini tampak terdiam.
"Aku curiga, jangan-jangan kalian kenal?" Kaysa tertawa.
"Oh ya? Hahaha ... Bandung itu luas." Andini menanggapi.
"Ya ya ya, ...." Kaysa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa suamimu Rama Hadinata yang itu ya?" Namun perempuan berjilbab itu berujar.
"Apa?"
"Dulu aku punya teman sekelas waktu SMP, namanya juga Rama Hadinata."
"Benarkah?"
"Ya, tapi sepertinya tidak mungkin. Beberapa kali aku lihat di tivi juga rasanya bukan. Dia beda."
Kaysa terdiam.
"Kay, ayolah. Sudah siang." Rama melihat jam di tangannya.
"Sebentar."
"Aku rasa bukan." Andini terkekeh. "Nama itu pasti di pakai oleh banyak orang bukan?"
"Kalau misalnya iya bagaimana?"
"Ya tidak bagaimana-bagaimana. Aku hanya senang bertemu dengan orang yang aku kenal."
Kaysa terdiam.
"Oo ...." Perempuan itu melihat ponselnya yang menyala.
"Ada orderan yang dekat dari sini. Aku harus mengambilnya. Ini orderan pertamaku pagi ini." Andini dengan girangnya.
"Pergi dulu Kay?" pamit perempuan itu yang segera meninggalkan tempat tersebut.
"Ayolah!" Rama akhirnya mendekat kepadanya.
"Apa kamu lihat tadi? Dia itu Andini." Kaysa menunjuk ke arah perempuan yang mengendarai motor matic tersebut.
"Ya lalu?"
"Kamu kenal dengan seseorang bernama Andini di Bandung?" Kaysa kemudian bertanya.
"Hah?"
"Dia bilang mungkin kenal kamu?"
"Ck! Ada-ada saja kamu ini? Cepat pergi, kita hampir terlambat." ucap Rama yang menyalakan mesin motornya.
"Tapi ...."
"Ayo Kay, bukankah hari ini bintang tamunya artis sinetron kesukaan kamu?" Pria itu mengingatkan pembicaraan mereka semalam.
"Oh iya, aku lupa." Perempuan itu menepuk kepalanya, kemudian dia naik di bagian belakang motor suaminya.
"Ayo Papa cepat kita ke studio!" ucapnya dengan semangat.
*
*
*
Mama Kay kayak emak-emak hoby nonton sinetron? 😆😆😆 baca noveltoon dong, biar tau banyak cerita keren disini.😂