
*
*
Mereka sama-sama terdiam setelah kepergian Radit. Rama memikirkan kembali ucapannya, sementara Kaysa menerka-nerka apakah ucapan pria ini serius ataukah hanya refleks semata karena mendengar perkataan mantan suaminya.
"Aku ...
"Kamu ..." mereka akhirnya buka suara.
"Kamu tidak mungkin serius, kan?" Kaysa memberanikan diri untuk bertanya.
Rama mengatupkan bibirnya rapat-rapat, sambil mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Jantungnya saja bahkan berdegup lebih kencang dari sebelumnya, dan dia berusaha mati-matian meredamnya.
"Ram?" ucap Kaysa lagi saat pria itu tak memberi jawaban.
"Ya Kay?" Rama mengangkat kepalanya
"Kamu tidak serius kan? mana bisa seperti itu? kita bahkan baru saja ...
"Aku serius." pria itu akhirnya menjawab.
"Ap-apa?"
"Aku serius dengan ucapanku. Dan apakah kamu pikir kita bisa bermain-main soal pernikahan? tidak kan? kamu yang lebih berpengalaman soal ini." pria itu berujar.
"Justru itu ..." Kaysa mengusap wajahnya frustasi.
"Kenapa?"
Perempuan itu terdiam.
"Kamu tidak mau?" Rama mencondongkan tubuhnya ke arah Kaysa untuk melihatnya lebih jelas.
"Bukan ... eh, ... maksudku ... tidak seperti itu tapi ...
"Apa?"
"Apa kamu yakin? sudah pernah aku katakan soal ini kan? aku janda dengan ...
"Satu anak, sementara aku pria lajang, lalu di mana masalahnya?" sambung Rama.
"Kita baru saja saling mengenal. Kamu tidak tahu siapa aku, dan akupun sama." Kaysa melanjutkan kaimatnya.
"Lantas?"
"Kamu yakin dengan keputusan ini?"
"Aku tidak pernah merasa seyakin ini."
"Tapi Ram ...
"Tidak akan ada yang menghambatku, jika itu yang kamu takutkan. Aku yang memegang kendali atas hidupku sendiri, tanpa aturan dari siapa pun."
"Lagi pula, ... salahmu sendiri mengapa datang ke dalam kehidupan sepiku, dan mengisinya dengan Aslan dan semua sikapmu. Menjadikan aku terbiasa dengan kehadiran kalian."
Kaysa menatap wajahnya.
"Jadi, mengapa tidak kita lanjutkan saja hubungan ini? aku rasa ini lebih baik."
Perempuan itu menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan.
"Kita akan lebih saling mengenal seiring waktu. Lagi pula kita sama-sama lajang, dan tidak ada yang akan menghalangi, bukan?"
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Tidak ada masalah dengan pekerjaanku. Aku menjalankan tugas sesuai prosedur, dan aku ini polisi sungguhan, kamu tahu? Cek saja ke kantor kalau tidak percaya." dia ingat ucapan Radit beberapa saat sebelumnya.
"Bukan itu, ...
"Lalu apa?"
"Apakah di perbolehkan untuk seorang abdi negara sepertimu menikah dengan janda seperti aku?" Kaysa memperjelas pertanyaannya.
"Tidak ada masalah dengan itu, kenapa harus menjadi masalah bagimu?"
"Tidak, ... hanya saja ...
"Negara memperbolehkan kami menikah dengan siapa pun yang kami kehendaki. Asalkan sama-sama lajang, dan terutama lewan jenis."
Kaysa tertawa karena ucapannya.
"Apa hey? ada yang lucu?" dia menarik tangannya.
"Dasar konyol!"
"Ayolah, ... kita menikah?"
Kaysa kembali menatapnya.
"Kamu ini melamar perempuan tidak ada romantis-romantisnya ya? sudah di depan mantan suami, terus sekarang mengajak menikah dengan cara seperti ini?" protes Kaysa.
"Lalu harus bagaimana? aku kan tidak pengalaman soal ini. aku ini bujangan tahu?"
"Oh ya?"
"Ya, tentu saja."
Kaysa tertawa.
"Dan satu hal lagi, aku ini tidak romantis, jadi jangan harap aku akan mengatakan hal-hal manis kepadamu. Ini perkenalan pertama kita secara resmi." Rama berucap.
"Tidak usah kamu katakan juga aku sudah tahu." Kaysa memutar bola matanya.
"Masa?"
"Iya, orang judes seperti kamu mana bisa berkata manis? bisa ada bencana kalau itu terjadi." ejek perempuan itu.
"Astaga, ... belum apa-apa perkataanmu sudah sepedas ini ya? bagaimana kalau nanti?" Rama terdengar menggerutu.
"Lihatkan? aku juga bukan perempuan manis yang baik hati, makanya mas Radit menyerah untuk menceraikanku. Tapi kamu masih mau menikahiku?"
"Masih. Aku rasa kita sangat cocok." pria itu dengan tegas.
Dan Kaysa tergelak.
"Rama, Rama ...
"Ya Kay?"
"Oh, ... ayolah! kamu tidak benar-benar serius dengan hal ini bukan?" perempuan itu meyakinkannya sekali lagi. Rasa-rasanya dia tidak percaya dengan apa yang terjadi ini.
Rama menggelengkan kepala, namun wajahnya tampak serius.
"Kamu tidak tahu pernikahan itu seperti apa, itu sebabnya aku mengalami kegagalan." Kaysa mencoba berkelit.
"Maka belajarlah dari kegagalan, jangan melakukan apa yang menjadi kesalahan di masa lalu. Semua orang juga pernah membuat kesalahan, dan semua orang pernah mengalami kegagalan. Kamu tahu, aku gagal menjadi tentara, maka aku mendaftar jadi polisi. Setelah itu aku bahkan tiga kali gagal mendaftar sebagai ..." Rama memotong kata-katanya ketika dia menyadari sesuatu.
"Apa?"
"Pokoknya aku pun pernah gagal menggapai sesuatu. Tapi itu tidak menghalangiku untuk mendapatkannya. Selagi masih mampu memperbaikinya, kenapa kita tidak mencobanya lagi?" pria itu terus berbicara.
Kaysa tiba-tiba saja kehilangan kata-kata.
"Jadi ayo kita memulainya lagi, ..." sekali lagi Rama meyakinkan.
"Lalu bagaimana dengan Aslan?" mereka menoleh kepada anak itu yang asyik dengan lukisannya di meja makan.
"Aku akan berbicara kepadanya." ucap Rama, yang kemudian bangkit.
"Apa kamu serius? mau bicara kepadanya sekarang?" Kaya menarik tangan Rama untuk menghentikannya.
"Tentu saja, memangnya mau kapan lagi?" jawab pria itu, lagi-lagi dengan serius.
"Haa, ... kenapa semuanya serba mendadak seperti ini?" Kaysa dengan nada frustasi.
"Sudah terlanjur Kay, ..." dan dia segera melenggang ke arah meja makan di mana Aslan berada.
"Hey, lukisanmu sudah selesai?" Rama berbasa-basi.
"Hmmm ..." Anak itu menggumam.
"Om mau bicara boleh?"
"Bicara apa?" Aslan tanpa memalingkan perhatian.
"Hal penting."
"Soal apa?" dia masih berkutat dengan pensil warnanya.
Kemudian Rama merebut pensil warna di tangan Aslan untuk menghentikan kegiatannya. Dan membuat bocah yang memiliki mata bulat mirip Kaysa itu menatap ke arahnya.
"Apa sih om?" tanyanya kemudian.
Rama berjongkok di depannya, dan dia balik menatap wajah Aslan.
"Om kayak mau interogasi aku." anak itu berujar.
"Masa? padahal om cuma mau bicara lho."
"Tapi ekpresi om kayak mau interogasi aku." bocah itu menjawab, membuat Rama sedikit tertawa.
"Dari mana kamu dengar kata-kata seperti itu, hum?" dia kemudian duduk di kursi lain di dekatnya.
"Dari tivi."
"Akhir-akhir ini kamu sering nonton tivi ya?"
"Lumayan, karena nggak sekolah, abis ngerjaim pr kalau nggak ngegambar ya nonton tivi. Habisnya kalau minta mainin hape nggak di kasih sama mama." adunya, seraya melirik ke arah ibunya yang datang menghampiri mereke, kemudian berdiri di belakang Rama.
"Oh ya?"
"Iya, padahal cuma minta mainin sejaaaaaam aja, tapi tetep nggak di kasih." ucap Aslan lagi.
"Ceritanya kamu sedang curhat nih?" Kaysa menyela percakapan.
"Itu tahu?" dan Aslan menjawab.
"Kamu tahu, anak-anak itu tidak boleh main hape." Rama menjelaskan.
"Walau cuma sebentar?"
"Sebenarnya iya."
"Kenapa?"
"Tidak bagus."
"Iya, kenapa?"
"Lebih banyak dampak buruknya dari pada dampak baiknya."
"Tapi temen-temen aku sering di kasih hape sama mama papanya, nggak apa-apa."
"Karena mereka bukan anak mama, kalau anak mama ya tidak mama kasih." Kaysa menyela lagi.
Aslan mendelik kepada ibunya.
"Papa juga suka ngasih hapenya kalau ketemu?"
"Terus setelah itu apa yang papa kerjakan sementara kamu main hape?" Kaysa bertanya.
"Kerja, ... telefonan sama temennya atau ... bercanda sama tante galak." suara Aslan memelan dengan sendirinya.
"Terus kamu main dengan siapa kalau ada papa?"
"Hanya dengan hape kan? kamu maunya begitu?" Kaysa sedikit meninggikan suaranya, namun kemudian Rama mengingatkannya dengan isyarat tangan.
"Tidak apa-apa main hape, tapi hanya boleh sebentar. Terus kamu harus belajar dulu." Rama berujar.
"Kan udah."
"Mengerjakan pr?"
"Udah."
"Sekolah?"
Aslan terdiam.
"Kalau tidak mau sekolah ya jangan harap mama membiarkanmu bermain hape. Karena om juga tidak akan mengijinkamu." sambung Rama sambil menoleh kepada Kaysa.
"Ya udah, nggak usah main hape kalau gitu." Aslan hampir kembali pada buku gambarnya.
"Hey, kita kan sedang bicara?" Rama menarik buku yang sudah hampir di penuhi oleh bermacam-macam lukisan hasil kreasi Aslan sebagai salah satu sarana terapi yang di sarankan oleh psikiaternya itu.
"Masih ya?" anak itu kembali mendongak.
"Ya masih."
"Terus mau ngomongin apa lagi sih? bikin aku takut deh."
"Tidak usah takut, kan om cuma mau mengobrol?"
"Iya, ngobrol apa?"
Rama terdiam sebentar untuk mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk dia ucapkan kepada anak itu.
"Menurut kamu, ... bagaimana kalau misalnya ... om dan mama ... menikah?" akhirnya dia mengucapkannya juga.
"Menikah?" Aslan menatap pria itu dan ibunya secara bergantian.
"Iya, menikah."
Anak itu mengerutkan dahi.
"Maksudnya om sama mama pacaran?" katanya dengan raut bingung.
"Bukan pacaran, tapi menikah." ulang Rama.
"Emang beda ya?"
"Beda lah."
"Bedanya di mana?"
Rama tampak berpikir, lalu dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau pacaran itu ..." Kaysa hampir saja menjelaskan, tapi lagi-lagi Rama menghentikannya.
"Pacaran itu hanya untuk yang tidak serius, sementara menikah untuk yang serius."
"Emangnya om serius, makanya mau menikah sama mama?"
"Tentu saja."
Aslan terdiam lagi.
"Bagaimana? apa kamu setuju?"
Anak itu menatap wajah pria dewasa yang akhir-akhir ini sering berada di dekatnya. Menjadi temannya melewati saat-saat yang dirasanya cukup menakutkan. Atau juga mengisi hari-harinya sejak berhenti sekolah. Dia bahkan menemaninya menjalani terapi untuk pemulihan trauma yang di alaminya.
Dan rasanya cukup menyenangkan. Dia seperti memiliki teman yang sepadan, juga seseorang yang di butuhkan. Yang mengisi sebagian besar kekosongan jiwanya setelah perpisahan kedua orang tuanya yang terasa cukup menyakitkan.
"Aku bingung." ucap Aslan yang turun dari kursinya, kemudian melenggang ke arah kamar.
"Aslan?" Rama memanggilnya, namun anak itu tidak mendengar, dia malah terus masuk lalu menutup pintunya rapat-rapat.
Pria itu pun bangkit, kemudian dia dan Kaysa saling berpandangan. Rama teringat dengan percakapan mereka di awal, ketika dia mengajaknya berteman.
"Aku lupa sudah berjanji kepadanya." gumamnya, seraya menyugar rambutnya yang sudah menebal.
"Janji apa?"
"Tidak akan mendekatimu karena kami berteman." lalu dia menyapu wajahnya pelan-pelan. "Aku sudah melanggar janjiku kepadanya."
"Lalu apa kamu akan membatalkan niatmu?" Kaysa tampak kecewa. Baru saja dirinya memiliki sedikit harapan terhadap pria ini, namun sesaat kemudian harapannya segera di patahkan oleh fakta bahwa putranya mungkin tidak menyetujui hubungan mereka. Dan hal ini pasti akan menjadi penghalang.
"Tidak akan." Rama segera mengikuti Aslan ke arah kamar, kemudian memberanikan diri untuk membuka pintunya yang ternyata tidak di kunci.
Aslan terlihat duduk di sisi tempat tidur, dia menghadap ke arah jendela, membelakanginya.
"Aslan, om boleh masuk?" Rama meminta izin.
Anak itu tidak merespon, dan tampaknya dia sedang berpikir.
"Aslan?" panggil Rama lagi.
"Aku bingung." dia akhirnya berbicara, membuat Rama memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar yang tidak terlalu luas itu, diikuti oleh Kaysa di belakangnya.
Pria itu mendekatinya, kemudian kembali berjongkok di hadapannya. Mencoba memahami raut wajahnya yang datar tanpa ekspresi.
"Apa yang membuat kamu bingung?" Rama bertanya.
"Banyak." jawab Aslan.
"Kamu tidak setuju om menikah dengan mamamu?"
"Kita kan udah temenan, masa om mau nikah sama mama? nanti om jadi papa aku dong?"
"Kamu tidak setuju?" Rama mengulang pertanyaan.
"Masa dari temen malah jadi papa?"
"Kamu tidak mau?"
"Nggak tahu, aku bingung."
"Dari tadi bingung-bingung terus?"
"Kalau orang menikah itu, artinya nanti tinggalnya bareng-bareng ya?" dia mengalihkan perhatiannya kepada Rama.
"Iya."
"Terus sering sama-sama ya?"
"Iya."
"Tinggalnya bareng-bareng?" tanya nya lagi.
"Iya."
"Kayak papa sama tante galak gitu?"
"Mm ... mungkin."
"Terus nanti om rebut mama dari aku, kan kalau kayak papa sama tante galak gitu, terus nanti mama om bawa kabur. Aku jadinya sendirian."
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Rama mengerutkan dahi.
"Karena tante galak kan gitu. Udah pindah ke rumah jadi nggak bolehin aku sama papa. Suka bilang kalau aku ikut papa, nanti papanya tante bawa kabur."
"Benarkah?" Kaysa juga berjongkok di depannya.
"Iya." Aslan menganggukkan kepala.
"Lalu apa lagi yang tante Kristina katakan kepadamu?" Kaysa tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Papa nggak sayang aku. Papa sayangnya cuma sama tante. Contohnya papa pasti pergi kalau ada tante galak."
"Astaga Aslan!" Kaysa mengusap kepala dan wajah putranya.
"Kamu tahu, tante dan Om Rama itu beda." Rama kembali berbicara.
"Bedanya di mana?"
"Om tidak akan pernah merebut mama darimu, apa lagi membawa mama pergi. Kita akan selalu sama-sama."
"Masa?"
"Contohnya sekarang."
"Beneran?"
"Iya."
Aslan berpikir lagi.
"Nggak akan ninggalin aku setelah menikah?" anak itu bicara lagi.
"Tidak akan." Rama terkekeh.
"Nggak akan galakin aku?"
"Tentu saja tidak."
"Om janji?"
"Janji."
Lalu air mata tiba-tiba saja meleleh dari sudut mata kecoklatan milik Aslan, dan dia hampir saja menangis.
"Nggak akan kayak tante galak kan? yang bikin papa cuekin aku?" katanya dengan polosnya.
Entah bagaimana perasaannya saat ini, tapi dia hanya ingin menangis. Mengingat apa yang telah dia alami setelah kehadiran perempuan bernama Kristina yang telah merenggut seluruh perhatian ayahnya. Dan kini, tiba-tiba saja pria yang telah dia kenal berniat menikahi ibunya.
Bukankah awalnya juga begitu?
"Hey, hey ..." Rama merangsek lebih dekat.
"Tidak akan, kamu bisa pegang janji om." katanya.
"Om janji ya, kalau udah nikah nanti jangan bawa mama pergi. Nanti aku jadi sendirian. Aku takut." katanya dengan suara parau, kemudian menangis.
Membuat Rama bangkit dan duduk di dekatnya, kemudian menariknya ke pelukan. Dan tidak ada kata-kata yang terucap selain raungan tangis bocah yang hampir berusia delapan tahun itu di dada Rama setelah mengutarakan isi hatinya yang paling dalam.
Dan bersamaan dengan itu pun Kaysa menghambur untuk memeluk keduanya. Mereka menangis bersama, namun dengan perasaan yang berangsur lega.
*
*
*
Bersambung ...
Jadi, dedek Aslan setuju nih?
maaf gses, telat up. Biasa, dunia nyata sedang sangat membutuhkan emak, jadinya telat banget up.
By teh way, like sama komennya terus di kirim ya, biar aku makin semangat.
lope lope sekebon Korma 😘😘
dedek Aslan yang lagi bingung