
*
*
Rentetan suara senapan memekakan telinga, membangunkan Rama dari ketidak sadarannya. Suasana masih gelap gulita, dan dia tidak tahu berada di mana. Yang pasti bukan tempat yang baik menurutnya.
Bau tanah lembab bercampur aroma darah mendominasi penciumannya, dan itu tidak baik. Dia meraba-raba untuk mencari tahu. Kemudian terdengar lenguhan kesakitan dari sisi lainnya.
Dia teringat dengan rekannya.
"Junno?" panggilnya, pelan.
Terdengar lenguhan lagi.
"Junno, kau di sana?" katanya, dan matanya mencoba memindai keadaan.
Junno kembali melenguh, dan arahnya di belakang. Pandangan suram Rama menangkap bayangannya. Pria itu meringkuk di sisi lain ruangan pengap yang mengurung mereka.
"Junno!" dia segera menghampirinya.
Keadaannya tampak lebih parah dari dirinya, mungkin siksaannya lebih kejam juga karena dia sering melawan. Junno memang terlatih untuk melawan segala rintangan yang ada di depan mata, sekalipun itu akan membuatnya kehilangan nyawa. Rasa cinta tanah air dan kehormatan negara dia letakkan di atas segalanya, bahkan nyawanya sendiri.
Terdengar ledakan yang cukup dahsyat dan terasa mengguncang hingga ke ruangan itu. Benteng batu berlumut di belakangnya bahkan sebagian berjatuhan, dan Rama menarik Junno ke tengah ruangan.
"Mereka datang Junno, bertahanlah." katanya, seraya membuatnya tetap terjaga.
Suara desingan senjata dan ledakan terdengar semakin sering, diikuti suara pria-pria berteriak. Kemungkinan mereka juga berhadapan secara langsung.
Rama memindai ruangan gelap itu, ukurannya tidak terlalu besar, dan ada banyak bebatuan di dalam sini. Matanya menangkap ada sedikit cahaya yang masuk, di perkirakan itu celah pintu atau lubang untuk keluar masuk.
Dengan tertatih dia mendekati cahaya tersebut, menyentuh permukaannya yang dingin dan keras. Sepertinya itu sebuah batu besar yang di letakan secara sengaja untuk menutupinya.
Baku tembak berlangsung untuk beberapa saat hingga akhirnya berhenti dengan sendirinya.
Sayup-sayup terdengar suara yang sepertinya dia kenal berbicara dalam bahasa Indonesia yang bercakap-cakap di depan lubang tempatnya berada.
"Alvaro melarikan diri tak lama sebelum kita sampai. Sepertinya di sudah memperkirakan bantuan akan segera datang. Hanya tentara bayaran yang ada dan menghadang kita, mereka bahkan mampu mengecoh pengepungan ini."
"Aneh, seharusnya kita bisa mendapatkannya tapi dia seperti telah mengetahui sesuatu."
"Phantom!" Rama mencoba berteriak.
Hening.
"Phantom! aku di sini!"
Masih tak ada jawaban.
"Phantom! bergeraklah tak terlihat, bertindaklah tanpa terdeteksi!" Rama kembali berteriak.
"Kaukah itu?" lalu terdengar jawaban dari luar sana, dan setelahnya terdengar derap kaki yang lebih banyak.
"Menjauhlah dari lubang, kami akan meledakkannya." teriakan itu seperti suara Garin.
Rama menurut. Dia menjauh dan melindungi Junno.
"Panthom, apa kau sudah aman?" Adam berteriak lagi.
"Ya!" jawab Rama.
Lalu setelah beberapa menit sebuah ledakan memecahkan batu besar di depan yang kemudian meruntuhkan benda tersebut.
Beberapa kaki tampak menendang-nendang pecahan yang masih berasap untuk menyingkirkannya, dan mereka berhasil membentuk sebuah lubang untuk masuk.
Salah satu di antaranya segera menyelinap ke dalam dan memeriksa keadaan.
"Ram!" Garin yang pertama masuk, dan dia memeriksa ke dua rekannya.
"Junno, ..." Rama menoleh ke belakang di mana Junno sudah menggigil.
"Bantuan!" Garin berteriak, membuat beberapa orang ikut masuk dan segera membawa mereka pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kaysa menoleh ketika mendengar langkah kaki tergesa menuju ke arahnya. Dia tak beranjak sedikitpun dari ruangan khusus yang di sediakan oleh staff markas besar pasukan hantu, bersama Aslan yang selalu asyik dengan buku gambarnya, padahal hari sudah menjelang malam.
"Ada kabar?" dia segera bertanya.
"Mereka di temukan." jawab seorang prajurit yang menjadi penghubung antara dirinya dan segala info dari luar.
Kaysa segera bangkit.
"Kami sudah menyipakan penerbangan ke Australian dan anda ...
"Bawa aku ke sana sekarang juga!" katanya, yang segera membereskan barang-barang milik Aslan dan menarik anak itu untuk pergi.
Seorang perajurit pemandu menggiringnya bersama Aslan untuk segera masuk. Dia menemukan seorang prajurit lainnya bersama saudara laki-laki dari Junno.
Tak lama kemudian pesawat segera terbang menuju ke tempat yang sudah di tentukan.
***
Dan setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam yang membuat frustasi, akhirnya mereka tiba di bandara militer Australia.
Sebuah mobil khusus sudah menunggu dan segera membawa mereka menuju rumah sakit untuk militer dengan penjagaan cukup ketat.
Kaysa tentu saja segera berlari menuju kamar perawatan saat salah satu dari rekan suaminya menunjukkan jalan, sementara Aslan berada dalam gendongan prajurit yang mendampingi mereka.
Seorang penjaga menahan langkahnya, namun petugas menjelaskan dengan detil siapa dirinya, dan apa kepentingannya. Sehingga dia segera mengijinkannya masuk.
Perempuan itu segera mendorong pintu dengan keras, dan tampaklah Rama yang terbaring di ranjangnya dengan verban yang membalut tubuh bagian atasnya. Sementara wajahnya babak belur dan setengah membengkak.
Kaysa menutup mulut dengan tangannya seraya berjalan mendekat. Sedangkan Aslan tetap di luar dengan pemandu mereka.
"Ya Tuhan," dia tak mampu berucap selain menangis. Keadaan pria itu sungguh membuatnya merasa pilu.
Rama terbangun begitu merasakan kehadiran seseorang di dekatnya, dan wajah Kaysa lah yang paling mendominasi pandangannya.
"Hey say ...
Belum sempat dia berbicara, Kaysa sudah terlebih dulu merangkulnya. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya.
Perasaannya campur aduk. Antara sedih, takut, khawatir dan juga lega. Dia tak menyangka sama sekali jika keadaannya akan seperti ini. Melihat suaminya terluka karena tugas dan pengorbanannya, dan dirinya yang berada di ambang kematian.
"Aku selamat." gumam Rama, tapi tak membuat Kaysa berhenti menangis.
"Kay?" ucap pria itu lagi, dan dia mencoba untuk menyentuhnya.
"Diamlah bodoh!" perempuan itu mulai berbicara meski masih terisak.
"Sakit Kay." keluh Rama ketika Kaysa memeluknya terlalu keras. Menekan pada luka-luka sayatan yang terbalut verban.
"Salahmu membuatku khawatir!" dia malah mengeratkan pelukannya.
"Aw aw aw! ampun, sakit!" Rama merintih, membuat Kaysa melepaskan rangkulannya.
"Kepada mereka yang melukaimu tidak meminta ampun, tapi kepadaku kamu sampai seperti itu?"
Rama menahan senyum, dan tiba-tiba dia merasa baik-baik saja.
"Oh, Tuhan!!" Kaysa menutup wajah dengan kedua tangannya. "Aku merasa kehilangan separuh diriku saat mendengar apa yang terjadi kepadamu. Rasanya aku tidak kuat!"
"Tapi aku selamat." Rama dengan suara pelan.
"Ya, dan aku harap selamanya begitu." Kaysa menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kamu baik-baik saja?" katanya, dan dia menyentuh verban di tubuh suaminya.
"Aku masih bisa bicara." pria itu berkelakar.
"Masih bisa bercanda?" Kaysa terisak. "Istirahat lagi sana! seharusnya kamu masih pingsan karena luka-lukamu ini!" perempuan itu tampak kesal.
"Sudah sepuluh jam aku tertidur, dan obat pereda nyeri nya sudah berkurang. Lagi pula aku harus bangun."
"Kenapa? mau menyelamatkan orang lagi?" dia mengusap wajahnya yang basah.
"Karena kamu datang." jawab Rama, kemudian tersenyum.
Kaysa terdiam sebentar, kemudian dia menepuk pundak pria itu agak keras. Membuatnya berteriak kencang karena mengenai lukanya.
Perempuan itu mendengus, namun kemudian dia merangkulnya kembali.
"Maaf. Makanya jangan jadi menyebalkan!" katanya dengan perasaan kesal.
*
*
*
Bersambung ...
Kang Korma nggak apa2, tuh masih bisa ngegombal😂😂
masih pada marah?😆
cus like komen sama kirim hadiah yang banyak biar kang korma cepet sembuh.