
*
*
Rama tertegun di ambang pintu sepeninggalnya tukang pos setelah memberikan sebuah amplop kepadanya. Yang isinya merupakan surat panggilan dari pengadilan.
"Siapa?" Kaysa datang menghampiri.
"Tukang pos."
"Tukang pos? Pagi-pagi begini sudah mengantar surat?" Perempuan itu bertanya.
"Hmm ...
"Masih jaman ya pakai surat-suratan?" Kaysa terkekeh.
"Surat dari pengadilan Kay." Rama menunjukkan selembar kertas berisi undangan untuk menghadiri persidangan.
"Duh? Proses penyelidikannya sudah selesai? Sudah mau sidang saja?"
"Ini buktinya?"
"Tapi kamu cuma di mintai keterangan satu kali saja ya? Ini berita baik atau buruk?"
"Entahlah."
"Lalu bagaimana?"
"Apanya?"
"Sidangnya?"
"Masih minggu depan. Ini hanya pemberitahuan saja."
"Maksudku, kita belum melakukan persiapan apa-apa. Dan bagaimana soal pengacara? Kita bahkan belum menunjuk siapa pun untuk mendampingi."
"Semuanya aku serahkan kepada Adam dan Junno. Mereka yang akan mengurusnya."
"Wow, selain anggota pasukan hantu, mereka bekerja di bidang hukum juga?"
"Kurang lebih begitu. Adam memiliki koneksi dengan semacam kantor penyelidikan, sementara Junno lulusan fakultas hukum juga. Jadi formasinya lengkap."
"Luar biasa."
"Benar. Dan aku di jerumuskan untuk bekerja dengan orang-orang semacam ini, yang tidak akan berhenti bekerja sehingga semuanya terbongkar secara nyata."
"Nah, mungkin itu jalannya. Kamu di buat sibuk agar terkecoh dan melupakan kasus Livia, tapi tanpa mereka sadari malah membawamu pada oran-orang yang ternyata bisa di andalkan untuk membantu. Bukankah itu bagus? Di mana ada kesulitan di situ ada jalan. Jadi, tidak usah berkecil hati." Kaysa menepuk bahu suaminya.
"Hmm ... kamu benar."
"Ini apa sih pada diem di sini? Pada halangin jalan aja? Kan aku mau pergi sekolah?" Aslan sudah siap dengan tasnya.
"Oh ya? kamu sudah siap?"
"Udah dong, makanya mau pergi juga."
"Bekalnya sudah kamu masukkan?"
"Udah." Aslan menepuk bagian atas pada tas bergambar robot tersebut.
"Bekal untuk Maira?"
"Udah juga." Dia mengangkat sebuah totebag kecil berisi bekal tambahan seperti hari-hari sebelumnya.
"Kamu serius setiap hari membuatkan bekal untuk Maira juga?" Rama mengenakan jaket khusus untuk berkendara.
"Begitu maunya Aslan."
"Memangnya dia benar-benar tidak bawa bekal?"
"Sekarang bawanya uang, lima ribu doang. Kalau nggak makan kan kasihan. Kalau punya aku yang di bagi dua nanti nggak kenyang.
"Ah, dasar kamu gembul." Kaysa meraih blazer yang sudah dia siapkan, lalu mengenakan sepatu flatnya. Hari itu dia akan menjalani sesi interview untuk melengkapi cvnya di sebuah kantor berita nasional.
"Mama juga, sekarang makannya lebih banyak dari aku. Mentang-mentang udah ada dedek bayi." Aslan menjawab.
"Eh, kan ini ...
"Sudah, kamu tidak akan menang berdebat dengan Aslan. Lebih baik sekarang kita pergi, nanti kesiangan." Rama menyudahi perdebatan yang hampir di mulai, kemudian berjalan keluar.
"Kalian siap?" tanya nya, saat istri dan anaknya sudah naik di belakang.
"Siaaapp!" Keduanya menjawab. Kemudian pria itu melajukan motornya keluar dari pekarangan rumah untuk mengantarkan Aslan ke sekolah, di lanjutkan mengantar Kaysa ke kantor berita.
***
"Mau aku tunggu?" Rama melepaskan helm dari kepala Kaysa begitu perempuan itu turun sesampainya mereka di depan kantor CTNEWS.
"Tidak usah, sepertinya akan lama." Kaysa menjawab.
"Serius?"
"Iya. Mungkin ada banyak hal yang harus aku pelajari si sini."
"Baiklah, kalau begitu aku akan ke tempat Adam."
"Hmmm ... oke."
"Telefon saja kalau kamu sudah selesai ya? Nanti aku jemput."
"Baik."
"Jangan terlalu menyibukkan diri, ingat kamu sedang mengandung."
"Iya Papa. Kamu mulai cerewet ya?" Kaysa sedikit memicingkan mata.
"Benarkah? mungkin karena bayinya."
"Sugesti."
Rama hanya tertawa.
"Pergilah sekarang." Kaysa berjalan mundur.
"Tidak setelah kamu masuk ke dalam sana."
"Oke."
Kaysa melambaikan tangan, kemudian memutar tubuh, dan bergegas memasuki gedung enam lantai tersebut. Sedangkan Rama memutuskan untuk pergi setelahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi apa rencanamu setelah ini?" Mereka bertiga bertemu di sebuah kafe tak jauh dari pusat kota.
"Entahlah, kita ikuti saja dulu alurnya. Apa yang akan mereka lakukan?"
"Kau sudah dapat pengacara?" Adam bertanya.
"Pak Bagas mengatakan jika negara akan memfasilitasi semua yang aku butuhkan. Mungkinkah itu termasuk pengacara?" Rama menyesap minuman miliknya.
"Aku tidak percaya mereka." Junno manyahut.
"Menurutmu begitu?"
"Jika sebuah kasus besar saja bisa mereka tutupi selama itu, dan melibatkan banyak orang, lalu bagaimana menurutmu dengan pengadilannya? Apa kau tidak memperkirakan jika mereka juga akan mengendalikan persidangan?" lanjut pria itu.
Rama terdiam untuk berpikir.
"Kau sudah tahu keadaan sebelumnya, bisa saja mereka mempercepat proses persidangan hanya untuk formalitas semata. Kau tahu, mereka mendapatkan tekanan dari banyak pihak. Media, pemerintah, apalagi masyarakat."
"Belum lagi proses interogasi yang terkesan santai, dengan tidak di tahannya Alan dan Frans. Padahal mereka pelaku kejahatan luar biasa. Kemungkinan menghilangkan barang bukti bisa saja terjadi. Dan lagi keterlibatanmu dalam proses penyidikan seperti tidak terlalu di pandang. Padahal korbannya adalah anggota keluargamu."
"Aku setuju dengan Junno, apa pun bisa mereka lakukan. Ada uang dalam jumlah yang begitu besar berputar di kasus ini."
Rama mengangguk-anggukkan kepala.
"Jadi bagaimana jika aku saja yag maju sebagai pengacaramu?" Junno menawarkan diri.
"Kau bisa?" Rama sedikit terkekeh karenanya.
"Kau tidak percaya dengan kemampuanku ya?"
"Bukan, bukan begitu. Hanya saja ...
"Ayolah, masa cuti ini sangat membosankan. Aku butuh kegiatan untuk membuatku selalu aktif, dan sepertinya penanganan kasus ini bisa aku jadikan permulaan untuk menguji kemampuanku."
Rama menatap rekan satu timnya itu secara bergantian.
"Ngotot sekali kau ini?" Rama bereaksi.
"Hanya merasa gemas dengan apa yang aku lihat di depan mata, sementara aku hanya bisa diam dan menunggu tindakan mereka. Jadi, kenapa bukan kita saja yang mengambil tindakan?"
"Menurutmu begitu?"
"Ya."
"Baiklah, kalau kau memaksa. Jadilah pengacaraku, dan bantulah aku mendapatkan keadilan untuk adikku." Rama berujar.
"Deal." Mereka saling menautkan tangan untuk bersalaman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nah Kay, kami dengar pengadilan akan segera mengadakan persidangan untuk kasus pembunuhan adik iparmu?" Seorang editor bernama Willy memulai breefing pada hampir siang itu.
"Betul Pak. Cepat juga beritanya menyebar ya?" Kaysa menjawab.
"Tentu saja, karena kasus itu menyita perhatian untu sekarang."
"Betul."
"Jadi, bagaimana jika tugas pertamamu adalah meliput persidangan itu?"
"Benarkah?"
"Ya, apa kau bersedia?"
"Apa itu tidak masalah? Maksud saya, hubungan pernikahan dengan Rama tidak akan menjadi sesuatu yang dikait-kaitkan dengan kasusnya?"
"Aku rasa tidak. Malah disitulah keuntungannya. Kau bisa mendapatkan berita secara eksklusif langsung dari sumbernya. Suamimu sendiri. Dan hal itu akan menjadi nilai tambah untuk beritanya."
Kaysa memikirkan beberapa hal.
"Begitu ya?"
"Ya, jika kau bersedia besok kita akan mulai membuat rencana. Apa saja yang harus kau lakukan, dan pertanyaan yang akan kau berikan jika harus mewawancara beberapa orang."
"Baiklah. Jadi mulai besok saya sudah bekerja?"
"Ya, jika kau mau."
"Baik Pak."
"Datanglah di jam biasa. Tugasmu menangani berita ini, bersama tim yang nanti kita bentuk."
Kaysa mengangguk-anggukkan kepala.
"Oh ya, apa kandunganmu tidak akan bermasalah dengan pekerjaan ini?" Willy bertanya lagi, setelah mengetahui keadaan perempuan itu dari wawancara sebelumnya. Kaysa memang tidak menutupi apa pun yang mungkin akan berhubungan dengan pekerjaan, termasuk kehamilannya.
"Saya yakin tidak Pak. Kami sangat sehat," jawab Kaysa.
"Baiklah kalau begitu, aku rasa tidak akan ada masalah. Tapi kalau misalnya ada sesuatu kau beri tahu saja, maka kita akan merubah rencananya."
"Iya Pak."
"Baik, aku rasa cukup untuk hari ini. Sampai jumpa lagi besok?" Willy membereskan beberapa barang miliknya.
"Iya Pak. Terimakasih." Kemudian mereka menyudahi percakapan, dan Kaysa pun meninggalkan gedung tersebut.
*
*
*
Bersambung ...
Like komen dan hadiahnya doooong gaess ...
Lope lope sekebon Korma 😘😘