
*
*
"Ayah tirimu kerjanya apa tadi?" mereka makan di sebuah restoran cepat saji favorit Aslan.
"Nangkap penjahat." Aslan menyesap minuman ringan yang sang ayah pesankan untuknya, seperti biasa.
"Menangkap penjahat di mana?" Radit terus mengorek keterangan dari sang putra. Rasanya dia menjadi semakin penasaran karenanya.
"Di Jakarta lah, masa di planet Mars?" Aslan sekenanya. "Tapi perginya malam-malam, terus pulangnya siang-siang." Aslan mengunyah ayam goreng tepung kesukaannya dengan semangat.
"Kenapa bisa begitu?"
"Nggak tahu."
"Kok tidak tahu?"
Aslan menggelengkan kepala sambil mengisyaratkan dengan jarinya untuk merapatkan mulutnya.
"Pakai rahasia-rahasiaan?"
"Emang rahasia, Papa."
"Rahasia?"
Aslan kini mengangguk.
"Kenapa rahasia?"
"Aku nggak tahu." anak itu menggendikkan bahu.
"Segala hal kamu tidak tahu?"
"Bukan urusan aku." Aslan dengan cueknya.
"Lama-lama kamu terdengar seperti ayah tirimu ya? menyebalkan." Radit mengunyah makanannya dengan gusar.
"Om Rama kan papa aku juga, gitu kata mama."
"Bukan, dia hanya papa tiri."
"Papa aku ih, temen aku juga."
"Apa lagi itu?"
"Iya dong, kan om Rama yang sering nemenin aku biar sering pergi kerja juga. Tadi aja aku ngerjain prnya sama Om Rama."
"Benarkah?"
Aslan mengangguk lagi.
"Lalu apa yang mamamu kerjakan?"
"Masak, beres-beres rumah sama latihan tinju."
"Latihan tinju?" pria itu membeo. "Kenapa dia latihan tinju?"
"Di suruh om Rama."
"Kenapa dia menyuruh mama untuk latihan tinju?"
"Biar mama bisa bela diri."
"Bela diri untuk apa?"
"Nggak tahu, papa kepo amat ih! nanya-nanya terus dari tadi!" kini Aslan yang tampak kesal kepadanya.
Sang ayah merapatkan mulut setelah mendapat reaksi dari putranya.
***
"Setelah ini kamu mau ke mana lagi?" Radit menggandeng tangan Aslan setelah mereka menyelesaikan makan siangnya.
"Aku mau pulang." jawab anak itu yang mulai merasa tak nyaman dengan keadaan mall yang semakin ramai pada lewat tengah hari itu.
"Semakin kesini kamu menjadi semakin tidak asik. Susah di ajak bermain dan membosankan. Padahal papa sudah meluangkan waktu walau jadwal papa sangat padat."
Aslan mendongak ke arah ayahnya.
"Papa nggak suka aku ya? ya udah kita pulang aja, kan udah aku bilang nggak mau jalan-jalan. Tapi papa maksa terus." katanya dengan lugu.
"Bukan begitu Aslan, maksud papa ...
"Aku ngerti kok kalau Papa sibuk, jadi nggak usah maksa untuk ngajak aku pergi. Jadinya malah bikin Papa repot kan?" mereka menghentikan langkah.
"Aslan ...
"Di rumah juga aku seneng, nggak pusing lihat banyak orang, terus bisa bikin lukisan yang banyak. Kalau mau makan tinggal minta sama mama, sekarang aku sama mama punya banyak makanan lho, nggak kayak dulu. Om Rama sering beliin makanan yang banyaaaakk banget, jadi aku sama mama sering makan." ucap anak itu dengan segala kepolosannya.
Radit merasakan hatinya begitu ngilu. Disaat anak-anak lain merengek meminta segala hal jika orang tua mereka mengajak jalan-jalan, anaknya ini malah meminta pulang dan menyombongkan apa yang ada di dalam rumahnya. Di sana, bersama orang lain yang telah masuk ke dalam hidupnya dan mantan istrinya. Yang jelas-jelas sangat mampu dia berikan, bahkan sangat jauh lebih baik.
Tapi selama ini dia tidak pernah menyadari hal itu, sehingga ternyata ada orang lain yang telah melakukannya untuk mereka.
"Maaf." pria itu berjongkok di depan Aslan.
"Papa lupa untuk memperhatikanmu. Papa terlalu lama mengabaikanmu jadi papa terbiasa ...
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa." Aslan menggelengkan kepala, kemudian menepuk pundak sang ayah.
"Kalau papa sibuk, masih ada om Rama."
Hati Radit terasa mencelos mendengar penuturan sang anak. Dia bahkan seperti tak membutuhkannya sekarang.
"Papa kerja aja, nanti kalau ada apa-apa aku minta sama om Rama. Sama aja kok." katanya lagi, dan itu sukses membuat Radit merasa patah hati.
Ini bahkan terasa lebih sakit dari pada ketika Kaysa melayangkan gugatan cerai kepadanya. Karena meski anak ini awalnya tak dia inginkan, tapi kehadirannya telah menambah alur tersendiri di dalam hidupnya.
"Jangan bicara lagi." Radit kemudian bangkit.
"Ayo kita menghabiskan waktu seharian ini, karena nanti sore papa harus mengantarkanmu lagi."
"Ya udah terserah Papa aja." dia hanya akan menurut saja, begitu pikir Aslan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mereka aman." Rama menyerahkan ponselnya kepada Kaysa, setelah mendapatkan pesan gambar dari orang yang di tugaskan untuk mengawasi Aslan dan Radit tanpa mereka ketahui.
"Apakah ini tidak berlebihan? aku kok merasa kalau ini terlalu bagaimana ya?" perempuan itu tertawa, lalu dia menyerahkan kembali benda pipih itu kepada suaminya.
Kaysa terdiam.
"Tidak usah khawatir." ucap Rama yang merangkul pundaknya, kemudian mengusap-usapnya dengan lembut.
"Beberapa hari ini aman-aman saja, jadi aku rasa tidak harus begitu juga kan?" perempuan itu kemudian berbicara.
"Aman atau tidak kita tidak tahu, yang pasti orang-orang itu bisa saja mengintai dari temat yang tidak terduga. Karena yang bisa mereka lakukan itu jauh dari bayangan."
"Itu sebabnya kamu menginginkan aku bisa bela diri?" Kaysa mendongak kepadanya.
"Itu kamu tahu?"
"Kan ada yang menjaga kita, kenapa aku harus bisa bela diri juga."
"Hanya bentuk antisipasi. Siapa tahu ketika penjaga lengah, dan kamu sendirian mereka menyerangmu?"
"Kamu bilang para penjaga itu sangat terlatih?"
"Memang."
"Terus kenapa aku juga harus ...
"Kamu terlalu banyak bertanya meskipun sudah aku jelaskan!" Rama sedikit menggeram karena merasa gemas, lalu dia menarik wajah Kaysa untuk kemudian mengecup bibirnya yang tidak bisa berhenti bertanya.
"Habisnya kamu mengharuskan aku untuk bisa melakukan apa yang kamu katakan." Kaysa mendorong dada suaminya yang semakin merapat dan dia menggeliat untuk menjauh.
"Untuk kebaikanmu Kay." sementara Rama menyurukkan wajahnya di ceruk lehernya.
"Ya ya ya, ..." perempuan itu tertawa, lalu menggeliat lagi. Suasana mulai terasa tidak setenang sebelumnya ketika mereka pulang setelah mengantarkan Aslan kepada Radit.
"Stop Ram!" Kaysa menahan tangannya yang mulai menelusup ke dalam pakaiannya.
"Kenapa?" pria itu mendongak, kemudian menatapnya dengan pandangan yang sudah berkabut.
Dia kemudian bergeser untuk lebih mendekat lagi, dan bibir keduanya sudah bertemu. Suara decapan segera terdengar begitu mereka saling memagut.
"Mm ..." Kaysa menoleh ke arah jendela yang tertutup tirai tipis berwarna putih. Mencari tahu kalau-kalau ada yang sedang berjaga di sekitar rumah.
"Mereka tidak ada di dekat sini." Rama terkekeh karenanya, menyadari apa yang Kaysa pikirkan.
"Benarkah? aku pikir rumah kita juga di awasi?"
"Tidak. Penjagaan di pintu depan komplek sudah sangat ketat, dan pagar di sekeliling tempat ini memiliki sensornya sendiri-sendiri. Sehingga tidak memungkinkan siapa pun yang tidak seharusnya masuk ke dalam area ini."
"Umm ...
"Jadi, tidak usah di pikirkan soal itu, kita aman." Rama melanjutkan cumbuan yang terjeda.
"Mm ... tapi kan, ...
"Ssstt, ... " Rama membingkai wajah Kaysa, kemudian mengecupi bibir mungilnya yang selalu tampak menggoda.
Rama kemudian bangkit dan turun dari sofa. Dia menarik Kaysa sehingga perempuan itu berjalan mengikutinya ke peraduan.
"Ini bahkan tengah hari, Ram?" Kaysa terkekeh sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Ya, lalu?" pria itu menarik lepas kaus dari tubuhnya, kemudian berbalik.
Tampak bekas luka goresannya yang hampir memulih seluruhnya. Pria itu kemudian kembali mendekat dan menghilangkan jarak di antara mereka.
Kaysa menatapnya, lalu menyentuh bekas luka tersebut dengan ujung-ujng jarinya. Merasakan permukaan kulit pria itu yang agak kasar karena luka-lukanya.
"Sentuhlah, karena aku sudah pulih." Rama berbisik.
Jari-jemari Kaysa merayap menyusuri tubuh kekarnya yang hangat, kemudian sampai di dadanya yang bidang. Dia menempelkan telapak tanganya di sana dan merasakan debaran jantungnya yang meningkat.
Rama menariknya sehingga tubuh mereka merapat dan melilitkan kedua tangan perempuan itu di lehernya. Seraya melanjutkan cumbuannya dengan penuh perasaan.
Bibir mereka saling memagut dan menyesap, meraskan sentuhannya yang semakin hari semakin membuatnya selalu menginginkannya. Dan tangan Rama bahkan sudah merayap ke mana-mana.
Mereka sudah berada di tempat tidur, dan keduanya sudah saling menindih. Bergumul menikmati kulit hangat masing-masing yang sudah tak berpenghalang.
"Ah, ..." Kaysa mendongak ketika milik Rama menerobos pusat tubuhnya.
Pria itu kembali meraih bibirnya yang sedikit terbuka, kemudian menyesapnya dengan penuh hasrat. Diikuti hentakan di bagian bawah tubuhnya.
Sebelah tangan menahan bobot tubuhnya di atas Kaysa, sementara tangan lainnya terus menyentuh setiap bagian tubuh perempuan itu.
Des*han dan erangan terus mengudara, seiring dengan kesadaran yang kian mengabur dari keduanya. Dan mereka sama-sama berpacu menggapai kenikmatan.
Rama menghentak semakin keras sementara Kaysa mengencangkan cengkeraman di pusat tubuhnya. Keduanya sama-sama menahan diri agar tak cepat meledak untuk menikmati pergumulan yang lebih lama dari ini.
Rama melepaskan miliknya kemudian turun dari tempat tidur, membalikkan tubuh Kaysa sehingga dia membelakanginya dan kembali menautkan tubuh mereka.
Kaysa mengangkat kepala dengan mata terpejam erat dan kening yang berkerut dalam. Perasaannya luar biasa indah, dan seluruh tubuhnya terasa meremang, namun ini menyenangkan.
Rama membawanya pada hal yang tak terbayangkan sebelumnya, dan dia menyukainya.
"Oh, ... " dia kembali mengerang kala pria itu kembali menghentak. Dan tubuhnya merespon dengan begitu baik setiap kali Rama menyentuhnya di bagian manapun.
"Ummmhh ..." dia menggumam ketika hentakan itu menjadi semakin kencang dan bertambah cepat.
"Oh, ... Rama! Sayang!!" Kaysa hampir berteriak.
Sementara pria di belakang berusaha untuk tak terlalu terbawa perasaan, namun pada kenyataannya dia tak mampu melakukannya. Kendali di tubuhnya perlahan menghilang, dan dia berangsung mengikuti nalurinya, seperti biasa.
Hingga setelah beberapa lama, segala hal telah berkumpul di pusat tubuh mereka. Bersamaan dengan keringat yang sudah membasahi tubuh keduanya. Racauan dan erangan sudah terdengar tak karuan dengan perasaan yang hampir tak lagi terkendali.
Hentakan itu semakin cepat ketika Rama merasakan dirinya telah berada di ujung, dan cengkeraman Kaysa pada senjatanya menjadi semakin kencang. Lalu di detik berikutnya mereka sama-sama melepaskan segalanya. Diikuti dengan lenguhan tertahan seraya saling menekan satu sama lainnya.
*
*
*
Bersambung ...
Anu ...
like komen hadiahnya jangan lupa.
otor mau kabur
🤣🤣🤣