
*
*
Rama turun dengan tergesa begitu dia tiba di depan gedung apartemen tempat Kaysa dan Aslan tinggal, dia bahkan lupa melepaskan perlengkapan tempurnya selain topi dan penutup wajah juga senapan saking buru-burunya. Apa lagi saat melihat kerumunan di halaman parkir, dan salah satu yang dia kenali berada di sana adalah Radit.
Pria itu terlihat sedang mengomel di depan Kaysa yang tampak terpukul. Jelas sekali Aslan belum mereka temukan.
"Untuk kedua kalinya Kay, kau lengah dan membiarkan Aslan hilang dari pengawasan. Dimana pikiranmu?" Radit berucap.
"Kau lebih mementingkan pekerjaanmu dari pada putraku, apa kau gila?" bentaknya kepada Kaysa tanpa ragu.
Namun tak ada seorangpun di sana yang berani melerai. Atau setidaknya menghalangi pria itu. Hingga Rama tiba, dan Radit mendorong pundak perempuan itu dengan telunjuknya untuk mengintimidasi.
Rama segera menyelinap di antara mereka, dan menyembunyikan tubuh kecil Kaysa di belakang tubuhnya. Dia menghadang Radit dari apa yang mungkin akan dilakukannya lebih jauh.
"Stop." katanya, tanpa gentar sama-sekali.
"Menyingkirlah, ini bukan urusanmu." Radit bereaksi.
"Tidak, jika sikapmu seperti ini."
"Hakku berbuat apa pun, karena putraku yang menghilang akibat keteledoran perempuan ini. Mungkin saja saat ini dia sedang dalam bahaya." hardiknya, dan dengan sombongnya dia menekan rompi anti peluru yang melapisi dada Rama.
"Jika kau peduli, kau akan segera mencari Aslan, bukanya memarahi ibunya seperti ini." Rama dengan suara rendah dan tenang, namun tatapannya menusuk tajam.
"Tapi dia dan kecerobohannya membuat putraku menghilang, dan itu tidak bisa di maafkan!" Radit menggeram.
"Kau pikir Kaysa menginginkan Aslan hilang? pikir lagi pak. Hanya orang gila yang menginginkan keburukan terjadi kepada anaknya." Rama membalikkan kata-katanya.
"Tapi dia ...
"Mundur." ucap Rama, tegas.
"Sebaiknya kau yang mundur karena ini tidak ada hubunganya denganmu." Radit kembali menekan dada Rama dengan ujung telunjuknya.
"Mundur kataku." pria itu maju satu langkah.
"Memangnya kau siapa?" Radit bersikeras mengintimidasi.
"Tidak penting untuk aku katakan, tapi karena ini soal Aslan, membuatnya menjadi urusanku." Rama dalam geraman rendah.
"Dan singkirkan tanganmu dari rompi anti peluruku." lanjutnya, yang seketika membuat nyali Radit menciut sehingga dia pun mundur menjauh.
Dia tertegun menatap Rama yang berdiri menjulang bagai benteng yang melindungi sebuah istana megah, dengan senjata lengkap di tubuhnya.
Dua pistol di sisi kiri dan kanan rompi anti peluru, gas air mata juga granat menggantung di sabuk kanan, dan belati di sebelah kiri.
"Sebaiknya kau membantu mencari Aslan, bukannya hanya meracau seperti itu." katanya lagi, kemudian memutar tubuh.
"Kapan kamu sadar Aslan hilang?" dia bertanya kepada Kaysa.
"Tadi siang. Aku tidak sempat menjemputnya karena di kafe sedang ada event, lalu aku meminta ojek yang menjemput. Tapi dia bilang Aslan tidak ada di sekolah." Kaysa sambil menangis.
"Bagaimana bisa? sudah bertanya kepada guru?"
"Mereka juga ikut mencari, tapi Aslan tidak di temukan di manapun."
"Teman-temannya?"
"Tidak juga." perempuan itu tersedu-sedu.
"Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?" dia membenamkan wajahnya di dada Rama seraya mencengkeram rompi anti pelurunya, dan tangisnya pecah dengan kencangnya.
"Tenanglah, ..." pria itu memeluk tubuhnya.
"Dia tidak pernah pergi ke manapun tanpa aku, tidak bermain, tidak juga ke tempat teman-temannya. Lalu bagaimana dia bisa menghilang begitu saja?"
Rama berpikir keras.
"Jika dia tidak pernah pergi sendirian kemana pun, itu artinya Aslan tidak mungkin pergi jauh. Kacuali ada orang yang membawanya." katanya.
"Dia di culik?" wajah Kaysa memucat.
"Bukankah dia tidak pernah pergi dengan orang asing? dia akan menolak?"
Perempuan itu menganggukkan kepala.
"Bagaimana dengan satpam?"
"Satpam tidak melihat ada orang lain di depan sekolah kecuali anak-anak dan penjual makanan. Dia bahkan tidak melihat Aslan keluar karena biasanya Aslan selalu menunggu jemputan di pos."
Dahi Rama berkerut dalam hingga kedua alisnya tampak bertautan.
"Berarti Aslan tidak pernah meninggalkan sekolah?"
Mereka terdiam.
"Aslan tidak meninggalkan sekolah!" ulangnya, yang kemudian menarik Kaysa ke mobilnya.
"Tapi guru sudah mencarinya di area sekolah, dan Aslan tidak ada di sana." Kaysa dengan suara lemah.
"Apa kamu yakin?" pria itu menjalankan mobilnya ke arah sekolah Aslan. Diikuti Radit dari belakang.
Dan dalam waktu kurang dari sepuluh menit mereka tiba di sana. Keadaan cukup ramai karena orang-orang dan beberapa guru pun sudah tiba setelah Kaysa menghubungi mereka sesuai perintah Rama.
Bangunan besar dengan area luas itu tampak mencekam di malam hari. Terutama karena penerangan yang minim dan waktu saat itu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Penjaga keamanan bersama dua guru pria sudah melakukan penyisiran, namun tak menemukan apa pun. Bahkan setiap ruang kelas mereka pastikan kosong, baik yang di gunakan maupun yang tidak di gunakan sama sekali.
"Gudang?" Rama memeriksa keadaan.
"Tidak juga pak."
"Perpustakaan? mungkin saja dia bersembunyi di balik lemari-lemari atau rak buku?"
"Bersembunyi dari apa?" Kaysa menyela.
"Entahlah, mungkin dia takut sesuatu atau seseorang? bisa saja kan ... " Rama tertegun, dia ingat perundungan yang menimpa bocah itu minggu lalu.
"Apa dia mengalami bullying lagi?" tanya nya kepada Kaysa.
"Rasanya tidak mungkin, Aslan tidak membicarakan soal itu, dan lagi bukankah sudah di tindak?"
"Bisa saja kan ...
Dua guru tampak saling pandang.
"Tunjukkan perpustakaannya di mana!" pinta Rama, yang kemudian di ikuti oleh orang-orang itu.
"Aslan?" Rama menerobos bangunan besar di sisi lain area sekolah.
Ruangan luas dengan rak-rak tinggi berisi ribuan buku bacaan dengan lorong-lorong yang memungkinkan siapa pun untuk diam di sana tanpa terlihat ataupun di temukan.
"Aslan, kamu di sana?" Rama berteriak lagi, namun tidak ada sahutan.
Hingga sekitar satu jam lamanya mereka menyisir area itu, tetap tak membuahkan hasil. Tentu saja membuat Kaysa semakin panik dan histeris.
"Aslan!" dia tergugu, dan Rama kembali merangkulnya untuk membuatnya tenang.
"Kita akan menemukannya, aku janji." ucap pria itu, tampak meyakinkan.
Matanya terus melihat ke sekeliling, kalau-kalau ada yang dia lewatkan.
"Aslan anak yang pintar, kalaupun ada yang menculiknya dia pasti berteriak. Dia tidak mudah di rayu siapa pun, apa lagi orang asing." katanya seraya melirik kepada Radit.
"Tapi dia cukup tertutup, membuatnya tidak mau bicara sekalipun sedang dalam kesulitan." otaknya terus berputar.
Lalu pandangannya menangkap sebuah bangunan di kejauhan.
"Itu bekas apa?" Rama menggendikkan kepala ke arah belakang sekolah. Area berjarak sekitar 100 meter dari tempat mereka berdiri, berupa bangunan tinggi yang sudah usang.
"Di Jakarta masih ada tempat seperti ini?" lanjutnya yang menatap area itu. Bangunan tinggi di tengah tanah lapang dengan rumput setinggi lutut orang dewasa.
"Itu bekas sekolah wanita sekitar dua puluh tahun yang lalu." jawab penjaga keamanan.
"Masih di gunakan?" Rama melangkah pelan.
"Tidak pak. Bangunannya sudah tua, dan sebagiannya sudah rusak."
"Lalu mengapa di biarkan begitu saja?" Rama berhenti setelah berjalan sekitar dua puluh meter.
Menatap bangunan tua bercat kusam dengan suasana yang cukup menakutkan.
"Bukankah berbahaya jika anak-anak masuk ke sana?" Rama menoleh.
"Bapak bercanda ya? tidak ada seorang pun yang berani masuk kesana. Tidak orang dewasa, apa lagi anak-anak." penjaga keamanan itu terkekeh, namun seketika menutup mulutnya saat melihat netra milik Rama berkilat penuh kemarahan.
Pria itu lantas melanjutkan langkahnya sejauh sepuluh meter. Nalurinya mengatakan dia harus memeriksa tempat itu.
"Pak?" panggil si penjaga keamanan. "Saya aja udah sepuluh tahun nggak berani mendekat ke sana."
Namun Rama tak mendengar.
"Pak?" teriak pria itu lagi, dan dia sedikit bernapas lega saat Rama berhenti.
Pria itu tampak menunduk seperti menemukan sesuatu di bawah kakinya.
"Bapak menemukan sesuatu?" mereka menghampirinya.
Rama tak menjawab, namum dia berjongkok untuk memeriksa tanah yang di pijaknya ketika terasa ada kejanggalan. Pria itu mengeluarkan senter kecil dari saku rompinya yang segera dia nyalakan, yang mampu menerangi area di bawah kakinya cukup jelas.
Tanahnya cukup gembur untuk ukuran area yang tidak pernah di injak siapapun. Lalu dia mengais sebagiannya dengan mudah.
Gembur, dan mudah terurai seperti baru saja di cangkul atau di gali.
Deg!
Alarm di kepalanya berdenging nyaring. Dia kemudian menggunakan kedua tangannya untuk menggali, dan apa yang di temukannya membuat Rama menahan napas.
"Aslan!" gumamnya, saat dia menemukan benda mirip tas yang dia kenal terkubur di dalam tumpukan tanah.
Rama menariknya dengan keras, dan benar saja, benda itu adalah tas yang dia belikan untuk anak itu minggu lalu.
Rama kembali menggali, namun tak di temukan apa pun. Tanah di bawahnya cukup keras untuk di gali denga tangan kosong.
Kaysa segera menghampirinya begitu mengetahui hal tersebut, dan itu membuatnya semakin histeris.
"Aslan!" pria itu bangkit lalu berteriak.
"Aslan, apa kamu di sana?" katanya, dan dia terus mendekat.
"Jawab Aslan, ini om Rama!" katanya, yang entah mengapa meyakini keberadaan Aslan di dalam sana.
"Aslan!" teriknya lagi, lalu tanpa di duga terdengar rintihan dari arah bangunan tua.
Semua orang terkesiap, lalu mundur beberapa langkah ke belakang dengan segenap rasa takut.
"Aslan!" namun Rama tidak menghentikan langkahnya.
"Aslan!" dia terus berteriak, dan kakinya terus melangkah, apa lagi ketika suara rintihan itu sayup-sayup terdengar lagi. Dia yakin ada sesuatu di dalam sana, atau mungkin seseorang.
"Pak?" dengan takut-takut penjaga keamanan mengejar dan mencoba menghentikannya.
"Jangan pak, bahaya!" katanya.
"Kalian belum memeriksa tempat ini?" Rama bertanya.
"Tidak pak, mana berani? apa lagi malam-malam begini?"
"Berarti sekarang harus kita periksa!" ucap Rama tanpa terlihat raut ketakutan di wajahnya.
"Ap-apa?"
"Kita periksa, siapa tahu Aslan ada di dalam sana!"
"Tidak mungkin pak!"
"Kenapa?" pria itu berbalik.
"Ta-takut pak."
"Takut apa?"
"Katanya di sana ada ... hantu." si penjaga berbisik. "Bahaya pak."
Rama terdiam menatapnya.
"Kalau misalnya Aslan ada di sana bagaimana?"
"Tidak mungkin, sudah saya katakan anak-anak tidak akan berani kesana."
"Kalau misalnya ada?"
"Sa-saya tidak tahu pak."
"Kalau begitu, kenapa tidak kita cari tahu?" katanya, dengan entengnya.
"Pak?"
"Kenapa? takut?"
"Ha-hantu ... pak."
Rama mendengus kesal, kemudian tanpa banyak bicara lagi dia melangkah lebih mendekat lagi..
"Pak! bahaya malam-malam begini, besok saja." pria itu kembali menahanya. Menarik Rama untuk mengurungkan niatnya.
"Pak, nanti bagaimana kalau ada hantu?"
"Hantu katamu?" Rama berbalik.
"Aku tidak takut hantu, malah hantu yang akan takut kepadaku kalau mereka berani macam-macam!" teriaknya, dan dia mencengkeram kerah kemeja si penjaga dengan keras.
"Aku, tidak takut hantu, ... aku ... anggota pasukan hantu, kau tahu!" geramnya, lalu menghempaskan pria itu sehingga dia terhuyung ke belakang.
"Aslan!" Rama kembali berteriak, dengan senter dia arahkan ke depan.
Pintu usang itu tampak terbuka sedikit, dan tanpa berpikir panjang dia menendangnya dengan keras.
Debu dan kotoran beterbagan di udara, menambah kesan kotor dan seram di dalamnya. Udara lembab dan pengap terasa begitu menyesakkan.
"Aslan!" Rama terus memanggil dan dia merangsek ke dalam bangunan tersebut, sementara orang-orang di belakangnya menunggu dengan berdebar.
Rama menyisir ruangan demi ruangan yang gelap gulita, dengan keadaan tak ubahnya seperti gudang rongsokan. Kayu dan besi berkarat saling bertumpukkan, tanah dan debu berserakan di lantai. Tidak ada pencahayaan sedikitpun, dan tempat itu begitu tertutup.
"Aslan, apa kamu di sini?" ucapnya, dengan harapan dia menemukan bocah itu.
"Aslan, ini om Rama, kamu di mana?" dia mengarahkan senternya ke setiap sudut ruangan. Samar-samar kembali terdengar rintihan yang kali ini diikuti isakan lirih.
"Aslan, apa itu kamu?" Rama mencari asal suara.
Rintihan kembali terdengar.
"Aslan?"
Isakannya juga terdengar semakin jelas.
Dan di sanalah dia, bocah dengan seragam merah putih itu meringkuk di satu sudut di belakang semacam lemari kayu besar, dengan keadaan tubuh kecilnya yang terikat tali rafia.
"Om Rama ... tolong om. huhu ..." Aslan mengangkat kepala.
Rama merasakan hatinya mencelos, sungguh pemangangan yang sangat memilukan melihat anak yang baru beberapa minggu ini dikenalnya dalam keadaan seperti itu.
"Iblis mana yang membuatmu begini?" dia menggeser lemari kayu, lalu segera menarik Aslan keluar. Memotong tali dengan belatinya, kemudian memeriksa keadaannya.
"Apa yang mereka lakukan kepadamu? siapa pelakunya?" katanya, dengan senter mengarah ke tubuh Aslan.
Pelipisnya berdarah, sudut bibirnya terluka, dan ada beberapa lebam di wajahnya. Seluruh tubuhnya bahkan basah dan berbau busuk.
"Katakan Aslan!" katanya lagi, namun anak itu malah menangis.
"Ya Tuhan!" Rama tersadar, dan dia segera meraup tubuh lemah itu, kemudian membawanya keluar dari bangunan tersebut.
*
*
*
Bersambung ...
Huwaaaaaa .... tega! bisa-bisanya gitu sama Aslan! ðŸ˜ðŸ˜