Kopassus And Me

Kopassus And Me
At The Red Line



*


*


"Mereka sudah melewati lautan lepas ketika seseorang menembakan senjata dari daratan. Membuat ekor pesawat terbakar dan patah, kemudian jatuh." Bimasakti menunjuk peta digital di layar besar. Di depan beberapa orang anggota keluarga ke delapan bawahannya.


"Mereka membawa tahanan yang cukup penting, bernama Anna Belmira Beatricia Alvaro. Bagi yang tidak tahu, dia adalah anggota keluarga dari mafia internasional asal Brazil yang menggerakkan perdagangan gelap di seluruh dunia. Terutama di bidang obat-obatan terlarang." lanjutnya, dengan layar di dekatnya yang menunjukkan sebuah gambar dari beberapa orang.


"Ini misi rahasia, tapi karena anggota kami yang merupakan keluarga kalian mengalami insiden serius saat menjalankan tugas, maka dengan beberapa pertimbangan kami harus mengutarakan masalah ini." pria itu menerangkan.


"Alat pelacak menunjukkan jika mereka melakukan pendaratan dengan terjun payung di sini." dia kembali menunjuk layar besar tersebut yang menampilkan delapan titik merah yang menyebar di atas peta penerbangan pesawat khusus tersebut.


"Empat di sini, dua di sini, dan dua orang terakhir di sini." Bimasakti menunjuk titik penyebaran.


"Sinyal menghilang setelah lima belas menit mereka terjun, di perkirakan karena mereka telah mendarat di tengah hutan."


"Mereka selamat?" Kaysa buka suara. Di antara anggota keluarga lainnya dialah yang paling panik dengan keadaan tersebut. Tentu saja, dia tidak tahu menahu mengenai hal ini.


"Kemungkinan mereka selamat. Percayalah, anggota kami sangat terlatih di medan apa pun." Bimasakti menjawab.


Semua orang tampak lega.


"Hanya saja ...


"Apa?" Kaysa bereaksi.


"Hal lebih buruk mungkin akan mereka hadapi setelah ini." pria itu ragu, tapi dia tetap harus mengatakannya.


"Hal lebih buruk?"


"Di perkirakan pesawat yang mereka tumpangi menjadi incaran kelompok Alvaro, itu sebabnya pesawat di tembak jatuh dan mereka akan merebut perempuan itu apa pun yang terjadi."


"Bagaimana dengan bantuan?" Kaysa bertanya lagi.


"Pihak Australia dan Papua Nugini sudah menurunkan timnya untuk menyisir daerah itu, dan kami pun akan mengirim tim cadangan."


"Lalu bagaimana dengan kami?" seorang anggota keluarga lainnya menyahut.


"Kami yakinkan bahwa kita akan segera menemukan mereka. Sementara itu, kami harapkan anda semua untuk tetap tenang dan merahasiakan hal ini dari siapa pun. tidak boleh mempercayai segala bentuk berita mengenai keadaan para prajurit selain dari pihak kami."


Mereka semua terdiam.


"Demi keselamatan semua orang, terutama anggota keluarga kalian." Bimasakti mengakhiri diskusi pada hari itu.


*


*


Rama melepaskan tali pengikat pada parasutnya setelah dia tersangkut pada pohon di tengah hutan. Penutup wajahnya sempat terbuka, dan dia terpaksa melepaskannya.


Dia menyadari bahwa mereka semua terpisah dari kawanan, dan segera melakukan pemindaian lokasi.


Hamilton Island.


Tulisan pada gps miliknya menunjukkan lokasinya saat ini.


Kemudian muncul pula gambar peta pulau yang di pijaknya.


Ke arah utara menuju Whiteheaven Beach pada gugusan Taman nasional kepulauan Whitsunday. Yang setelahnya merupakan pusat dari Great Barrier Rief yang terkenal di seluruh dunia.


Masih aman. Mereka masih dapat di jangkau oleh siapa pun jika saja orang-orang telah menyadarinya.


Satu titik merah terlihat berkedip-kedip di layar, menandakan ada rekan satu pasukannya yang telah mengaktifkan lokasi. Kemudian bertambah dua titik, yang di ikuti oleh beberapa titik lainnya.


Rama meneriakkan sandi yang hanya di mengerti oleh anggota pasukannya. Yang kemudian mendapatkan sahutan yang sama. Lalu tanpa menunggu lama, satu per satu anggota pasukan hantu yang di pimpinnya bermunculan. Ditambah dengan enam crew pesawat dan tahanan mereka.


Dia kembali mengenakan penutup wajahnya.


Rama menghitung semua anggota yang ada, lengkap dengan semua senjata yang mereka bawa, dan tanda pengenal pada seragam masing-masing.


Baru saja dia akan berbicara, terdengar suara heli kopter mendekat ke titik mereka berpijak. Membuatnya dan beberapa orang lainnya menengadahkan kepala.


"Nyalakan suar!" Rama berteriak.


Kemudian salah satu di antara mereka mengeluarkan sebuah alat, lalu menembakkan suar ke udara. Yang segera menyita perhatian awak helikopter di atas sana.


Benda itu terus mendekat, kemudian perlahan turun, lalu setelah berada di ketinggian yang cukup sebuah tali terulur dan seorang petugas pun segera menuruni tali tersebut.


Rama segera menyambutnya, dan mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggris.


Lalu pria itu kembali setelah beberapa saat.


"Sebagian cepat naik, yang lainnya segera menuju pantai. Ada kapal yang sudah menunggu di sana." katanya, yang mengisyaratkan kepada Adam untuk pergi.


"Phantom, ada yang bersedia menggantikan aku menemani rekan kalian mengawal tahanan?" Rama kembali berbicara, namun tak ada yang menjawab.


"Karena aku harus memastikan yang lainnya sampai ke pantai dengan selamat." lanjutnya, yang membuat rekan-rekannya berpikir.


Kemudian dua orang di antara mereka maju.


"Siap, kami bersedia." katanya, dengan suara tegas.


"Baik, cepatlah naik. Waktu kita tidak banyak." ucap Rama lagi kepads Adam.


Kemudian Adam, diikuti Garin dan satu orang lainnya segera menuju heli kopter yang masih berada di aras hutan. Membawa sang tahanan menaiki tali sehingga mereka berhasil masuk ke dalam benda tersebut yang segera pergi setelahnya.


Sementara Rama dan ke empat rekannya menggiring crew pesawat keluar dari hutan menuju pantai.


Suara tembakan terdengar kembali mengusik keheningan hutan nasional itu ketika mereka hampir saja mencapai bibir pantai. Terlihat sebuah kapal berukuran sedang sudah menunggu dengan abk nya yang melambai-lambaikan bendera Australia dan Indonesia secara bersamaan.


Mereka terus berlari, tanpa mengurangi ke waspadaan ketika tembakan demi tembakan kembali menyerang.


Dua crew bahkan tumbang karena peluru tajam bersarang di kaki mereka.


"Sial!" Rama menggeram, kemudian dia memutar tubuh.


Melihat sekelilingnya dengan teliti, begitu juga ke empat rekannya. Sementara dua pilot dan dua crew pesawat membantu membawa teman mereka yang terluka.


"Terus ke pantai." ucap Rama dengan senapannya yang sudah siaga.


Dia berjalan mundur untuk mengantisipasi serangan.


"Semuanya tiarap! bersembunyilah di balik pohon!" katanya kepada para crew, yang segera di laksanakan apa yang di perintahkan.


Matanya menangkap bayangan di balik pepohonan. Dua bayangan di kiri, tiga di kanan, dan dua di belakang. Tapi pasti masih banyak yang bersembunyi


Rama melirik kepada rekan-rekannya, dan mereka pun melihat hal yang sama. Satu anggukkan yang sama, kemudian mereka membalas. Dan terjadilah baku tembak untuk beberapa saat.


Dua penyerang di belakang tumbah dengan peluru bersarang di kepala, sementara dua lainnya mendapat tembakan di kaki. Hal itu memberi kesempatan kepada mereka untuk kembali bergerak.


"Phantom dua dan tiga, bawa mereka ke kapal. Dan kalian, lindungi aku." katanya, yang segera mengisi ulang senapannya dengan peluru baru.


Dua anggota bergerak di belakang crew, berlari ke arah kapal yang sudah di depan mata, kemudian menaikkan mereka semua, lalu kembali bersiaga di dekat kapal.


Sementara tiga anggota masih berada di dalam hutan untuk mengamankan keadaan. Termasuk Rama. Yang tak lama kemudian kembali menghadapi tembakan demi tembakan yang cukup mematikan.


"Kita kalah jumlah!" Junno berteriak dari balik pohon tempat dia berlindung. Mengokang senapan, dan memastikan pelurunya terisi penuh.


"Bantuan akan datang sebentar lagi." Rama balas berteriak.


"Tapi mereka terlalu lama!" sahut orang yang satunya lagi.


"Kau, ..." Rama menoleh kepada Junno. "Pergilah dan katakan kepada mereka untuk pergi." dia melirik ke arah kapal.


"Kau gila!"


Pria itu menggelengkan kepala.


"Harus ada yang menghadang mereka."


"Kita pergi bersama, maka kita juga harus pulang bersama."


"Keselamatan mereka lebih penting!"


"Aku tidak akan membiarkanmu untuk melakukannya sendirian." Junno mendebatnya.


"Kau mungkin akan mati." Rama menjawab.


"Jangan mati dulu, kau baru menikah." pria itu terkekeh.


"Kalau begitu, ..." dia menoleh pada rekannya yang lain. "Kau yang pergi. Pastikan mereka selamat sampai ke tempat aman." katanya.


"Tapi ...


"Ini perintah."


"Baik pak!" pria itu segera menjawab, kemudian menyelinap pergi seperti yang di perintahkan Rama.


"Kau tahu, kau ini gila Ram." mereka kembali mempersiapkan senjata.


"Aku tahu, itulah sebabnya mereka memilihku menjadi ketua dari pada kau." jawab Rama.


"Yeah." Junno mengarahkan senapannya ke depan, mencari sasaran dengan mata tajam dan teropongnya. Kemudian setelah dia dapatkan, di tariknya pelatuk sehingga moncong AK-47 nya memuntahkan satu peluru tajam dan melesat sehingga bersarang di kepala sasaran.


"Mereka tidak tahu berhadapan dengan siapa kan?" Junno berucap, lalu kembali mencari target.


"Hmm ...


Dua, orang kembali tumbang dengan luka yang sama, namun sepertinya mereka malah semakin bertambah banyak saja.


"Aku ralat, mereka yang gila Ram!" Junno kembali membidik sasarannya.


"Yeah, dan kita ..." Rama menggantung kata-katanya saat merasakan sesuatu menekan tengkuknya. Dan hal yang sama juga terjadi kepada Junno.


Moncong senapan dengan jenis yang sama menempel di belakang kepala mereka.


"Drop your weapon." suara berat di belakang menjelaskan situasi saat ini.


Dua pria itu terdiam.


"I said drop your weapon!" suaranya kembali terdengar dengan tekanan di tengkuk yang semakin keras, bersamaan dengan belasan pria muncul dan mendekat kemudian mengelilingi mereka dengan senjata yang tertodong ke arah wajah, membuat Rama dan Junno dengan terpaksa menjatuhkan senjata mereka.


*


*


*


Bersambung ...


ngumpet dulu ahh, takut di timpuk Rama lovers 😂😂😂