Kopassus And Me

Kopassus And Me
Keputusan



*


*


Mereka berdiri di depan sebuah rumah yang cukup besar, pada suatu sore yang cerah dan suasana yang cukup hangat. Namun keadaan di pekarangan cukup sepi, selain seorang asisten rumah tangga yang datang menyambut dengan wajah sumringah.


"Aku pikir, keluargamu tak seperti ini?" Rama berbisik, lalu melihat sekitar.


Rumah besar, mobil mengkilap yang berjejer rapi, sepertinya orang tua perempuan ini bukan orang sembarangan.


"Lalu apa yang kamu pikir." Kaysa melirik.


Pria itu menggendikkan bahu.


"Tiba-tiba saja aku merasa sedikit minder." lalu dia terkekeh.


"Ck. Tetap saja, kalau aku tidak kerja sendiri hidupku sulit." Kaysa tampak mendelik.


"Mbak Kay pulang?" perempuan paruh baya itu menghampirinya.


"Apa kabar bi?"


"Baik. Mbak Kay sehat?" mereka berpelukan. Kaysa tampak tidak merasa risih sama sekali.


"Masuk mbak, bapak dan ibu sudah menunggu sejak tahu mbak Kay akan pulang." ucap perempuan itu.


"Benarkah?"


"Benar mbak, ayo masuk mbak." dia menariknya ke arah rumah.


"Silahkan mas," ucapnya kepada Rama.


"Dedek Aslan mau ikut bibi? ayo sini." perempuan itu mengulurkan tangan kepada Aslan yang langsung menolak dengan menggelengkan kepalanya. Dia malah mengeratkan genggaman tangannya pada Rama.


***


Mereka sama-sama terdiam. Tanpa sambutan ataupun sapaan khusus di ruang tamu kediaman orang tuanya. Semuanya hanya saling pandang tanpa mengucapkan sepatah kata pun setelah Kaysa mengenalkan Rama kepada keluarganya.


"Kami ... akan menikah." ucap perempuan itu, tanpa basa basi.


Semua orang menatap ke arahnya, terutama sang ayah.


Rama baru saja membuka mulutnya untuk ikut berbicara tapi Kaysa menghentikannya.


"Setelah semua administrasinya selesai, kami akan segera menikah." ulangnya lagi.


"Papa tidak setuju." jawab Yanuar, sang ayah yang menatap ke arah Rama dan putrinya secara bergantian.


"Baru seminggu yang lalu Radit berkunjung dan dia membicarakan soal Aslan. Masalah yang kalian hadapi dan keadaannya yang mengkhawatirkan. Juga niatnya yang akan membawamu pulang." lanjutnya.


"Jadi papa tidak akan menyetujui niatmu untuk menikah lagi. Karena jika itu terjadi maka Radit akan menghentikan sokongan tanggung jawabnya kepada Aslan." katanya.


Kaysa mendengus keras.


"Memangnya selama ini siapa yang berjuang untuk Aslan?" Kaysa berujar.


"Papa tahu, hanya bulan-bulan terakhir saja dia menjalankan tanggung jawabnya, sementara sisanya?"


"Itu karena kamu sendiri yang menolak bukan? apa tidak ingat dengan yang kamu lakukan? kamu keluar dari rumah tanpa sepengetahuan Radit, lalu beberapa minggu kemudian menggugat cerai."


"Papa tahu alasannya kenapa, dan sudah jelas, dan kalian semua juga sudah mendengar apa yang aku katakan." tukas Kaysa yang menatap ibu dan dua saudara laki-lakinya yang hanya terdiam.


"Itu hanya masalah kecil. Kenapa kamu besar-besarkan?"


"Masalah kecil papa bilang? papa tidak tahu dampaknya untuk aku dan Aslan. Sementara kami merasa tersiksa, kalian yang bersenang-senang."


"Aku tahu, bukan tunjangan untuk Aslan yang papa khawatirkan, tapi sokongan untuk papa sendiri. Untuk kalian. Dan aku harus bersedia jadi tumbal?"


Kaysa menggelengkan kepala. "Tidak lagi pah, maaf." perempuan itu bangkit. "Ayo kita pergi." katanya, yang menarik Rama untuk pergi. Dia merasa tidak ada yang perlu di bicarakan saat ini karena hasilnya sama saja. Tidak ada yang akan mendukungnya sama sekali.


"Apa pun yang terjadi papa tidak akan merestui pernikahanmu yang ini." Yanuar mengulangi ucapannya, dan itu menghentikan langkah Kaysa.


Perempuan itu memutar tubuh.


"Aku datang bukan untuk meminta restu, jika itu yang papa kira. Aku perempuan dewasa, dan sudah pernah menikah. Siapa pun bisa menikahkan aku jika papa tidak mau." dia melirik kedua saudara laki-lakinya.


"Aku hanya merasa harus menghargai keluargaku dengan memberi kabar soal pernikahanku. Tapi kenyataannya? papa bahkan tidak bertanya soal kabarku, dan keadaan Aslan." dia menjawab.


"Apa kalian bisa menjadi wali nikah kakak setelah apa yang kalian dapatkan selama kakak tersiksa?" dia berucap, namun tak ada yang menjawab. Mereka tetap menutup mulutnya rapat-rapat seperti semula.


"Tidak apa, karena wali hakim pun pasti bersedia. Karena alasannya sangat jelas." katanya, kemudian mereka benar-benar pergi.


***


Tak ada seorang pun yang berbicara sepanjang perjalanan. Keduanya hanya berkutat dengan pikirannya masing-masing.


"Malam ini kamu ada tugas?" hari sudah beranjak malam ketika mereka tiba di apartemennya. Setelah terjebak macet yang cukup membuat frustasi.


Rama membawa Aslan yang terlelap ke dalam kamar dan membaringkannya di tempat tidur kemudian keluar setelahnya.


"Belum ada panggilan." jawab Rama seraya memeriksa ponselnya.


"Baiklah." Kaysa menjatuhkan tubuhnya di sofa,


"Kamu baik-baik saja?" dia keluar, lalu duduk di sampingnya.


"Ya, aku sudah terbiasa dengan hal ini." Kaysa menjawab dengan suara lemah.


"Yakin?"


"Hmm ..." perempuan itu menganggukkan kepala. "Begitulah akibat keputusan yang aku ambil, keluargaku bahkan tidak memberikan dukungannya. Mereka memilih mensukung Radit di bandingkan aku."


Rama terdiam.


"Sudah sejauh mana proses administrasinya?" dia kemudian bertanya.


"Hampir selesai."


"Setelah itu kapan kita bisa menikah?" Kaysa tanpa di duga sama sekali.


"Tergantung. Memangnya kenapa? sudah mau segera menikah ya?" goda Rama lalu tergelak, aneh sekali rasanya. Kini juga dia merasa bahwa mereka sangat terburu-buru.


"Kalau bisa." Kaysa dengan suara pelan.


"Ap-apa?" Rama terperangah.


"Kalau bisa secepatnya saja, begitu prosesnya selesai. Di kantor saja juga tidak apa-apa, yang penting resmi dan sah secara agama dan negara bukan?"


"Ya, tapi ...


"Soal wali nikah akan aku serahkan kepada penghulu. Mereka tahu harus bagaimana."


"Kamu yakin? bukankah sebaiknya di lakukan oleh keluarga kalau memang masih ada?"


"Kalau keberadaan mereka malah menghambat bagaimana? sementara kamu memiliki niat yang baik. Apa negara akan menghalanginya?" Kaysa balik bertanya.


"Umm, ...


"Rasanya lelah sekali menghadapi hidup yang seperti ini. Tidak ada yang peduli, tapi mereka terus berusaha mengatur agar aku menjadi apa yang mereka inginkan." dia terdengar putus asa.


"Tapi memaksa menikah secepatnya seperti aku sedang menuntutmu untuk sebuah tanggung jawab ya?" dia menoleh kepada Rama.


"Nanti aku bicarakan dengan orang kantor bagimana baiknya. Aku tidak mau membuat kesalahan soal ini." pria itu menanggapi.


"Baiklah, terserah padamu saja." Kaysa memejamkan matanya sebentar.


"Kamu mau menginap?" kemudian dia membuka matanya lagi.


"Hah? apa?" Rama tampak terperangah.


"Aku tanya, apa kamu mau menginap? ini sudah malam, dan ...


Tiba-tiba saja ponsel Rama berbunyi.


"Panggilan tugas." katanya, seraya menunjukkan layar ponselnya dengan pesan angka bertanda 911.


Penyelamat, huh! batinnya.


"Harus pergi Kay, mungkin lain kali." katanya, agak gugup. Dan kemudian dia segera pergi.


"Kenapa dia itu? aku kan cuma tanya? orang malam-malam masih di sini? huh, dasar aneh!" Kaysa menatap pintu yang tertutup dengan cepat.


*


*


*


Bersambung ...


aih, ... belum sah udah ngajak menginap. Ya kabur anak bujang orang 🤣


like komen sama hadiahnya tetep aku tunggu ya, apa lagi vote nya. Kalau rankingnya naik terus siapa tahu bisa bikin mereka cepetan nikah?🤭🤭


lope lope sekebon korma😘😘