Kopassus And Me

Kopassus And Me
Rencana Dan Makanan Pedas



*


*


"Sejak kapan kalian pindah kesini?" Radit keluar dari dalam mobilnya begitu mereka berhenti di depan gerbang sebuah komplek militer. Terlihat dua penjaga yang mondar-mandir di depan mengamankan kedaan, seperti biasa. Walau jalan di sekitar area itu sangatlah sepi.


"Cukup lama, sejak aku pulang dari tugas terakhir." Rama juga melakukan hal yang sama. Dan dia berdiri menyandarkan tubuh pada body mobilnya.


Ini kan komplek yang tertutup dan dilarang untuk umum? sepenting itukah posisi pria ini? batin Radit.


"Kau sudah janji untuk menjaga Aslan jika dia sedang bersamaamu, maka aku memenuhi jnjiku untuk membagi waktunya denganmu. Kita harus bersama-sama dalam hal ini." ucap Rama.


"Sudah tahu, kau mengatakannya berulang-ulang sampai telingaku pengang rasanya."


"Hanya mengingatkan."


"Aku pasti ingat. Aslan putraku, jadi tidak akan aku biarkan apa pun terjadi kepadanya."


"Aku percaya kepadamu."


"Lagi pula aku juga mempercayaimu untuk menggunakan jasa pengawalan yang kau rekomendasikan, bukan?" ucap Radit ketika secara bersamaan mobil lain tiba, dan dua orang pria turun dalam penampilan yang cukup rapi.


"Hmmm, ... mereka bisa di percaya." ujar Rama yang telah mengenali mereka sebagai utusan dari salah satu rekannya.


"Yah, ... tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain bekerja sama bukan?" Radit melemparkan kunci mobilnya kepada salah satu dari mereka.


Rama mengangguk-anggukkan kepala.


"Jadi, bolehkah kami pergi sekarang?" Radit hampir kembali ke mobilnya.


"Baik, silahkan."


"Oke, aku akan megembalikannya besok sore, di sini." Pria itu melenggang ke arah mobilnya.


"Baik." Rama menatapnya hingga pria itu masuk ke dalam mobil yang kini di kawal oleh seorang sopir dan satu orang bodyguard yang dia percayai dari rekomendasi rekan satu timnya itu.


"Dah Aslan, jangan nakal ya?" Kaysa melambaikan tangan dari dalam mobil.


"Dah Mama, jangan sedih karena aku tinggal ya?" anak itu pun melakukan hal yang sama, membuat Kaysa tergelak karena ucapannya.


Kemudian mobil itu pun pergi setelah acara berpamitan yang cukup konyol tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu yakin Aslan akan baik-baik saja?" Kaysa menyodorkan secangkir kopi yang baru saja dia seduh ke hadapan Rama.


"Orang-orang yang Adam rekomendasikan sangat ahli dalam hal ini, dan aku percaya kepadanya." pria itu menyeruput kopi susunya yang masih mengepulkan uap panas.


"Kenapa tidak dari kantor? kan sama saja?" Kaysa duduk di sampingnya, dengan satu toples makanan ringan di tangan. Mereka duduk di sofa ruang tengah dengan televisi menyala menayangkan acara berita malam.


"Saat ini aku tidak bisa percaya siapa pun yang ada di kantor. Bisa saja mereka mengetahui sesuatu, atau salah seorang di antara mereka yang tahu sesuatu, dan itu sengaja di tutupi.


"Hmm ... lalu bagaimana dengan Adam? apakah kita bisa mempercayainya juga?" Kaysa mendongak kepadanya.


Rama terdiam sebentar.


"Adam berasal dari kesatuan yang berbeda, lalu dia juga hadir jauh setelah kasus yang menimpa Livia, jadi aku rasa dia bisa aku percaya."


"Setelah kejadian seperti ini kita jadi sulit untuk mempercayai seseorang bukan? apa lagi jika tanpa perhitungan. Terkadang kita jadi merasa takut walau hanya untuk meminta bantuan, karena takut juga jika nantinya kita akan merasa kecewa." lanjut Kaysa.


"Itu kamu tahu." pria itu mengulurkan tangannya untuk merangkul pundak Kaysa.


"Kamu tahu, aku berhenti mempercayai orang lain setelah mengalami kegagalan dengan Mas Radit. Apa lagi setelah kekuargaku pun malah ikut menyudutkan aku." Kaysa menyandarkan kepalanya pada dada pria itu.


"Hmm ... jadi kamu benar-benar sendirian ya, waktu itu?" Rama meraup kepalanya, kemudian mengusap-usapnya dengan lembut.


"Uh'um." Kaysa menganggukkan kepala, kemudian melanjutkan kegiatan memakan camilannya.


"Lalu apa yang membuatmu percaya kepadaku, padahal kita belum terlalu lama saling mengenal?" Pria itu kemudian bertanya, membuat Kaysa berhenti mengunyah sebentar.


"Entahlah, ... mungkin karena Aslan yang sudah lebih dulu mempercayaimu?" katanya, sambil menoleh, dan dia kembali menjejali mulutnya dengan makanan semacam keripik yang tampaknya pedas tersebut. Terlihat dari ekspresi Kaysa yang tak biasa.


"Kamu tahu, bagi seorang ibu anak adalah segalanya. Maka jika ada seseorang yang hadir dan mampu mengesankan anaknya, orang tersebut sudah di pastikan akan membuat ibunya terkesan juga." jelasnya.


"Benarkah?" Rama mengulum senyum.


"Iya." Kaysa menganggukkan kepala, dan lagi-lagi dia mengunyah makanan pedas itu.


"Jadi, aku sudah membuatmu terkesan ya?" pria itu bereaksi.


"Aslan, bukan aku." Kaysa meraih minuman miliknya, dan meneguknya cukup banyak begitu rasa pedas menjalar di lidahnya.


"Kalau pedas, jangan di makan lagi Kay. Nanti kamu sakit perut." Rama berusaha menyingkirkan toples tersebut dari Kaysa.


"Tidak, ini enak." sementara perempuan itu menjauhkannya.


"Tapi kamu terlihat kepedasan."


"Iya, tapi ini enak. Cobalah." namun Kaysa malah menyodorkan makanan dengan aroma pedas yang menyengat itu ke dekat mulutnya.


"Aku tidak makan pedas." Rama menjauh, kemudian menggelengkan kepala.


"Cobalah sedikit. Apa kamu tidak mau mencobanya? berapa bulan kita menikah tapi aku tidak pernah melihatmu menyentuh makanan pedas yang aku masak? hanya sayuran dan ikan saja yang kamu makan?"


"Aku bilang aku tidak makan makanan pedas."


"Takut apa? Aku hanya tidak makan itu, dan sudah terbiasa. Lagi pula tidak lucu jika misalnya saat aku sedang menjalankan misi tiba-tiba aku sakit perut karena sebelum pergi memakan makanan pedas."


"Kamu kan sedang tidak bertugas?" Kaysa tertawa terbahak-bahak.


"Apa yang kamu tertawakan?"


"Anggota pasukan hantu takut sakit perut? betapa lucunya?" Dia menutup mulut dengan tangannya. Terbayang di pikirannya, seorang pria gagah dengan seragamnya yang sedang bertugas kemudian mengalami sakit perut.


"Heh!"


"Memangnya kesatuan melarangmu memakan itu ya? aneh sekali. Bukannya kalian harus bisa bertahan hidup dengan cara apa pun ya? masa dengan makanan pedas saja tidak boleh?" Kaysa sedikit mengejek.


"Benar kan, kamu takut?"


"Konyol sekali kamu ini, masa aku takut dengan hal semacam itu?"


"Alah, ... bilang saja kamu takut." cibirnya lagi, dan dia mulai bergeser menjauh.


"Berani sekali kamu berkata begitu ya?" Rama mengikuti gerakannya.


"Memangnya kenapa aku tidak berani? kamu akan melakukan sesuatu kepadaku?" perempuan itu seperti menantangnya.


"Kamu tidak tahu ya?"


"Ah, kamu tidak akan berani. Memakan makanan pedas saja tidak bisa apa lagi melakukan sesuatu kepadaku."


"Percaya diri sekali kamu ini?"


"Tentu saja, aku ..." namun Kaysa menggigit bibir bawahnya dengan keras ketika pria itu menyergapnya yang hampir saja bangkit dari sofa.


"Banyak yang bisa aku lakukan kepadamu, contohnya ..." Rama menurunkan tubuhnya perlahan sehingga dada mereka hampir merapat.


"Umm, ...


"Apa lagi Aslan sedang tidak ada?" pria itu menggerak-gerakkan alisnya ke atas dan ke bawah dengan kedua sudut bibirnya yang membentuk seringaian.


"Kamu tidak akan mengira apa yang bisa aku lakukan kepadamu." katanya, dengan suara rendah namun membuat Kaysa merasa merinding.


Napas hangatnya menerpa kulit leher perempuan itu sehingga dia merasa tubuhnya meremang.


"Eee, ... aku harus cuci tangan dulu soalnya ..." lagi-lagi Kaysa menahan napas ketika Rama bergeser lalu membuka mulutnya, kemudian secara perlahan menyesap ujung jari milik perempuan itu hingga dia mengulum seluruhnya.


Kaysa terdiam dengan mulut menganga.


Rasa hangat dan geli segera menjalar apa lagi ketika pria itu menggerakkan lidahnya. Menyentuh jari di dalam mulutnya, kemudian menyesapnya dengan penuh perasaan.


Tiba-tiba saja Kaysa merasa sulit untuk menelan ludahnya sendiri, dan napasnya mulai menderu-deru.


Kemudian Rama melepaskan sesapannya pada jari perempuan itu.


"Mmm ... memang pedas." katanya, dengan kening menjengit, lalu dia menatap wajah Kaysa.


"Apa ini juga pedas?" dia kemudian menundukkan wajahnya, kemudian meraih bibir Kaysa yang sedikit terbuka.


Menyesapnya seperti tadi, kemudian mel*matnya perlahan. Merasai lembut dan hangatnya juga sedikit rasa pedasnya.


"Hmm ..." dia menggumam.


Pelan-pelan Rama menarik mundur kepalanya sehingga menciptakan jarak di antara mereka. Namun tanpa di duga Kaysa meraih tengkuknya sehingga bibir mereka kembali bertabrakan.


Suara decapan mengudara, dan gumamam mangiringinya, kemudian diikuti erangan tertahan ketika setelah beberapa saat tubuh mereka yang sudah tanpa sehelai benang pun akhirnya bertautan.


Rama segera berpacu begitu senjatanya sudah terasa nyaman di dalam sana.


Erangan dan ******* kembali mengudara memenuhi ruang tengah pada hampir malam itu, dikuti suara berderit dari bawah sofa yang juga bergerak karena guncangan dahsyat di atasnya.


"Oh, ... mmm ..." tidak ada yag bisa Kaysa lakukan selain menerima dengan pasrah segala sentuhan yang di lakukan oleh suaminya, dan dia menyukainya. Seperti halnya juga Rama, yang dengan senang hati melakukannya.


Namun suara deringan ponsel sempat menginterupsi kegiatan tersebut, dan Kaysa menoleh untuk memeriksanya.


"Ram?" perempuan itu mengerjap, dan dia meraih ponsel milik suaminya yang terus berdering.


Namun Rama menulikan pendengaran, dan dia malah meneruskan cumbuan di leher dan dada Kaysa. Menyesap dan sesekali mengigit-gigitnya sehingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.


Pria itu terus berpacu, berlomba dengan waktu dan kesempatan yang mungkin hanya tersisa sedikit sebelum akhirnya nanti dia akan kembali pada tugas dan pengalihan perhatian yang entah di rancang oleh siapa. Hingga setelah beberapa lama akhirnya keduanya merasakan sesuatu yang begitu mendesak dan menuntut untuk segera di tuntaskan. Dan Rama memilih untuk mempercepat hentakannya ketika sesuatu di bawah sana berdenyut kencang, dan tubuh Kaysa yang melengkung dengan kepalanya yang terdongak ke atas.


Lenguhan bahkan segera keluar dari mulutnya yang terbuka bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang hebat, membuatnya merasa tak sabar juga untuk meraih klim*ksnya. Hingga akhirnya dia pun melepaskan apa yang beberapa menit berputar dan bergulung di dalam dirinya, sehingga memancar memenuhi Kaysa dengan hebatnya.


*


*


*


Bersambung ...


Hadeh, ... lagi darurat masih sempet hiya-hiya 😂😂


maaf nih gaes telat up, soalnya dunia nyata lagi butuh bgt emak juga, maklum banyak tanggung jawab yang harus di tunaikan.


Tapi like komen hadianya jan lupa kirim dulu ya


lope lope sekebon korma 😘😘