Kopassus And Me

Kopassus And Me
Rumah Baru



*


*


Kaysa mengerutkan dahi, melihat jalan yang mereka lewati saat kepulangan begitu turun dari pesawat. Bukan jalan yang biasanya mereka lewati, tapi sepertinya lebih jauh. Dan rasanya dia belum pernah melewati jalan ini selama dirinya hidup di Jakarta.


"Ada apa?" Rama meraih tangannya yang membuka kaca di sampingnya. Sementara Aslan terlelap di pangkuannya. Dia kelelahan usai menempuh perjalanan tak kurang dari sepuluh jam dari kota Perth.


"Ini bukan jalan ke rumah kita." jawab Kaysa, lalu dia menoleh.


"Memang."


"Terus kita mau ke mana?"


"Bukankah sudah mereka katakan jika hidup kita tidak akan sama lagi setelah ini?" Rama mengingatkan percakapan beberapa hari sebelumnya.


"Hum?"


"Sementara kita tinggal di tempat yang aman." lanjut Rama.


"Bukan rumah kita?"


"Sebenarnya, rumah tapi ..." pria itu menggantung kata-katanya begitu mereka memasuki gerbang sebuah pemukiman dengan tanda yang khas.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti sebentar di pos pemeriksaan. Seorang penjaga melihat ke dalam ketika dia membuka kaca mobil, kemudian memberikan penghormatan.


Rama mengangguk, dan tak lama setelahnya mobil melaju lebih dalam lagi.


Sebuah rumah yang cukup besar bagi mereka berdiri kokoh di tengah area luas. Pohon besar berdiri di sekitarnya dengan tanaman hias dan rumput hijau yang membuat betah siapa pun yang memandang. Tanpa pagar tinggi atau kawat berduri seperti yang sering mereka lihat di kota. Hanya halaman luas berumput yang langsung terhubung dengan jalanan komplek.


Kaysa menatapnya dengan kagum.


"Sementara kita tinggal di sini sampai keadaan kondusif." Rama kembali meremat tangannya.


"Aku harus jujur, bahwa mungkin kita sedang dalam incaran Alvaro. Dan aku belum bisa melindungimu karena keadaanku yang masih seperti ini. Jadi kesatuan memutuskan untuk menempatkan kita di sini. Setidaknya sampai keadaan benar-benar aman, atau sampai mereka berhasil menangkapnya."


"Jadi, ini sangat serius ya?" Kaysa menatap sekeliling yang sepi.


"Tentu saja, dan aku sudah membuatmu dan Aslan berada dalam bahaya. Maafkan aku." Rama dengam raut menyesal.


Percakapan itu harus terjeda ketika seorang prajurit keluar dari dalam bangunan. Setelah memastikan keadaannya aman dan siap di huni.


"Semuanya sudah siap pak. Silahkan." katanya.


"Baik, terimakasih."


"Siap pak. Saya permisi." katanya lagi, kemudian dia pergi.


***


"Oh lihat, mobilmu sudah ada di sini." Kaysa menunjuk sebuah garasi terbuka di samping bangunan bertingkat dua tersebut. Dengan sebuah pohon pinus berdiri setinggi rumah.


"Ya, mereka memindahkannya kemarin."


"Jadi kamu sudah tahu ya soal ini?" dia mendorong kursi rodanya sendiri dan masuk ke dalam rumah.


"Begitulah, ..." Rama terkekeh.


"Hmm ... sogokan yang menggiurkan ya pak?" mereka berhenti di ruang tengah.


Kaca jendela yang besar terpampang hingga mereka bisa melihat ke luar. Dapur dan ruang makan di sisi kiri, ruang tamu berada di sebelah kanan. Sementara semua kamar berada di lantai atas. Halaman depan dan halaman belakang bisa terlihat dari sini, dan suasananya memang sangat nyaman. Di sini bahkan cenderung sepi.


"Maaf pak, Aslan sudah saya tidurkan di kamarnya." si pendamping yang selama berhari-hari menemani mereka di Australia baru saja turun dari lantai dua.


"Ya, terimakasih."


"Kalau tidak ada lagi yang harus saya lakukan, saya juga pamit Pak, Bu." katanya.


"Oh iya iya, terimakasih sekali lagi. Maaf harus kami repotkan selama beberapa hari ini." Kaysa menjawab.


"Tidak apa-apa. Sudah tugas saya."


"Iya, baiklah." dan prajurit itu juga pergi setelah tugasnya selesai.


"Di sini ... sepi ya?" mereka memilih untuk duduk-duduk di ruangan itu terlebih dahulu.


"Tidak akan ada tetangga yang bertanya kalau aku sedang melakukan sesuatu." Kaysa tertawa pelan.


"Yeah, ... tapi aku akan merindukan mereka." Rama mengamini.


"Kenapa bukan pengamanannya saja yang di pindahkan ke rumah kita? bukankah itu lebih baik? kita tetap tinggal di rumah dan tidak ada barang yang mubadzir kan? kalau kita di sini lalu bagaimana dengan rumah." akhirnya Kaysa mengungkapkan isi hatinya.


"Terlalu mencolok Kay, dan mungkin akan membuat tetangga terganggu."


"Dan keamanan tidak bisa di jamin karena berbagai macam orang pasti lewat. Rumah kita ada di pemukiman yang cukup ramai."


"Oh iya juga."


"Tenang saja, rumah sudah ada yang merawat."


"Hmm ...


"Di sini semuanya terkendali. Ada pos pengamanan di depan, dan tidak sembarangan orang bisa masuk. Hanya yang memiliki pengenal khusus saja yang bisa masuk ke dalam sini, jadi aku pastikan kalian aman."


"Belum lagi ada sekolah untuk Aslan di sekitar sini."


"Benarkah?"


"Ya Kay, kita bisa memindahkan Aslan dan membuatnya bisa kembali berinteraksi dengan orang selain kita, tapi masih dekat dengan rumah. Aku rasa itu bagus untuknya."


"Semuanya sudah ada di sini?"


"Tentu, negara menjamin kehidupan kita, dan menyediakan apa yang kita butuhkan."


"Tentu saja, ... pengabdianmu kepada negara tidak bisa di anggap remeh pak. Keterlaluan saja jika negara tidak menjamin kehidupanmu dan keluargamu."


Rama hanya tersenyum.


"Lalu kejutan apa lagi selain ini yang akan kamu dapatkan? aku rasa mereka tidak hanya memberikan semua fasilitas ini, tugasmu itu sangat berat dan beresiko tahu?"


"Kamu perhitungan Kay!" Rama sedikit tertawa karenanya.


"Tidak, hanya mempertanyakan apa yang layak suamiku dapatkan untuk pengabdiannya kepada negara. Dan itu tidak bisa di ukur dengan uang atau benda semacam ini, karena nyawamu adalah taruhannya. Belum lagi keselamatanku dan Aslan, ingat?"


"Memang, karena kenyataannya begitu."


"Jangan khawatir, karena selain keselamatanmu dan Aslan yang di jaga, semua hal juga akan di perhatikan. Jadi kamu tidak usah memikirkan soal itu."


"Benarkah?"


"Ya, tentu saja."


"Misalnya apa?"


"Nanti kamu akan tahu sendiri."


Dan percakapan kembali harus terjeda ketika ponsel milik Rama berdering begitu di nyalakan. Notifikasi puluhan pesan masuk bertubi-tubi, dan itu berasal dari satu nomor saja.


"Mantan suamimu sepertinya kurang kerjaan ya?" Rama menunjukka layar ponselnya kepada Kaysa.


"Mas Radit?"


"Siapa lagi? memangnya selain dia ada lagi mantan suamimu yang lain?" Rama sekenanya, membuat Kaysa kesal kemudian menepuk pundaknya dengan keras.


"Aduh!!! kamu mengenai lukaku Kay!" dia memegangi pundaknya yang terluka bekas sunduttan cerutu tempo hari.


"Rasakan! karena kamu menyebalkan!" perempuan itu hampir kembali menyentuh pundaknya sebelum akhirnya ponsel Rama berbunyi lagi.


"Papanya Aslan menelefon Kay." dia kemudian tertawa.


Sementara Kaysa mendengus sambil mendelikkan matanya.


"Ya?" Rama kemudian menjawab panggilan.


"Kalian ada di mana? mengapa aku tidak bisa menghubungimu sejak beberapa hari? aku ingin bertemu Aslan!" pria itu segera meracau.


Rama menjauhkan ponsel dari telinganya untuk menghindari suara yang begitu keras.


"Rumah kalian sepi, dan tidak ada seorang pun yang tahu kemana kalian pergi. Kau sengaja ya ingin menjauhkan aku dari putraku?" Radit kembali berbicara. Tedengar dari nada suaranya jika dia tengah begitu kesal.


"Tenang pak! ada apa kau ini?" Rama buka suara.


"Lalu di mana kalian? kenapa aku begitu sulit menghubungimu?"


"Apa kau tidak mengerti tatak rama? apa kau tidak bisa bicara dengan tenang dan sopan? aku ini bukan budak yang bisa kau bentak seenaknya, hey! jangan karena kau merasa lebih berkuasa lalu kau berbuat begitu kepadaku." Rama membalas rentetan omelannya.


"Bicaralah baik-baik dan tanyakan dengan benar, baru aku akan menjawabnya. Jika kau seperti ini, jangan harap aku akan menghargaimu." pria itu setengah mengancam.


Tak terdengar jawaban dari seberang sana.


"Masih mau bicara atau tidak? kalau tidak aku akan mematikan telefonnya." Rama berbicara lagi.


"Aku ... mau bertemu Aslan."


"Nanti kalau kami sudah pulang liburan aku akan mengantarkannya kepadamu."


"Liburan?"


"Ya, sekarang ini kami sedang liburan, jadi maaf kalau kau tak bisa menemui Aslan."


"Kalian liburan di mana? biar aku yang ke sana menjemput Aslan?"


"Heh, ini acara pribadi tahu? masa aku harus memberitahumu?"


"Tidak apa, aku hanya akan menjemput Aslan saja, setelah itu pergi dan kalian bisa menghabiskan waktu hanya berdua."


"Kau pikir aku menikahi Kaysa hanya karena menginginkan dia saja? lalu kau anggap Aslan itu apa? benda pajangan?"


Radit terdiam lagi.


"Sudah, nanti kalau kami selesai liburan aku sendiri yang akan mengantatkan Aslan kepadamu. Sekarang biarkan kami menghabjskan waktu bersama-sama dulu." katanya, kemudian dia mematikan telefon.


"Huh, kamu benar. Dia memang sangat menyebalkan." Rama melemparkan ponselnya ke sudut sofa.


"Sudah aku katakan bukan?"


"Iya, dan dia lebih menyebalkan dari yang kamu bilang."


"Ngomong-ngomong siapa yang liburan?" Kaysa merespon.


"Kamu pikir aku akan membiarkan Radit tahu tempat tinggal kita sekarang? tidak mungkin. Itu melanggar protokol keamanan." Rama perlahan bangkit dari posisi duduknya dengan wajah meringis menahan sakit yang masih bersarang di tubuhnya.


"Jadi tidak boleh ada yang tahu rumah baru kita?"


"Tidak boleh."


"Siapa pun?"


"Ya, siapa pun." pria itu melenggang ke arah tangga.


"Kamu mau istirahat sekarang?"


"Tentu saja, aku lelah. Perjalanan dari Perth ke Jakarta itu sangat melelahkan, apa lagi setelah mendengar omelan mantan suamimu. Menyebalkan." pria itu menggerutu.


"Lagi pula ..." Rama berhenti di tengah-tengah tangga.


"Aku juga mau melihat kamar baru kita." dia menoleh kemudian menyeringai.


"Ap-apa?" dan Kaysa malah tergagap.


*


*


*


Bersambung ...


Masih sakit pak. Tapi karena kesel jadinya anu ya? πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


selamat datang di rumah baru 🀣


like komen sama hadiahnya kirim lagi dong


lope lope sekebon korma😘😘