Kopassus And Me

Kopassus And Me
Cuti



*


*


"Mama!!" Aslan menerobos pintu depan setelah beberapa saat bermain halaman samping.


"Ya?" dalam waktu yang bersamaan Rama keluar dari kamar dan merapatkan pintu.


"Mau makan, laper." katanya.


"Ayo, ..." Rama menjauh dari pintu kamar dan menggiring anak itu ke ruang makan.


"Mama mandinya lama ya om?"


"Sebentar lagi." mereka duduk di kursinya masing-masing.


"Tapi aku udah laper."


"Makan saja duluan." Rama mengambilkan nasi dan lauknya yang sudah terhidang di meja makan sejak beberapa saat sebelumnya, kemudian memberikannya kepada Aslan.


"Tadi mama bilang harus sama-sama."


"Sebentar lagi mama selesai. Tidak apa-apa Aslan makan lebih dulu."


"Mama nggak akan marah nih?" anak itu menerima piring miliknya yang sudah terisi makanan.


"Tidak akan."


Lalu beberapa menit kemudian Kaysa pun keluar dari kamar. Rambutnya basah dan aroma segar menguar dari tubuhnya.


"Kan, om bilang juga apa?" Rama tampak salah tingkah. Tentu saja, mereka baru saja melewati pagi yang luar biasa menegangkan namun juga menyenangkan.


Kaysa pun tak terlalu banyak bicara, tapi pipinya tampak merona. Dia duduk di kursi tak jauh dari Rama dan mengambilkan makanan tanpa bersuara, lalu menggesernya ke hadapan suaminya itu.


"Om hari ini nggak pergi kerja lagi?" Aslan selalu menjadi sosok yang mencairkan suasana di tengah kecanggungan yang masih saja terasa di antara pasangan baru ini.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Om dapat cuti." katanya dengan wajah ceria, seraya melirik ke arah Kaysa yang tengah menyuapkan makanannya.


"Cuti itu libur?" Aslan bertanya lagi.


"Ya, semacam itulah."


"Berarti om nggak kerja dong?"


"Ya tidak. Kan cuti." dia melirik lagi ke arah Kaysa.


"Berapa lama?"


"Satu minggu."


"Yah, ... satu minggu doang?"


"Memangnya mau apa lama-lama di rumah? segitu saja sudah lumayan kan, dari pada tidak sama sekali?"


"Iya juga sih."


"Aslan tadi main dengan siapa? sepertinya seru?" Kaysa menyela percakapan.


"Sendiri."


"Mama kira ada teman?"


"Temen siapa?"


"Ya, mama kira begitu."


"Nggak ada. Cuma ada ibu-ibu ngajak ngobrol terus, bikin takut."


"Ibu-ibu yang mana?"


"Itu yang di samping. Tanya-tanya terus."


"Bu Fatma?" sela Rama.


"Nggak tahu."


"Iya, itu bu Fatma. Memang selalu seperti itu, dulu tante Livia sering om titipkan di sana kalau dapat dinas malam."


"Oh ya?"


"Iya, dia baik kok."


"Tapi banyak tanya, aku nggak suka." Aslan mendelik.


"Tanya apa?"


"Banyak. Tanya nama, mamanya kerja apa, terus papanya ada atau nggak."


Rama tertawa.


"Aslan jawab apa?" Kaysa mengunyah makanannya dengan tenang.


"Ya jawab, mama sama om Rama ada, lagi mandi."


Dua orang dewasa di dekatnya tersedak bersamaan. Kaysa bahkan hampir menyemburkan makanan yang sedang dia kunyah.


"Kok Aslan jawabnya begitu?" protes perempuan itu.


"Ya emang mama sama Om Rama tadi lagi mandi, kan? mana lama lagi, jadi aku juga mainnya lama di depan tadi." jawab Aslan dengan lugunya.


"Mmm ...


"Lain kali jangan seperti itu." ucap Kaysa yang menghentikan kegiatan makannya, lalu meneguk air minum hingga habis setengahnya.


"Terus jawabnya apa?"


"Ya jawab ada saja." Kaysa tampak kesal.


"Aku kan nggak tahu."


"Sekarang Aslan sudah tahu kan?" Rama ikut bicara.


"Iya om." anak itu menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, habiskan makanannya."


"Emang kita mau kemana?"


"Tidak kemana-mana," pria itu tertawa.


"Oh, aku lega."


"Lega kenapa?"


"Kirain Om mau ngajak aku ke luar."


"Memangnya Aslan mau ke luar jalan-jalan? Cuaca sedang bagus hari ini." tawar pria itu.


"Nggak ah, mau di rumah aja."


"Hmm ...


"Om?" Aslan kembali berbicara, namun Kaysa segera menghentikannya.


"Aslan lupa ya soal yang mama bilang?"


"Apa?" bocah itu mengalihkan perhatian kepadanya.


"Obrolan kita kemarin?"


"Yang mana?"


"Soal jangan panggil om lagi?"


Aslan terdiam.


"Keadaannya sekarang sudah berbeda, ingat kan kalau om Rama itu sudah menikah dengan mama?"


"Ingat." Aslan menganggukkan kepala.


"Terus kenapa masih panggil om?"


Anak itu menatap wajah Rama dan Kaysa secara bergantian.


"Nggak boleh ya? harus panggil papa?" Aslan dengan wajahnya yang lugu.


"Terserah Aslan, mau papa, ayah ...


"Nggak boleh panggil om lagi?" katanya.


"Umm ... sebenarnya ..." Kaysa menghentikan ucapannya ketika Rama menyentuh tangannya.


"Terserah Aslan. Mau panggil papa boleh, tetap panggil om juga tidak apa-apa." katanya, yang menatap wajah Kaysa sekilas.


"Tuh, ... om Rama bilang juga masih boleh." Aslan kepada ibunya. "Nggak apa-apa kan ya Om?" dia beralih kepada Rama, merasa telah memenangkan perdebatan pagi itu.


"Tidak apa-apa." rama menjawab.


"Tapi kan ..." Kaysa berusaha untuk menyanggah, namun lagi-lagi Rama menghentikannya.


"Tidak apa-apa. Itu hanya sekedar panggilan, sementara kasih sayangku tidak akan pernah berkurang hanya karena dia tidak memanggilku papa. Dia sekarang anakku, kan?" pria itu berujar.


Kini Kaysa yang terdiam.


"Tidak usah di permasalahkan soal panggilan ini, terserah Aslan maunya bagaimana."


"Hmmm ...


"Mungkin nanti, jika dia sudah merasa nyaman dan terbiasa, dengan sendirinya dia akan memanggilku papa." lanjut pria itu.


"Atau mungkin, ... harus di mulai dari mamanya dulu?" lalu dia menahan senyum.


"Apa?"


"Bagaimana dia akan memanggilku papa, sementara kamu tetap memanggilku dengan nama asli?" katanya, kemudian tertawa. Merasa geli dengan pikirannya sendiri.


"Ish, ... apa itu maksudnya?" Kaysa bergumam.


"Mau aku panggil papa juga, hum?" perempuan itu mencondongkan tubuhnya, kemudian mengulurkan tangannya pada pundak Rama.


Membuat pria itu kembali tertawa karena kelakuan mereka.


"Jawab! kamu mau aku panggil papa? baiklah, ... papa!" katanya dengan gemas, membuat pria itu terbahak-bahak.


"Aneh sekali mendengarnya, tiba-tiba saja aku merasa sudah tua." Rama terus tertawa karenanya.


"Mama sama om Rama apa sih, aneh banget?" Aslan menggerutu, melihat interaksi dua orang dewasa di hadapannya.


Dan percakapan hangat itu harus terjeda ketika pintu depan terdengar di ketuk dari luar. Mereka menoleh bersamaan, dan Rama segera bangkit untuk melihat.


Sosok yang cukup familiar tengah berdiri di depan pintu, berpenampilan cukup mencolok dengan stelan jas hitam berdasi, Radit menunggu tuan rumah membukakan pintu.


"Apa yang kau lakukan disini?" Rama langsung bertanya begitu dia membuka pintu.


"Ah, ternyata benar ini rumahmu?" pria itu melihat sekeliling rumah bergaya biasa tersebut.


"Dari mana kau tahu aku di sini?" Rama bertanya lagi.


"Tidak sulit untuk menemukanmu, mendapat sedikit petunjuk dari kantor polisi, lalu bertanya kepada orang sekitar dan di sinilah aku." Radit menjawab.


"Lalu mas mau apa datang kemari?" Kaysa muncul dari belakang Rama.


"Hai Kay?" pria itu hanya menyapanya. "Aku ingin bertemu putraku." jawabnya, seraya menatap ke dalam ruangan di belakang mereka. Mencari sosok yang ingin dia temui.


"Untuk apa?"


"Untuk apa katamu? Aslan itu putraku, kenapa kau bertanya untuk apa? hakku untuk menemui putraku, bukan?"


"Tapi mas ...


Rama menghentikannya berbicara.


"Masuklah, jangan di luar seperti ini." ucap Rama. "Temui Aslan di dalam."


"Baiklah jika kau memaksa." Radit dengan gaya angkuhnya.


"Kay, panggil Aslan."


Kaysa tidak segera merespon.


"Kay! panggil Aslan." ulang pria itu, yang kemudian Kaysa turuti walau dengan perasaan gusar.


Dia masuk ke dalam, kemudian dengan cepat kembali membawa Aslan ke hadapan Radit.


"Hey nak? bagaimana keadaanmu?" pria itu mendekatinya.


"Aku baik." Aslan menjawab.


"Papa rindu sekali." Radit merangkul tubuh kecilnya dengan erat, namun Aslan tampak tertegun.


"Tidak bisa. Dia belum bisa di ajak keluar." Kaysa segera menjawab.


"Kay, ...


"Mas tanya sendiri kepada Aslan."


Pria itu mendengus.


"Aslan ikut papa ya, kita pergi. Sudah lama kita tidak pergi sama-sama?"


"Nggak mau," anak itu menjawab.


"Aslan, papa tahu sudah berbuat salah. Papa minta maaf, tapi bisakah kita memulai ini lagi? kita pergi seperti biasanya. Hanya kamu, dan papa." bujuk Radit kepadanya.


"Aku bilang nggak mau, aku takut."


"Takut apa?"


"Dia masih takut untuk pergi keluar mas, apa lagi ke tempat ramai. Baru hari ini juga Aslan mau main di halaman, itu juga hanya sebentar. Selebihnya dia di dalam rumah."


"Benarkah?" pria itu termangu.


"Begitu saja kamu tidak tahu? bagaimana mau mengajak Aslan pergi?"


"Kau tidak memberi tahuku Kay, bagaimana aku akan tahu?"


"Memangnya kamu peduli? dia sedang menjalani terapi karena traumanya, dan sampai sekarang masih belum pulih?" Kaysa menaikkan nada suaranya.


"Kay, tidak usah seperti itu." Rama mengingatkan.


"Tapi kamu tidak memberi tahu aku keadaannya sekarang, bagaimana perkembangannya, atau kondisi terakhirnya. Bagaimana aku bisa tahu?" Radit melawan ucapannya.


"Mas, ...


"Stop, kalian berdua berhentilah." Rama menghentikan perdebatan.


"Aslan, masuk ke dalam dulu ya? nonton tivi atau menggambar lagi. Mama, papa dan Om Rama mau bicara dulu sebentar." ucap Rama kepada Aslan, dan anak itu segera menurut.


"Mau sampai kapan kalian berdebat seperti ini?" kini Rama kembali kepada dua orang yang selalu berselisih faham ini.


"Mau menunggu sampai kejiwaan Aslan benar-benar terganggu?" lanjutnya.


"Kalian tidak ingat bagaimana dia ketakutan dan mengamuk? kalian mau dia mengalami itu lagi?" Rama dengan perasaan geram bukan main.


"Kau tahu, Radit. Sangat sulit membuat Aslan kembali pada keadaan seperti ini. Dia selalu ketakutan dan menolak siapa pun termasuk mamanya."


"Dan kamu," dia beralih kepada Kaysa. "Tidak ingat bagamana sulitnya kita mengajaknya berbicara? dan sekarang kamu mau membuat Aslan begitu lagi, dengan selalu melihat kedua orang tuanya bertengkar?"


"Bukan begitu, ... maksudku ...


"Tapi kenyataannya begitu. Aslan terlalu sering melihat kalian bertengkar, dan dia mengira itu karena dirinya. Kalian membuatnya merasa bersalah sehingga dia selalu takut untuk mengatakan masalahnya."


"Kalian sama-sama dewasa, masa begitu saja tidak mengerti? keterlaluan." katanya, dengan penuh kekesalan.


"Mau apa kau datang kemari? katakan dengan jelas! Aslan tanggung jawabku sekarang, susah payah aku membawanya terapi dan memulihkannya, tidak akan aku biarkan dia mengalami hal buruk lagi karenamu atau siapa pun! " Rama dengan tegas.


"Aku bermaksud membawa dia jalan-jalan. Dulu itu yang sering aku lakukan."


"Aku beri tahu, dia belum bisa di bawa ke tempat ramai apa lagi banyak orang Aslan akan merasa ketakutan."


"Lalu aku harus bagaimana?" Radit sedikit melunak.


"Kalau mau, bawa dia ke rumah, ke tempat yang tidak terlalu banyak orang, yang bisa membuatnya merasa aman."


"Tapi di sana ada Kristina." Kaysa menggumam.


"Tidak ada." jawab Radit.


"Benarkah? aneh sekali nyonya mau keluar dari rumah?"


"Dia pergi."


"Oh ya? sendiri? tumben?" Kaysa setengah mencibir.


"Buka urusanmu, tapi dia pergi untuk beberapa minggu kedepan. Mungkin beberapa bulan."


"Oh ya? kenapa? ada bisnis?"


"Tidak."


"Lantas?"


Radit tak menjawab, dia hanya mendelik kesal. Ingin berdebat tapi merasa segan dengan keberadaan pria di depannya.


"Bertengkar lagi ya?" Kaysa menduga-duga, namun mantan suaminya itu tetap tak menjawab.


"Pantas kamu ingat Aslan, rupanya Kristina sedang mengabaikanmu ya?" ejek Kaysa lagi.


"Kay, ..." Rama kembali menghentikannya.


"Pokoknya aku ingin membawa Aslan, kalau kalian mengijinkan."


"Jangan lupa, kalau Aslan juga mau ikut. Kalau tidak mau, jangan memaksa." Kaysa memperingatkan.


"Baiklah, tidak akan."


"Kau janji?" ucap Rama.


"Ya."


"Baiklah." kemudian mereka kembali memanggil Aslan.


Radit membujuknya setengah mati, sementara Aslan berkali-kali menolak untuk ikut. Bocah itu tetap pada pendiriannya karena dia masih ingat dengan kekecewaannya.


"Aslan, papa janji kita hanya berdua."


"Nggak mau, nanti ada tante galak. Papa ninggalin aku lagi." jawaban sama yang Aslan berikan kepadanya.


"Tidak ada, tante Kristina pergi."


"Nanti juga balik lagi? papa ikut pergi."


"Tidak akan."


"Papa bohong.


"Kali ini tidak."


"Buktinya apa?"


Radit terdiam sebentar.


"Sepertinya tante Kristina tidak akan kembali ke rumah."


"Apa?" dua orang di dekatnya bereaksi.


Radit menoleh, "Kami sudah bercerai."


"Bagaimana bisa?"


"Aku menemukan rekaman cctv saat dia memukul Aslan." akhirnya dia mengungkapnya sendiri.


"Apa?"


"Maaf, aku yang salah dalam hal ini. Aku tidak tahu jika sikapnya seburuk itu kepada putraku, dan aku menyesal." katanya dengan raut sendu.


"Aku bahkan tidak tahu dia mengalami itu mas!" Kaysa merangkul pundak putranya. "Benar itu Aslan? kenapa tidak mengatakannya kepada mama?"


Bocah itu tak menjawab.


"Tapi aku pastikan itu tidak akan terjadi lagi. Dia pasti tidak akan mau kembali setelah ...


"Apa lagi?"


"Aku memukulnya setelah menceraikan dia."


"Astaga, mas!"


"Tidak akan aku biarkan siapa pun menyakiti putraku, kau tahu?"


"Jadi aku mohon, bujuk Aslan untuk mau pergi denganku."


"Itu pemaksaan mas."


"Aku hanya ingin memulainya lagi dari awal. Aku janji tidak aka mengecewakannya lagi setelah ini."


"Jangan selalu berjanji mas, nanti kamu yang susah sendiri karena tidak bisa menepatinya."


"Tidak Kay, kali ini aku sungguh-sungguh." Radit kini dengan raut serius.


***


Setelah bujukan yang berulang-ulang, dan meyakinkan anak itu dengan benar, akhirnya Radit bisa membawanya pergi. Aslan bersedia ikut setelah dirinya yakin jika orang yang paling tak di sukainya tidak berada di tempat yang dulu di sebut sebagai rumah.


Kaysa dan Rama menatap kepergian mereka di ambang pintu. Sama-sama terdiam hingga mobil yang mereka tumpangi menghilang di balik pagar.


"Dan akhirnya dia pun pergi." perempuan itu bergumam.


"Hanya sehari, nanti malam juga kembali? kamu bicara begitu seolah-olah Aslan akan meninggalkanmu selamanya?" Rama menyahut.


"Aku merasa tidak rela jika di pergi bersama mas Radit. Aku selalu merasa khawatir."


"Dia ayahnya, tidak mungkin berbuat buruk kepadanya. Tidak dengar tadi dia bilang telah menceraikan perempuan itu karena ketahuan memukul Aslan?"


"Ah, aku rasa itu hanya sementara. Sejak dulu mas Radit tak bisa hidup tanpa Kristina, bahkan ketika masih bersamaku."


"Begitukah?"


"Yaahh ..." Kaysa memutar tubuh, sementara Rama menutup pintu. Dia bahkan menguncinya rapat-rapat.


"Mungkin sekarang waktunya Radit membuktikan ucapannya."


"Ucapan apa?" mereka berjalan ke ruang tengah.


"Janjinya kepada Aslan. Aku rasa kali ini dia sungguh-sungguh."


"Entahlah." Kaysa menjatuhkan bokongnya di sofa, diikuti Rama di sampingnya.


"Tenanglah, karena sebetulnya dia juga menyesal terpisah dengan Aslan. Tapi mungkin keadaannya yang tidak mendukung."


"Terserahlah." Kaysa mendelik, kemudian merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Rumah jadi terasa sepi kalau Aslan tidak ada." perempuan itu bergumam.


"Mau membuatnya manjadi ramai?" Rama dengan ide cemerlangnya.


"Apa?" Kaysa menoleh kepadanya, dan pria itu pun sama. Lalu dia tersenyum penuh arti.


"Apa? senyum kamu aneh!" ucap Kaysa, kemudian bangkit.


"Aku sudah mendapatkan cuti." Rama berujar.


"Ya, lalu?"


"Satu minggu."


"Terus?"


Pria itu terdiam menatapnya dengan perasaan berdebar. Dan senjatanya di bawah sana sudah siaga.


"Dan selama itu, harus terjadi banyak hal." katanya, dengan tidak sabar.


"Hum?"


Rama mencondongkan tubuhnya ke arah Kaysa, kemudian membingkai wajah perempuan itu untuk dia tarik dan selanjutnya dia cumbu. Tangannya segera menjelajah, dan dengan berani menyentuh tubuh Kaysa.


"Baru tadi kita melakukannya." perempuan itu mendorong dadanya untuk menghindar ketika dia mengerti maksud suaminya.


"Kita ulangi lagi." Rama kembali merapatkan tubuhnya.


"Tapi ini hampir siang." Kaysa berusaha melepaskan diri.


"Tidak apa-apa, mumpung ada kesempatan." Rama melepaskan pakaian bagian atasnya, dan melemparkannya ke belakang sofa.


"Tapi, ..." Kaysa masih berusaha menghindar, namun pria itu tetap melanjutkan aksinya.


Rama bahkan dengan mudah mengangkatnya di pundak, dan dengan tergesa berjalan ke kamar mereka.


"Rama!!" Kaysa merasa ngeri sendiri, dan dia berpegangan pada lengan pria itu.


*


*


*


Bersambung ....


waduh, ... mau ngapain tuh?πŸ™‰πŸ™‰


klik like komen sama kirim hadiahnya biar nanti aku up lagiπŸ˜‰