Kopassus And Me

Kopassus And Me
Wawancara Kedua



*


*


"Ceritakan tentang Livia waktu kecil." Kaysa bersandar pada pegangan sofa, dan Rama di ujung satunya. Dengan kaki perempuan itu yang ada di atas pahanya.


"Apa harus?" Pria itu terkekeh.


"Ini bagian dari wawancara. Dan aku membutuhkan ceritamu untuk visualisasi sosok Livia." Kaysa dengan ipad di tangan. Membuat folder catatan hasil wawancaranya. Semetara kamera menyorot pada wajah suaminya.


"Baiklah." Rama terdiam sebentar untuk mengingat.


"Dia anak yang ceria, cerewet juga sangat aktif. Jangan lupa juga jika dia siswa yang pintar. Cita-citanya jadi dokter umum agar bisa menolong banyak orang, terutama mereka yang tidak memiliki akses kesehatan yang memadai."


"Mulia sekali." Kaysa mencatat pada ipadnya.


"Dia tidak terlalu suka bergaul, tapi temannya cukup banyak. Di sekolah juga dia cukup dikenal. Guru-guru mengenalinya sebagai siswa yang aktif, dan dia teman yang menyenangkan. Tapi Livia sangat tertutup untuk urusan pribadi. Mungkin karena didikanku." Semakin banyak yang Rama ingat.


"Didikanmu?"


Rama menganggukkan kepala.


"Aku melarangnya untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis sebelum kuliahnya selesai." kemudian dia terdiam.


"Tapi aku kecolongan. Dia malah menjalin hubungan diam-diam dengan Alan, yang akhirnya merenggut nyawanya." Dia mengingat pertemuan pertama mereka saat upacara kelulusannya di sekolah kepolisian.


"Kemudian pertemuan-pertemuan berikutnya di beberapa tempat. Mereka bahkan pernah juga bertemu di rumah ini saat ulang tahun Livia yang ke tujuh belas. Dan aku rasa, mungkin sejak itulah semuanya di mulai." Dan hal lainnya muncul dalam ingatan.


"Tapi aku tidak pernah menyangka, karena mereka berdua tidak pernah bersikap berbeda, apalagi berinteraksi berlebihan, hanya saja ... " Rama mengingat lagi.


"Livia memang menjadi sedikit tertutup di pertengahan kelas tiga." Dahinya sedikit berjengit.


"Mengapa aku tidak menyadarinya?" Rama kemudian termangu.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan jika para pelaku terbukti bersalah?" Kali ini Kaysa melontarkan pertanyaan serius.


"Mereka memang bersalah ...


"Di persidangan?"


Rama terdiam sebentar.


"Livia ada ditempat yang salah pada saat mereka merencanakan sesuatu. Dan dia tidak sengaja mendengar. Tapi Livia juga tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Aku ... hanya ingin keadilan untuk adikku," katanya, dengan raut sendu.


Kaysa menyimpan file, kemudian meletakan ipad di atas meja. Dia bangkit lalu mendekat kepada suaminya. Merangkul pundaknya dengan posesif seraya mengusap-usap dadanya.


"Jangan khawatir, kita akan mendapatkan keadilan untuk Livia." katanya.


Sedangkan Rama hanya tersenyum.


"Apa ini juga bagian dari wawancara?" Pria itu kemudian tergelak. Mengingat ini sebagai sesi wawancara yang cukup aneh baginya. Memiliki istri sebagai wartawan yang baru kembali bekerja, dan menjadikan dirinya sebagai proyek pertama yang dia tangani.


"Bukan, ini hanya ... " Kaysa berpikir. "Sesi penenangan diri saja." Dia juga tergelak.


"Apa wawancaranya sudah selesai?" Rama kemudian bertsnya.


"Belum, kamera masih on." Kaysa melirik pada kameranya yang masih dalam mode merekam. Terlihat dari lampu kecil berwarna merah di bagian atas lensanya.


"Lalu kenapa kita begini? Sengaja ini juga mau di rekam? Atau untuk tambahan wawancara?"


"Sebentar aku matikan." Kaysa baru sadar, kemudian beranjak untuk mematikan kameranya, lalu kembali ke sisi suaminya.


"Apa mungkin ada bukti lain yang belum kita temukan? Sekedar untuk antisipasi saja, siapa tahu masih ada?"


"Kita tidak tahu, penyelidikan masih Adam lakukan."


"Bukankah pada kasus seperti ini biasanya penggeledahan di lakukan di rumah tersangka?"


"Iya."


"Apa kepada mereka juga di lakukan hal yang sama?" Kaysa mebambah catatannya dengan tanda tanya yang cukup besar.


"Seharusnya begitu."


"Mungkin."


"Bisa jadi memberatkan atau meringankan ya?"


"Hmm ...


"Baiklah ... kita harus bersiap untuk bukti baru itu." Kaysa membereskan peralatan jurnalisnya.


"Kalau wawancaranya sekali lagi memberatkan tidak?" Rama merubah posisi duduknya.


"Hum? Aku sudah tidak ada pertanyaan lagi. Mungkin nanti kalau ada ...


Namun Rama merebut alat-alat di tangan Kaysa, lalu meletakannya kembali di meja.


"Tadi kamu bilang kameranya sudah di matikan?" Pria itu menoleh ke arah kamera yang lampunya tidak menyala.


"Su-sudah." Kaysa menjawab, entah mengapa bulu kuduknya terasa meremang melihat raut wajah suaminya.


"Oke, kalau begitu ..." Rama menundukkan wajahnya, lalu meraih bibir perempun itu.


"Umm, ... bukankah tadi pagi kita sudah melakukannya?" Kaysa sedikit mendorong dadanya, tahu apa yang dia inginkan dari caranya mencumbu yang terasa menggebu-gebu.


"Benarkah? Tadi pagi?" Pria itu tampak berpikir.


"I-iya, ..." Kaysa menggigit bibir bawahnya ketika Rama menarik lepas kaus dari tubuhnya.


"Aku lupa, ..." katanya, sambil tergelak. Kemudian dia meneruskan cumbuan.


Rama mendorong tubuh Kaysa hingga tertindih di bawahnya. Kemudian menyentuh perempuan itu seperti yang selalu dia lakukan.


Tak ada hal lain yang Kaysa lakukan selain pasrah dan mengikuti alur yang tercipta begitu Rama menyentuhnya, karena dia segera saja terbawa suasana.


Pakaian sudah berserakan di bawah sofa, dan keduanya telah tenggelam dalam hasrat yang sudah menanjak. Mereka bahkan tidak sempat untuk pindah tempat ke dalam kamar.


"Ugh!" Kaysa melenguh ketika Rama membenamkan miliknya. Dan kedua tangannya meremat lengan pria itu saat dia mulai menghentak.


Erangan dan des*han mulai mengudara pada lewat tengah hari itu, dan keduanya sama-sama tak bisa mengendalikan diri.


Rama terus menyentuh setiap bagian tubuh perempuan itu hingga ke yang paling sensitif. Dan tak ada yang luput sejengkal pun dari rematan tangannya. Membuat Kaysa terus menggeliat dan meracaukan namanya.


"Aahh, Rama!" Dia menggapai pundak pria itu untuk berpegangan, seolah akan terjatuh jika tak melakukannya. Kemudian menariknya untuk menikmati ciuman.


Disela napas yang terus menderu, dan debaran yang kian menggila, keduanya sama-sama saling mengimbangi. Tak ada hal lain kecuali keinginan untuk menggapai kepuasan bersama. Sehingga membuat mereka sama-sama berpacu untuk tiba di puncak percintaan pada siang itu.


"Hmmm ... uuhh, ..." Kaysa merasakan seluruh tubuhnya semakin meremang. Pusat tubuhnya berdenyut-denyut ketika aliran hebat menyerangnya tanpa ampun. Dan di detik berikutnya tubuh perempuan itu mengejang dan bergetar seiring pelepasan yang tak tertahankan.


Sedangkan Rama masih asyik berpacu sambil menikmati pemandangan indah di bawah. Di mana Kaysa sudah tak berdaya dalam kuasanya, selain merintih tak ada hal lain yang keluar dari mulutnya.


Dia mengetatkan rahang sehingga giginya terdengar bergemeletuk. Lalu menghentak lebih cepat ketika gelombang hebat mulai menyerangnya.


Tak lama kemudian dia menekan pinggulnya kadengan keras, hingga senjatanya terbenam seluruhnya pada Kaysa. Dan geramannya segera mengudara seiring dengan sesuatu yang mengalir deras di dalam sana.


"Oh, Kaysaaaa!!" erangnya, dan dia menenggelamkan wajah di ceruk leher perempuan itu.


*


*


*


Bersambung ...


Umm ... vote? 😉😉


jan lupa like komen dan kirim hadiahnya juga ya? otewe sidang nih.


lopelope sekebon korma 😘😘