Kopassus And Me

Kopassus And Me
Kepulangan Rama



*


*


Desingan peluru yang berasal dari senapan dari suatu sudut area menjadi tembakan balasan. Mengindikasikan perlawanan dari pihak yang tengah mereka buru pada hampir subuh itu. Setelah beberapa hari pengintaian dan penyergapan yang berakhir kejar-kejaran hingga akhirnya mereka masuk ke dalam hutan.


Empat orang ekstrimis dan dua sandera telah di amankan. Setelah hampir dua jam melancarakan serangan, dan terjadi baku tembak yang begitu sengit.


Anggota dari kesatuan lain telah tumbang dan menyerah, amunisi hampir habis, namun mereka masih harus bertahan, menyelamatkan satu orang guru sebagai sandera, dan melawan tiga anggota pemberontak di perbatasan negara sambil mengulur waktu.


"Sial! mengapa amunisi mereka banyak sekali? sepertinya tidak pernah habis?" Garin mempeesiapkan persenjataannya.


Tersisa satu buah granat, satu slongsong peluru, dan dua buah pistol terisi yang hampir penuh. Namun itu tidak akan cukup untuk menghadapi orang-orang ini hingga bantuan berikutnya datang.


"Sokongan persenjataan mereka bukan main-main. Bisa di pastikan mereka mendapatkannya dari pihak yang berpengaruh." sahut Junno.


Adam terlihat membidik sasaran dalam diam, dan di detik berikutnya dia menarik pelatuk senapannya yang kemudian memuntahkan peluru tajam yang segera melesat menuju sasaran yang telah terkunci.


Terdengar teriakan nyaring, dan di menit berikutnya seorang pria tinggi tumbang dari balik pohon dengan luka di kepala yang mengalirkan darah segar.


Terlihat pergerakan setelahnya di sela pepohonan rapat. Namun mata elang pasukan hantu tak dapat di kelabui. Tembakan kembali di letuskan dan dua orang kembali tumbang dengan luka yang sama.


Tersisa satu orang anggota pemberontak membawa satu sandera yang dia cengkeram erat, dengan moncong pistol menempel di kepala seorang guru perempuan itu yang tampak menangis tertahan karena begitu ketakutan.


"Menyerahlah kepada negara, maka kau akan selamat." Rama berteriak dari balik semak.


Pria itu tampak waspada.


"Menyerahlan, dan kami akan mengampunimu!" katanya lagi.


"Pergilah kalian dari rumah kami! jangan lagi campuri urusan kami. Kemerdekaan sedang di persiapkan dan kalian akan kehilangan kami sebentar lagi." jawab pria tinggi itu.


"Kemerdekaan hanya hayalan semu, dan kalian sedang di kelabui." sahut Rama lagi dari persembunyiannya.


"Hayalan yang sebentar lagi akan menjadi nyata, di bandingkan rayuan janji pemerintah kalian yang tidak pernah di tepati." jawab sang pemberontak yang semakin menekan moncong senjatanya pada kepala guru perempuan itu.


"Setidaknya kalian tidak mengalami penjajahan."


"Omong kosong! pemerintah kalian pun menjajah kami. Menjarah hasil bumi, mengeksploitasi alam, tapi menelantarkan kami."


"Kita perbaiki, utarakan pendapatmu kepada pemerintah, dan buat mereka mengerti apa yang terjadi."


"Kalian hanya para pembual." pria itu mundur beberapa langkah, masih dengan sikap waspadanya.


"Kau mau bicara?" perlahan Rama muncul dari persembunyiannya. "Aku akan mengusahakannya ...


"Tidak ada yang bisa di bicarakan. Dalam hal ini hanya senjata yang menyelesaikan, untuk kemerdekaan yang kami tuju."


"Percayalah, kau sedang di bohongi. Kemerdekaan yang mereka janjikan hanya rayuan agar kalian menyerahkan apa yang bumi kalian miliki secara cuma-cuma. Dan perlawanan hanya akan membuahkan kekalahan. Lihat?" Rama melangkah mendekat seraya menunjukkan mayat-mayat yang telah bergelimpangan di sekitar mereka.


Bahkan dalam keremangan hutan pun dia dapat melihat dengan jelas bahwa pria tinggi itu masih sangat muda. Mungkin beberapa tahun di bawahnya. Namun doktrin kemerdekaan bagi pulau di ujung timur Indonesia itu mengakar begitu kuat di kepalanya. Entah siapa yang menanamkannya.


"Menyerahlah, kau sendirian." Rama semakin mendekat.


"Berhenti di sana atau aku ledakan kepalanya, sama seperti rekan-rekannya yang telah lebih dulu kami bunuh!"


Rama berhenti, lalu meletakan senjatanya.


"Dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya guru yang pemerintah kirim untuk mendidik generasi muda di tempatmu. Dia hanya sedang menjalankan tugas." Rama terus mengajaknya berbicara.


"Ya, seperti halnya juga kau, dan teman-teman aparatmu." pria itu melihat ke setiap sudut hutan. Mewaspadai anggota lain yang mungkin sedang mengawasinya.


"Lepaskan dia, dan menyerahlah." ucap Rama lagi.


"Mundur!" dia mengacungkan senjatanya ke arah Rama.


"Lepaskanlah dia."


"Tidak akan, sebelum kau juga melepaskan teman-temanku."


Rama berpikir sebentar.


"Baik, kau lepaskan dia, dan kami akan lepaskan teman-temanmu."


Pria tinggi itu terdiam.


"Lepaskan dia, dan aku akan melepaskan mereka." ulang Rama, yang menyebabkan pria itu melonggarkan cengkeramannya di leher sanderanya.


Garin dan anggota lainnya tampak bereaksi, namun Rama memberikan isyarat kepada mereka untuk tetap diam di tempat.


"Lepaskan, ..." Rama terus mendekat perlahan.


Dan pada saat pria itu menjauhkan senjata dari sandera, lalu perlahan melepaskan tangannya, dan perhatiannya mulai lengah, Rama segera melompat. Mencengkeram tangannya yang memegang senjata, kemudian mendorong guru perempuan itu agar menjauh, yang segera di selamatkan oleh Junno dan membawanya ke tempat aman.


Sementara Rama bergulat dengan pria muda itu, berebut senjata yang akhirnya bisa dia lepaskan dan di buangnya menjauh.


Mereka saling pukul, saling mengunci, kemudian saling mengalahkan. Yang akhirnya keadaan mampu di kuasai oleh Rama, saat di menit-menit terakhir dia bisa mengambil alih situasi. Bersamaan dengan itu, bantuan terakhir tiba untuk menjemput mereka.


*


*


Aslan berkali-kali melirik jam dinding. Terapinya sudah selesai, namun Rama belum juga muncul untuk menjemput. Padahal biasanya pria itu juga yang menemaninua menemui psikiaternya untuk menjalani terapi. Namun sudah satu minggu sejak terakhir kali mereka bersama, pria itu tidak menampakkan batang hidungnya.


"Sudah ada kemajuan, Bu Kaysa. Kejiwaan Aslan berangsur pulih." ucap sang terapist seraya menunjukkan hasil pemeriksaannya.


"Syukurlah. Tapi Aslan masih belum mau keuar rumah. apa lagi pergi sekolah?" Kaysa tampak lega.


"Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja, nanti lama-lama dia akan bersedia dengan sendirinya. Saya sudah berkoordinasi dengan guru dan kepala sekolahnya, dan mereka faham."


Kaysa tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bagaimana dia dengan tugas sekolahnya?"


"Lancar. Dia bahkan bisa mengerjakannya dengan cepat, dan tidak mengalami kesulitan."


"Itu sudah sangat baik Bu. Berarti yang harus kita usahakan sekarang adalah membiasakannya berbaur dengan orang lain? tapi tidak usah terburu-buru. Kita biarkan Aslan senyamannya sendiri."


"Baik bu."


"Bagaimana perkembangan kasusnya?"


"Saya dengar sudah di tangani pihak perlindungan perempuan dan anak. Dan untuk anak yang lebih besar sudah di limpahkan kepada pihak penanganan kejahatan anak-anak. Selanjutnya belum tahu."


"Setidaknya sudah ada tindakan nyata. Karena dampaknya seperti yang kita lihat, sangat parah untuk Aslan."


"Dan di sinilah tantangannya untuk kita. Karena memulihkan trauma itu lebih sulit dari pada memulihkan luka fisik. Jika penanganannya tidak tepat, maka akan terjadi hal yang buruk."


"Iya,"


"Baik kalau begitu, terapi bisa di lanjutkan minggu depan. Jangan lupa obat untuk Aslan di berikan setiap hari ya?" sang dokter mengakhiri sesi terapi hari itu, dan Kaysa pun segera membawa putranya keluar dari ruangan tersebut.


***


"Om Rama nggak pulang-pulang ya ma?" ibu dan anak itu berjalan bergandengan melewati lorong rumah sakit.


"Mungkin."


"Sibuk ya?"


"Sepertinya begitu. Mama telefon juga tidak aktif."


"Lihat ke rumahnya yuk mah?" Aslan berhenti berjalan.


"Untuk apa?" Kaysa terkekeh karenanya. Dia merasa situasinya akan terasa sangat aneh jika mereka melakukannya.


Bagaimana mungkin dirinya mendatangi rumah pria itu hanya karena satu minggu ini dia tak memberi kabar sama sekali, selain di awal minggu kemarin sebelum keberangkatannya. Yang mengatakan bahwa pria itu akan sangat sibuk untuk satu minggu ke depan, dan di pastika dirinya tidak akan bisa mengabarinya sama sekali.


"Siapa tahu om Rama sakit?" Aslan dengan kepolosannya.


"Tidak. Om Rama sedang bekerja. Nanti juga kalau sudah selesai pasti pulang ke apartemen kita."


"Masa?"


"Biasanya juga begitu."


"Sekarang kerjanya jauh ya?"


"Mungkin."


"Yaudah, kita tunggu di apartemen aja lah kalau gitu." Aslan baru saja melanjutkan langkahnya ketika di saat yang bersamaan dia mendapati pria itu yang sudah berdiri beberapa meter di depan mereka.


"Om Rama!"


"Benarkan kalian ada di sini?" pria itu dengan senyuman khasnya.


"Om kerjanya udah selesai?" Aslan setengah berlari menghampirinya.


"Sudah." Rama menjawab.


"Kok lama? nggak nelefon-nelefon juga? mama nungguin terus setiap hari." anak itu dengan ke luguannya.


"Apa?" Rama melirik ke arah Kaysa yang juga berjalan ke arahnya.


"Mmm ... Aslan lebay, padahal mama cuma ngecek hape." Kaysa mengelak.


"Beneran om, malahan kemarin ngomel-ngomel sambil lihat hape? pas aku tanya kenapa mama ngomel, katanya lagi ngomelin Om Rama yag nggak nelefon mama." adu nya kepada pria itu.


Rama tampak menahan senyum. Rasanya senang juga mengetahui ada yang menunggunya pulang.


"Eee ... Aslan suka sembarangan bicara ya? hehe ..." Kaysa menarik sang putra, kemudian menutup mulut anak itu dengan tangannya.


"Nggak sembarangan, tapi kan benar." Aslan mencoba melepaskan diri.


"Tidak usah di tutupi. Aku senang mendengarnya." Rama tersenyum.


"Soal apa? dia kan cuma asal bicara." Kaysa kembali mengelak.


"Tapi benar." pria itu berucap.


"Terserahlah." Kaysa menggendikkan bahu. namun sedetik kemudian dia mengerutkan dahi ketika meliha wajah pria itu yang tampak lebam. Juga ada beberapa luka gores di pelipis dan sudut bibirnya.


"Kamu kenapa? kecelakaan?" Kaysa mendekat, kemudian menyentuh lebam di wajah Rama.


"Tidak." pria itu menggelengkan kepala.


"Lalu kenapa dengan wajahmu?"


"Hanya mengalami sedikit insiden."


"Insiden apa?"


"Biasa, penangkapan yang agak beresiko."


"Biasa tapi beresiko. apa itu maksudnya?"


Rama hanya terkekeh.


"Sudah di obati?"


"Sudah, kemarin dalam perjalanan pulang."


"Tapi masih begini? ayo kita ke ugd?" Kaysa menarik lengannya, namun Rama bertahan.


"Tidak usah, ini biasa."


"Tapi ...


"Di rumah saja, aku lelah." ucap pria itu yang balik menarik tangan Kaysa.


"Begitu ya?"


"Hmm ...


"Baiklah, ayo kita pulang?"


*


*


*


Bersambung ...


Hehe, udah ngajak pulang aja nih? 😁


terus kapan nikahannya? lama amat, buruan napa? 🙄