
*
*
Alan berjalan memasuki lembaga pemasyarakatan pada sore hari. Setelah berbagai prosedur di jalani, akhirnya mereka memindahkannya ke penjara dengan keamanan maksimum khusus untuk pelaku kejahatan luar biasa.
Terletak di sebuah pulau di tengah laut yang tidak memiliki kemungkinan para penghuninya untuk kabur.
Begitu juga Frans yang berjalan di belakangnya, dengan sebuah kotak berukuran sedang berisi pakaian dan beberapa barang yang akan dia butuhkan nantinya.
Mereka berdiri di tengah-tengah ruangan. Menatap sekeliling bangunan dengan perasaan tidak tentu. Jauh dari segala yang selama ini mereka miliki dan jalani, berpindah ke tempat asing yang tidak pernah di bayangkan.
Dinding usang berwarna gelap dengan suasana hening yang cukup mencekam. Pintu-pintu besi dengan teralis untuk lobang udara yang terturup rapat. Dengan tangan-tangan yang terulur menandakan jika ruangan-ruangan itu sudah berpenghuni.
"Tahanan 506, tahanan 507." Petugas menunjukkan dua ruangan sempit untuk tempat tinggal mereka bertahun-tahun yang akan datang.
Mereka di pisahkan tentu saja, untuk menghindari kemungknan persekongkolan lainnya, dan mengantisipasi hal buruk.
Tidak ada yang bisa Alan dan Frans lakukan selain menurut. Berada di bawah penjagaan ketat dan todongan senjata membuat mereka tak bisa berkutik. Apalagi usaha orang-orangnya yang tak membuahkan hasil apa pun untuk setidaknya meringankan hukuman mereka.
Keluarga bahkan tak mampu melakukan upaya, selain pasrah dan menerima kenyataan bahwa keduanya telah di nyatakan bersalah. Apalagi setelah di ketahui kejahatan lainnya, tentang apa yang mereka laukan kepada Aline dan korban-korban lainnya yang terus berdatangan membuat laporan. Membuat semakin berat saja hukuman bagi keduanya.
Dua pria itu memasuki ruangan Berukuran 2x2 meter tersebut. Udara dingin segera menyergap keduanya begitu mereka menginjak lantai di dalam. Dinding terlihat lembab, namun keadaan di dalam cukup kering.
Sebuah tempat tidur berukuran kecil hanya cukup untuk membaringkan satu tubuh. Beralaskan matras dan selembar kain tipis yang di perkirakan untuk selimut. Dan sebuah lampu kecil menggantung di langit-langit ruangan.
Sementara di sisi ujung terdapat sebuah kloset tanpa penghalang, dan menjadi satu dengan ruang tidur tersebut.
"Renungkanlah segala yang telah kalian lakukan. Dan berdoa semoga mereka memaafkan kesalahan." Petugas di belakang berbicara sebelum akhirnya menutup rapat pintu dan menguncinya rapat-rapat. Lalu meninggalkan mereka di ruangannya sendiri-sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rama tertegun setelah mengantarkan tamu yang tak dia duga. Dua pasang suami istri yang salah satunya dia kenal sebagai orang tuanya Alan.
Banyak hal yang mereka bicarakan, dan beberapa di antaranya mengenai putra mereka yang telah dinyatakan bersalah.
Tidak ada intervensi, karena sudah jelas keputudan hakim mutlak dan tidak dapat di ganggu gugat. Apalagi karena putra mereka sudah di kirim ke penjara kelas satu dengan penjagaan keamanan maksimum.
Hanya pembicaraan biasa, dan ungkapan penyesalan yang orang tua Alan sampaikan. Tangis sedih dan rasa bersalah tentu mereka tunjukkan, mengingat betapa kejinya perbuatan putra mereka. Meski proses hukum tetap berjalan, tapi hubungan kemanusiaan tidak boleh terhalang dakwaan.
Dan kedua orang tua Alan juga Frans memilih berlapang dada untuk menemui Rama, dan menyampaikan perasaan mereka.
"Sangat di sayangkan bukan?" Kaysa muncul dari dalam rumah.
"Ya." Rama menyahut.
"Seharusnya mereka jadi tumpuan harapan keluarga. Tapi nafsu menghancurkan segalanya." Perempuan itu melambai ketika dua mobil tamu mereka membunyikan klakson sebelum akhirnya benar-benar pergi.
"Ya, sayang sekali. Aku akan mempertaruhkam apa pun jika itu bisa membuat orang tuaku kembali, dan kami bisa berkumpul lagi. Sementara orang lain menyia-nyiakan hidup mereka dan melupakan keluarga hanya demi sebuah kesenangan. Hal itu bahkan tidak manusiawi." Rama masih menatap jalanan yang lengang pada lewat tengah hari itu.
"Bersyukur semuanya sudah berakhir, dan semoga tidak terjadi lagi hal seperti ini." Kaysa meraih tangan pria itu, lalu menautkan jari-jari mereka berdua.
"Ya." Rama menoleh kepadanya, kemudian tersenyum.
"Hari ini jadwal check up kandunganku Papa." Kaysa kemudian mengingatkan.
"Oh ya? Kenapa aku sampai lupa?"
"Karena banyak masalah yang terjadi mungkin?"
"Baik, mau pergi ke rumah sakit sekarang?" Tawar Rama kemudian.
"Ya, sudah seharusnya."
"Kalau begitu, ayo kita pergi? Ajak Aslan juga, karena setelah dari rumah sakit kita ke makam Livia."
"Baik."
***
"Usia kandungan sudah memasuki sepuluh minggu. Kondisinya sehat, dan segalanya baik." Dokter menjelaskan keadaan yang dia lihat di layar monitor.
Rama menatap benda tersebut, lalu beralih kepada Kaysa yang berbaring di tempat pemeriksaan dengan sebuah alat memindai perutnya. Kemudian dia tersenyum.
"Ini bahkan sangat baik, mengingat Ibu Kaysa sangat aktif ya?" ucap dokter yang menunjui layar monitor di mana satu titik hitam terlihat.
"Begitulah." Rama menjawab setelah menyimak cukup lama, dan menetralisir perasaannya yang begitu bahagia.
"Mungkin keaktifannya berpengaruh positif pada kehamilan, dan itu bagus. Selama tidak membahayakan ya biarkan saja. Tapi tidak boleh terlalu di forsir ya? Harus berhenti kalau merasakan perbedaan." Dokter berpesan.
"Baik dokter."
"Apa di usia sepuluh minggu bayinya belum bisa di lihat?" Rama yang antusias. Tentu saja, dia tidak tahu mengenai hal itu, dan ini pertama baginya bukan?
"Belum Pak. Belum berbentuk juga, hanya masih berupa gumpalan. Mungkin di usia 16 minggu kita akan bisa melihatnya." jelas sang dokter.
"Begitu ya?" Rama mengangguk-anggukkan kepala. "Saya pikir sudah berbentuk manusia sejak mereka kecil." Pria itu tertawa namun dengan mata yang berkaca-kaca. Perasaannya benar-benar campur aduk sekarang ini.
"Tidak, semuanya berproses sesuai usia kandungan Pak. Kalau ingin tahu Bapak bisa menonton videonya."
"Ada video seperti itu?"
"Ada. Banyak. Bapak bisa cari di You Tube dan mengetikkan nama video yang mau Bapak lihat. Pasti akan ada banyak yang muncul.."
"Begitu? Baik nanti saya coba."
"Ya Pak, itu bagus agar kita tahu bagaimana prosesnya, dan apa saja yang harus di lakukan soal itu."
"Baik dokter."
"Kalau begitu, ini obat, vitamin, dan suplemennya. Diminum seperti biasa ya, sampai habis? Bulan depan kembali lagi." Dokter pun mengakhiri sesi konsultasi pada hari itu.
***
Persinggahan terakhir mereka tentu saja area pemakaman umum, di mana tempat peristirahatan Livia berada.
Mereka terkejut ketika melihat banyak karanga bunga memenuhi pusara sang adik begitu tiba di tempat tersebut. Termasuk beberapa orang juga yang berada di sana yang terlihat memanjatkan doa. Dan beberapa di antaranya bahkan tidak mereka kenal.
Rama lagi-lagi dibuat terkejut dengan hal itu. Orang asing yang bahkan tak dia kenali dengan begitu antusiasnya melakukan banyak hal. Memberikan dukungan, menunjukkan kepedulian yang begitu besar bagi mereka. Betapa rasa empati bisa membuat siapa saja datang mendekat meski mereka tak pernah saling mengenal sebelumnya. Dan itu bagus, membuat hati merasa hangat dan cukup melegakan.
"Lihatlah Liv, semua orang mendoakanmu." Rama bergumam setelah berdoa. Dia menyentuh pusara yang di tumbuhi rumput hijau, menyingkirkan beberapa bunga yang di ketakkan di sana entah sejak kapan. Dan Kaysa berjongkok di sampingnya. Sementara Aslan asyik mengejar kupu-kupu yang beterbangan di sekitar mereka.
"Dan sekarang kita sama-sama tenang. Kakak tidak akan lagi khawatir." katanya lagi.
"Dia tahu." Kaysa memeluk lengan pria itu seraya merapatkan tubuhnya. "Dan sudah seharusnya kamu untuk tidak khawatir lagi."
"Semoga yang kita lakukan ini tepat, dan semuanya berakhir baik." lanjut Kaysa.
"Ya, aku harap begitu." Rama mengamini.
"Papa, kenapa sih di makamnya tante Livia banyak bunga? Emang udah lebaran ya?" Aslan mendekat.
"Tidak."
"Terus kenapa banyak bunga gini? Mana besar-besar lagi?"
"Tadi ada yang berdoa untuk tante Livia."
"Emang kalau doa harus bawa bunga ya?"
"Tidak juga."
"Terus kenapa mereka bawa bunga?"
"Hanya untuk menunjukkan kasih sayang."
"Oo, kalau sayang harus ngasih bunga?" Anak itu bertanya lagi.
"Tidak juga." Rama terkekeh.
"Terus kalau sayang harus ngasih apa selain bunga?"
"Tidak ada, terserah kamu."
"Aku mau ngasih permen aja." Aslan merogoh beberapa butir permen di saku celana, kemudian meletakannya di atas pusara Livia.
"Jangan!" Rama meraihnya kembali.
"Kenapa?"
"Jangan makanan."
"Tadi Papa bilang boleh apa aja?"
"Maksudnya boleh memberi apa saja kepada yang kita sayang. Tapi karena tante Livia sudah meninggal, maka kamu cukup mengirim doa saja. Tidak usah yang lain-lain apalagi makanan."
"Oo ..." Aslan mengambil permen dari tangan ayah sambungnya.
"Sudah sore, kita pulang?" ucap Rama kemudian.
"Ayo?" Kaysa mengangguk, kemudian mereka pun bangkit.
"Tante Livia, aku pulang dulu ya? Minggu depan ketemu lagi." Aslan berucap sebelum mereka meninggalkan tempat itu.
"Lalu apa yang akan aku lakukan setelah ini?" Mereka melewati puluhan makam yang berjejer rapi.
"Kamu masih ada wasancara denganku Pak." Kaysa menjawab.
"Waancara lagi?"
"Ya, dan talkshow juga."
"Apa?"
"Aku belum memberitahumu ya?"
"Soal apa?"
"Aku punya program talkshow sendiri sekarang."
"Benarkah?"
"Iya, jadi aku tidak akan melakuka peliputan ke lapangan lagi. Bukankah itu bagus?"
"Luar biasa!" Rama bereaksi.
"Aku rasa ini ada hubungannya dengan Livia."
"Kenapa begitu?"
"Entahlah, segalanya seperti di permudah sejak aku mencoba menguak kasus ini. Apa kamu tidak merasa?"
"Um ... aku rasa bukan karena Livia, tapi memang sudah jalannya seperti itu, dan Tuhan yang mewujudkannya dengan jalan kamu yang menyelidiki kasus ini. Jangan salah tanggap Kay."
"Ah, ... iya, kamu benar juga."
"Hmm ...
"Eh, cutimu pasih lama kan?" Kaysa berjalan mundur sehingga dia dapat melihat suaminya yang menggenggam tangannya dengan erat.
"Aku rasa masih. Atau aku benar-benar mengundurkan diri saja ya? Rasanya sudah malas juga berhadapan dengan hal semacam ini."
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Sayang. Kalau kamu mengundurkan diri apa masih bisa bertugas di pasukan hantu?"
"Aku rasa tidak, aku sudah bukan lagi aparat."
"Yah, ...."
"Memangnya kenapa?"
"Sudah keren kamu jadi pasukan hantu."
"Tapi kamu akan sering aku tinggal."
"Itu kan sudah resiko sebagai abdi negara."
"Nanti kamu protes lagi kalau aku tinggal bertugas."
"Tidak akan, aku mengerti."
"Serius?"
"Iya."
"Jadi sebaiknya aku melanjutkan tugas?"
"Umm ...."
"Aku akan melanjutkan kalau kamu mengizinkan."
"Ah, tapi terserah kamu saja lah. Kan kamu yang bekerja. Mau lanjut bertugas di kepolisan boleh, berhenti juga boleh. Aku hanya akan mendukung." Kaysa kembali ke sisinya, dan dia merangkul lengan pria itu dengan erat.
"Hmmm ..." Dan Rama hanya tersenyum.
"Papa, habis dari sini kita ke mana?" Aslan menginterupsi percakapan.
"Pulang." Rama menjawab.
"Ke rumah?"
"Iya, ke mana lagi?"
"Mampir dulu ke jagonya ayam boleh?" Bocah itu berujar, kemudian tersenyum memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
"Ke jagonya ayam?"
"Iya, udah lama kita nggak ke sana." Aslan mengangguk.
"Kita pulang saja, mama akan membuat ayam goreng seperti di jagonya ayam." Kaysa menyela.
"Nggak mau, aku maunya ke jagonya ayam."
"Lebih baik di rumah, bisa makan sepuasnya tanpa bayar lagi." Kaysa membujuknya.
"Nggak ah, mau di jagonya ayam." Tolak Aslan.
"Tapi ...."
"Sudah! Kita pergi ke jagonya ayam saja, tidak usah berdebat." Rama menghentikan perdebatan di antara ibu dan anak tersebut.
"Yeayy!!!" Aslan bersorak kegirangan.
"Ah dasar kalian ini sudah sekongkol!" Kaysa mendelik kepada mereka berdua.
"Makanya Mama ikut aja, dari pada kalah." Aslan berujar.
"Apa?"
"Nggak, aku bercanda!" bocah itu berlari ketika sang ibu mencoba meraihnya.
"Aslan!" Lalu Kaysa mengejarnya.
"Hey, kalian jangan begitu. Kita masih di makam dan ini sudah sore!" Rama berteriak.
"Aslan, Kay! Kalian mau di tinggal?" Pria itu sudah menaiki motornya.
"Nggak mauuuu!" lalu Aslan segera berlari, kemudian naik di belakang. Diikuti Kaysa yang melakukan hal sama.
"Ayo Papa, kita ke jagonya ayam!" Aslan berteriak sambil merentangkan sebelah tangannya ke depan.
"Baik, pegangan! Kita akan ngebut!" Rama berujar.
"Emang bisa?"
"Bisa."
"Nggak macet?"
Mereka bertiga terdiam, lalu sama-sama tertawa setelah beberapa saat.
"Kalau begitu jangat ngebut, biasa aja." ucap Aslan kemudian.
"Siap komandan Aslan!"
Kemudian Rama melajukan kendaraan beroda duanya, keluar dari area makam menuju ke sebuah tempat yang sudah di sepakati. Mengulang kebersamaan sebagai keluarga, membuat mereka menjadi semakin dekat setiap harinya. Dan hari-hari itu terus berlanjut tanpa bisa tergantikan oleh apa pun yang ada di dunia.
Sebagai keluarga, sebagai pribadi. Teman, sahabat, orang tua dan anak, dan mereka saling memiliki satu sama lainnya.
Setelah begitu banyak kehilangan, perpisahan, tragedi dan berbagai masalah yang datang silih berganti, semoga hanya kebahagiaan saja yang tersisa untuk mereka.
*
*
*
TAMAT.
Nah gaess, kita udah sampai di ujung cerita. Semoga kalian nggak kecewa dengan endingnya.
Otor sadar masih memiliki begitu banyak kekurangan. Maka dari itu, otor minta maaf kalau nggak sesuai dengan harapan kalian.
Tapi kalian tetap reader paling amazing sejagat noveltoon. Terimakasih atas segala dukungan, like, komen, hadiah dan vote yang selama ini kalian kirimkan. Itu benar-benar sangat berarti.
Tinggalkan komen untuk di undi nanti di awal bulan ya. Ada lima kaos KOPPASUS AND ME, dan pemenangnya akan di umumkan di ig @tiyanapratama di bulan Agustus nanti.
See you di karya selanjutnya, lope lope sekebon Korma 😘😘
jan lupa mampir ke novel kang Dudul ya