Kopassus And Me

Kopassus And Me
Balada Testpack



*


*


Satu minggu kemudian ...


"Ada tugas lagi?" Kaysa menghampiri Rama yang tertegun di depan lemari, menatap pakaian dinasnya yang tergantung rapi sejak dua minggu belakangan.


"Tidak." Pria itu menarik sehelai kaus kemudian mengenakannya dengan cepat.


"Aku rasa mereka tidak akan memberikanku tugas untuk waktu yang cukup lama." lanjutnya, dan dia segera merapikan penampilannya.


"Kenapa?"


"Kamu tidak ingat apa yang sudah aku lakukan? menembak dua anggota polisi di kantor itu melanggar kode etik, apa lagi salah satunya adalah atasanku. Sudah pasti aku terkena sanksi. Belum lagi kasus ini yang masih dalam tahap penyelidikan lebih dalam. Dan masih banyak lagi yang harus aku urus."


"Lagi pula saat ini aku sedang berpikir, ..." Rama menjeda kata-katanya.


"Mungkin sebaiknya aku berhenti saja."


"Apa? berhenti?"


"Ya."


"Kenapa berhenti?"


"Kamu tahu, setelah semuanya terbongkar aku jadi merasa kalau apa yang aku dapatkan selama ini ternyata palsu."


Kaysa mengerutkan dahi.


"Pangkat, hadiah, misi, ... dan semua penghargaan itu ...


"Kamu bekerja sangat keras untuk itu." tukas Kaysa.


"Ya, tapi semuanya sudah di atur agar aku melakukannya. Jadi, apakah itu semua pantas aku dapatkan?"


"Tentu saja pantas. Kamu sudah berjuang melawan apa yang membahayakan negaramu, bahkan dari mereka yang telah mengaturnya. Bahkan lebih dari itu, kamu mempertaruhkan nyawa dalam melakukannya."


"Tapi tetap saja aku merasa jika ini semua palsu." Rama mundur, kemudian duduk di ujung ranjang.


"Setelah tahu semua kebohongan ini, aku merasa jika semua yang aku lakukan sia-sia."


"Ram, ... tidak ada yang sia-sia. Apakah kamu tidak menyadari bahwa hal itulah yang justru mengantarkanmu mengungkap siapa dalang di balik kematian Livia, walau mungkin maksud mereka sebenarnya tidak seperti itu?"


Rama terdiam.


"Aku yakin, apa yang mereka lakukan kepadamu, selain untuk membuatmu sibuk tapi juga dengan sengaja ingin membuatmu terbunuh. Mengingat sangat berbahayanya misi-misi itu. Sehingga kasus Livia akan benar-benar tidak tarungkap. Tapi ternyata perkiraan mereka salah. Orang-orang itu tidak memikirkan adanya kehendak bebas dari kehidupan."


"Kehendak bebas?"


"Ya, kehendak bebas. Kehidupan akan menemukan jakannya sendiri. Entah seberapa sempurna kamu menyusun rencana. Entah seberapa baik rencana itu di jalankan. Tapi kehendak bebas akan merubah segalanya dengan tiba-tiba. Tahu-tahu kamu keluar dari jalur yang padahal telah kamu buat sendiri."


Rama menatap wajah perempuan di sampingnya.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Manusia hanya berencana, dan Tuhan yang menentukan. Kita mau hitam, tapi Tuhan maunya hidup kita berwarna. Lalu kita bisa apa?"


"Ingat, di atas langit masih ada langit. Mereka merasa bisa mengatur semuanya, tapi mereka tidak sadar bahwa tidak segala hal akan sesuai rencana. Tapi hal yang mereka jalankan malah membawamu bisa mengungkap banyak kasus. Bahkan melenyapkan penjahat paling di cari di dunia. Seharusnya kamu mendapat penghargaan."


"Penghargaan?"


"Ya, dunia seharusnya berterimaksi kepadamu karena sudah melenyapkan salah satu bahaya yang mengancam, tapi sayang jerih payahmu tidak di anggap."


"Aku melakukannya bukan untuk mendapat penghargaan, tapi untuk menyelamatkan Aslan, ingat?"


"Ya, tapi setidaknya kamu mendapatkan apresiasi karena itu. Nyawamu sangat berharga, tahu?"


"Kenapa ya, kata-katamu bijak sekali?" Rama kemudian terkekeh.


"Ish, kamu ini!" Kaysa memutar bola matanya.


"Serius Kay, tapi ucapanmu memang benar." Lalu dia tertawa.


"Uuhh, bijak sekali istriku ini." Rama merangkul pundaknya, kemudian mendekatkan wajah untuk menciumnya.


"Stop pak, sudah siang. Bukankah kita harus menjemput Aslan? nanti kalau kita berdekatan terus seperti ini, malah kebablasan." Kaysa menahan wajah Rama dengan tangannya.


"Cuma mau cium sedikit Bu." Rama menarik tangan Kaysa dari wajahnya.


"Nanti malah keenakan?"


"Tidak akan, cuma sedikit."


"Yang sudah-sudah seperti itu? niatnya cium sedikit tapi malah keterusan."


Rama hanya tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hari ini Maira nggak sekolah." Aslan menyadarkan kepalanya ke belakang. Dia menatap jalanan yang ramai pada hampir tengah hari itu.


"Kenapa?" Rama melihatnya lewat kaca spion.


"Nggak tahu."


"Memangnya dia tidak bilang? atau mungkin sakit."


"Ibu guru malah tanya sama aku."


"Berarti dia bolos?"


"Mungkin." lalu Aslan terdiam.


"Ini kalian sedang membicarakan siapa sih? Maira itu siapa?" Kaysa menatap anak dan suaminya bergantian.


"Maira, teman sebangkunya Aslan."


"Perempuan?"


"Ya masa laki-laki namanya Maira?" jawab Aslan sekenanya.


"Maksud mama, kok Aslan duduknya dengan anak perempuan?"


"Nggak tahu, ibu guru yang suruh. Maira kan baru pindah."


"Ooo, anak baru?" Kaysa mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya, sama kayak aku."


"Kamu kan bukan anak baru."


"Aku anak baru Mama, baru masuk lagi." bocah itu tertawa.


"Eh, Papa Radit udah sembuh belum ya? aku belum ketemu lagi, udah lama?" Aslan teringat kepada ayahnya yang memang sudah lama tak dia temui.


"Tidak tahu, kamu mau lihat?" Rama melirik ke arah Kaysa yang terdiam.


"Mau mau, boleh?" Anak itu dengan mata berbinar.


"Boleh, kenapa tidak boleh." Rama membelokkan mobilnya ke arah jalan yang dia ketahui.


"Apa tidak sebaiknya kamu telefon dulu? mungkin dia masih di rumah sakit?" Kaysa menginterupsi.


"Tidak, dia mengabari jika sudah pulang sejak seminggu yang lalu. Bersamaan dengan kepulangan kita ke rumah lama." Rama menjawab.


"Kalian saling mengabari ya?" Kaysa menatap curiga.


"Begitulah."


"Huh, akurnya ...


"Baguskan? memang sebaiknya seperti itu. Kita harus menjalin hubungan baik dengan siapa pun."


"Hubungan baik apanya?" Perempuan itu menggumam.


"Sudah aku katakan untuk tidak menyimpan dendam, tidak baik." Rama mengingatkan.


"Aku tidak dendam. Kenapa juga harus dendam?" Kaysa mendelik. "Terserah kalian sajalah."


Rama hanya tersenyum, tidak ingin memperpanjang perdebatan karena akan mempengaruhi mood perempuan itu kepadanya.


Rumah besar dengan arsitektur megah itu berdiri kokoh di tengah perumahan elit Jakarta. Dan gerbangnya segera terbuka begitu Rama menghentikan mobilnya di depan.


"Dulu kamu tinggal di sini?" Rama menatap takjub bangunan mewah tersebut.


"Begitulah, ..." Kaysa tampak acuh.


"Pantas saja Kristina dengan beraninya merebut Radit darimu, keadaannya se wah ini." Pria itu bergumam, sementara Kaysa hanya mendengus kasar.


Mengapa juga aku mau-maunya di ajak datang ke rumah ini ya? batinnya.


"Selamat siang Bu?" Penjaga keamanan langsung mengenali Kaysa.


"Siang Pak. Bapak ada?" Kaysa bertanya.


"Ada Bu, sudah menunggu dari tadi." jawabnya, yang melirik ketika Aslan membuka kaca belakang.


"Baik kalau begitu."


"Silahkan Bu." kemudian mobil pun bergerak kedalam.


***


"Papaaaaa!!!" Aslan setengah berlari begitu melihat Radit menyambutnya di teras.


"Aslan, kamu baik-baik saja?" Sang ayah merentangkan tangannya, dan segera anak itu menghambur ke pelukannya.


"Papa udah sembuh? udah nggak apa-apa?" Aslan membingkai wajah ayahnya, dan memeriksa keadaannya.


"Papa sudah baikan." Radit menjawab.


"Tapi pakai kursi roda. Papa nggak bisa jalan?" Aslan menatap keadaan ayahnya saat itu.


"Bisa. Tapi kadang suka pusing kalau berdiri lama-lama." Radit menjawab.


"Ooo, ..." Aslan mengangguk-anggukkan kepala.


"Bagaimana keadaanmu Ram?" Pria itu tiba-tiba saja menyapa mereka. Terutama Rama.


"Sudah lebih baik."


"Syukurlah, dan perkembangan kasusnya?"


"Masih berjalan."


"Aku harap lancar-lancar saja," ucap Radit, yang membuat dua orang di depannya mengerutkan dahi, kemudiam mereka saling pandang. Karena tidak biasanya pria itu bersikap ramah kepada mereka.


"I-iyaa, ... semoga." Rama mengusap tengkuknya sendiri.


Kenapa ini terasa agak menyeramkan ya? Dia terkekeh dalam hati.


"Lalu bagaimana denganmu?" Radit beralih kepada Kaysa yang berdiri di belakang suaminya.


"Aku dengar beberapa kantor berita menawarkan pekerjaan kepadamu?" tanya mya kemudian.


"Soal itu ... belum terpikirkan Mas." Kaysa menjawab.


"Kenapa?" Tiba-tiba saja mantan suaminya itu banyak bertanya.


"Masih banyak yag harus di urus, belum lagi harus meyesuaikan dengan sekolahnya Aslan. Aku tidak mau sampai kurang memperhatikannya."


Radit mengangguk-anggukkan kepala.


Sepertinya kejadian kemarin menghantam otaknya dengan keras? batin Kaysa bermonolog.


"Aslan sudah datang?" Seorang perempuan paruh baya muncul dari dalam rumah.


"Nenek!" Aslan segera beralih kepadanya.


"Uuhhh, cucu nenek akhirnya datang juga? sudah nenek tunggu-tunggu lho?" dia memeluk Aslan dengan penuh kasih sayang.


"Masa?"


"Iya."


"Kan akunya sekolah dulu."


"Oh iya? kamu sudah kembali sekolah?"


"Udah dong."


"Sudah tidak takut lagi?"


"Nggak, sekarang aku udah berani."


"Benarkah?"


"Beneran."


"Syukurlah, ... nenek senang mendengarnya." dia kembali memeluknya.


"Nenek kok ada disini? nginep ya?"


"Iya dong, kan papamu sedang sakit. kasihan kalau di biarkan sendirian."


Aslan melihat ke dalam rumah.


"Lihat apa? kakek tidak ada, sedang ke kantor menggantikan papamu."


"Bukan." Aslan menggelengkan kepala.


"Tante Galak tidak ada?"


"Tante Galak?"


"Maksudnya Kristina Bu." sambung Kaysa.


"Oh, ... tidak tahu. Nenek tidak pernah bertemu."


"Berarti nggak ada dong?"


"Iya, tidak ada."


"Asik!" Aslan bergumam pelan.


"Ee, ... terimakasih Bu, kami buru-buru." Kaysa menahan lengan Rama yang hendak mengikuti tuan rumah masuk ke dalam.


"Buru-buru mau ke mana? baru saja kalian sampai?" sang mantan mertua bereaksi.


"Mau ke, ... rumah sakit. Ya, ke rumah sakit." Kaysa menjawab sekenanya.


"Siapa yang sakit?"


"Tidak ada hanya saja ..." Kaysa berpikir, kira-kira alasan apa yang masuk akal ya?


"Tapi jangan bawa Asla ya? biarkan dulu dia di sini. Sudah lama kami tidak bertemu."


"Umm, ... baik bu." Kaysa mengangguk.


"Kalau boleh ibu mau dia menginap, bukankah besok sudah libur?"


"Begitu ya?"


"Ya, Aslan? mau ya, menginapa dengan nenek?"


Anak itu menatap wajah ibunya.


"Boleh nggak Ma?" Dan dia bertanya.


"Umm, ..." Kaysa berpikir sebentar, hingga akhirnya Rama memberi isyarat untuk menyetujuinya.


"Baiklah, tapi Minggu sore kami jemput lagi ya?" Kaysa akhirnya memberi izin.


"Yeayyy!!" Aslan berjingkrak kegirangan.


"Baiklah, kalau begitu kami pergi Bu?" Dia pun berpamitan.


"Baik, terimakasih Kay."


Kemudian keduanya kembali ke dalam mobil. Sementara tiga orang di teras mengantar kepergian mereka dengan pandangan.


"Memangnya mau apa kita ke rumah sakit?" Rama memulai percakapan setela mereka keluar dari area rumah besar itu.


"Tidak ada." Kaysa menjawab.


"Lalu kenapa kamu bilang mau ke rumah sakit?"


"Cuma alasan." Perempuan itu tertawa.


"Dasar! Aku pikir karena sudah waktunya di kb?"


"Kb?" Kaysa mengerutkan dahi.


"Iya, jangan bilang kamu lupa ya?" Rama tergelak.


"Sebentar." Kaysa memeriksa beberapa jadwal di ponselnya.


"Astaga!" Dia menepuk kepalanya sendiri.


"Kenapa?"


"Aku lupa."


"Benarkah? hahaha ..." Kemudian Rama tertawa.


"Jadi bagaimana?" Kaysa merebahkan kepalanya pada sandaran kursi.


"Tidak bagaimana-bagaimana." Rama melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang.


Perempuan itu terdiam.


"Berapa lama?"


"Apanya?"


"Masa kbnya terlewat?"


"Entahlah, dua minggu?"


"Benarkah?"


Kaysa menganggukkan kepala.


"Itukan kb untuk satu bulan, dan ini sudah lewat. Dan seharusnya aku sudah datang bulan kan?"


Rama mengatupkan bibirnya kuat-kuat.


"Bagaimana kalau misalnya aku sudah hamil?" Perempuan itu bereaksi.


"Ya tidak apa-apa, memangnya kenapa?"


Kaysa terdiam lagi.


"Jadi, mau ke rumah sakit atau pakai alat tes sendiri saja?"


"Menurut kamu bagaimana?"


"Entahlah, aku belum berpengalaman soal ini, jadi tidak terlalu mengerti harus bagaimana. Nah, kamu dulu waktu Aslan bagaimana?"


"Aku ... tahu-tahu sudah empat bulan, itu pun karena pingsan setelah bertengkar dengan Mas Radit karena memergoki dia bermesraan dengan Kristina."


"Duh?"


"Ya sudah, kamu beli alat tes saja ke apotik ya? nanti kalau positif kita ke rumah sakit."


"Alat tes kehamilan?"


"Iya."


"Aku yang beli?" Rama menunjuk wajahnya sendiri.


"Ya iya, masa aku minta Mas Radit?"


Pria itu mencebikkan mulutnya.


"Atau di mini market saja, tuh di depan." Kaysa menunjuk plang besar bertuliskan mimimatket terkenal, yang kemudian membuat Rama membelokkan mobilnya.


"Aku tunggu di sini ya? kamu beli sendiri. Bisa kan?" Kaysa dengan senyum lebarnya.


"Tidak mau beli sesuatu gitu? cemilan misalnya? kamu kan suka makan?"


"Di rumah masih banyak."


Rama mendengus keras. Dia kemudian mengenakan kaca mata hitamnya sebelum turun.


"Kamu yakin tidak mau ikut ke dalam? siap tahu mau membeli sesuatu?" tawarnya lagi sebelum pergi.


"Tidak, nanti aku mau belanja banyak. Sayang uangnya." Perempuan itu tertawa pelan.


"Baiklah." Akhirnya Rama mengalah. Dia bergegas masuk ke dalam mini market tersebut meski hatinya sedikit dongkol.


"Selamat siang, silahkan Bapak, ada yang bisa di bantu?" Pelayan mini market segera menyambut begitu dia berada di dalam.


"Saya butuh ..." Rama mengingat apa namanya.


"Alat tes kehamilan." katanya setelah ingat.


"Baik Pak. Mau yang bagus atau yang biasa?"


"Bedanya apa?"


"Tidak ada sih, hanya mereknya saja yang berbeda."


"Memangnya ada berapa merk?"


"Banyak. Bapak mau pilih yang mana?" Gadis itu menunjukkan macam-macam alat tes kehamilan yang ada di etalase di belakangnya.


"Yang bagus yang mana?"


"Sama saja Pak."


"Terus kenapa harus di bedakan yang bagus dan yang biasa? membuat bingung saja?" Rama menggerutu.


"Eee ... soal itu ...


"Beli masing-masing satu, siapa tahu semuanya berguna." ucap Rama kemudian.


"Maaf Pak?"


"Saya beli masing-masing satu dari semua merk."


Pelayan tersebut hanya melongo.


"Hey! ayo cepat? tunggu apa lagi?" Pria itu menjentikkan jarinya.


"Oh, iya Pak, iya." si pelayan segera melakukan apa yang Rama perintahkan.


"Ini Pak, semuanya 250 ribu." pelayan menyerahkan bungkusan kecil berisi beberapa macam alat tes kehamilan tersebut.


"Baik." Rama segera mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dan satu lembar yang berwarna biru, kemudian pergi.


"Kayak pernah lihat, tapi di mana ya?" gadis itu memperhatikannya hingga dia kembali ke mobilnya.


"Kayak polisi di berita!" katanya, lalu kembali pada pekerjaannya.


***


"Cuma beli ini?" Kaysa menerima bungkusan testpack di tangannya.


"Kan kamu cuma menyuruh membeli itu saja?" jawab Rama, dan dia kembali menghidupkan mesin mobilnya.


"Beli minuman kek sebotol, aku kan haus." protes Kaysa.


"Kamu tidak bilang?"


"Memangnya kamu tidak haus apa? Jakarta segini teriknya?"


"Haus, tapi sebentar lagi sampai rumah, aku mau minum yang lain." mobil yang mereka kendarai bergerak keluar.


"Terus ini kamu beli apa saja? kok sepertinya banyak sekali?" Kaysa melihat isi bungkusan itu.


"Alat tes kehamilan, seperti yang kamu suruh beli."


"Kok banyak sekali? kamu belinya berapa biji?"


"Sepuluh."


"Apa?" Kaysa setengah berteriak.


"Kenapa suaramu keras sekali?"


"Kenapa kamu belinya banyak sekali?"


"Memangnya harus beli berapa?"


"Satu saja cukup, atau dua."


"Aku tidak tahu harus memilih yang mana, jadinya aku minta satu dari masing-masing merk yang ada."


"Apa?"


"Suaramu, Kay!"


"Habisnya kamu beli ini terlalu banyak!"


"Ya mana aku tahu soal seperti itu? kamu tidak bilang harus beli berapa dan merknya apa?"


"Semuanya sama saja. Satu atau dua saja cukup Ram."


"Sudah aku bilang kan aku tidak tahu."


"Huuh. ... mana ini beberapa merk mahal lagi? berapa semuanys?" Kaysa menarik beberapa di antaranya yang dia ketahui berharga cukup mahal.


"250 ribu."


"Apa?"


"Ish, Kay! jangan teriak-teriak!"


"250 ribu untuk tespack saja? kamu ngarang ya?"


"Ck! Lihat saja struknya."


"Maksud aku, kamu mengeluarkan 250 ribu hanya untuk beli testpack saja? pemborosan!"


"Sudah aku katakan tadi kan? ..


"Makanya, kalau apa-apa itu tanya dulu. Ini langsung pergi saja? sayang kan uang segitu. Padahal kalau aku yang belanja bisa beli beberapa macam makanan itu?"


"Ya kenapa kamu tidak beli sendiri tadi?"


"Aku pikir kamu mengerti."


"Sudah aku katakan, aku tidak mengerti hal seperti ini!"


"Ya makanya tanya, biar kamu mengerti."


Rama menarik dan menghembuskan napasnya pelan sambil memutar bola matanya.


Masalah. batinnya.


*


*


*


Bersambung ...


Hadeh, ... masalah gitu aja bikin ribut ya pak? 😅😅


biasa like komen sama hadiahnya


lope lope sekebon korma 😘😘