Kopassus And Me

Kopassus And Me
Extrapart #1



*


*


Rama keluar dari set setelah front director memberi isyarat kepadanya. Begitu dia menyelesaikan sesi wawancara pada acara talkshow siang di gedung CTNEWS yang dipandu oleh Kaysa.


Dengan mengenakan celana panjang dan kemeja berwarna hitam yang bagian lengannya digulung sebatas sikut menjadikannya tampak lain dari biasanya.


Tentu saja, hal itu hasil dari Kaysa yang ikut menata penampilannya sejak mereka tiba di tempat itu beberapa saat sebelum acara dimulai.


"Terima kasih sudah memenuhi undangan kami." Pihak stasiun tivi menjabat tangannya untuk bersalaman.


"Terima kasih kembali." Rama pun menjawab, dan beberapa orang lainnya pun melakukan hal yang sama.


"Mau menunggu sebentar lagi? Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Beberapa evaluasi, dan mungkin memperbaiki sesuatu." Kaysa datang menghampiri setelah menutup acara di episode pertamanya pada lewat tengah hari itu.


"Berapa lama?"


"Mungkin sekitar satu atau dua jam."


Pria itu menatap jam di pergelangan tangannya.


"Kalau aku pergi dulu ke suatu tempat tidak apa-apa? Ada hal yang harus aku selesaikan juga," katanya.


"Ke mana?"


"Kantor polisi. Aku harus memberikan keterangan untuk kasus suap Pak Fandi."


"Oh, ... berapa lama?"


"Tidak tahu, bisa dua jam atau lebih. Tapi kalau ternyata lebih lama tidak apa-apa kamu pulang sendiri?"


"Baiklah, ... tidak apa-apa."


"Tapi bagaimana dengan Aslan?" Kemudian Rama teringat dengan anak sambungnya.


"Sudah aku titipkan Andini, nanti dia yang akan memgantarkannya ke sini."


"Andini?" Rama mengerutkan dahi.


"Mamanya Maira."


"Duh, sudah kenal dengan mamanya Maira?" Pria itu terkekeh.


"Tidak sengaja, waktu aku mengantarkan Aslan minggu lalu. Dia yang mengenalkan dirinya sendiri."


"Oh, ...." Lalu Rama mengangguk-anggukkan kepala.


"Ya sudah, sana cepat pergi, biar kamu cepat pulang juga."


"Baiklah, aku pergi dulu." Pamit pria itu, kemudian dia pergi.


***


Rama tiba di kantor polisi pusat tanpa mrmakan waktu lama. Kebetulan gedung CTNEWS berada tidak terlalu jauh dari tempat itu, dan dia segera masuk setelah memarkirkan Honda Mega Pro hitamnya di antara kendaraan lain yang ada.


Dia masuk bersamaan dengan beberapa orang yang keluar. Di antaranya sangat dia kenal. Tentu saja, sahabat sang ayah yang begitu mereka percaya untuk menjadi tempat bersandar selama ini.


Dia menghentikan langkah sehingga mereka berhadapan. Rama menatap wajah pria setengah abad yang keadaannya kini tampak tak terlalu baik. Dia pasti melewati hari-hari yang sulit selama beberapa minggu belakangan.


Harus menerima dakwaan bersalah atas persekongkolannya dalam kasus kematian Livia, yang menyebabkannya harus mendekam di penjara selama dua puluh tahun. Dan kini harus menjalani pemeriksaan, yang kemudian nantinya akan di lanjutkan dengan persidangan atas kasus suap yang melibatkan beberapa petinggi POLRI dan gembong mafia internasional yang telah dia lenyapkan sebelumnya.


Namun akhirnya Rama memilih untuk menyingkir. Dia tak ingin terbawa suasana setiap kali mengingat awal mula kejadian nahas yang menimpa adiknya. Meski berkali-kali dia sudah menyatakan ikhlas, namun tetap saja hatinya tak bisa berbohong.


Dia masih berandai-andai, jika saja Fandi mencegahnya waktu itu, maka Livia masih ada hingga sekarang. Tapi tetap dirinya menegaskan jika itu adalah takdir yang tak dapat mereka hindari, sekedar untuk menahan kemarahan yang selalu menyeruak setiap kali dia mengingatnya.


"Rama?" Fandi memanggil. Dengan suara parau dan sedikit bergetar.


Rama kembali meghentikan langkah, kemudian memutar tubuh. Dia juga melihat Fandi melakukan hal yang sama.


Pria itu menatapnya dengan raut yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.


"Maaf." Kemudian kata itu meluncur dari mulutnya.


Rama tidak merespon.


"Untuk segalanya," lanjut Fandi, dan kedua bahunya mulai bergetar. Penyesalan jelas sudah menguasai dirinya setelah berada dalam keadaan seperti ini.


Rama maju dua langkah sehingga kini jarak mereka cukup dekat. Dia menghirup udara sebanyak mungkin untuk menetralisir rasa sesak, lalu menghembuskannya pelan-pelan untuk melepaskan perasaan marah yang kian memenuhi dada.


"Anda tahu, saat ini saya hanya ingin melakukan apa yang pantas untuk manusia seperti Anda. Dan apakah hal yang pantas itu?"


Mereka berdua terdiam.


"Melakukan hal sama seperti yang Livia alami karena keacuhan Anda."


"Seharusnya Livia sedang kuliah kedokteran saat ini. Lalu menjalani praktek di rumah sakit atau di perkampungan seperti yang di impikannya. Tapi semuanya harus terhenti karena tidak adanya empati dalam diri Anda."


"Seharusnya Livia dapat mewujudkan mimpinya menjadi dokter dan menolong banyak orang dengan keahliannya. Tapi itu harus pupus karena keserakahan Anda yang hanya mementingkan uang."


"Tapi ketahuilah Pak, mimpi kami tidak akan pernah putus hanya karena orang-orang seperti Anda, dan kami tidak akan membiarkan apa pun terjadi lagi pada hidup kami. Sedangkan Bapak akan menghabiskan sisa hidup di dalam penjara, dan memetik hasil dari apa yang anda jalani selama ini."


"Kebaikan Anda kepada keluarga kami tidak akan saya lupa, tapi cara pandang saya kepada Anda berubah setelah apa yang anda lakukan. Hanya Tuhan yang dapat mengampuni, dan kekuasaanNya lah yang dapat menolong Anda. Saya hanya manusia biasa yang memiliki perasaan dan dendam yang tidak mungkin dapat di hilangkan dalam waktu dekat." Perkataan Rama menohok ego Fandi secara bertubi-tubi. Membuatnya kehilangan kata-kata.


"Semoga Anda tidak mengalami apa yang saya alami." Lalu dia berbalik.


"Rama!" Fandi kembali memanggil, namun Rama sudah tak berniat menggubrisnya sama sekali. Dia memilih untuk abai dan segera menyelesaikan beberapa urusannya hari ini.


***


"Jadi kapan kau akan kembali bertugas?" Bagas memanggilnya begitu dia menyelesaikan kepentingannya di ruangan lain.


"Saya tidak tahu." Rama segera menjawab.


"Sebaiknya segera kau putuskan, karena negara sedang membutuhkanmu."


Pria itu berpikir.


"Saya rasa ... mungkin sebaiknya saya benar-benar mengundurkan diri saja Pak. Saya sudah tidak yakin lagi ...." Dia menggeleng pelan dengan pandangan tetap tertuju kepada atasan barunya tersebut.


"Kau tidak yakin lagi dengan lembaga ini?" Bagas menegakkan posisi tubuhnya.


Rama mengatupkan mulut kemudian kembali menggelengkan kepala.


"Lalu bagaimana orang-orang akan yakin?" Lalu Bagas berdiri seraya berjalan memutar, dan dia berhenti tepat di depan jendela besar yang sengaja dibuka agar mampu membuatnya melihat pemandangan kota Jakarta yang begitu sibuk.


"Bagaimana orang-orang akan yakin jika aparatnya sendiri tidak merasa yakin?" Kemudian Bagas memutar tubuh.


"Apa yang akan mereka lakukan? Kepada siapa akan meminta perlindungan ketika sesuatu terjadi dan tak ada yang bisa menangani?"


"Masih banyak orang-orang sepertimu. Yang memiliki motivasi yang sama, dan pemikiran yang sama pula. Lalu mengapa kau malah mau menyerah?"


"Saya tidak menyerah Pak, saya hanya ...."


"Lelah, pasti. Bosan, juga pasti semua orang merasakan. Putus asa dengan keadaan, aku juga pernah mengalaminya. Tapi menyerah? Tidak boleh terjadi. Kau mungkin hanya perlu waktu."


Rama kini terdiam.


"Tidak apa-apa, tapi jangan biarkan negara menunggu terlalu lama dikuasai orang-orang tidak bertanggung jawab seperti Fandi dan rekan-rekanmu yang sudah kami berhentikan secara tidak hormat."


"Kami membutuhkan perwira sepertimu." Lalu suara yang sangat dia hafal muncul di belakang.


Bima Sakti yang datang bersama ajudannya, diikuti beberapa orang yang tentu dia kenal juga. Siapa lagi kalau buka rekan-rekannya di Pasukan Hantu?


"Kalian bercanda?" Rama bereaksi.


"Keamanan negara ada di pundak kita, lalu kau mau kabur begitu saja dan membiarkan kami melakukannya sendiri?" Adam maju dengan gayanya yang dingin dan datar seperti biasa.


"Banyak pasukan lain dan kalian tidak membutuhkan aku." Pria itu berujar.


"Siapa bilang?" Garin juga ikut maju.


"Kami tidak akan bekerja tanpa kehadiran pimpinan." lanjutnya, dan dia menyodorkan rompi anti peluru yang minggu lalu Rama kirimkan ke markas.


"Lalu pilihlah lagi."


Ketujuh pria di dekat Bima Sakti menggelengkan kepala, dan Garin belum merubah posisi tangannya.


"Hanya kau pimpinan kami. Ketua geng Pasukan Hantu yang tidak tertandingi kegilaannya. Dan kami sangat membutuhkanmu." Garin kembali berucap, kemudian mereka tertawa.


"Anda menggunakan mereka untuk membujuk saya Pak?" Rama beralih kepada Bagas.


"Hmm ... kita sebut saja begitu ...." Sang atasan menjawab.


"Jadi, kembalilah ke kesatuan, dan jalankan tugasmu seperti biasa." Bima Sakti mendekat.


"Dan saya tetap di Pasukan Hantu?"


"Tentu saja, memangnya apa yang kau harapkan? Hanya duduk-duduk saja di bagian laporan masyarakat sementara negara di serang penyusup?" Garin mejawab.


"Kau tahu, pengedar narkoba semakin merajalela, geng motor semakin nekat, dan perampok kekayaan negara semakin berani saja. Kau pikir siapa yang akan melenyapkan mereka?" Garin setengah melemparkan rompi anti peluru ke pangkuan Rama.


"Atau kau mau berdiam diri saja sementara negaramu hancur dari dalam? Itu yang akan kau lakukan? Kau tega! Bagaimana anak dan cucumu akan hidup nanti jika sekarang saja lingkungan kita sudah tidak aman?" Garin semakin berapi-api.


"Kau berlebihan!" Rama mencibir.


"Tidak ada yang berlebihan setelah kau jadi anggota pasukan hantu. Segalanya kini terasa masuk akal."


"Contohnya?"


"Kekacauan demi kekacauan yang terjadi, dan segala macam yang dulu terasa tidak masuk akal. Kini aku tahu kenapa semuanya terjadi. Itu hanyalah skenario ...." Namun Junno segera membekap mulut Garin untuk menghentikan ocehannya.


"Kau terlalu banyak bicara, bodoh!" gumamnya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membuat pria ini kembali bertugas? Kalian ini plin-plan!" Protes Garin kepada rekannya tersebut.


"Hah, kau ini, mencoreng nama baik pasukan hantu yang garang dan menakutkan." Adam menyahut.


"Maksudmu?" Garin mengerutkan dahi.


"Kau terlalu cerewet!"


"Hey, aku sedang berbicara tahu!"


"Ya, dan kau terlalu banyak bicara!" Junno dengan raut kesal.


"Kau lihat? Seperti itulah keadaannya jika mereka tanpa pemimpin. Kacau, dan penuh dengan keributan." Bima Sakti memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa nyeri, sementara Rama hanya tertawa pelan.


"Jadi bagaimana?" Junno kembali berbicara.


"Entahlah, ... keadaannya sekarang benar-benar sulit. Apalagi Kaysa sedang mengandung, jadi ...."


"Tidak apa-apa, bukan kau kan yang mengandung lalu melahirkan? Jadi aku rasa tidak ada masalah dengan itu. Tugasmu tidak akan terganggu karena rengekan bayi." Garin kembali ikut bicara.


"Bukan itu bodoh!" Adam menepuk kepalanya. Kali ini dia benar-benar dibuat kesal oleh rekannya yang satu itu.


"Jomblo sepertimu mana mungkin mengerti!" Junno menimpali.


"Apa hubungannya dengan status? Bukannya jomblo itu lebih baik? Aku tidak repot karena rengeken perempuan dan anak kecil, dan itu hebat."


"Astaga!" Adam tampak mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kau ini!" Junno pun terlihat kesal.


"Sudah sudah, baiklah jangan berdebat lagi!" Kemudian Rama bereaksi.


"Apa?" Semua orang mengalihkan perhatian kepadanya.


"Baik, aku akan kembali bertugas."


"Benarkah?" Rekan-rekannya antusias.


"Ya, dengan satu syarat."


"Apa?" Bima Sakti menjawab.


"Jangan melakukan panggilan darurat di jam-jam tertentu." Pria itu bangkit dari kursinya.


"Maksudmu?"


"Jangan mengganggu waktu yang seharusnya tidak di ganggu."


"Kau ini bicara apa? Mana ada panggilan darurat bisa di tentukan? Dan lagi tidak ada waktu yang bisa di perkirakan untuk tidak mengganggu? Makanya di namakan panggilan darurat." Garin selalu menjadi yang paling pertama bereaksi.


"Ck! Kau memang jomblo sejati!" Rama pun berujar, kemudian dia melenggang ke arah pintu.


"Oh iya," Namun dia berbalik. "Panggil saja kalau sudah ada tugas Pak. Saya pamit." Katanya, setelah memberikan hormat kepada dua atasannya, kemudian dia pergi.


*


*


*


Masih mau?😁😁