Kopassus And Me

Kopassus And Me
Bullying



*


*


~ Flashback On ~


Aslan baru saja keluar dari kelas saat seseorang memanggilnya. Dia tertegun, melihat ke tiga kakak kelas yang empat tingkat lebih besar darinya berdiri di sana, di samping bangunan sekolah.


"Sini!" katanya, namun Aslan tak segera merespon.


"Hey! sini!" katanya lagi, dan dia segera menghampiri Aslan saat anak itu tidak juga melakukan apa yang di katakannya.


"Ampun kak, makanan aku udah abis. Tapi uang aku masih ada, nih." Aslan merogoh saku celananya.


"Bukan itu!" anak itu menolak.


"Ayo kita main?" tiba-tiba saja dia menjadi ramah.


"Main?"


"Iya, main."


"Main apa? ini kan udah pulang?"


"Cuma sebentar. Cepetan!" katanya.


"Tapi kata mama aku harus langsung pulang, nggak boleh ke mana-mana dulu."


"Alah, cuma di sini kok, di belakang sekolah."


"Nggak boleh, kan mama bilang ...


"Cepetan! nanti aku pukul kamu!" ancamnya, yang tentu saja membuat Aslan takut. Akhirnya dia menurut saja ketika tiga orang anak itu menggiringnya ke belakang sekolah.


Dua orang anak laki-laki berseragam putih biru sudah menunggu di dekat bangunan itu. Mereka bereaksi ketika melihat kedatangam tiga anak yang menggiring Aslan.


"Jadi ini anaknya?" salah satu di antara mereka bersedekap.


"Iya kak."


"Berani-beraninya ya, kamu lapor sama orang tua!" dia mendekati Aslan.


Anak itu mendongak.


"Kamu tahu, di sekolah ini siapa yang bekuasa?" ucap si anak yang satunya yang juga maju ke hadapannya.


Aslan menggelengkan kepala.


"Papa aku lah, jadi semuanya harus nurut apa yang aku bilang." ucapnya kemudian.


"Tapi gara-gara kamu lapor, kemarin dia dapat hukuman sama orang tuanya. Dia di pukulin dan nggak di kasih uang jajan. Di kurung juga di gudang. Kamu mau kayak gitu?" anak itu membungkukkan badannya.


Aslan menggelengkan kepala, sinyal bahaya berdenging di kepalanya.


"Tapi itu kan gara-gara kamu yang lapor sama kepala sekolah."


"Bukan aku, kak." jawab Aslan dengan suara pelan.


"Tapi buktinya kamu lapor kan?"


Anak itu terdiam.


"Jadi maunya kalian gimana?" si anak berseragam biru beralih pada kakak kelas Aslan.


"Aku mau dia rasain kayak aku kemarin." jawab salah satu dari mereka.


"Beneran?"


"Iya."


"Ya udah, mana talinya?" dia meminta barang yang sudah di persiapkan.


Kemudian mengisyaratkan untuk membawa Aslan.


"Ampun kak! nggak mau!" anak itu berontak, namun dua kakak kelasnya memeganginya dengan kencang.


Aslan mencoba melepaskan diri, namun tenaga yang lebih besar menahannya hingga dia tak bisa melakukan apa-apa selain menangis saat sebuah tali plastik diikatkan pada tubuh kecilnya.


Mereka kemudian menyeretnya ke dalam bangunan tua di sisi area yang cukup jauh dari bangunan utama.


"Biar kamu kapok, lain kali jangan ngadu-ngadu lagi." satu dari anak berseragam putih biru itu menampar wajah Aslan.


"Ampun kak! sakit!"


"Aku malah lebih dari ini." sahut kakak kelasnya.


"Coba, tunjukin apa yang kamu alami."


Dia terdiam.


"Cepet. Biar dia tahu rasa!" katanya.


Kemudian si kakak kelas mendaratkan pukulan di wajah Aslan. Mencubit beberapa bagian tubihnya dengan keras, kemudian menendang kaki kecil anak itu. Namun Aslan tak bisa berkutik, selain karena tubuhnya yang sudah terikat, satu di antara mereka juga membekap mulutnya.


"Nah, gitu dong. Biar dia kapok, dan nggak akan ada yang berani lapor-lapor lagi." ucap si anak smp itu, bangga.


"Aku juga dulu di giniin, tapi nggak lapor. Kamu baru di mintai duit aja udah lapor, huuhh ... payah!" katanya yang menghempaskan Aslan Ake lantai.


"Masukin dia kesana!" tunjuknya pada sebuah sudut yang tersembunyi di belakang lemari kayu. Lalu mereka menyeret Aslan dengan kasar sehingga beberapa kali kepalanya terbentur sesuatu.


"Awas kamu kalau berani teriak, aku tambahin lagi hukumannya!" katanya yang kembali menendang kaki Aslan.


Sebelum pergi mereka mengguyur tubuh kecil anak itu, dan mengencinginya secara bergantian, sambil tertawa terbahak-bahak. Merasa senang karena telah menunjukkan kepada anak lemah ini bahwa mereka yang berkuasa.


~ Flashback Off ~


*


*


"Bagaimana keadaannya?" Rama tiba pada hampir siang, setelah pagi-pagi sebelumnya pulang terlebih dahulu kemudian bergegas pergi ke sekolah untuk mengurusi masalah perundungan yang menimpa Aslan.


"Masih tidur." Kaysa membenahi posisi duduknya di sofa, menyisakan ruang kosong di sampingnya untuk Rama.


Pria itu meletakan bungkusan yang di bawanya di atas nakas di samping tempat tidur di mana Aslan masih terlelap. Keadaannya sudah lebih baik sekarang di bandingkan semalam.


"Aku belikan makanan siapa tahu kamu lapar? sudah siang juga." Rama duduk di sisi lain sofa.


"Iya, nanti."


"Papanya Aslan tidak tinggal?" Rama melihat sekitar yang sepi.


Kaysa terdengar mendengus. Tentu saja tidak, Radit terlalu sibuk mengurusi urusannya sendiri di bandingkan mementingkan kondisi anaknya.


"Kenapa?"


"Dia pergi setelah mengomel dan memindahkan Aslan ke kamar ini, bukan?" perempuan itu mengingatkan.


"Aku kira dia kembali?"


"Hmm ...


"Lagi pula, kenapa juga kita menurut waktu dia bersikeras memindahkan Aslan ke sini? kenapa tidak tetap di kelas tiga saja sih? kan bebanku tidak akan terlalu berat jadinya."


"Tidak apa-apa, dia kan juga papanya. Ada tanggung jawab yang harus dia jalankan untuk Aslan."


"Kamu tidak tahu akan bagaimana mas Radit jika dia di biarkan terlibat terlalu jauh seperti ini. Dia akan bersikap semena-mena, ...


"Aku yang akan menghadapinya jika dia begitu." Rama berucap.


Kaysa terdiam menatap pria di sampingnya. Dia yang tidak di kenal sama sekali, namun sering menyempatkan waktu untuk mereka, terutama Aslan. Dan kepeduliannya sungguh di luar bayangan.


"Terimakasih Ram, aku tidak akan melupakan semua yang sudah kamu lakukan untuk Aslan. Entah bagaimana aku akan membalasnya."


"Tidak usah di pikirkan. Aslan itu temanku, tahu."


"Teman?" Kaysa terkekeh pelan.


"Kamu tahu, kami sudah berjanji untuk menjadi teman, jadi apa yang aku lakukan hanya sebagai bentuk pertemanan kami."


"Serius?"


"Hmm ..."


"Baiklah, temannya Aslan. Lalu bagaimana selanjutnya?"


"Soal apa?"


"Masalah ini. Aku takut setelah ini Aslan akan mengalami trauma."


"Dia di pastikan akan mengalami trauma, dan itu yang harus kita prioritaskan."


"Bagaimana bisa anak-anak itu melakukan perbuatan sekejam itu? apa salah Aslan?"


"Kamu tahu, terkadang seseorang berbuat jahat bukan karena orang yang di jahatinya bersalah. Melainkan mereka hanya ingin melakukannya. Aslan anak yang baik, dia tidak aneh-aneh, tapi kakak kelasnya yang terbiasa berbuat begitu. Sepertinya bukan hanya kepada Aslan, tapi kepada anak lainnya juga."


"Iya, tapi kenapa?"


"Mungkin balas dendam."


"Balas dendam?"


"Kamu pernah dengar kasus korban jadi pelaku? mungkin itu yang mereka alami."


"Tapi mereka masih sd, apa yang mungkin menyebabkan anak seusia mereka melakukan hal seburuk itu?"


"Bisa apa saja. Tontonan, melihat contoh di sekitar, atau orang dewasa di sekitar mereka melakukan hal itu. Dan seperti yang aku katakan tadi, mereka korban yang beralih menjadi pelaku. Dan ini yang paling berbahaya. Mereka merasa harus melampiaskannya kepada anak yang lebih lemah dan lebih memungkinkan untuk di tindas."


"Sekejam perlakuan mereka terhadap Aslan?"


"Mungkin. Tapi aku sedang mengumpulkan bukti, karena rasanya agak mustahil jika hanya kakak kelasnya saja yang menjadi pelaku."


"Ada orang lain?"


"Mungkin, dan aku ...


Kemudian ponsel Rama berbunyi saat sebuah pesan video masuk di aplikasi chatnya.


"Sudah ku duga." pria itu bergumam.


"Apa?"


Rama menyerahkan ponselnya kepada Kaysa yang tengah memutarkan sebuah video dari salah satu rekannya.


"Cctv?"


"Ya."


Tampak beberapa anak berseragam merah putih yang salah satunya dia kenali sebagai Aslan yang berjalan ke arah belakang sekolah setelah mereka berbicara sebentar di depan kelasnya.


Lalu di video lainnya mereka menemukan cuplikan dari cctv di bagian belakang sekolah, yang menampilkan adegan yang cukup membuat Kaysa menahan napasnya sebentar. Ketika mereka terlihat mengikat Aslan, di temani dua anak berseragam smp yang sudah menunggu di sana, kemudian menyeretnya ke dalam bangunan itu, dan keluar setelah beberapa saat.


"Dari mana kamu mendapatkan ini?"


"Tadi pagi aku menyita rekaman cctv sekolah, aku serahkan kepada temanku di kepolisian. Dan hasilnya kamu lihat sendiri." Rama menerima kembali ponselnya dari Kaysa.


"Ini sudah termasuk tindakan kriminal." pria itu melakukan panggilan telefon dari benda pipih tersebut.


"Ya? buktinya sudah ada kan? bisa di lakukan penangkapan sekarang juga?" dia berbicara kepada orang di ujung sana.


" ...


"Begitu? baiklah, terserah bagaimana baiknya."


" ...


"Tidak, untuk yang tiga orang itu sepertinya hanya butuh sebagai efek jera saja. Entah untuk yang dua orang, mungkin bisa di konsultasikan dengan bagian perlindungan anak?"


" ...


"Baik, terimakasih." lalu percakapan pun di akhiri.


"Apa yang kamu lakukan?" Kaysa bereaksi, masih dengan perasaan terkejut juga tidak menyangka sama-sekali.


"Hanya melakukan apa yang perlu di lakukan."


"Menangkap mereka? tapi kan masih anak-anak."


"Memang, tapi ada yang harus di lakukan untuk menindak lanjuti kejadian ini. Kamu tahu, untuk memutus rantai perundungan itu sendiri di perlukan tindakan serius. Karena ini akan berdampak besar baik untuk korban maupun pelaku. Terutama bagi Aslan yang aku rasa mengalami hal yang sangat keterlaluan. Ini yang terungkap, lalu bagaimana jika ternyata banyak yang tidak diketahui bahkan oleh orang tua korbannya sendiri? mungkin ini yang terjadi kepada pelaku sebelumnya."


Kaysa kembali terdiam.


"Aku akan memeriksa keadaan di sana, sekarang ini teman-temanku sedang menuju ke sekolah." Rama bangkit dari duduknya.


"Secepat itu?" perempuan itu mendongak.


"Tentu, jika aku yang bertindak. Sudah aku katakan, jika hal ini terulang maka aku sendiri yang akan turun tangan."


"Tapi Ram?"


"Kamu tetaplah di sini, jaga Aslan." ucap pria itu, kemudian pergi.


*


*


*


Bersambung ...


Nah lu, ... bocah pada macam-macam. Nggak tau siapa yang di hadapi.


ayo, klik like, komen sama kirim hadiahnya lagi dong, siapa tau nanti up lagi 😉


Kalo Kang Korma udah bertindak, kelar dunia. apa lagi cuma anak-anak 😂