
*
*
"Tidak apa, dakwaan itu memang seharusnya di terima. Bukti cukup lengkap, dan penrnyataan saksi memang memberatkan." Seorang pengacara yang cukup terkenal menjadi pembela dan penasehan hukum untuk pihak Frans dan Alan. Mereka berunding di ruang khusus tak jauh dari ruang sidang di area pengadilan.
"Saksi yang mana? selain petugas jaga dan Rama tidak ada lagi saksi." Frans bereaksi. Dia tak terima ketika harus pasrah terhadap dakwaan dari jaksa.
"Seharusnya kita melayangkan eksepsi sekarang ini, bukan malah menerima dakwaan." ucap pria itu yang berjalan mondar-mandir di depan tim pengacaranya. Meski jalannya terpincang-pincang karena luka bekas tembakan yang masih belum sepenuhnya pulih, tapi itu tak membuatnya bisa diam.
"Negatif."
"Apa maksudmu dengan negatif?"
"Peluang kita kecil untuk saat ini, jadi ikuti saja hasil dari proses penyelidikan."
"Ah!!" Frans menendang kursi di depannya dengan perasaan frustasi.
"Ini salahmu karena bicara sembarangan." Dia menunjuk ke arah Alan yang terdiam.
"Bicara, bodoh! Jangan hanya diam saja." teriaknya, frustasi.
"Lebih baik kau tenang, keadaan seperti ini akan menyebabkanmu mendapat masalah." pengacara itu berujar.
"Aku membayarmu untuk membebaskanku dari segala tuduhan, tapi kau menyuruhku menerima semua dakwaan?" Frans berteriak.
"Seharusnya haya dia! Si brengsek ini yang membunuhnya, seharusnya hanya dia yang di dakwa hukuman seumur hidup, bukannya aku!" pria itu kembali menunjuk sepupunya.
"Tapi kau juga menodainya!" Alan angkat bicara.
"Aku tidak tahu jika dia sudah mati, bodoh!"
"Dan apakah kau tidak akan melakukannya jika dia masih hidup?" Alan menatap tajam ke arah sepupunya.
"Seperti yang kau lakukan kepada Aline?" lanjut Alan dengan suara yang menggeram.
"Sudah! Jangan bahas soal itu. Aku tidak peduli urusan selain kasus ini, hanya saja jangan mengumbarnya terlalu terbuka. Atau kalian akan mendapat masalah lain." Pengacara menghentikan perdebatan.
"Lebih baik kita pikirkan untuk menghadirkan saksi yang bisa meringankan. Setidaknya hukuman akan dikurangi."
Pintu ruangan terdengar di ketuk dari luar, lalu perhatian semua orang segera tertuju ke sana.
"Permisi? Minta izin untuk melakukan wawancara Pak?" sebuah senyum tak asing tersungging di bibir sang reporter yang tentunya telah Frans kenali.
"Kau?" Pria itu memicingkan mata.
"Kami dari CTNEWS ingin melakukan wawancara, apa di izinkan?" tanya Kaysa lagi, seraya menunjukkan tanda pengenal kepada anggota tim pengacara yang berjalan menghampirinya.
Pria berjas hitam itu membaca benda tersebut, dan menatap wajah Kaysa secara bergantian.
"Hanya sebentar Pak."
"No, tidak mungkin!" Frans bereaksi.
"Berapa pertanyaan?" sang pengacara bertanya.
"Kira-kira sepuluh Pak."
"Lima saja."
"Tapi Pak, ini ...
"Lima, atau tidak sama sekai."
"Baik Pak." Perempuan itu mengalah.
Kemudian Kaysa di hadapkan pada dua orang tersangka, yakni Alan dan Frans. Yang keduanya menatap curiga kepada perempuan tersebut.
Dibawah pengawasan tim pengacara, Kayaa memulai sesi wawancara singkatnya.
"Bagaimana pendapat anda mengenai dakwaan yang di bacakan oleh oditur di ruang sidang tadi?" Dia mengarahkan mikrofon ke dekat Alan dengan kamera yang sudah menyala.
Pria itu terdiam sebentar.
"Seperti yang sudah saya ucapkam di ruang sidang tadi, bahwa kami menerimanya." jawab pria itu, diplomatis.
"Apakah anda memiliki alasan khusus mengapa tidak melayangkan eksepsi atas dakwaan tersebut?" Kaysa melontarkan pertanyaan selanjutnya.
Frans dan Alan saling pandang, dan mereka kembali tak segera menjawab.
"Apa itu berarti anda berdua mengakui bahwa pembunuhan itu memang terjadi?"
"Itu tidak di sengaja." untuk pertanyaan yang itu Alan segera menjawab.
"Tidak di sengaja? Bisa anda ceritakan kronologinya sehingga akhirnya nyawa Livia melayang?" pertanyaannya mulai menyudutkan, dan dua pria itu mulai gelisah.
"Ketidak sengajaan macam apa yang membuat nyawa seorang gadis melayang sia-sia dengan kehornatannya yang juga ikut hilang?"
"Baik, wawancaranya cukup." Pengacara menghentikan sesi tanya jawab itu ketika melihat kliennya mulai tak nyaman.
"Pertanyaan saya belum di jawab Pak."
"Tapi waktunya sudah habis." Pria berstelan rapi itu menatap jam tangannya.
"Ini bahkan baru tiga pertanyaan Pak." protes Kaysa.
"Tapi klien saya sudah harus kembali ke tahanan."
"Oh iya, apakah klien anda berada di dalam tahanan selama persidangan? Bagaimana sebelum atau sesudahnya? Apakah tetap tinggal di rumah mereka? Dan bagaimana itu bisa terjadi?" Mikrofon dan kamera segera di arahkan kepada pengacara, yang seketika membuat mereka yang ada di dalam ruangan tersebut bungkam.
"Kami dengar klien anda tidak menjalani penahanan sebagaimana biasanya tersangka lain, bukankah seharusnya mereka di tahan? Apa yang menyebabkan klien anda mendapat keistimewaan seperti itu?" Kaysa memberondongnya dengan banyak pertanyaan, dan semakin membuat orang-orang itu bungkam.
"Maaf, masalah itu tidak bisa di jelaskan karena merupakan hak prerogatif." jawaban aman di ucapkan oleh sang pengacara.
"Hak prerogatifnya siapa? bukankah semua orang sama di mata hukum? Tidakkah ini sedikit berbeda? klien anda memiliki keistimewaan sehingga mendapatkan pengecualian?" Kaysa terus bertanya.
"Maaf, waktu anda habis Bu." Seorang petugas pengadilan muncul. "Mobilnya sudah siap Pak." katanya, kepada pihak yang tengah merasa tegang dengan serangan tidak langsung dari Kaysa.
"Baik, mari, kita harus segera kembali." Mereka bangkit bersamaan.
"Pertanyaan kami belum di jawab Pak?" Kaysa masih mengarahkan mikrofonnya, dan kamera masih terus merekam.
"Maaf, karena waktunya sudah habis. Kami harus segera kembali ke tahanan." jawab sang pengacara, yang mengisyaratkan kepada tim dan kliennya untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
"Kita merekamnya bukan?" Kaysa menoleh ke arah kameramen, dan pria itu menjawab dengan mengacungkan ibu jarinya.
"Baik, itu cukup, kita bisa kembali ke kantor." Katanya, dengan raut puas. Kemudian mereka pun beranjak dari tempat itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Yeah, mereka bisa di jadikan saksi?" Rama masih tersambung dengan Junno di telefon ketika Kaysa tiba di rumah pada malam hari.
Kaysa meletakan tas dan beberapa barang di bufet ruang tengah, kemudian duduk di sofa di mana suaminya berada. Menyandarkan tubuhnya yang lelah pada pria itu yang segera menyambutnya dengan hangat.
"Bisa. Setidaknya untuk meyakinkan bahwa hari itu Livia memang datang ke kantor polisi. Lagi pula, mereka juga memang sudah di mintai keterangan kan?" jawab Junno dari seberang sana.
"Bagaimana dengan rekamannya?"
"Penyidik menyatukannya sebagai barang bukti yang pasti akan di tunjukkan di persidangan minggu depan."
"Kita lihat nanti, apa saja yang mereka temukan saat penggeledahan."
"Katamu tidak ada hal mencurigakan yang mereka temukan baik rumah Frans ataupun Alan? Lalu bagaimana dengan tempat yang Kaysa sebutkan kemarin?"
"Kita lihat nanti di persidangan." Junno mengulangi ucapannya.
"Hhh ... baiklah ..." Kemudian percakapan tersebut di akhiri.
"Ada perkembangan?" Perempuan itu segera bertanya ketika suaminya bangkit dan menegakkan posisi duduknya.
"Masih seputar dakwaan. Tapi semuanya di mulai di sidang kedua minggu depan."
"Oh ya?"
Rama menganggukkan kepala, lalu menoleh kepada Kaysa, kemudian mengulurkan tangannya di belakang tubuh perempuan itu.
"Kamu pulang sendiri? Sudah aku katakan untuk menelefon kalau mau pulang biar aku jemput kan? Apa lagi malam-malam begini?" Rama mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak, tadi ikut Pak Willy."
"Editor senior itu?"
Kaysa menganggukkan kepala, sementara Rama menyipitkan matanya.
"Dengan Vinna, Ali, Juan, dan Raya. Mereka timku." Perempuan itu tersenyum lebar.
"Oh, ... aku pikir ..." Pria itu tertawa karena pikiran buruknya.
"Aku tidak akan mau kalau hanya berdua. Lagi pula kami kan memang bekerja bersama."
"Iya iya, aku tahu."
"Lalu bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
"Lancar, apa kamu tidak melihat berita?"
"Lihat, dan kamu terlalu berani masuk ke lingkaran itu."
"Hum?"
"Pertanyaanmu terlalu menyudutkan mereka Kay." Rama mengingat tayangan berita yang menampilkan wawancara yang di lakukan oleh istrinya pada pihak tersangka.
"Benarkah? Aku kan hanya bicara fakta."
"Tapi itu bahaya."
"Bahaya sebelah mananya? Aku sedang melakukan pekerjaanku di sini. Lagi pula aku kan tidak sendiri. Ada kameraman dan dua orang crew. Jadi mereka tidak mungkin berbuat macam-macam.
"Tetap saja."
"Hey, aku sedang membantumu mengungkap kasusnya tahu?"
"Iya, tapi lakukanlah dengan hati-hati. Jangan membuatku khawatir."
"Baik Pak." Kaysa bergelayut manja pada pundak suaminya.
"Oh iya, apa kamu sudah makan?"
"Sudah, tadi aku membuat makanan sendiri."
"Duh, kasihan. Memasak apa?"
"Nasi goreng saja yang gampang."
"Besok aku masak yang banyak ya, agar kamu tidak perlu repot-repot?"
"Tidak usah. Buatkan sarapan saja. Untuk makan siang biar aku buat sendiri."
"Benarkah?"
"Iya, tenang saja, aku kan pengangguran." Rama tertawa.
"Cuma cuti panjang Pak."
"Anggap saja begitu."
"Baiklah."
"Kamu sendiri apa sudah makan?"
"Sudah tadi sebelum pulang."
"Jadi aku tidak usah membuatkanmu makan malam?"
"Tidak usah, terima kasih Pak."
Rama mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku mandi dulu." Kaysa bangkit dari duduknya.
"Hmm ..."
"Kalau kamu ... sudah mandi?" Perempuan itu berhenti, kemudian berbalik.
"Sudah tadi sore." Rama menatap layar televisi.
"Hmm ... kalau begitu ... kamu tidak akan bergabung ya?"
"Apa?" Pria itu mengalihkan perhatian, dan mendapati Kaysa yang tersenyum sambil melepaskan pakaiannya.
"Umm ...
"Tidak mau ikut mandi lagi?" Dia melemparkan kemeja seragamnya kepada Rama yang menatapnya tanpa berkedip.
"Baiklah kalau begitu ..." Kaysa memutar tubuh, lalu meneruskan langkahnya ke arah kamar sambil melepaskan seluruh pakaiannya.
Rama menatapnya hingga perempuan itu masuk ke kamar, dan dia tampak menelan ludahnya dengan susah payah. Namun dia bangkit, kemudian segera berlari mengikutinya ke dalam kamar mereka.
*
*
*
Bersambung ...
Aduh ... tiada hari tanpa anu. Dedek bayinya kena gempa terus Pak.😂😂
jan lupa kirim like komen dan hadiahnya
lopelope sekebon korma 😘😘