Kopassus And Me

Kopassus And Me
Ketahuan



*


*


"Mama kok udah ada di sini?" Aslan baru saja keluar dari kelasnya pada jam pulang dan mendapati ibunya yang sudah berada di sekitar.


"Mama kan sudah bilang akan jemput Aslan," Kaysa dengan senyumnya yang mengembang.


"Tumben? emang kerjaannya nyantai ya?"


"Kamu lupa ya? hari ini kan mama libur."


"Oh, ...


Kaysa mengulurkan tangannya, "Ayo kita ke jagonya ayam?" katanya kemudian.


"Hah? ngapain?"


"Mama sudah janji kalau punya uang akan ajak kamu ke sana kan?"


"Emang mama punya uang?"


"Semalam mama sudah gajian."


"Oh, ..." Aslan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kok cuma oh? biasanya kamu jingkrak-jingkrak kegirangan kalau mama ajak ke sana?"


"Hah? iyakah? aku lupa." anak itu tertawa.


Bukannya lupa, pasalnya dua minggu terakhir tidak hanya sekali dua kali Rama mengajaknya makan di sana, tapi hampir setiap hari sepulang sekolah pria itu mampir ke tempat tersebut. Atau membelikannya makanan yang sangat di sukainya itu untuk di bawa pulang tanpa sepengetahuan Kaysa.


"Nanti di sana aku mau manggo float ya?" mereka berjalan ke luar dari area sekolah.


"Apa itu?"


"Itu minuman baru. Enak tahu mah." ja2ab Aslan sekenanya.


"Memag ada minuman seperti itu?"


"Ada dong."


"Dari mana kamu tahu?"


"Umm, ..." Aslan lupa, kalau ibunya tidak terlalu memperhatikan hal semacam itu. Kaysa hanya selalu membelikannya satu porsi ayam dengan minuman bersoda biasa. Berbeda dengan Rama yang sering membiarkannya memilih sesuka hati.


Namun kemudian mereka berdua tertegun ketika seseorang muncul. Siapa lagi kalau bukan Rama? yang tiba dengan seragam hitamnya, kaus polos berlengan panjang dan celana juga sepatu pdl khas menandakan bahwa pria itu baru saja pulang setelah bertugas. Hanya rompi anti pelurunya saja yang telah dia lepaskan sebelum keluar dari mobil.


"Aku telfon kamu tidak di jawab, aku kirim pesan juga tidak kamu baca?" pria itu setelah jarak mereka cukup dekat.


"Oh ya? ini baru mau periksa hapenya, dari tadi bunyi terus?" Kaysa merogoh ponsel di tas selempang yang selalu dia bawa kemana pun dirinya pergi.


"Iya." perempuan itu lantas tertawa.


"Hmm ..." Rama menggumam. "Aku pikir kamu sangat sibuk sampai tidak bisa menjawab panggilan? makanya aku langsung ke sini. Takutnya tidak bisa menjemput Aslan?"


"Aman pak, hari ini aku libur jadi bisa menjemput Aslan." jawab Kaysa.


"Lalu kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau libur?"


"Hah? harus ya?" perempuan itu terheran-heran.


"Um, ... sebenarnya ... tidak juga sih. Tapi kan ...


Kenapa juga aku bicara seperti itu ya? batin Rama.


"Aslan?" suara bariton lain manggil dari arah depan. Dan sosok Raditlah yang muncul saat mereka menoleh bersamaan.


Pria itu keluar dari mobil mewahnya, lalu berjalan ke arah mereka.


"Hari ini aku mau mengajak Aslan pergi, bisa?" ucap pria itu saat tiba.


"Hari ini aku ada janji dengan Aslan. Kenapa kamu tidak mengabari sebelumnya kalau mau membawa Aslan?" jawab Kaysa.


"Aku ini ayahnya, aku bisa menemuinya kapan pun aku mau." ucap Radit dengan sombongnya.


"Tidak bisa begitu mas, harus pakai aturan juga. Kamu tidak bisa seenaknya datang lalu membawa Aslan pergi begitu saja. Harus menyesuaikan denganku dulu, baru kamu bisa membawanya pergi."


"Alah, ... kegiatan dia tidak banyak kan? kenapa harus di sesuaikan segala? lagi pula, aku ayahnya." dia melirik kepada Rama yang akhir-akhir ini diketahuinya sering bersama putranya.


"Ya tidak bisa begitu juga mas. Tetap saja ...


"Aslan, ayo kita pergi? kebetulan hari ini jadwal papa sedang longgar." Radit beralih kepada Aslan yang diam di samping ibunya.


Anak itu tak menjawab.


"Aslan, ayo kita jalan-jalan lagi?" ucap Radit lagi, berusaha membujuk.


Namun Aslan masih tak menjawab, dia malah melirik ke arah mobil mewah milik ayahnya yang terparkir tak jauh darinya. Mengira jika di dalam sana ada perempuan itu yang sedang menunggu.


"Aslan?" panggil Radit lagi.


"Nggak mau." akhirnya dia menjawab.


"Apa?"


"Ayolah Aslan, papa tidak punya banyak waktu. Setelah hari ini papa akan jarang bertemu denganmu, jadi ...


"Ya udah, nggak usah." bocah itu berucap.


"Apa?"


"Kalau papa nggak punya waktu ngapain ajak-ajak aku?" lanjut Aslan dengan nada kecewa. Untuk ke sekian kalinya pria itu mengecewakannya.


Dalam pikirannya, orang lain saja bisa meluangkan waktu untuknya, padahal dia juga sibuk. Tapi mengapa ayahnya sendiri malah bicara seperti itu? sementara dengan orang lain dia bisa meluangkan waktu secara khusus.


"Kenapa bicaramu seperti itu? tidak sopan!" Radit beraksi, sementara Kaysa memutar bola matanya, jengah.


Dia bicara soal kesopanan? yang benar saja! batinnya.


"Kau yang mengajarkannya untuk bersikap seperti itu Kay?" dia beralih kepada mantan istrinya.


"Apa? aku? mas bercanda ya?" Kaysa menunjuk wajahnya sendiri.


"Siapa lagi? kamu mamanya."


"Maaf, tapi Aslan itu manusia, dia punya perasaan dan pemikiran sendiri."


"Tapi dia masih anak-anak. Masa bahasanya seperti itu?"


"Aku terbiasa membiarkannya betsikap terbuka, jadi wajah saja jika cara bicaranya begitu."


"Biasa katamu? tahu apa anak kecil soal ke terbukaan?"


"Terserah." Kaysa menghembuskan napas kesal. Sementara Rama terdiam di tempatnya, merasa canggung dengan situasi seperti ini.


"Aslan, ayo nak? sudah lama kan kita tidak pergi bersama? Aslan mau ke mana? hari ini akan papa antar." bujuk Radit lagi, dan dia berjongkot di depan putranya.


"Nggak mau, kan udah aku bilang mau pergi sama Mama dan Om Rama. Hari ini aku sibuk." jawab Aslan, seolah sedang balas dendam.


Radit terdiam sejenak.


"Aslan masih marah sama papa karena waktu itu ya?" dia teringat saat terakhir kali mereka bertemu yang pasti membuat putranya itu merasa marah.


"Nggak, biasa aja." Aslan menjawab.


"Papa minta maaf, tapi bisakah sekarang kita pergi? papa janji hanya kita berdua."


"Nggak mau."


"Ayolah Aslan, papa kan sudah minta maaf. Aslan mau apa? beli tas lagi? mainan? atau apa?"


"Nggak usah, udah di beliin kan sama om Rama?" celetuknya, yang membuat pria di sampingnya menahan napas sebentar saat anak itu menutup mulut dengan tangannya. Aslan lupa, karena ibunya terbiasa membiarkannya berkata jujur malah membuka rahasia kecil di antara mereka.


"Apa?" Kaysa bereaksi.


"Nggak, maksud aku ...


"Sekarang Aslan mau tas yang seperti apa? papa lihat kemarin beli tasnya sama dengan yang papa belikan? apa kali ini mau yang berbeda?" Radit terus melancarkan bujukannya.


Aslan menggelengkan kepala tanpa bersuara.


"Tunggu-tunggu, ini maksudnya apa sih?" Kaysa menyela percakapan.


Radit bangkit dari posisinya.


"Sudah aku katakan, jika pemberianku kurang bilang saja. Maka akan aku tambah sesuai dengan yang Aslan perlukan. Tidak usah meminta kepada orang lain." dia melirik lagi ke arah Rama dengan raut tak suka. Merasa tersaingi karena putranya lebih memilih pria itu dari pada dirinya. Padahal sebelumnya Aslan bisa saja dia rayu untuk di bawa pergi.


"Maksud kamu apa mas? minta kepada siapa? aku tidak pernah minta kepada orang lain, bahkan kepadamu pun tidak pernah!" tukas Kaysa.


"Benarkah? lalu apa yang dia lakukam di mall seminggu yang lalu? membawa Aslan membeli tas dan seragam baru? padahal sudah aku belikan sebelumnya?" ujar Radit, yang tentu saja membuat mata Kaysa terbelalak kemudian mengalihkan pandangan kepada Rama.


"Apa?"


"Keadaannya tidak seperti itu, aku hanya ...


"Aslan?" perempuan itu beralih kepada putranya.


"Kau tidak tahu soal itu? heh, ibu macam apa kau ini? aneh sekali tidak tahu masalah anaknya."


"Stop mas! tahu apa kamu soal Aslan?"


"Contohnya aku tahu dia pergi dengan orang asing dan membeli apa yang sudah aku belikan, sementara kau?" Radit membalikan ucapan Kaysa.


Perempuan itu melirik ke arah Rama, kemudian mendelik. Merasa di bohongi akan sesuatu hal, dan dia tak suka.


"Jadi Aslan, ayo kita pergi?" Radit kembali membujuk putranya, namun anak itu tetap tak mau ikut.


"Serius? jangan salahkan papa jika nanti kamu ingin bertemu tapi tidak bisa ya? salahmu sendiri memilih seperti ini!" katanya, yang kemudian pergi dengan kekesalan di hati, meninggalkan dua orang dewasa dan satu anak kecil yang sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing.


*


*


*


Bersambung ...


Dih, kenapa sih harus gitu? 😂😂