
*
*
"Sibuk Bu?" Rama menghampiri Kaysa yang sudah di sibukkan dengan pekerjaan pertamanya. Laptop, alat tulis dan beberapa catatan sudah berserakan di meja makan mereka.
"Baru mau mulai." Kaysa menjawab. "Kamu mau latihan?" Dia menatap suaminya yang sudah mengenakan celana pendek dan kaus tanpa lengan yang biasa dia pakai untuk latihannya.
"Seperti biasa, apa lagi?"
"Baiklah."
"Aslan belum bangun?"
"Tadi aku lihat sih belum. Mau di bangunkan?"
"Aku saja ...
"Aku udah siap." Anak itu keluar dari kamarnya dengan pakaian seperti yang Rama kenakan.
"Baru mau Papa bangunkan?"
"Nggak usah, aku ini biasa bangun pagi, jadi pasti udah siap," katanya, yang menenteng sarung tinjunya.
"Itu bagus. Pertahankan." Rama dengan raut sumringah.
"Kalian tidak mau makan dulu?" Kaysa menginterupsi.
"Apaan? Masa mau olah raga makan dulu? Yang ada nanti perutnya sakit."
"Cuma tanya, siapa tahu kamu mau sarapan dulu?"
"Nggak ah, nanti aja." Aslan menjawab.
"Oke, kalau begitu." Perempusn itu menyalakan laptopnya.
Lalu, ayah dan anak itu sama-sama keluar dari rumah, beralih ke area garasi tempat mereka biasa melakukan latihan.
Mereka memulainya dengan berlari sebentar di halaman rumah, kemudian melakukan gerakan pemanasan seperti biasanya.
"Pah?"
"Hmm ..."
"Kalau ada yang ledekin kita, boleh di pukul nggak?" Aslan memulai latihannya. Kini Rama melatih pukulan da tendangannya.
"Apa?"
"Kalau ada yang ledekin kita boleh di pukul?" Anak itu mengulangi pertanyaan.
"Tidak boleh." Rama menjawab.
"Kenapa nggak boleh?"
"Tidak sepadan."
"Nggak sepadan?"
"Mereka menggunakan ucapan untuk menyakitimu, tapi itu tidak akan terlihat. Sementara kalau kamu memukul, bekasnya akan terlihat. Maka kamu akan menjadi pihak yang di salahkan. Lagi pula tidak semua hal bisa di selesaikan dengan kekerasan."
"Ah, nggak asik."
"Memangnya kenapa?" Rama mengisyaratkan kepada Aslan untuk melakukan tendangan pada boxing pads di tangannya
"Percuma dong kita bisa kayak ginian tapi nggak di gunakan?"
"Tidak ada latihan yang sia-sia."
"Masa?" Aslan mendaratkan tendangan seperti yang di isyaratkan ayah sambungnya itu.
"Iya."
"Buktinya?"
"Kamu bisa mempertahankan diri jika suatu saat di serang. Semua anggota tubuhmu akan terbiasa menahan serangan, dan daya tahan tubuhmu menjadi lebih kuat."
Aslan mendengarkan, sambil terus mendaratkan pukulan dan tendangan pada boxing pads.
"Jadi bisa bela diri itu, bukan berarti kita bisa menggunakannya semena-mena, apa lagi sembarangan."
"Hanya gunakam kemampuan ini di saat darurat saja."
"Biar kita ada yang ganggu juga?"
"Kira-kira begitu."
Aslan merengut, lalu dia mendaratkan pukulan begitu keras.
"Tapi kalau kita lebih dulu di pukul ya, sepertinya tidak apa-apa sedikit melawan." Rama melihat gelagat lain dari sikap anak itu.
"Memangnya kenapa? Ada yang mengganggumu lagi ya?" Dia kemudian bertanya.
"Nggak sih."
"Terus, kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Soalnya ada yang ledekin Maira." Anak itu menjawab.
"Astaga, hahaha ..." Membuat Rama tertawa karena mendengar jawabannya, dan dia berhenti sejenak.
"Pantas saja kamu ngotot, ini soal Maira ya?"
"Hmm ..." Aslan menyeka wajahnya yang sudah basah oleh keringat.
"Teman-temanmu mengejek Maira?"
"Maira dikatain, kan aku jadinya kesel."
"Oh ya?"
"Hu'um, ...
"Maira di ejek teman sekelas?"
"Iya."
"Apa yang mereka katakan?"
"Banyak deh pokoknya."
"Kenapa Maira di ejek?"
"Karena dia ..." Aslan berpikir.
"Kenapa?"
"Karena dia lucu, terus temen-temen yang lain suka sama Maira." Aslan menjawab dengan suara pelan, membuat tawa Rama pecah seketika.
"Ish, kenapa malah ketawa? Emangnya ada yang lucu ya?"
"Siapa yang mengejek Maira? Sesama anak perempuan?"
"Iya, soalnya anak-anak cowok pada suka sama Maira, habisnya dia lucu sih."
Rama kembali tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Masih kecil sudah begitu? Bagaimana besarnya nanti ya? Duh ..."
"Itu namanya mereka iri, Aslan. Tidak perlu di balas dengan pukulan. Biarkan saja."
"Ish, kan kasihan Mairanya. Masa setiap hari di katain?"
"Ya adukan saja kepada ibu guru."
"Ah, ibu guru pasti bilangnya mereka cuma bercanda. Masa bercanda sampai gitu?"
"Hmm ..." Rama berjongkok di depan anak itu.
"Sepeduli itu kamu kepada Maira?"
"Dia kasihan tahu? Papanya nggak ada, cuma sama Mamanya doang."
"Sama seperti kamu dulu ya?"
Aslan menganggukkan kepala. "Tapi aku dulu nggak gitu-gitu amat, papa Radit masih ada biar jarang ketemu juga. Tapi kalau Maira papanya udah meninggal. Terus Mamanya ojek online lagi. Kan kasihan."
Rama tersenyum. Dia merasakan hatinya menghangat mendengar penuturan dari bocah yang hampir berusia delapan tahun itu. Rasa empatinya sudah terasah meski dia masih sekecil ini. Mungkin pengalaman hidupnya sebelum mereka bertemu membuatnya dapat meraba perasaan orang lain yang keadaannya hampir sama sepertinya dulu.
"Umm, ... gimana ya caranya biar Maira nggak di ejek lagi?"
"Mairanya bagaimana waktu di ejek?"
"Nggak gimana-gimana."
"Tidak menangis?"
"Nggak."
"Marah?"
"Nggak juga."
"Lalu di mana masalahnya? Sepertinya Maira baik-baik saja." Rama kembali tertawa.
"Papa ish, nggak ngerti."
"Sepertinya masalahnya bukan ada pada Maira atau teman-teman kamu." Pria itu meicingkan mata.
"Kamu terlalu berlebihan, Aslan."
"Nggak ih, ...
Dan pria itu terus tertawa melihat tingkah anak sambungnya.
"Ada apa sih, sepertinya latihan kalian seru?" Kaysa muncul karena mendengar percakapan di selingi tawa keras suaminya.
"Ini Aslan, ...
"Aku latihannya udahan ah, ... mau mandi. Sebentar lagi nenek jemput kan?" Anak itu menghindar.
"Huh, telat. Nenek kamu sudah datang." Kaysa menyahut.
"Masa? asiiikkk." Aslan berlari ke arah depan, meninggalkan Kaysa dan Rama yang masih saja tertawa.
"Apa sih yang kamu tertawakan?" Kaysa mengerutkan dahi, masih merasa heran dengan sikap suaminya.
"Putramu sangat lucu."
"Apanya yang lucu? Dia pandai melawak?"
"Tidak, bukan soal itu."
"Lalu soal apa?"
"Soal Maira."
"Maira? Teman sebangkunya itu?"
"Hmm ...
"Memangnya ada apa dengan Maira?"
"Pokoknya ada lah ...
"Ish, ...
***
"Kami pergi dulu ya Kay?" Rengganis berpamitan kepada tuan rumah, setelah Aslan selesai dengan urusannya.
"Iya Bu, titip Aslan. Kalau bisa besok sore sudah pulang karena lusa dia sudah ujian."
"Sudah ujian lagi?"
"Iya, ujian untuk kenaikan kelas."
"Sudah mau naik kelas lagi ya? Berarti Aslan nanti kelas dua?"
"Hu'um, ... udah delapan tahun." Anak itu menjawab.
"Sudah besar." Rama menyahut, kemudian tersenyum ke arah anak sambungnya yang seketika mendelik kesal.
"Ah iya, setelah ini kelas tiga, lalu kelas empat, dan dua tahun setelahnya dia sudah SMP. Lalu SMA, kuliah dan akhirnya ...
"Dewasa." sambung Rama.
"Benar, bukankan anak-anak tumbuh dengan cepat? Padahal rasanya mereka baru saja di lahirkan, tapi tahu-tahu sudah dewasa?" Rengganis mengamini.
"Betul Bu, dan terkadang kita kehilangan banyak waktu."
"Ah, ... semoga kita tidak seperti itu, dan bisa mendampingi pertumbuhan Aslan dengan baik ya?"
Kaysa mengangguk-anggukkan kepala.
"Ayolah nek, kenapa sih lama amat? Keburu siang ini?" Aslan menyela percakapan.
"Ah, iya iya. Baiklah, kami pergi dulu."
Lalu Aslan menarik sang nenek masuk ke dalam mobil, dan mereka pergi setelahnya.
"Jangan terlalu di pikirkan, Mama. Cepat atau lambat Aslan memang akan dewasa, kita tidak bisa menghindari karena memang begitu siklusnya."
"Padahal dia baru mau naik kelas dua SD?"
"Ya, tapi setelah itu naik lagi, naik lagi sampai akhirnya dia dewasa."
"Lalu meninggalkan kita?"
"Tidak akan."
"Tapi dia akan memiliki kehidupannya sendiri, tentu dia akan pergi."
"Sudah seharusnya seperti itu."
"Hmm ..." Kaysa terdiam.
"Apa kamu mau kembali bekerja?"
"Mungkin sebentar lagi."
"Lalu bagaimana dengan wawancaranya?"
"Hum? wawancara apa?"
"Bukankah kamu berencana untuk mewawancarai aku?"
"Oh, iya. Aku sedang menyiapkan pertanyaannya."
"Jadi belum bisa dimulai sekarang?"
"Belum Pak. Baru dapat tiga pertanyaan terlanjur neneknya Aslan datang." Perempuan itu tertawa.
"Atau bagaimana jika kita memulai yang lain dulu?"
"Apa?"
"Entahlah, mungkin sesuatu ...
"Tidak mau." Kaysa mundur ke dalam rumah. Dia tahu apa yang sedang ada dalam pikiran suaminya saat ini.
"Ayolah, kita wawancara untuk hal lain?" Rama kengikutinya masuk, lalu mengunci pintunya rapat-rapat.
"Tidak mau, aku sedang tidak berminat."
"Mumpung Aslan sudah pergi?"
Kaysa tertawa sambil menggelengkan kepala.
Namun Rama segera menyergapnya, dan mendorong Kaysa hingga mereka masuk ke peraduan.
*
*
*
Bersambung ...
Ehm ... wawancara yang lain ya? 😅😅
like komen hadiahnya lagi ya?
lopelope sekebon korma 😂