Kopassus And Me

Kopassus And Me
Rumah Sakit



*


*


Rama membuka matanya setelah beberapa jam tak sadarkan diri. Dia terbangun di antara rekan-rekan lainnya yang juga mengalami hal sama seperti dirinya. Terkena efek ledakan yang cukup dahsyat dari mobil berisi beberapa buah bahan peledak. Tapi mereka masih beruntung karena hanya terluka ringan.


Dia segera bangkit ketika mengingat perempuan itu, yang entah bagiamana keadaannya saat ini.


"Kau sudah sadar, Ram?" Fandi yang baru saja tiba bersama beberapa orang rekannya.


"D mana Kaysa?" pria itu bereaksi.


"Siapa?"


"Kaysa, di mana dia di rawat?" Rama bangkit dari tempat tidurnya.


"Ah, sial!" dia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Tentu saja, benturan yang cukup keras membuatnya mengalami luka ringan, namun tetap saja efeknya cukup membuatnya merasakan sakit untuk beberapa saat.


"Kaysa berada di sana saat ledakan, saya baru saja menemuinya sebelum ledakan itu terjadi." jelasnya, dan dia mencoba menegakkan tubuhnya.


"Wartawan itu?"


Rama menganggukkan kepala.


"Dia di ruangan sebelah, sudah sadar dan ...


"Apa?" Rama turun dari tempat tidur, dan segera melesat ke arah pintu. "Maaf, pak. Saya harus melihat keadaannya." katanya, yang langsung ke luar dari ruangan tersebut.


***


"Sudah ku katakan, sementara Aslan bersamaku sampai kau pulih." Radit berdiri di samping Kaysa yang masih terbaring dengan verban yang cukup besar membungkus luka di mata sebelah kirinya.


"Tidak usah mas, aku bisa. Hari ini pun aku bisa pulang, terimakasih." tolaknya, seperti biasa.


Pria itu mengusap wajahnya seraya lebih mendekat kepadanya.


"Dengar Kaysa, apa pun keadaannya Aslan itu anakku. Dia juga berhak mendapat perlindungan dariku saat kau tidak bisa. Kenapa kau selalu menolak? apa lagi keadaannya seperti ini." pria itu berusaha meyakinkan mantan istrinya.


Dan Kaysa terdiam.


"Kau menolak bantuanku tapi tak bisa menangani masalah hidupmu sendiri, dan kau mau membahayakan putraku? di mana pikiranmu?" Radit mulai gusar. Keras kepalanya perempuan ini tak bisa di goyahkan dengan alasan apa pun.


"Jalani keaulitanmu sendiri, tapi jangan libatkan Aslan, kau membuatnya bingung."


"Bukan aku, tapi kamu." Kaysa kembali bersuara.


"Aku tahu, kesalahanku begitu besar sehingga untuk menyayangi putraku saja aku tidak bisa. Kau bahkan menolak segala yang aku berikan hanya karena tidak ingin ada ikatan kuat antara aku dan Aslan, tapi kau lupa bahwa dia darah dagingku, bagaimanapun keadaannya itu tidak dapat di rubah."


"Aku tidak akan mengambilnya darimu jika itu yang kau takutkan, tidak sama sekali. Waktuku tidak banyak untuk mengurus anak kecil seperti dia. Dan aku sadar aku tidak akan biaa mengurusnya sepertimu. Hanya saja aku juga ingin ambil bagian dalam kehidupannya. Jadi sekarang biarkan aku membawanya sementara kau memulihkan diri." Radit dengan berapi-api.


"Aku tidak akan menghiraukan penolakanmu untuk saat ini, aku tetap akan membawanya pulang bersamaku." ucap pria itu yang kemudian melenggang ke luar.


Rama tertegun tak jauh dari pintu, tanpa sengaja menyimak perdebatan itu untuk beberapa saat. Lalu dia melirik bocah laki-laki berseragam sd yang duduk terdiam di kursi tunggu. Asyik dengan ponsel di tangannya.


"Ayo nak, ikut papa dulu sementara sampai mama mu sembuh." Radit keluar dari ruangan tersebut.


"Boleh?" Aslan tampak antusias.


"Boleh ataupun tidak, papa akan tetap membawamu." Radit meraih tangan putranya, sejenak dia menoleh kepada pria yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Tolong nasehati dia untuk tidak menghalangi aku menemui putraku." katanya, kepada Rama sebelum pergi. Yang tentu saja membuat pria itu mengerutkan dahi.


Apa hubungannya denganku? batinnya.


***


"Kamu baik-baik saja?" dia memasuki ruangan tersebut.


Kaysa tampak sedikit terkejut. Bukan hanya karena pria itu tiba-tiba datang, tapi juga karena keadaannya yang tak jauh berbeda dengannya. Verban di pelipis, lecet di beberapa bagian wajahnya, dan penampilannya yang cukup berantakan.


"Bapak juga terluka?" dia balik bertanya.


"Sedikit." kini jaraknya hanya 50 senti saja dari tempat Kaysa berbaring. Menatap perempuan itu yang tampak cukup lemah.


"Apa saja yang terluka?" dia memindai keadaannya.


"Seperti yang bapak lihat sendiri." dia menggerakkan tangannya yang tersambung dengan slang infus, juga beberapa verban yang menutupi luka-lukanya.


"Dan saya belum bisa menggerakkan kaki saya." lanjutnya yang menatap kakinya sendiri.


Rama mengetatkan rahang kemudian menghembuskan napasnya dengan keras.


"Maaf." katanya yang lebih mendekat lagi kepadanya.


"Kenapa bapak meminta maaf?"


"Karena tidak bisa mengantisipasi kejadian ini."


Kaysa menggelengkan kepala.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, bukan? kalau tahu akan begini saya tidak akan memaksa bapak untuk datang ke kafe itu. Lebih baik mencari berita lagi untuk saya berikan kepada stasiun televisi lagi agar saya mendapatkan uang." perempuan itu tertawa.


"Kamu konyol."


"Apa?"


"Masih bisa tertawa padahal keadaanmu seperti ini?"


"Ah, ... menangispun tidak ada gunanya. Rasanya tetap sakit, dan keadaannya tetap serba sulit." dia tertawa lagi.


"Tidak usah pak, terimakasih. Saya baik-baik saja. Hanya tidak bisa menggerakkan kaki saya." Kaysa masih bisa berkelakar.


"Hmm ...


"Bapak sendiri, padahal sama-sama terluka. Tapi masih ingat saya?"


Rama terdiam.


Benar, kenapa juga aku ingat perempuan ini? mengkhawatirkannya juga? hah, konyol! batinnya bermonolog.


"Bagaimana dengan bapak?" Kaysa bertanya lagi.


"Hanya sedikit pusing dan terluka di sini." Rama menunjukkan pelipisnya yang di tempeli verban.


"Syukurlah, setidaknya bapak masih bisa berjalan."


"Kamu benar."


"Bapak, ...


"Saya ...


Mereka bicara bersamaan, kemudian sama-sama terdiam. Keadaan menjadi agak canggung sekarang ini. Dua orang dewasa dengan pikirannya masing-masing.


"Kaysa, jangan panggil saya bapak. Saya sedang tidak bertugas sekarang ini." Rama kemudian berujar.


Kaysa tetap terdiam.


"Aneh sekali rasanya di panggil bapak oleh seseorang yang usianya setara denganmu." dia sedikit mengggerutu.


"Oh ya?"


"Sepertinya umur kita tidak terlalu jauh?"


"Mmm ...


"Panggil Rama saja, lebih nyaman mendengarnya." katanya, mendadak dirinya jadi banyak bicara di depan perempuan ini.


"Begitu ya?"


Rama menganggukkan kepala.


"Baiklah, ... Rama." ucap Kaysa dengan senyum sekilas.


"Apa ledakan itu hanya kecelakaan atau di sengaja?" dia kemudian bertanya.


"Dasar wartawan, ada saja yang kamu tanyakan."


"Hanya penasaran." Kaysa terkekeh.


"Dugaan sementara aksi teror, tapi belum ada kelompok mana pun yang mengklaim sebagai dalanganya."


"Oh ya?"


"Di tambah pelaku tunggal yang meledakan dirinya sendiri saat akan di tangkap."


"Wow, sepertinya kacau?"


"Ya, saking kacaunya kamu akan menemukan banyak mayat dan orang-orang terluka di sana."


"Ya Tuhan."


"Dan sungguh merupakan keajaiban jika kamu hanya terluka sepeperti ini."


"Ya, mukjizat, dan saya beruntung."


"Benar."


"Baik kalau begitu, sepertinya kamu harus istirahat agar cepat pulih." ujar Rama setelah menyadari kelakuannya yang tiba-tiba saja merasa ramah kepada orang yang baru dia kenal.


"Iya pak, eh ... Rama. Terimakasih sudah berkunjung."


Pria itu kembali menganggukkan kepala.


"Oke, aku akan membiarkanmu berisitirahat kalau begitu." katanya lagi, dan sapaannya pun kini berubah.


"Baiklah."


"Aku ... pergi." katanya, yang berjalan mundur ke arah pintu, kemudian berbalik.


"Iya."


Dan pria itu pun keluar dari tempat tersebut.


*


*


*


Bersambung ...


Masih kuat puasa gaess?😄😄


jan lupa like komen sama hadiahnya oke? siapa tahu bisa up lagi tar sore.


lope lope sekebon korma. 😘😘