Kopassus And Me

Kopassus And Me
Orang Tua



*


*


"Baru tiga hari menikah ya?" dokter perempuan itu memeriksa keadaan Kaysa.


Mereka menganggukkan kepala.


"Langsung melakukan hubungan badan?" tanya nya lagi.


"Umm, ... besoknya dokter." jawab Kaysa.


"Oo, ... sekarang mau di kb?"


"Iya."


"Apa tidak terlambat?" Rama bertanya.


Dokter tak langsung menjawab, namun dia malah tersenyum kemudian duduk di kursinya.


"Kenapa mau di kb? bukankah lebih bagus jika langsung punya anak?" dia bertanya lagi.


"Anak saya butuh perhatian khusus untuk sekarang ini, saya takut tidak bisa menanganinya jika kami punya anak sekarang." Kaysa menerangkan.


"Oh, sudah punya anak?"


"Sudah, dari pernikahan sebelumnya." jawab Kaysa.


"Berapa tahun?"


"Tahun ini delapan."


"Begitu ya."


"Jadi bagaimana?"


"Bagaimana datang bulannya bu Kysa selama ini?"


"Lancar."


"Teratur?"


"Kadang iya, kadang juga tidak. Tapi normal."


"Baik. Kemungkinannya, jika bapak sangat sehat, dan keadaan sp**manya sangat bagus, dan ibu sedang dalam masa subur ya akan terjadi kehamilan. Tapi ada beberapa kondisi di mana sp**ma akan lewat begitu saja dan pembuahan tidak terjadi. Atau tidak mampu membuahi."


"Jadi sebaiknya?"


"Tergantung pilihan ibu dan bapak. Apa akan menunggu sampai benar-benar di ketahui hamil atau tidak, setidaknya sampai satu atau dua minggu ke depan, atau sampai datang bulan pertama, dengan catatan tidak dulu melakukan hubungan badan, atau melakukannya sepandai-pandai bapak saja."


"Maksudnya?" Rama mengerutkan dahi.


"Tidak di keluarkan di dalam." dokter itu sedikit terkekeh.


"Umm ...


"Atau mungkin berhubungan dengan memakai pengaman." lanjut dokter.


"Tidak bisa tetap di kb?" Kaysa bersikukuh.


"Bisa saja, tapi apa tidak akan kecewa jika misalnya nanti ternyata ibu benar-benar hamil?"


Keduanya berpikir.


"Kalau misalnya tetap pakai kb dan saya hamil, apa akan terjadi sesuatu dengan bayi saya?" Kaysa kemudian bertanya lagi.


"Selama ini kami belum menemukan kasus yang serius mengenai itu. Malah ada beberapa kasus di mana kehamilan justru terjadi setelah suntikan kb. Kemungkinan pembuahan sudah terjadi sebelum kb."


"Jadi tidak apa-apa kan?"


"Kalau ibu tetap mau melakukannya, semoga tidak apa-apa. Tapi sekali lagi, jangan sampai kecewa jika setelah ini ternyata terjadi kehamilan."


"Baik dokter." Kaysa menyetujui.


"Jadi mau di lanjutkan?" dokter meyakinkan.


"Ya."


"Kamu yakin?" Rama sedikit tidak percaya.


"Tentu saja."


"Apa mau di pikirkan lagi? mungkin sebaiknya di bicarakan lagi." dokter berujar.


"Tidak dokter, kita lanjutkan saja." perempuan itu menjawab.


"Bagaimana pak?" dokter beralih kepada Rama.


"Terserah kepadamu, Kay." ucapnya.


"Lanjutkan saja." jawab Kaysa lagi.


"Baik, kalau begitu. Ini sebagai upaya pencegahan saja ya? saya akan memberikan bu Kaysa suntikan kb satu bulan. Kita lihat setelah ini apakah terjadi kehamilan atau tidak. Tapi jika ternyata bu Kaysa tetap hamil, mohon diterima dengan sabar dan ikhlas." dokter kembali berujar.


"Baik." pasangan itu sama-sama mengangguk.


Kemudian proses penyuntikan obat pencegahan kehamilan itu pun terjadi sebagai mana mestinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kalau misalnya setelah ini kamu tetap hamil bagaimana?" mereka berjalan bergandengan keluar dari rumah sakit.


"Tidak bagaimana-bagaimana."


"Tidak apa-apa?"


"Ya tidak apa-apa, memangnya kenapa?" Kaysa terkekeh.


"Aku pikir karena kamu tidak mau punya anak dulu."


"Sudah aku katakan, alasan utamaku adalah Aslan. Tapi jika memang kita harus punya anak secepat itu ya apa boleh buat? semoga semuanya baik-baik saja. Iya kan?"


"Hmm ...


"Baru tiga hari pak, kamu sudah mau punya anak?" Kaysa tertawa.


"Tidak juga, aku santai. Tapi seperti yang sudah aku katakan, jika memang itu terjadi ya tidak apa-apa."


"Baik, kita serahkan saja kepada Tuhan. Kalau memang harus hamil sekarang, tidak apa-apa. Tapi kalau tidak ya bagus juga."


"Iya."


Mereka hampir tiba di tempat di mana mobil Rama terparkir. Namun pria itu menghentikan lagkahnya ketika melihat seseorang yang sepertinya dia kenal.


"Ada apa?" Kaysa yang menyadari pria itu tidak lagi bergerak.


"Itu seperti Alan?" tunjuk Rama kepada seorang pria di dekat motornya.


"Alan temanmu?"


"Iya, siapa lagi?"


"Ada apa dia di rumah sakit?"


"Tidak tahu."


Di saat yang bersamaan pria yang di maksud menoleh. Namun dia tampak terkejut melihat keberadaan pasangan itu di sekitarnya.


"Benar Alan." ucap Kaysa seraya melambaikan tangan.


"Kay, apa yang kamu lakukan?" Rama bereaksi.


"Itu kan temanmu."


"Ya, lalu?"


"Apa kamu tidak mau menyapanya?"


"Iya, tapi tidak begitu juga."


"Lalu bagaimana?"


Rama tak menjawab, namun dia segera melanjutkan langkahnya menuju rekan kerjanya itu.


"Kalian sedang apa di sini?" Alan langsung bertanya.


"Kami habis dari dokter. Kau sendiri?" Rama balik bertanya.


"Dari dokter juga." jawab Alan. "Salah satu di antara kalian sakit? atau kalian berdua . ..


"Tidak, hanya pemeriksaan biasa. Kau sendiri, sakit?" dia balik bertanya.


"Tidak, hanya konsultasi." jawab Alan.


"Konsultasi untuk apa?"


"Untuk keperluan pribadi."


"Oh, ... "


"Baiklah, aku buru-buru Ram. Ada yang harus aku kerjakan." pria itu berpamitan.


"Baiklah."


Dan Alan pun pergi tanpa menengok lagi.


"Aneh sekali temanmu itu?"


"Hmm ... sepertinya akhir-akhir ini dia sering ke dokter." Rama mengamini.


"Dia sakit apa? dari kelihatannya seperti sehat sekali." Kaysa memperhatikan.


"Tidak sakit. Tapi yang aku tahu dia rutin menemui psikiater."


"Oh ya?"


"Dan aku pernah menemukan obat anti depresan di apartemenya ketika berkunjung."


"Apa? kalian saling mengunjungi?"


"Hanya sesekali. Bukankah obat semacam itu untuk orang yang memiliki masalah kejiwaan yang berat?"


"Tidak tahu. Mungkin saja."


"Aku khawatir dia mengalami sesuatu."


"Apa dia pernah berbicara mengenai hal itu?"


"Tidak juga. Dia pribadi yang cukup tertutup. Kami berteman sejak di akademi kepolisian tapi dia tidak seperti teman-teman lainnya."


"Mungikin dia memang begitu."


"Ya. Yang aku tahu dia sedikit tertekan."


"Tertekan karena apa?"


"Keluarga."


"Memangnya ada apa dengan keluarganya Alan? orang tuanya bercerai?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Ayahnya memaksa dia untuk jadi polisi, sementara dia ingin menjadi dokter."


"Pemaksaan."


"Itulah."


"Tapi dia berhasil jadi polisi?"


"Memang, dan di situ hebatnya Alan. Walaupun tidak ingin, tapi dia tetap menjalankan perintah orang tuanya agar mereka merasa bangga. Sejak kecil dia begitu."


"Kenapa tidak menolak saja? ini kan jaman modern, kenapa sih orang tua selalu memaksakan kehendak?" mereka kembali ke arah mobil.


"Tapi tertekan. Sama saja."


"Kamu sendiri, kenapa waktu itu pasrah di jodohkan dengan Radit? padahal jelas tidak mau?" keduanya masuk dan duduk di kursi masing-masing. Rama bahkan telah menyalakan mesin mobilnya dan bersiap untuk pergi.


"Apa hubungannya dengan perjodohanku dan mas Radit?"


"Konsepnya sama, yaitu pemaksaan orang tua terhadap anaknya."


"Alasanku mungkin sama, untuk berbakti kepada orang tua, meski kenyataannya yang di lihat orang tuaku tidak begitu. Terutama papa."


"Tapi pada dasarnya sama kan?"


"Semua orang tua begitu kan? selalu memaksakan kehendak kepada anak-anaknya.? terutama soal keinginan. Tapi mereka tidak peduli dengan apa yang di inginkan anak-anaknya."


"Curhat bu?" Rama tergelak, sementara Kaysa mencebik.


"Orang tuaku tidak. Mereka membebaskan anak-ananya untuk melakukan apa yang kami inginkan. Selama itu hal baik dan bukan hal yang di larang."


"Masa?"


"Ya, ayahku bahkan mendukungku untuk menjadi tentara, meskipun aku tidak berhasil melakukannya." Rama tertawa. "Dan dia malah mendorongku untuk mendaftar ke akademi kepolisian."


"Beruntungnya menjadi dirimu, Ram." Kaysa menoleh kepadanya.


"Yeah, ... memang." pria itu dengan bangganya.


"Dan aku rasa itu yang membuatmu bisa memperlakukan Aslan dengan baik, sehingga dia pun bisa menerimamu."


"Mungkin." Rama tersenyum.


"Cih, bangga sekali dirimu ini? begitu senangnya dengan hal itu?" perempuan itu mencibir.


"Tentu saja, apa lagi? karena dengan begitu akhirnya membuat kita bisa bersama, kan?"


"Hmm ... benar juga."


"Aku hanya berpikir bahwa, setiap orang harus merasa bebas untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Tanpa kekangan, tanpa dikte dari orang lain karena yang menjalankan bukanlah orang tua, atau siapa pun. Tapi mereka sendiri. Selama masih ada di koridor yang benar tentunya." mobil yang mereka tumpangi memasuki jalan raya yang cukup ramai pada siang itu.


"Dan apa kamu pikir aku telah menjadi orang tua pemaksa terhadap Aslan?" Kaysa mulai berpikir.


"Menurutmu?"


"Entahlah, yag aku tahu aku melakukan hal yang benar."


"Dengan mengatakannya harus berbuat begini, berbuat begitu, menjadikan dia bersikap keras kepada dirinya sendiri."


"Itu salah ya?"


"Entahlah, ... kamu hanya berbuat sebagai seorang ibu, dan aku rasa kamu melakukannya karena keadaan kalian yang dalam serba keterbatasan."


"Hum?"


"Tapi tanpa sadar kamu juga melakukan apa yang orang tuamu lakukan."


"Hah, ... dan aku memang salah dalam hal itu." Kaysa dengan nada kecewa.


"Tidak apa-apa, bisa kita perbaiki."


"Ya?"


"Selagi Aslan masih kecil kita bisa merubah semuanya. Pola pikir kita, cara pandang, juga cara hidup."


"Jauh sekali pemikiranmu pak?" Kaysa kemudian tertawa.


"Harus begitu, sehingga hal yang menimpa Livia tidak akan terjadi kepada Aslan, atau siapa pun."


"Apa hubungannya dengan Livia?"


"Mungkin aku juga dulu terlalu keras kepadanya, sehingga dia tertutup akan satu hal. Kalau tidak, Livia mungkin masih bersamaku sekarang."


"Terlalu keras soal apa?"


"Soal hubungannya dengan lawan jenis. Aku melarangnya berhubungan dengan laki-laki sebelum dia lulus kuliah."


"Ish, ... kejam sekali kamu ini?"


"Saat itu aku hanya memikirkan keselamatannya. Kamu tahu, anak jaman sekarang bisa berbuat lebih gila dari kita."


"Tapi aku kecolongan. Malah hal lain yang mengintai sehingga dia bahkan tak bisa aku selamatkan." Rama dengan kecewa.


"Mungkinkah kematian Livia ada hubungannya dengan itu?"


"Apa?"


"Mungkin karena dia sangat patuh kepadamu, sehingga menolak ketika ada pria yang menyatakan cinta padanya? tapi pria itu tidak terima, dan mencelakai Livia?"


Rama terdiam.


"Hanya perkiraanku saja ya, segala kemungkinan itu bisa saja terjadi kan?"


"Tapi aku tidak menemukan indikasi hubungan lebih antara dia dan teman laki-lakinya. Aku sudah menyelidikinya di sekolah."


"Mungkin di luar lingkungan sekolah?"


Rama terdiam lagi.


"Siapa pun bisa jadi tersangka."


"Dia tidak kenal siapa pun selain aku dan tema-temanku."


"Teman-temanmu? memangnya siapa saja yang dia kenal?"


"Beberapa orang, tapi tidak ada seorang pun dari mereka yang dekat dengannya."


"Kamu yakin?"


"Ya, tentu saja."


"Baiklah ... jadi dari mana kita harus memulainya ya?" Kaysa menatap keluar mobil.


"Memulai apa?"


"Penyelidikan ini. Bukankah aku sudah berjanji untuk membantumu mengungkapnya?"


"Kamu serius?"


"Tentu saja aku serius. Mumpung aku sedang tidak ada pekerjaan."


"Siapa bilang kamu tidak ada pekerjaan?"


"Memang begitu kenyataannya."


"Lalu Aslan dan aku apa?"


"Apa sih maksudmu itu?"


"Pekerjaanmu mengurus kami sekarang kan? tertutama aku." pria itu tertawa.


"Cih, ... itu bukan pekerjaan pak."


"Lalu apa?"


"Mmm ...


"Apa kita mau langsung pulang?" Rama menghentikan laju mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah merah.


"Bisa kita jalan-jalan dulu?" pinta Kaysa.


"Jalan-jalan?"


"Iya. Kamu belum mengajakku kencan sejak kita jadian, tapi malah langsung mengajakku menikah."


"Oh iya, aku lupa." pria itu tertawa.


Kaysa memutar bola matanya.


"Jadi, kita mau ke mana untuk kencan pertama ini bu Kaysa?"


"Ke mana ya?"


"Tidak tahu, kamu yang tentukan."


"Kita ke Bogor saja!" Kaysa dengan idenya.


"Bogor?"


"Kita susul Aslan, bagaimana?"


"Itu bukan kencan Kay, tapi menjemput Aslan." Rama tiba-tiba saja cemberut.


"Aku ingin lihat apa Mas Radit benar-benar membawa Aslan untuk menghabiskan waktu bersama atau hanya alasan sebagai rasa bersalahnya saja."


"Apa bedanya? mereka tetap sama-sama kan?"


"Aku tidak percaya kepadanya, nanti malah membuat Aslan kecewa lagi."


"Tapi apa tidak sebaiknya kita biarkan saja mereka?"


"Tidak, aku hanya ingin lihat."


"Nanti kalian berdebat lagi."


"Tidak akan, aku janji. Aku bahkan tidak akan mendekat, sekedar ingin tahu saja."


"Hmm ...


"Aku serius, Ram."


"Entahlah, rasanya aku ...


"Ayolah papa, sekali ini saja."


"Apa katamu?"


"Mm ... sekali ini saja?"


"Buka itu, sebelumnya."


"Pa-papa?"


Rama mengulum senyum, entah mengapa dia merasa senang mendengarnya.


"Ayolah, papa! kita ke Bogor untuk melihat Aslan!" rayunya, dan dia menarik-narik ujung kaus suaminya.


"Baiklah, baiklah!" Rama akhirnya menurut.


"Yeayyy! ayo kita ke Bogorr!!" Kaysa dengan riang.


"Awas saja kalau setelah sampai Bogor aku tidak dapat apa-apa ya?"


"Tenang, ... ada banyak yang akan kamu dapatkan di sana."


"Benarkah?"


"Tentu saja, asal bawa aku dulu melihat Aslan, nanti aku berikan imbalan." ucap Kaysa.


"Aku pegang janjimu ya?"


"Oke,"


Dan Rama pun membelokkam mobil yang di kendarainya ke jalur menuju kota hujan tersebut dengan semangat.


*


*


*


Bersambung ...


hari senin hari vote, tapi jan lupa like komen sama hadiahnya ya?😆


lope lope sekebon korma😘😘