Kopassus And Me

Kopassus And Me
Kemarahan Rama



*


*


Semua orang terdiam melihat tayangan video yang beputar di layar. Tak ada yang mampu berkata-kata, apa lagi berkomentar. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini.


Menjadi saksi kebejatan dua manusia yang tidak pernah mereka sangka akan mampu merusak manusia lainnya dalam keadaan tidak sadar.


Yang paling marah tentu saja Rama. Wajahnya memerah dengan mata terbelalak. Dia pun tidak menyangka hal itulah yang mereka lakukan.


Junno dan Adam memegangi pundaknya untuk menahan kalau-kalau rekan mereka itu akan bereaksi. Meski dia masih terdiam, namun mereka yakin Rama menyimpan amarah yang sangat besar.


Bagaimaa tidak? Dia harus melihat adegan demi adegan ketika adik perempuannya di lecehkan.


Lalu pemutaran beralih pada video yang lainnya. Di mana Alan memasukkan jasad Livia ke dalam sebuah bak mandi yang di penuhi dengan bongkahan es batu. Lalu dia menciumi wajahnya sambil berbicara, seolah gadis itu masih bernyawa.


Dan pemutaran pun beralih pada video-video lainnya yang lebih pendek. Yang menampilkan kegiatan di hari-hari yang di perkirakan sebelum akhirnya mayat Livia di bungkus sebuah karung dan dibuang ke sebuah pinggiran kota Jakarta.


Bagaimana dia di perlakukan, bagaimana gadis itu di simpan, dan seperti apa Alan berbuat sesuatu kepadanya, dan hal tersebut di luar nalar manusia normal.


"Kau benar-benar sakit!" Rama mengeram, sementara kubu Alan terdiam.


"Apa manusia seperti mereka akan tetap kalian bela?" Junno berujar, dan dia menatap wajah-wajah pengacara itu satu persatu.


Tubuh Rama bergetar, kedua tangannya terkepal keras hingga urat-uratnya terlihat menonjol. Dia sedang berusaha mati-matian untuk menahan diri.


Lalu video terakhir di putar lagi, yang menampilkan sosok Livia yang berbicara di depan kamera.


"Kalau kakak lihat video ini setelah aku berangkat kuliah ke Bandung, jangan marah ya? Apalagi sedih. Aku baik-baik aja, dan semoga akan lebih baik ke depannya. Lagian ada seseorang yang siap mendukung aku sepenuhnya selain kakak." Livia tampak tersenyum.


"Aku tahu kalau kakak udah larang aku untuk punya hubungan dengan siapa pun sebelum aku lulus kuliah. Tapi, apa kakak tahu kalau orang ini membuat aku lebih semangat?" Kemudian dia tertawa sambil menutup mulutnya.


"Maksud aku, kakak selalu membuatku semangat, tapi dia juga memberi aku semangat tambahan. Dan kakak tahu, kalau itu baik untukku?" Gadis itu kembali fokus pada layar.


"Percayalah, nggak ada laki-laki sebaik kakak yang mendukung adiknya sepenuh hati, aku pastikan itu. Tapi dia juga baik, dalam segi lain tentunya."


"Aku sayang kakak melebihi apa pun di dunia ini, dan aku nggak akan pernah lupa dengan semua yang kakak lakukan untukku. Tapi orang ini ..." Livia kembali tersenyum dengan pipinya yang tampak merona.


"Aku harap kakak nggak marah, karena aku juga sayang dia. Aku harap kakak membiarkan aku memilih yang satu ini, oke? Aku akan selalu sayang kakak." Kemudian dia mundur, dan tampaklah pria itu yang berdiri di belakanya. Dengan senyumnya yang begitu manis, lantas dia merangkul pundak Livia.


Suasana di ruang sidang seketika menjadi hening. Hampir semua orang merasakan sesak yang sama, pilu yang sama, dan kesedihan yang sama.


"Dia begitu mempercayaimu, menganggapmu akan menjaganya sebaik aku. Tapi apa yang kau lakukan?" Rama dengan suara bergetar dan napasnya yang menderu-deru. Sehingga dadanya terlihat naik turun dengan cepat. Rasanya dia sudah tak mampu lagi menahan diri, lalu di detik berikutnya pria itu bangkit.


Rama melompati meja yang menjadi penghalangnya tanpa ada siapa pun yang bisa mencegahnya.


Secepat kilat dia melesat ke arah tempat di mana Alan berada. Naik ke meja, lalu melompati kerumunan pengacara dan segera menarik pria itu.


Rama mendorongnya ke dinding dan menahan Alan dengan sebelah tangannya. Lalu dia melayangkan tinjunya ke wajah, menariknya hingga dia berguling ke lantai, kemudian kembali menghajarnya.


Tendangan keras bersarang di beberapa bagian tubuh Alan yang tak sempat menghindar. Dan orang-orang di sekekilingnya pun tak mampu menghentikannya.


Kemudian Rama beralih kepada Frans yang berlindung di balik pengacaranya. Mereka bahkan perlahan mundur dan bermaksud keluar untuk melarikan diri di dampingi beberapa orang petugas. Tapi gerakan Rama lebih cepat, dan dia mampu mencapai pria itu dengan mudah.


Dia menarik Frans ke tengah ruangan, lalu melakukan hal sama seperti yang di lakukannya kepada Alan. Dan lagi-lagi, tak ada yang mampu menghentikannya.


Bahkan petugas pengadilan dan polisi yang berjaga sekalipun tak mampu membuatnya berhenti.


Adam dan Garin maju untuk menarik Rama, namun Junno merentangkan tangannya untuk menahan mereka.


"Biarkan dia melampiaskan kemarahannya." katanya, dengan suara datar.


"Tapi mereka akan balik menghajarnya nanti." Garin bereaksi.


"Tidak akan ada yang mampu meredam kemarahan seorang kakak jika mengetahui adiknya di sakiti." jawab Junno, yang memilih diam dan memperhatikan apa yang sedang terjadi. Dia bahkan menggelengkan kepala ketika melihat Kaysa bangkit.


Kecuali petugas pengadilan, tak ada siapa pun yang berusaha menghentikan Rama yang terus membabi buta, menghajar siapa pun yang mencoba mendekat.


Semua kamera bahkan terus merekam kejadian tersebut, dan berita segera tersiar ke seluruh penjuru negeri. Kegaduhan kian merajai dunia maya seiring merebaknya kabar keributan di dalam ruang persidangan, di tambah bukti baru yang begitu mengguncang dunia pada hari itu.


"Rama, hentikan!" Kaysa berteriak, lalu dia meraih pundak suaminya yang masih menghajar Frans dan Alan secara bergantian. Meski beberapa pria mencoba menghentikannya.


"Ram, jangan lakukan!" Sekuat tenaga perempuan itu menarik perhatian suaminya.


"Jangan Rama!" Dia menarik pria itu agar menjauh.


"Adam, Garin! Tolong!" Kaysa berteriak ketika dia sulit menghentikan Rama, dan dua pria yang dipanggilnya segera menghampiri.


Keduanya mengerahkan seluruh tenaga untuk menarik rekan mereka yang di kuasai amarah, di bantu empat orang lain yang tiba tepat waktu.


Mereka berhasil menarik rama menjauh meski sedikit menemui kesulitan karena amukannya yang tak bisa di redam. Bahkan Kaysa pun tak mampu membuatnya sadar.


"Tidak Ram, jangan begini! Kamu akan menyakiti dirimu sendiri!" Perempuan itu segera memeluknya begitu rekan-rekannya dapat menahan Rama.


"Stop! Berhentilah!" Dia mengeratkan pekukannya, meski pria itu terus berusaha melepaskan diri. Bahkan ke empat rekanya hampir tak mampu menahannya.


"Berhenti Ram! Ingat aku dan anak-anak!" Kaysa menarik kepalanya, kemudian membingkai wajah Rama. Mencoba untuk memfokuskan pandangan nanar pria itu kepadanya.


"Ram!" Katanya, dan dia berusaha menguasai kesadarannya.


"Ingat aku dan anak-anak. Kami membutuhkanmu!" Katanya lagi saat perhatian Rama mulai tertuju kepadanya.


"Stop."


Pria itu mulai tenang.


"Cukup Ram, semua orang sudah tahu. Biarkan mereka melakukan tugasnya. Kamu sudah berusaha."


"Dia ... membunuh adikku." Napas Rama masih tersengal-sengal.


Kaysa menganggukkan kepala, seiring air matanya yang terus berderai.


"Mereka sudah tahu."


"Mereka biadab!" ucap pria itu lagi.


"Ya, mereka juga sudah tahu."


"Apa yang harus aku lakukan agar adikku mendapat keadilan?"


"Sudah, kamu sudah berusaha." Kaysa mengusap dadanya untuk membuatnya tenang.


"Aku harus melakukan sesuatu." Rama berusaha melepaskan tanga Kaysa darinya.


"Tidak-tidak! Sudah cukup!" Namun perempuan itu kembali memeluknya untuk membuat dia tetap di tempatnya.


"Adikku harus mendapat keadilan, ..." Dia mendorong tubuh kecil Kaysa, kemudian melepaskan diri dari cengkeraman rekan-rekannya.


Rama bergegas kembali ke arah kubu Alan yang berusaha keluar dari ruangan tersebut ketika terdengar letusan senjata dari arah depan.


Semua orang terhenyak, dan keadaan kembali hening. Puluhan pasang mata segera memindai untuk mencari tahu dari mana letusan itu berasal.


Dan mereka semua tersentak ketika moncong pistol tampak menyeruak dari kerumunan, dan tangan Frans lah yang menggemggamnya dengan erat.


Rama membeku di tempatnya berdiri, lalu menyentuh perut bagian kanannya yang terasa sakit dan panas. Kemudian dia menatap telapak tangannya yang basah.


Darah kemudian mengalir cukup deras, dan di detik berikutnya pria itu tumbang tanpa aba-aba.


*


*


*


Bersambung ...