Kopassus And Me

Kopassus And Me
Sarapan Bersama



*


*


Rama menyembulkan kepalanya dari celah pintu, memeriksa ke dalam kamarnya mencari tahu apakah Kaysa sudah tertidur atau masih terjaga. Dan dia menemukan jika perempuan itu masih asyik dengan ponsel pintarnya.


Rama akhirnya masuk ke dalam kamar, dengan perasaan berdebar, namun tak segugup kemarin.


Oh, rasanya dia malu sekali jika ingat lagi kejadian itu. Rasanya mau menguburkan diri saja ke dalam tanah.


"Aslan sudah tidur?" Kaysa berpaling dari layar ponselnya ketika Rama naik ke tempat tidur.


"Sudah."


"Obatnya tidak lupa kan?"


"Tidak."


"Baiklah."


"Lalu sekolahnya bagaimana?" Rama kini yang bertanya.


"Dokter bilang dia belum siap. Keluar dari rumah saja dia tidak mau, apa lagi pergi ke sekolah."


"Lalu bagaimana?"


"Tidak bagaimana-bagaimana, dokter dan gurunya sudah berkoordinasi. Mereka memutuskan untuk membiarkan Aslan sampai dia siap dengan sendirinya."


"Tugas-tugasnya?"


"Seperti biasa, mereka mengirimkannya secara online setiap pagi, dan aku kirimkan hasilnya di siang hari. Dan Aslan tidak mengalami kesulitan sama-sekali."


"Jadi tidak ada masalah dengan itu?"


"Tidak. Mereka jelas mendahulukan pemulihan kejiwaan Aslan dari pada yang lain."


"Syukurlah. Aku sempat khawatir kita akan menghadapi masalah lain setelah ini." Rama denga raut lega.


"Aku kira tidak, mereka juga faham karena pengertian dari dokternya Aslan yang mudah di mengerti."


"Ya, itu bagus."


"Kamu pergi bertugas lagi malam ini?" Kaysa kembali bertanya.


"Tidak tahu. Bisa ya, bisa tidak."


"Baiklah kalau begitu." Kaysa meletakan ponsel di belakang bantal, kemudian merebahkan kepalanya. Dia menarik selimut hingga menutupi pundaknya.


"Ee, ... Kay?" Rama mencondongkan tubuh ke arahnya, namun perempuan itu tampak menguap.


"Aku tidur duluan ya? capek sekali hari ini membereskan banyak hal." katanya dengan suara parau.


"Umm, ...


"Nanti kalau mau pergi bangunkan aku," katanya, yang tanpa menunggu lama dia pun terlelap.


Rama tertegun di belakangnya, masih dengan posisi hampir menunduk menatap wajah Kaysa yang tampak begitu tenang. Lalu dia mendengus pelan dengan perasaan sedikit kecewa.


Tidak di pungkiri keinginannya begitu besar, dan rencananya banyak untuk malam ini. Namun mengingat kemungkinan panggilan tugas yang selalu datang tanpa di duga menjadikannya sedikit ragu-ragu untuk memulai. Takut membuat perempuan yang kini telah menjadi istrinya itu kembali merasa kecewa, seperti halnya dia semalam.


Walau di pastikan dirinya tidak akan bisa tidur denga cepat, karena selain harus siaga dengan tugas yang sewaktu-waktu memanggil, keadaan alat tempurnya juga tiba-tiba ikut bersiaga setiap kali dia berada dekat dengan Kaysa.


Ah, ... sial. Kalau sudah begini apa yang harus aku lakukan? batinnya, dan dia pun merebahkan tubuhnya di belakang perempuan itu.


*


*


Bunyi alarm di bawah bantal membangunkan Kaysa dari tidur lelapnya. Kedua tangannya merayap mencari benda tersebut untuk dia matikan. Sudah dam 05.30 pagi, dan perempuan itu kemudian bangkit seraya mengusap wajahnya. Kaysa mengikat rambutnya seperti biasa, kemudian turun dari tempat tidur. Setelah melirik sisi kosong disampingnya, tempat di mana suaminya semalam berbaring.


"Hhh ... kamu menikahi orang penting, Kay." gumamnya, saat menyadari pria itu sudah pergi, mungkin ketika dirinya begitu terlelap dalam tidurnya. Mejalankan tugas yang selalu tiba-tiba memanggil di saat yang tidak di duga.


Namun sayup-sayup Kaysa mendenar suara obrolan dari arah samping. Sepertinya suara Aslan, entah tengah mengobrol dengan siapa.


Perempuan itu segera turun dari tempat tidur, kemudian membasuh wajahnya dengan air dingin, dan bergegas mencari tahu ke luar.


"Om kalau misalnya lagi nangkap penjahat, suka di tembak atau di pukul?" anak itu berceloteh.


Dia duduk di kursi santai yang menempel ke dinding sebuah ruangan yang menyatu dengan garasi. Sementara Rama tengah berlatih dengan samsaknya di ujung.


"Tidak boleh menembak, atau memukul sembarangan." pria itu menjawab.


"Kenapa? kan penjahat?"


"Penjahat juga manusia. Kalau mereka mau bekerja sama ya harus di perlakukan dengan baik." pria itu memukul samsak dengan kedua tangannya yang berbalut sarung tinju. Dan sesekali mendaratkan tendangan di sana.


"Mana ada penjahat yang kayak gitu?" Aslan tertawa.


"Ya ada lah. Mereka yang masih memiliki rasa takut pasti selamat."


"Kalau nggak takut?"


"Ya kena tembak dan kena pukul." jawab Rama. "Kamu pun kalau masih memiliki rasa takut pasti akan selamat. Tapi jangan berlebihan, dan harus bisa menguasai rasa takutmu sendiri." pria itu seolah tengah berbicara dengan orang sebayanya.


"Jadi kalau penjahatnya baik nggak boleh di tembak ya om?"


"Iya."


Aslan tertawa lagi. "Aneh ya, masa ada penjahat yag baik?"


"Ya itu, kamu yang bilang tadi?" Rama pun ikut tertawa sambil kembali mendaratkan pukulan dan tendangan pada samsak di depannya.


"Kamu tidak pergi?" Kaysa menginterupsi obrolan dua pria beda usia ini.


Rama menghentikan kegiatannya, kemudian menoleh.


"Tidak."


"Aku pikir kamu pergi?" perempuan itu mendekat.


"Apa ponselku barusan berbunyi?" Rama bertanya.


"Aku belum mendengar."


"Baiklah, berarti memang tidak ada panggilan." Rama melanjutkan latihannya.


Kaysa terdiam sebentar memperhatikan pria itu yang asyik dengan latihannya. Beberapa kali memukul secara bergantian, kemudian sesekali menendang benda yang menggantung setinggi dirinya itu dengan keras. Hingga akhirnya dia berhenti dengan sendirinya dengan keringat yang mengucur deras di dahi dan wajahnya.


***


"Sudah selesai?" Kaysa bertanya begitu Rama masuk ke dapur, mengambil air dari dispenser yang kini telah di isi dengan air yang baru, kemudian menenggaknya hingga habis satu gelas besar.


"Hmm ..." pria itu mengangguk.


"Baik, mau sarapan sekarang?" tawar Kaysa, "Tapi aku belum selesai." perempuan itu tertawa, dengan wajan yang masih mengepulkan asap yang sayuran hijaunya baru saja dia masukkan.


"Tidak apa, aku mau mandi dulu kalau begitu." jawab Rama yang segera masuk ke dalam kamarnya.


"Kalau aku boleh makan sekarang? kan udah mandi." Aslan muncul dengan rambut yang sudah di sisir rapi, pakaian tidurnya sudah berganti dengan celana pendek dan kaus bergambar tokoh kartun kesayangannya. Wangi minyak telon juga menguar dari tubuh anak itu. Kaysa memang masih membiasakannya seperti itu walau dia bukan lagi balita.


"Aslan pintar, sekarang tidak usah mama suruh lagi ya, sudah bisa sendiri?" Kaysa menatap putranya yang sudah siap di meja makan.


"Tapi makannya nanti ya, tunggu papa biar kita sama-sama?"


"Yah, ...


"Sekarang Aslan main dulu atau nonton tivi, mama juga mau mandi, oke?"


"Ya udah, ..." bocah itu menurut.


***


Kaysa masuk ke dalam kamar ketika di saat yang bersamaan Rama sudah menyelesaikan urusannya. Mengenakan kaus oblong seperti biasa, dengan jogger pantsnya.


"Kalau mau makan duluan boleh, semuanya sudah siap kok. Tapi nanti tolong siapkan untuk Aslan ya? dia sepertinya main di luar." katanya, yang masuk dan langsung meraih handuk miliknya yang menggantung di dekat lemari pakaian.


"Kamu sendiri?"


"Aku mau mandi dulu, agar tidak terlalu gerah. Tidak akan lama kok." perempuan itu masuk ke dalam kamar mandi.


"Oh, oke." Rama mengangguk, dan dia hampir saja keluar dari dalam kamar, namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti ketika sesuatu melintas di otaknya.


Rama kemudian berbalik. Dia tertegun sambil menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Terdengar suara air mengalir yang di pastikan itu adalah Kaysa yang tengah membersihkan dirinya.


Jakunnya naik turun dengan cepat, dan tiba-tiba saja tenggorokkannya terasa kering, ketika bayangan visual tubuh Kaysa dalam keadaan telanjang melintas dalam pikirannya.


"Hhh ... masa harus jam segini?" dia merapatkan punggung pada daun pintu, lalu melihat jam di layar ponselnya. Kemudian mendongak ketika tak lagi mendengar aliran air di dalam kamar mandi.


Namun tangannya menggapai kunci di belakang, lalu memutarnya sebanyak dua kali, dan dia menunggu beberapa menit hingga pintu kamar mandi terbuka perlahan.


Kaysa keluar dengan hanya mengenakan handuk yang dia lilitkan di dada, dengan rambut basahnya yang masih meneteskan titik-titik air.


"Ada yang lupa?" perempuan itu sedikit terhenyak saat mendapati suaminya yang berada di sana.


"Hmm ..." Rama menjawab dengan gumaman, lalu dia menegakkan tubuhnya.


"A-apa?" tiba-tiba saja Kaysa merasa gugup. Melihat sorot mata pria itu yang tak biasa. Apalagi ketika suaminya tersebut berjalan mendekat kepadanya.


"Ya sudah, aku pakai baju dulu." sambung Kaysa, yang dengan cepat mengambil pakaiannya dari dalam lemari tak jauh dari pintu kamar mandi, dan bermaksud kembali ke dalam sana.


Namun langkahnya terhenti di ambang pintu kamar mandi ketika kedua tangan Rama menahannya dari belakang, melingkari pinggangnya sehingga tubuh mereka merapat.


"Umm, ... aku ... harus berpakaian dulu, Ram." Kaysa tergagap. Sungguh ini merupakan saat-saat yang mengangkan baginya.


"Tidak usah, nanti juga aku lepaskan." Rama berbisik di telinganya. Hembusan napasnya yang hangat menerpa kulitnya yang masih setengah basah, namun membuat tubuhnya terasa meremang.


"Tapi kita kan ...


"Mau sarapan." Rama melanjutkan ucapannya.


"I-iya, ..." Kaysa memejamka mata seraya menggigit bibir bawahnya dengan kencang ketika pria itu menunduk untuk mengecup leher jenjangnya, kemudian turun ke pundak telanjangnya.


"Umm, ... Ram?" napasnya mulai memburu, dan dadanya naik turun dengan cepat. Apa lagi ketika pria itu menarik handuk yang masih menempel di tubuhnya hingga terlepas.


"Sarapannya sekarang boleh?" Rama berbisik lagi, dan tangannya sudah merayap di perut rata perempuan itu, kemudian naik ke atas. Dia tersenyum ketika menemukan gundukkan kenyal yang mulai menggodanya sejak pertama kali dia melihatnya.


"Kay?" bisikannya mempengaruhi Kaysa, sehingga dia tak mampu bergerak selain bernapas. Tubuhnya seolah membeku, namun dia menikmati momen seperti ini.


"Hum?" perempuan itu bergumam.


Kemudian Rama membalikkan tubuhnya sehingga kini mereka berhadapan. Dia menatap wajahnya yang mulai memerah, dan tatapan matanya yang tampak malu-malu, namun sekaligus berharap. Sama seperti dirinya.


Kemudian mereka memulai cumbuan dengan penuh perasaan. Keduanya saling memagut dengan sepenuh hati, bertukar perasaan dan saling menggoda hasrat. Apa lagi ketika kedua tangan sudah ikut berperan. Menjelajah setiap lekukan yang bisa di capai dan menyentuhnya dengan penuh pemujaan.


Rama melepaskan pakaiannya sehingga kini mereka sama-sama telanjang, kemudian melanjutkan cumbuan yang sempat terjeda. Dia berjalan mundur seraya menarik Kaysa ke tempat tidur, lalu mendorongnya hingga perempuan itu terjatuh di bawahnya, yang segera dia kungkung seolah takut akan terlepas darinya.


Rama menatap wajahnya yang benar-benar sudah memerah, lalu tubuhnya yang terlentang pasrah di bawah. Sungguh pemandangan yang mengagumkan. Cantik dan menggodanya membuat hasratnya meningkat dengan cepat.


Dia kembali mencumbunya, menciumi kening, kedua mata, ujung hidung, dan bibirnya yang membuatnya merasa tak sabar. Kemudian beralih ke belakang telinga, lalu turun menyusuri leher jenjangnya yang menggoda. Sehingga Kaysa terdengar mendes*h pelan. Namun dapat meningkatkan degup jantungnya menjadi dua kali lebih cepat dari sebelumnya.


Bibirnya terus turun kengecupi dada dan tulang selangka, lalu berhenti di atas dua bulatan menggoda milik Kaysa. Yang puncaknya telah mencuat karena cumbuan memabukkannya.


Tanpa menunggu lama, dia segera melahapnya dan sesekali merematnya, mempermainkan puncaknya dengan rasa gemas yang tak terkira, membuat Kaysa kembali mendes*h dan mendesis lirih.


Nalurinya terus menuntunnya untuk melakukan lebih jauh, dan dirinya tak mampu untuk menahannya kali ini. Godaan di bawahnya sungguh tak bisa di tolak.


Kedua tangan Kaysa merayap di pundaknya, lalu naik ke kepalanya, jemari lentiknya menelusup di antara rambutnya yang sudah menebal dan sesekali merematnya. Lalu menekan kepala pria itu sehingga membuat sesapan di dadanya lebih dalam lagi.


"Oh, ..." des*h Kaysa lagi, dengan tubuhnya yang melengking sehingga kepalanya terdongak ke belakang.


Pandangannya beralih pada jendela yang masih tertutup gorden, di mana bayangan anak kecil tampak melompat-lompat riang, dan sesekali berlari. Dia bahkan mendengar suara seolah-olah anak itu sedang berbicara.


"Aslan ..." Kaysa bergumam, namun matanya mengerjap-ngerjap berusaha mempertahankan kesadarannya yang sudah berhamburan.


Di detik berikutnya dia hampir menjerit saat merasakan sesuatu di bawah sana memasukinya sekaligus, membuatnya mengembalikan perhatiannya kepada pria di atasnya.


Rama tertegun begitu alat tempurnya sudah terbenam seluruhnya pada Kaysa. Tanpa halangan, tanpa hambatan. Dan dia terdiam untuk menenangkan diri. Menyesuaikan miliknya dengan nyaman di dalam sana, sambil menatap wajah perempuan di bawah sana yang keningnya berkerut keras hingga alisnya terlihat saling bertautan.


"Ram?" erangnya ketika dia merasakan Rama mulai bergerak.


Pria itu kembali mengikuti naluri alaminya untuk menggerakan bagian bawah tubuhnya.


"Oh, sayang!" Kaysa mengerang lagi dengan kedua tangannya yang menggapai wajah pria itu. Dia menariknya untuk melanjutkan cumbuan, di sela hantakan yang mulai teratur.


"Mmm ..." erangan tertahan terus mengudara, seriring naluri yang terus menghantarkan Rama pada perasaan luar biasa, yang belum pernah di rasakannya seumur hidup.


Dadanya meletup-letup, perasaannya semakin membuncah, dan gairahnya semakin tersulut. Hasratnya bahkan terus menanjak seiring nalurinya yag juga semakin menajam dengan sendirinya.


"Ah, ...Rama!" Kaysa terus meracaukan namanya, yang semakin lama semakin di sukainya. Menyebut nama suaminya yang menyentuhnya seperti itu, memperlakukannya dengan penuh perasaan, dan membuatnya merasakan hal yang juga tak pernah dia dapatkan sebelumnya.


"Oh, ..." des*hnya lagi, dan dia mencengkeram kedua tangan Rama dengan kencang. Kemudian kembali merayapi tubuh kekar pria itu yang bergerak semakin intens. Mengobrak-abrik bagian terdalam dirinya dengan begitu luar biasa.


"Mmm ... Rama, lebih cepat." racaunya ketika merasakan sesuatu di dalam tubuhnya mendesak.


"Lebih cepat sayang!" katanya lagi, dan pria itu menurut.


Rama menghentak lebih cepat dari sebelumnya, dan dia mengerahkan seluruh tenaganya.


"Oh, ... Rama, sayang ... " napas mereka semakin memburu, seiring hentakan yang semakin cepat. Dan pinggul Kaysa terangkat ke atas ketika gelombang pelepasan menghantamnya tanpa ampun.


"Oh, ..." erangnya, seiring cengkeraman di bawah sana yang mengencang diikuti denyutan hebat


Membuat pria itu pun bahkan merasakan hal lain di dalam dirinya yang bergulung di pusat tubuhnya. Membuatnya semakin menambah tempo hentakannya, mengikuti naluri yang kemudian menggiringnya pada apa yang dia rasakan begitu luar biasa.


Cengkeraman dan denyutan itu jelas membuatnya kehilanga akal sehingga menyebabkannya tak mampu lagi menahan diri. Yang kemudian membuatnya melepaskan apa yang sudah di tahannya sehingga segalanya meledak begitu saja.


"Kaysaaaaaa!" geramnya, seraya membenamkan wajahnya di belahan dada perempuan itu.


*


*


*


Bersambung ...


Fiyuh ...😂😂😂


Ayoooo, ... yang mau kirim hadiah, waktu dan tempat di persilahakan 😆


kabuurrrrrrrrrr 😚😚😚