Kopassus And Me

Kopassus And Me
Ekstrapart #4



*


*


Tak bosan-bosannya Rama menatap foto hasil USG dari janin dalam kandungan Kaysa. Usianya sudah empat bulan, dan wujudnya sudah terlihat. Bentuk tubuhnya sudah sempurna dan anggota badannya pun sudah lengkap.


"Sudah malam Papa." Kaysa merangkul pundaknya dari belakang.


Ruang tengah pada malam itu memang sudah sepi. Aslan sudah beranjak ke kamarnya, dan dia tidur tak lama kemudian.


"Aku tidak percaya sebentar lagi akan menjadi Papa." Pria itu menoleh.


"Maksudku, benar-benar jadi Papa dari anakku sendiri." Dia terkekeh.


Kaysa berjalan memutar kemudian duduk di sampingnya.


"Bagaimana perasaanmu?" Rama kemudian bertanya.


"Tidak bagamana-bagaimana, biasa saja."


"Benarkah?"


"Hmm ... selain agak sesak di bagian ini, dan aku mulai mudah merasa lelah." Perempuan itu mengusap perutnya sendiri.


"Mau berhenti bekerja?"


"Apa? Tidak mungkin. Aku masih punya waktu beberapa bulan sampai dia lahir. Dan selama itu masih bisa bekerja kan? Apalagi cuma di studio."


"Tidak apa-apa?"


"Ya, aku baik-baik saja."


"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan menghalangimu." Rama mengulurkan tangannya untuk merangkul perempuan itu.


"Mau tidur sekarang?" Kaysa menatap wajah suaminya.


"Sepertinya iya, aku harus mempersiapkan diri bukan?" Rama menjawab.


"Mempersiapkan diri untuk apa?"


"Siapa tahu ada panggilan tugas?"


"Memangnya sudah waktunya ya?" Mereka bangkit dan berjalan ke arah kamar.


"Aku rasa begitu."


"Baiklah. Semua yang kamu butuhkan sudah kamu siapkan juga?"


"Sudah."


"Semangat sekali yang mau kembali bertugas?"


"Hanya bersiaga." Rama terkekeh. "Panggilan tugas bisa datang kapan saja kan? Kamu sudah tahu sendiri." Rama menyingkap selimut, kemudian naik ke tempat tidurnya. Begitupun Kaysa.


"Nanti kalau aku melahirkan kamu akan siaga juga tidak?"


"Kita berdoa saja semoga tidak ada tugas dadakan menjelang kamu melahirkan." Mereka tak lantas berbaring.


"Tapi bagaimana kalau ternyata ada?"


"Entahlah."


Kaysa terdiam.


"Apa kamu akan marah?"


"Marah?"


Rama menganggukkan kepala.


"Kenapa harus marah?"


"Karena mungkin saja aku tidak ada di saat paling penting itu?"


"Begitu ya?"


"Kemungkinan. Aku tidak akan mengatakan hal-hal manis seperti aku akan selalu ada di sampingmu jika tiba waktunya nanti dia lahir." Rama menyetuh perut perempuan itu.


"Dan aku tidak akan menjanjikan apa pun soal itu. Aku hanya akan berusaha untuk selalu melakukan yang terbaik untuk kalian. Meski mungkin cara dan jalannya berbeda dari orang kebanyakan."


"Kenapa kata-katamu membuatku sedih? Seolah kamu akan pergi jauh meninggakan kami?" Kaysa menyentuh wajah Rama, kemudian menghambur ke pelukannya.


"Aku hanya berbicara realita. Karena pekerjaan yang memungkinkan aku tidak bisa seperti suami-suami orang lain."


"Iya iya aku tahu, aku mengerti. Aku tidak akan menuntut apa pun selain mendoakan yang terbaik. Kalaupun kamu tidak bisa mendampingiku saat persalinan nanti tidak apa-apa, aku tidak akan marah."


"Benar?" Rama mengangkat dagu perempuan itu dengan telunjuknya.


"Benar." Kaysa mengangguk dengan pandangan tertuju pada wajah suaminya.


"Baiklah kalau begitu." Lalu pria itu mengecup keningnya untuk beberapa detik.


Kaysa memejamkan matanya sambil tersenyum. Merasakan cinta yang begitu besar dari pria yang hampir satu tahun lalu di temuinya itu. Hidupnya terasa lengkap, dan tak ada lagi yang dia inginkan selain bersamanya.


Seluruh hidupnya dia serahkan untuk bersama suaminya. Mempercayakan apa pun yang akan dia lakukan untuk mereka. Dimana pun berada, dan bagaimana pun keadaannya asalkan mereka tetap bersama, semuanya pasti akan baik-baik saja.


"Sekarang tidurlah, bukankah besok kamu harus bekerja?" Rama kemudian melepaskannya. Namun Kaysa sebaliknya. Dia malah melingkarkan kedua tangannya di pudak pria itu dan memeluknya dengan erat.


"Kay?"


"Hum?"


"Sudah malam. Tidur." ucap Rama.


Perempuan itu menggelengkan kepala.


"Kay?"


"Tidak mauuuu!" Dia malah mendekatkan wajahnya, dan segera saja bibir mereka bertemu.


"Ayolah, cepat tidur. Katanya kamu akhir-akhir ini mudah lelah?"


"Benarkah? Kapan aku bilang begitu?"


"Tadi."


"Oh ya?"


"Hmm ...."


"Baiklah." Dan perempuan itu kembali mendaratkan ciumannya.


"Kay, kamu ...." Namun tak ada yang bisa menghentikannya. Terutama ketika Kaysa melepaskan seluruh pakaiannya, dan segera meneruskan cumbuan.


Segera saja, sentuhan dan cumbuannya membuat Rama terbawa suasana, sehingga mereka cepat tenggelam dalam syahdunya percintaan pada malam itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kaysa terbangun dalam keadaan berantakan, sama seperti tempat tidurnya yang tampak tidak karuan.


Selimut menggulung tubuh telanjangnya, sementara sebagian bantal sudah berserakan di lantai. Pergumulan semalam jelas begitu membuat mereka terhanyut dan lupa akan segalanya. Jika saja Aslan tidak menggedor pintu kamarnya, sudah di pastikan mereka akan kesiangan.


"Iya, Mama mandi dulu." teriak Kaysa yang memaksa untuk bangkit.


Aku pergi, mungkin untuk dua hari ke depan. Jangan lupa obat dan vitaminmu ya?


Pesan pria itu dengan sebuah gambar bulatan dengan dua titik dan garis melengkung di tengah tampak seperti emoticon senyum. Membuat Kaysa tertawa.


"Dasar konyol!" katanya, kemudian dia segera membersihkan diri.


***


"Kamu nanti langsung ke tempat kerja Mama ya?" Kaysa memastikan penampilan Aslan sudah rapi sebelum anak itu masuk ke area sekolahnya.


"Oke."


"Nanti Mama beri tahu pak satpam kalau sudah kirim ojek onlinennya."


"Siap."


"Ingat, jangan pergi kemana-mana sebelum Mama menghubungi pak satpam ya?"


"Iya Mama."


"Anak pintar. Cepat sana masuk." katanya lagi.


"Aslan tunggu." Suara yang tentu sangat mereka kenal terdengar.


"Pagi tante?" Maira menyapanya seperti biasa.


"Pagi sayang. Kamu sendiri?" Kaysa menjawab.


"Nggak, kan sama mama."


"Oh iya." Kaysa menoleh, dan dia mendapati Andini yang berdiri di samping motor maticnya.


"Sudah, cepat kalian masuk sebelum belnya berbunyi!"


Dan kedua anak itu pun berlari kedalam sekolah mereka.


"Hai Din?" Kaysa lebih dulu menyapa perempuan itu.


"Ya Kay?"


"Bagaimana kabarmu?"


"Baik."


"Syukurlah."


"Kamu sendiri bagaimana?"


"Baik juga."


"Baiklah." Andini mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kamu antar Aslan sendirian?" Lalu dia bertanya, sambil mengedarkan pandangan ke sekitar tempat itu.


"Ya, seperti yang kamu lihat."


"Papanya?"


"Oh, sedang bertugas."


"Begitu ya?"


"Ya." Kaysa mendekat.


"Aku ... ada sesuatu untuk kamu." Andini meraih sebuah bungkusan dari pengait di bagian depan motor maticnya.


"Apa itu?"


"Hanya bingkisan kecil." Dia menyodorkan benda tersebut kepada Kaysa, yang segera di terima oleh perempuan itu.


"Bingkisan?" lalu Kaysa mengintip dari celah kecilnya.


"Hanya kue, aku harap kamu suka."


"Oh, ...."


"Sebagai tanda terima kasih karena selama ini Aslan sudah membawakan bekal untuk Maira."


"Ah, itu bukan apa-apa, kamu tidak perlu repot begini." Kaysa hampir mengembalikan benda itu kepada Andini, namun perempuan berjilbab itu menolaknya.


"Ambillah Kay."


"Tidak perlu Din, kamu lebih membutuhkannya dari pada aku. Kalau punya uang atau makanan, leih baik kamu simpan untukmu dan Maira. Tidak usah memaksakan."


"Tidak apa, aku memberikannya karena memang punya. Bukan karena memaksakan."


"Tapi Din?"


"Terimalah, agar aku merasa senang."


"Hmm ... baiklah. Terima kasih." Akhirnya Kaysa menerimanya.


"Kamu mau pergi bekerja?" Andini kemudian bertanya.


"Iya."


"Mau aku antar?"


"Tidak usah, kamu harus mencari penumpang kan? Nanti kalau aku antar malah merepotkan."


"Tidak apa-apa, sambil lewat."


"Tapi sepertinya ...."


"Kalau yang satu ini aku memaksa lho."


"Ayolah, ijnkan aku melakukan sesuatu kepadamu yang telah berbuat baik untuk anakku."


"Din, sudah aku bilang itu bukan apa-apa."


"Tapi untukku itu sangat berarti."


Kaysa terdiam.


"Ayolah Kay. Agar pikiranku ini tenang."


"Kamu berlebihan!"


Andini hanya tertawa. Dan Kaysa pun tak dapat menolak hal tersebut, sehingga kemudian dia menyerah dan akhirnya mengikuti ajakan perempuan itu.


*


*


*


Cieeee akur🤣🤣


nungguin ya? 😄😄