
*
*
Matahari perlahan muncul di ufuk timur ketika mereka memasuki sebuah pesawat berukuran sedang. Masih dengan senjata yang siap meletus jika saja sewaktu-waktu ada pergerakan mencurigakan yang mengancam misi mereka.
Dua anggota tim berada di depan, dua di tengah, dua lagi di belakang. Mengapit sang tahanan dengan pengamanan super ketat. Sementara dua orang sisanya telah berada di dalam pesawat, memastikan burung besi itu aman dari segala kemungkin terburuk bagi mereka.
Ke delapan pasang mata tajam mereka terus mengawasi keadaan sekitar, meneliti ke setiap sudut tempat itu dengan kewaspadaan di atas rata-rata.
Anna di tempatkan tepat di tengah barisan kursi, dengan dua anggota yang tetap mengapitnya, masing-masing berjarak dua kursi darinya.
Adam yang siaga dengan senjata semi otomatisnya, dan Rama dengan rantai kejut listriknya yang tertaut pada borgol yang membelenggu kedua tangan perempuan itu.
Tak ada seorang pun yang berbicara sama sekali, bahkan hanya sekedar untuk berkomunikasi. Malah, tak ada seorang pun di antara mereka yang di izinkan untuk membuka penutup wajahnya walau hanya sebentar.
"Hey, officer!" Anna mulai bersuara.
"I have an offer for you ( aku punya penawaran untukmu.)" tak ada yang menyahut.
"Hey, sir?" ucap perempuan itu lagi.
Masih tak ada yang merespon.
"You know, nobody ever reject what im offering. Because it' so ..." tanpa di sangka Adam mendaratkan pukulan yang cukup mematikan kepadanya. Sehingga perempuan tersebut langsung tak sadarkan diri.
"Stop!! kau membuatnya pingsan!" Rama bereaksi.
"Terlalu banyak bicara, dan aku tidak suka." ucap Adam dengan nada kesal.
"Kau akan terkena sanksi."
"Yeah, karena membungkam mulut berbisanya yang sering menjadi pengaruh buruk untuk petugas. Kau tahu, itu yang membuatnya selalu bisa lepas dari tuduhan." jelas Adam.
Setelahnya, tak ada yang berbicara lagi. Namun mereka tetap bersiaga melalui perjalanan yang cukup panjang hingga pesawat yang mereka tumpangi tiba di tujuan.
***
"Sebentar lagi kita melewati perbatasan Australia-Papua Nugini." Junno keluar dari kabin staf.
"Semuanya bersiap!" Rama memberikan instruksi.
Semua anggota tim mempersiapkan diri.
Rama berusaha menyadarkan tahanan mereka ketika di saat yang bersamaan terdengar ledakan di bagian belakang pesawat. Membuat mereka semua memalingkan perhatian. Seiring dengan guncangan keras yang mereka rasakan.
Junno pergi untuk memeriksa, dan dalam waktu sekejap dia kembali.
"Serangan dari daratan." katanya, dan dia segera menyiapkan senjatanya.
Asap mengepul dari ekor pesawat yang tampak terbakar dan itu mempengaruhi keseimbangan.
"Kirim sinyal darurat, dan segera minta bantuan!" Rama berteriak, dan Garin melaksanakan.
Lampu darurat di atas pintu kabin berkedip-kedip, dan bunyi alarm terdengar memekakan telinga. Kemudian seorang petugas dari bagian depan muncul.
"Ketinggian pesawat turun drastis, meski kami berusaha untuk bertahan tapi tidak untuk waktu yang lama. Bisa di pastikan jika kita akan jatuh sebentar lagi." ucapnya kepada Junno, dan di dengar oleh semua orang. Tak terkecuali tahanan yang mereka bawa, yang kemudian tertawa terbahak-bahak.
"See? my brother is coming!" katanya, yang kembali tertawa.
"Atur untuk pendaratan darurat!" Rama meredam kepanikan yang mulai menguar di antara mereka.
"Tidak bisa. Di bawah sana hutan belantara, kalaupun mendarat kita semua akan mati karena pesawat di pastikan akan hancur." jelas co-pilot dari dalam.
Anna terdengar tertawa lagi.
"Kalau begitu, kita semua terjun dengan parasut!" Rama berpikir cepat.
Mereka memang mengantisipasi segala kemungkinan, sehingga peralatan apa pun sudah tersedia untuk hal yang paling tidak di duga.
Pilot di depan sana masih berusaha untuk mempertahankan ketinggian, namun tidak terlalu berarti. Ketinggian pesawat turun semakin rendah, dan mereka sudah bisa melihat hamparan hutan di bawah sana, sebagai tanda perbatasan Negara Australia dan Papua Nugini.
"Semuanya siap!" Rama memeriksa keadaan.
Semua anggotanya telah mengenakan kantung parasut, tak terkecuali dua pilot, empat pramugari, juga Anna sang tahanan yang mungkin menjadi incaran pembebasan dari pelaku yang menembakkan bahan peledak pada pesawat. Bisa di pastikan anggota kelompok yang perempuan itu sebut sebagai kakaknya.
"May day, may day!" Garin masih berusaha berbicara dengan alat komunikasinya setelah mengirimkan sinyal darurat ke menara pengawas dan markas pusat beberapa saat yang lalu.
Satu persatu dari mereka melompat keluar pesawat yang kemudian menarik parasut setelah jarak ketinggian di rasa aman. Begitupun dengan Rama dan Adam dengan Anna yang di ikat erat kepadanya.
Mereka bertiga menjadi orang terakhir yang melompat, dan bersamaan dengan itu pesawat terus melesat tak terkendali. Yang akhirnya menukik ke bawah dan bagian depannya yang pertama menghantam pepohonan dengan keras, kemudian ledakan dahsyatpun terdengar mengguncang keheningan hutan perbatasan, dengan api yang menyeruak akibat ledakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mama kok udah siap? mau ke mana?" Aslan keluar dari kamarnya dengan keadaan sudah rapi.
"Tidak ke mana-mana."
"Om Rama beneran udah pergi kerja ya?" anak itu melihat ke arah samping lewat jendela kecil di dekat counter. Rumah terasa sepi pagi itu.
Biasanya dia mendapati ayah sambungnya itu sudah memulai aktifitas paginya dengan berolah raga di garasi samping rumah.
"Sudah, tadi subuh." Kaysa menjawab.
"Perginya subuh, kamu masih tidur."
"Oh, ...
"Aslan mau makan apa hari ini? sebelum latihan mama akan masakkan."
"Apa aja boleh." Aslan menjawab.
"Mau roti isi?" tawar Kaysa kepada putranya.
"Boleh, tambah keju slice ya?" pintanya pada sang ibu.
"Siap!" perempuan itu dengan semangat.
"Emangnya ada?" anak itu kemudian bertanya.
"Ada. Tidak usah khawatir, kita punya yang kamu mau sekarang." perempuan itu tersenyum.
"Yeayyy!!" Aslan bersorak riang.
Kaysa mengambil empat lembar roti tawar, kemudian dua di antaranya dia isi dengan selada, irisan tomat, daging asap, keju dan sedikit mustard dan saus tomat.
Kaysa tambahkan selembar roti lagi di atas keduanya, kemudian memotongnya sehingga membentuk segi tiga.
"Minumnya susu cokelat ma!" suara Aslan terdengar riang.
"Oke." Kaysa menuruti kemauan putranya.
"Ibu guru udah kirim pr belum?" Aslan memulai acara sarapannya. Menggigit ujung roti isi miliknya, kemudian mengunyahnya dengan tenang. Dia sangat menyukai makanan tersebut.
"Belum, mungkin sebentar lagi." Kaysa meletakan susu cokelat yang di minta putranya tersebut.
"Oke."
Mereka makan dalam diam.
***
Kaysa tengah menikmati teh hangatnya setelah merapikan bekas sarapan mereka. Sementara Aslan berkutat dengan alat tulis dan buku gambarnya seperti biasa. Setelah mengerjakan tugasnya dari guru di sekolah, dia melanjutkannya dengan membuat gambar baru yang nantinya akan dia warnai seperti gambar-gambar sebelumnya. Dan hal itu menjadi kegiatan yang paling mengasyikan baginya sejak beberapa minggu belakangan.
Kemudian perhatiannya teralihkan ketika terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar, dan Kaysa bergegas ke depan untuk melihat.
Seorang pria tegap berpakaian militer berdiri di depan pintu rumahnya, semetara dua pria berseragam lainnya berdiri di luar teras. Di perkirakan adalah pengawalnya.
"Ya?" perempuan itu segera membuka pintu.
"Selamat pagi bu?" ucap pria itu setelah melakukan gerakan hormat terlebih dahulu.
"Pagi." Kaysa menjawab.
Dia menatap pria yang berusia sekitar 40 tahunan tersebut, yang tertera nama di dada seragam sebelah kanannya.
Bimasakti.
"Izinkan saya menyampaikan berita kepada keluarga." katanya dengan nada sedikit gemetar.
Kaysa mempersiapkan diri untuk menerima berita yang mungkin paling tidak ingin dia dengar. Dan dia sudah mengira keadaan ini akan di alaminya. Namun dirinya tak menyangka jika hal itu akan terjadi secepat ini. Mereka bahkan baru saja menikah.
"Si-silahkan pak." jawabnya, terbata.
"Pesawat yang di tumpangi suami anda dan rekan-rekannya jatuh di perbatasan Australia-Papua Nugini. Setelah di tembak oleh kelompok tak di kenal di wilayah udara negara itu." Bimasakti menerangkan.
Cangkir di tangan Kaysa terjatuh dengan sendirinya. Sehingga isi dan pecahannya berhamburan di sekitar kakinya.
"Kami harus mengabarkannya secara jujur, setelah memastikannya. Dan dengan menyesal kami harus menyampaikan hal ini." lanjut Bimasakti.
Kaysa terhuyung ke samping, dan tubuhnya hampir merosot di lantai jika pria itu tak sigap menangkapnya. Diikuti oleh dua ajudan di belakangnya.
"Ibu harus tenang, keadaan di lokasi belum di ketahui. Tapi kami sudah mengirim tim penyelamat ke sana. Pihak Australia juga sudah mendaratkan pasukannya. Dan sekarang mereka sudah memulai pencarian."
Tubuh Kaysa berguncang, dia menahan tangisan dan emosi yang muncul bersamaan.
"Ibu bisa ikut kami ke markas jika itu bisa membuat tenang. Juga untuk menghindari kegaduhan di sini." pria itu menoleh ke sekitar rumah yang berada di pemukiman yang cukup padat itu.
Beberapa tetangga bahkan sudah tampak melihat keadaan di rumah tersebut, bermaksud mencari tahu.
"B-baik." Kaysa menganggukkan kepala, lalu bangkit.
Kemudian dengan langkah gontai dia berjalan menuju kamarnya untuk berganti paakaian dan membawa beberapa barang yang di perlukan.
"Aslan, bersiap nak. Kita pergi." katanya kepada putranya yang melihat kejadian itu dalam diam.
*
*
*
Bersambung ...
like komen hadiah sama votenya kalau masih ada.