
*
*
Rama memastikan segala perlengkapan yang di perlukannya sudah masuk ke dalam tas. Kemudian memeiksa kembali segala hal yang biasa menempel di tubuhnya.
Rompi anti peluru lengkap dengan senter kecil, dua pistol dan peluru cadangannya, pisau belati menggantung di pinggang, juga senapan otomatis versi terbaru yang dia dapat di markas, juga pelindung untuk kepalanya, begitu juga pelindung lutut dan sikut. Semuanya siap untuk mendukungnya menjalankan misi kali ini.
Sementara Kaysa duduk di pinggir tempat tidur memperhatikannya dalam diam.
"Tetaplah di sini apa pun yang terjadi," ucap Rama.
"Tidak bisakah aku ikut?" Kaysa mengulang pertanyaan yang sama.
"Kay, ... sudah aku katakan kamu tidak bisa ikut. Pikiranku akan terbagi dua, dan itu akan menyebabkan aku tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi untuk menyelamatkan Aslan."
Kaysa menggigit bibirnya dengan keras.
"Dengarkan aku, ..." Rama berjalan mendekat, kemudian berjongkok di depannya.
"Jika terjadi sesuatu kamu tahu apa yang haruas di lakukan." dia menggenggam kedua tangan Kaysa.
"Apa maksudmu?"
"Jika terjadi sesuatu, dan aku tidak kembali ..."
"Tidak tidak! jangan katakan hal semacama itu!" Kaysa menggelengkan kepala.
"Seandainya, Kay."
"Tidak mungkin! kamu harus kembali membawa Aslan pulang, jangan bicara hal mustahil semacam itu! aku tidak mau mendengarnya!" Perempuan itu menggelengkan kepala seraya menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Kay, dengar!" Namun Rama segera melepaskannya.
"Jangan, aku mohon jangan seperti itu! kalian harus kembali, dan Aslan harus selamat. Aku mohon!" Kaysa dengan deraian air mata.
"Aku akan menyelamatkan Aslan bagaimana pun caranya. Hanya saja aku yakin tidak akan mudah. Alvaro sangat berbahaya, dan dia tidak akan menyerahkan Aslan begitu saja. Apa lagi setelah aku masuk ke daerah kekuasaannya."
Kaysa mendengarkan Rama berbicara.
"Tapi kamu membawa adiknya yang akan di tukar dengan Aslan."
"Alvaro penuh tipu muslihat. Tapi aku akan memastikan Aslan selamat. Adam akan membawanya keluar dan pulang kepadamu."
"Dan kamu?"
"Ada hal yang harus aku selesaikan agar Alvaro tidak bisa membalas lagi."
Wajah Kaysa memucat seketika.
"Tidak Ram, jangan lakukan itu. Biarkan mereka yang melakukannya."
Rama menggelengkan kepala.
"Yang dia inginkan adalah aku, maka akan aku antarkan sendiri sesuai keinginannya."
"Ram, aku mohon!" Kaysa menghiba.
Pria itu mengeluarkan sebuah flashdisk yang di dapatnya beberapa saat yang lalu.
"Jika aku tak kembali, maka lakukan sesuatu untukku." katanya, lalu dia menyerahkan benda tersebut kepada Kaysa.
"Apa ini?"
"Lakukan siaran langsung lewat satelit ke semua jaringan berita nasional, seperti yang biasa kamu lakukan dengan pekerjaanmu."
"Ta-tapi, ... apa ini? lagi pula aku tidak punya koneksi untuk melakukan itu."
Rama segera bangkit Bersamaan dengan pintu yang di ketuk dari luar. Dan dia segera berjalan ke arah pintu.
"Semuanya siap." Garin segera berkata begitu pintu terbuka.
"Baik." Rama menganggukkan kepala.
"Aku harus pergi sekarang." Pria itu menoleh kepada Kaysa yang mendekat kepadanya.
"Jangan pergi ke manapun, dan lakukan apa yang aku katakan." Rama meraih tas berisi persenjataannya.
Dia menatap perempuan itu sebentar, kemudian menariknya untuk memberikan pelukan. Sementara Kaysa melilitkan kedua tangannya di bahu pria itu dengan erat.
"Kembalilah nanti, aku mohon!" Kaysa setengah berbisik, dan dia merasa tak ingin membiarkannya pergi.
Namun Rama terpaksa melepaskan rangkulannya, karena mereka berlomba dengan waktu.
"Kau tetap di sini Jun." dia keluar dari kamarnya, menghampiri rekan-rekannya yang sudah siap di depan.
"Apa?" Junno terperangah.
"Aku minta kau tetap tinggal di sini untuk memastika tidak ada yang terjadi kepada Kaysa."
"Tapi aku ...
"Dampingi Dikka, dan sebagai peretas pasukan hantu, kau aku andalkan untuk melakukan siaran langsung nanti."
"Siaran langsung?"
"Dunia harus tahu hasil penyelidikanmu, dan kebusukan aparat di negara ini harus di bongkar."
"Kau yakin?"
"Aku tidak pernah seyakin ini. Jika sesuatu terjadi kepadaku, dan aku tidak kembali setelah Adam membawa Aslan pulang, maka lakukanlah apa yang aku katakan."
"Tapi Ram?"
"Aku mengandalkanmu, Jun. Dan tolong berikan keadilan untuk adikku." Rama menepuk pundak rekan satu pasukannya itu untuk memberikannya kepercayaan.
Tak ada yang mampu Junno lakukan selain menatapa wajah pemimpinnya tersebut.
"Jun?"
"Ba-baik Pak." ucap pria itu dengan tegas.
"Terimakasih." Rama dengan raut lega.
Dia menoleh kepada Kaysa sebentar, "Aku pergi Kay." katanya, kemudian bergegas keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ini hasil penyelidikanmu Jun?" Kaysa menunjukkan flashdisk yang di berikan oleh Rama beberapa saat yang lalu.
Junno memutar posisinya yang tengah duduk berjaga di ruang depan, menggantikan tugas Dikka pada menjelang dini hari.
"Ya." Dia menjawab.
"Kasus apa?"
"Kamu tidak akan menduganya sama sekali."
"Aku mau melihatnya sekarang."
"Lihat saja."
Kaysa pun mengeluarkan laptop miliknya, lalu menyalakan benda tersebut dan memasangkan flasdisk barusan ke tempat yang seharusnya.
Sebuah video menayangkan keadaan di sebuah ruangan yang sepi pada awalnya. Kemudian beberapa orang pria berseragam polisi masuk.
Kaysa mengerutkan dahi ketika dia merasa mengenali dua sosok di antara mereka.
Wajah Alan dan Fandi tampak sangat jelas pada rekaman tersebut. Sementara yang lainnya dia tidak hafal. Selain seragam dan penampilannya yang tampak berpangkat lebih tinggi dari dua pria yang mereka kenali.
Kemudian percakapan di antara mereka berlangsung cukup lama. Sesekali Kaysa melihat mereka tertawa. Dan beberapa saat kemudian seorang pria berstelan jas masuk.
"Frans?" dia kembali mengenali sosok lain tersebut.
"Apa hubungan mereka dengan Frans?" Dia menoleh ke arah Junno.
"Simak saja."
Lalu Kaysa mengembalikan perhatiannya pada layar laptop.
Frans tampak duduk di kursi yang kosong, kemudian meletakan tas yang di bawanya. Mereka berbicara sebentar, lalu pria itu membuka tas, dan mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna coklat yang cukup besar.
"Apa yang kalian lakukan?" Kaysa bergumam, dan dia mengatur untuk memperbesar layar pada tayangan di laptopnya.
Frans meletakan bungkusan tersebut di meja, yang kemudian di terima oleh Alan dan segera membukanya.
"Astaga!"
Setumpuk uang yang pastinya berjumlah sangat banyak di keluarkan Alan dari bungkusan tersebut, yang kemudian membuat pria-pria lain di dekatnya bereaksi.
"Sogokan?" Kaysa kembali menoleh kepada Junno.
"Kau pintar Kay." Pria itu mendekat, dan dia menatap layar laptop seolah telah mengetahui sesuatu.
Tentu saja, dirinya yang meretas jaringan kepolisian pusat untuk menyelidiki sesuatu setelah laporan anak buahnya Adam tentang persekongkolan di antara Frans dan alan. Dan yang di temukannya jauh dari dugaan.
"Apa ini di kantor polisi tempat Rama bertugas?" Kaysa bertanya lagi.
"Ya, dan itu adalah ruangan Fandi."
"Ya Tuhan. Persekongkolan apa ini?"
Junno menunjuk tanggal di sudut.
"Ini dua tahun yang lalu, tepat dua hari setelah kantor polisi menerima laporan tentang pelecehan seorang reporter yang di duga di lakukan oleh Frans." Junno menghentikan tayangan, kemudian beralih pada kabar di kanal berita online.
"Jika kau tahu waktu itu, kasus ini sempat menjadi bahasan utama. Tapi setelah dua hari menghilang begitu saja. Dan aku lihat, tepat satu jam setelah kejadian di rekaman tadi si reporter meminta maaf dan mencabut laporannya."
"Kamu serius?"
Junno mengangguk.
"Dan aku yakin ini saling berkaitan. Lihat?" Pria itu menunjuk beberapa angka dan tanggal yang tertera di sudut atas layar.
"Dan kamu tidak akan menduga hal lainnya yang terjadi." Dia mengembalikan tayangan tersebut.
Kaysa kembali menatap layar, dan melihat percakapan berlangsung beberapa saat. Hingga akhirnya, terlihat pintu di depan sedikit bergerak dan semua orang yang berada di dalam sana serentak menoleh.
Alan bangkit, dan dia segera keluar dari ruangan untuk memeriksa.
"Ada apa? ada seseorang yang di depan pintu?" Kaysa bereaksi.
"Video berikutnya." Junno menekan tombol lain sehingga video beralih pada tayangan lain.
Alan tampak keluar dari ruangan, dan berlari mengejar seseorang.
"Siapa? siapa yang Alan kejar?"
Rekaman cctv beralih ke kamera luar, dan seorang gadis berseragam SMA berlari. Namun Alan berhasil menghentikannya. Dia segera menariknya ke ruangan kecil di samping lorong yang mereka lewati.
"Tidak mungkin!" Kaysa menatap dengan raut tak percaya, lalu dia kembali menatap Junno.
"Apa kau mengenali gadis ini, seperti halnya suamimu?"
Kaysa terdiam, dan ya dia seperti mengenali gadis itu.
"Apa pikiranmu sama denga kami?" Pria itu berujar.
"Livia?"
"Kau mengenali adik iparmu dengan baik."
"Apa mereka ada hubungannya dengan kematian Livia?"
"Mungkin saja, karena ini juga terjadi tepat di hari dia menghilang. Satu jam setelah kelulusan sekolahnya."
*
*
*
Bersambung ...
makin njelimet nih. Ayo like komen sama hadiahnya kirim teruuuuusss.
😁😁