Kopassus And Me

Kopassus And Me
Pertukaran



*


*


Rama mengingat dengan keras hari-hari setelah dirinya kehilangan Livia. Dan otaknya berputar kembali pada saat-saat itu.


Ketika Fandi berkali-kali menyerahkan surat formulir untuk pendaftaran Kopassus yang memang ingin dia ikuti.


"Apa bisa Pak?" Pria itu bertanya.


"Cobalah, siapa tahu kau bisa mengikuti seleksi."


"Bukankah ini hanya bisa diikuti oleh lulusan Akmil?"


"Untuk sekarang bisa diikuti siapa saja yang berpotensi. Atau kau mau masuk Brimob? mereka sedang membuka seleksi besar-besaran. Tim Gegana, Densus 88 juga. Kau punya potensi, Ram. Tinggal pilih saja." katanya, membesarkan hatinya.


Rama terdiam untuk berpikir.


"Bapak yakin polisi sepangkat saya bisa masuk Kopassus?"


"Bisa."


"Bukankah itu untuk angkatan darat?"


"Kau tidak tahu saja, prajurit mereka berasal dari banyak kalangan."


"Benarkah? Saya baru tahu."


"Akupun sama. Kau tahu, kenalanku di Kopassus sedang membentuk sebuah tim elit. Ini bahkan lebih elit dari pasukan paling elit, yang tidak hanya dia ambil dari kalangan tentara, dan aku rasa kau cocok untuk masuk kesana. Kemampuanmu diatas rata-rata, Ram."


"Tapi saya agak ragu."


"Pikirkanlah, jika kau berminat isi formulirnya, dan ikutilah seleksinya."


Rama kembali terdiam.


"Jangan terus berkubang di dalam duka, kau tahu adik dan ayahmu tidak akan senang dengan keadaan seperti ini. Dan mereka akan bangga seandainya kau bangkit dan mengejar cita-citamu." ucap pria itu sebelum akhirnya pergi.


Namun sekarang dirinya tahu, apa pun yang telah di lakukan pria itu untuknya hanyalah bentuk pengalihan semata.


Fandi mengatur segalanya sehingga tampak normal saja, dan dirinya tidak pernah menyadarinya sama sekali. Terlebih, dia mengelabuinya dengan begitu sempurna.


Kegagalan sebanyak dua kali yang membuatnya selalu sibuk untuk melatih diri menjadi semakin baik setiap kali mendapati hasil dari ketidak lolosannya dalam seleksi. Dan segala yang di lakukannya selama dua tahun belakangan memang menjadi satu pengalihan dari kasus Livia yang tidak bisa di tuntaskan. Dan konyolnya, dirinya hanya menurut saja.


Bahkan di hari terakhir Livia muncul di kantor pun dirinya tak ada di tempat.


Di mana aku waktu itu?


Dia teringat Fandi menugaskannya untuk menghadiri pengumpulan barang bukti atas kasus penyelundupan narkoba di markas BNN.


Adam menepuk pundaknya untuk menyadarkan Rama dari lamunannya.


"Kita sudah sampai di Perth." katanya, dan setelah 14 jam penerbangan yang melelahkan itu, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.


Mereka turun dari pesawat Herculess, di sebuah landasan terbang militer di kota Perth, Australia. Rasa lelah tak nampak padanya, karena pikiran tentang anak sambungnya terus mendominasi, dan Rama tak bisa mengenyahkannya walau hanya sebentar.


Mungkin saja Aslan sedang ketakutan sekarang ini, dan dia teringat kejadian beberapa bulan yang lalu ketika anak itu mengalami perundungan di sekolah yang membuatnya trauma hingga sekarang.


Sehelai saja rambutnya jatuh ke tanah, maka akan aku buat mereka merasakan yang lebih menyakitkan. batinnya menggeram.


Beberapa orang anggota pasukan Australia segera menyambut mereka, dan salah satu di antaranya maju lebih dulu.


"Semuanya sudah siap Pak, dan tersangka sudah di bawa ke tempat ini." pria yang dulu menjadi rekannya saat misi mengantarkan Anna berbicara.


"Lokasi pertukaran sudah di tentukan oleh negosiator, dan seperti yang sudah di informasikan, kita akan menjalankan rencana A. Masuk, berikan Anna, selamatkan Aslan kemudian pergi." Adam berbicara.


"Saya yakin tidak akan semudah itu Pak." tentara dari Australia itu berujar.


"Memang, maka dari itu kita memiliki rencana B. Dan saya harap tidak ada yang akan menolaknya."


"Bagaimana?"


"Masuk ke sana, habisi mereka, kemudian bawa Aslan pergi."


"Itu genosida."


"Genosida katamu?" Adam mendekat, menyisakan jarak hanya beberapa senti saja dari pria yang tingginya sama dengannya itu.


"Lalu apa yang mereka lakukan kepada bawahanku? mereka membunuhnya ketika mengambil anak itu. Terlebih jutaan orang di seluruh dunia meregang nyawa karena obat-obatan yang mereka perjual belikan. Dan kau mengatakan tindakan kami merupakan genosida? coba pikir lagi." Adam menggeram.


"Tidak ada tempat yang pantas bagi manusia seperti mereka di dunia ini." katanya lagi dengan kilat kemarahan di matanya.


"Adam." Rama menariknya kembali ke barisan.


"Bagaimana dengan peringatan Alvaro soal tidak boleh mengerahkan kekuatan militer sama sekali selain hanya Rama yang mengantarkan Anna sendirian?" Garin menginterupsi.


"Kita ini pasukan hantu. Bergerak tak terlihat, bertindak tanpa terdeteksi." Adam kemudian menjawab.


"Baik." Garin segera mengerti tanpa di jelaskan lebih jauh lagi.


"Anda sudah tahu apa yang harus di lakukan?" Adam kepada Bimasakti yang tiba bersama mereka.


"Kami akan siap begitu tawanan berhasil di bawa keluar." dia menoleh ke arah belakang di mana dua kompi pasukan dari Indonesia, dan selebihnya pasukan militer Australia di dukung pasukan Brazil yang jauh-jauh datang untuk membantu, begitu mendapat kabar menggemparkan dari belahan bumi yang sangat jauh dari negara mereka.


"Berikan saja tandanya, dan kami akan segera terbang ke sana."


Rama menganggukkan kepala.


Sebuah heli kopter khusus sudah di siapkan, dan Rama beserta ke enam anggota pasukan hantu segera memasuki benda tersebut. Di mana perempuan yang menjadi rebutan di antara dua negara dengan gembong narkoba internasional itu berada. Dengan kedua tangan di borgol sementara kakinya di rantai. Penampilannya tampak tidak berubah, padahal dia berada di penjara kelas satu dengan keamanan maksimum.


"Sesuatu memang tak seperti yang kita pikirkan." Rama bergumam.


Anna sudah menyeringai begitu melihat mereka memasuki pesawat yang dia tumpangi, apa lagi melihat wajah salah satu dari mereka.


"Kau tak mengenakan penutup wajahmu Ram?" Adam mengingatkan.


"Percuma, mereka sudah tahu aku."


"Tapi ...


"Sekarang itu tidak penting lagi." Mereka duduk di tempat yang sudah tersedia, seperti yang sudah di atur sebelumnya. Dan Rama juga Adam mengapit perempuan pirang bermata biru itu.


"This is good, right? we were reunite? ( Ini bagus bukan? kita berkumpul lagi?)" Anna mulai berbicara seperti biasa.


"I told you, my brother nevel let me alone. He will always save me. ( sudah kukatakan kakakku tidak akan membiarkan aku sendirian, dia akan selalu menyelamatkan aku.)" dia tertawa.


Tak ada yang merespon.


"What a surprised, that you not wearing your mask? ( Sungguh sebuah kejutan, kau tidak menggunakan topengmu?" perempuan itu mencondongkan tubuhnya ke arah Rama.


"Youre such a cute." Anna tertawa lagi.


Rama memberikan isyarat kepada Adam, yang dimengerti oleh rekannya itu. Dia segera mengeluarkan sebuah lakban super dari tasnya, kemudian menempelkan benda tersebut ke mulut perempuan itu. Melilitkannya hingga melekat di rambut bagian belakangnya.


"Kau terlalu banyak mengoceh nona." katanya, dengan suara kesal.


Kemudian heli kopter itu terbang ke tempat yang sudah di tentukan. Sebuah pulau terpencil di area terluar Australia. Yang letak lokasinya dibagikan oleh akun tak dikenal, walau mereka sudah menduga hal itu berasal dari mana.


Pulau yang menurut kabar tak berpenghuni itu menjadi satu-satunya daratan di tengah samudera, yang tak memiliki akses kemana pun. Selain hutan di daratan, selebihnya hanya air sejauh mata memandang.


Heli kopter perlahan turun, kemudian mendarat di tempat yang sudah di beri tanda. Dua mobil berisi masing-masing lima orang dengan senjata lengkap dan peluncur roket sudah berjaga di sana, memastikan tak ada yang akan mengacaukan hari itu.


Rama dan Adam turun dan berjalan mengapit Anna dengan belenggu di tangan dan kaki, juga lakban menutupi mulut hingga melilit ke belakang kepala.


Mereka berjalan mendekat dengan todongan delapan pucuk senapan. Di bawah ancaman dan intimidasi yang benar-benar serius.


"Stop! release her! ( berhenti, lepaskan dia!)" salah seorang di antara mereka memerintahkan.


"Give us that boy first. (berikan kami anak itu dulu.)" Rama menjawab.


"Well, you have to go inside. ( tapi kau harus masuk ke dalam.)"


"No, without them, i won't do that.(tidak, tanpa mereka aku tidak akan melakukannya.)"Rama menolak.


Rama dan Adam saling pandang.


"Just go, take her inside, and get your sons back.( hanya bawa dia masuk, dan dapatkan putramu kembali." katanya lagi, tampak meyakinkan.


"We'll stay here, and put you guns down( kami akan menunggu di sini, dan turunkan senjatamu.)" Rama meletakan senapan dan dua pistolnya di tanah yang segera Adam amankan.


Dia mencengkeram lengan Anna kemudian menariknya ke sebuah tempat di tengah area. Dua orang penjaga lainnya juga sudah menunggu di sebuah bangunan kecil.


Tak ada yang mengikuti, hanya dirinya dan Anna, sementara anggotanya menunggu dengan penjagaan ketat dari anak buahnya Alvaro.


Salah satu dari penjaga menggiring mereka memasuki bangunan kecil itu yang terdapat sebuah pintu di tanah yang terbuka. Ternyata tempat itu merupakan sebuah bunker yang cukup luas.


Seperti yang sudah di persiapkan. Batinnya.


Seorang pria yang sudah dia kenal duduk di kursi di ujung yang cukup gelap. Dengan asap mengepul dari cerutu yang dia sesap. Sementara beberapa orang bersenjata lengkap berada tak jauh darinya.


"Welcome, ... ," katanya, kemudian dia berbicara dalam bahasa Brazil, dan penerjemah menyampaikan kembali kepadanya.


"Tidak usah banyak bicara, hanya berikan saja Aslan dan aku akan segera pergi dari sini." Rama dengan suara datar.


Kemudian seorang pria lainnya keluar dari sebuah ruangan membawa Aslan.


"Om!" Anak itu hampir berlari mencapai dirinya, namun segera di tahan oleh pria tersebut.


"Give her."


"No, give him first!" Rama menggelengkan kepala.


"You give her, and i'll give him to you."


Rama terdiam sebentar.


"Deal," katanya kemudian.


Dan pertukaran itu pun segera terjadi, dia melepaskan Anna, bersamaan dengan pria itu yang membiarkan Aslan berjalan kepadanya. Namun pada saat dua tawanan itu berpapasan, ana menarik Aslan kembali ke sisi di mana Alvaro berada.


"Baj*ngan!" Rama segera mengeluarkan pistolnya dari tempat yang tersembunyi, dia tahu keadaan akan seperti ini dan sudah mengantisipasinya. Menodongkannya ke arah pria itu, sementara hampir enam orang pria menodongkan senapan mereka ke arahnya.


"Not that easy." Alvaro tertawa terbahak-bahak kemudian melemparkan cerutu kemudian dia injak dengan keras.


Pria itu bangkit dari kursinya, sementara dua pria melepaskan belenggu di tangan Anna, dengan Aslan yang dia cengkeram kuat.


"Om aku mau pulang ke mama! Aku takut." Suara Aslan terdengar memilukan.


"Om akan membawamu pulang, tapi Aslan harus tenang ya?" dia mencoba untuk setenang mungkin. Meski rasa takut benar-benar menguasainya kini.


Bukan karena dirinya dalam bahaya, tapi karena anak sambungnya berada di sana, dengan keadaan mereka di bawah todongan senjata.


"Lepaskan dia, dan kalian boleh menahanku di sini." Rama berujar.


"Tentu, memang itu yang kami inginkan. Agar kau tak akan menghalang-halangi pekerjaan kami lagi." si penerjemah menyampaikan perkataan Alvaro.


"Aku hanya menjalankan tugas."


"Dan tugasmu merugikan kami."


"Pekerjaan kalian lebih merugikan."


"No no no, ... its good. You know how much money you earn? its million dollar that you can have (Tidak, ini sangat bagus. Kau tahu berapa banyak uang yang kau dapat? jutaan dolar.)" Alvaro tertawa lagi.


"Dan jika kau bersedia bekerja sama, maka hal yang sama bisa kau dapatkan." tawaran yang cukup menggiurkan.


"Dan menghancurkan sebuah negara dengan obat-obatanmu." Rama tampak tak gentar sedikitpun.


"Don't realy care about that, just remember the money! (tidak usah peduli soa itu, hanya ingatlah uangnya!"


"Ya, seperti semua atasanmu." ucap si penerjemah yang membuat mata Rama membulat seketika.


Alvaro berjalan mendekat.


"Yu know, everything in your country is under my control, even your life. (kau tahu, segala hal di negaraku ada di bawah kendaliku, bahkan nyawamu.)"


Rama terdiam untuk mencerna semua kata-katanya.


"Money, can buy everything. Even a country. And you just a doll for everyone. (uang bisa membeli apa pun, bahkan sebuah negara. Dan kau hanya sebagai boneka.)"


"And you all alone." dia tertawa lagi.


Rama melepaskan pengunci pada pistol yang dia arahkan kepada Alvaro, namun pria itu tampak biasa saja.


"Tarik pelatuknya, dan kau akan melihat jasad anak ini dengan segera."


Rama melirik kepada Aslan yang tampak ketakutan.


"Hanya berikan dia kepadaku, dan aku anggap kita impas." Rama menggeram.


"Anna, did you want to do something with him?" Alvaro menoleh kepada adik perempuan yang telah kembali kepadanya.


"Sure," Perempuan itu yang belenggunya telah di lepaskan berjalan mendekat.


Rama menggelengkan kepala, "Tidak mungkin." katanya, dan dia mewaspadai perempuan itu yang berjalan mengitarinya.


"Drop your weapon." Anna berujar.


Tama tak mengindahkan ucapannya.


"I said drop your weapon or i told them to kill your son." dia berbisik di telinganya.


Pilihan yang sulit, tapi sesuatu harus di lakukan untuk menyelamatkan Aslan. Dia sudah berjaji kepada Kaysa. Dan dengan terpaksa Rama menjatuhkan satu-satunya senjata api yang dia miliki.


"Good man." Anna tertawa, kemudian tanpa aba-aba mendaratkan pukulan pada leher Rama sehingga membuatnya terhuyung ke depan.


Dia melompat ke punggungnya, lalu mencekik lehernya sehingga pria itu ambruk di tanah. Anna mendudukinya seraya meracau di sela siksaannya. Di selingi tawa yang tak biasa.


Rama berusaha melepaskan diri, namun perempuan ini tak mudah di kalahkan. Dengan tenaga yang dia miliki dia mencoba menjatuhkannya, meski sulit tapi dia berhasil.


Kini Anna ada di bawah kendalinya, dan dia berbalik mencengkeram lehernya. Namun pukulan pada punggungnya membuat Rama kembali ambruk, dan moncong senapan menghentikan dirinya.


Tapi itu tak berlangsung lama, karena dalam hitungan detik Rama merebut senjata tersebut dan segera membalikkan posisi. Dia segera mencengkeram leher Anna dan senjata tersebut dia todongkan ke kepalanya.


"Berikan Aslan kepadaku, atau aku ledakkan kepalanya?" dia menariknya mundur.


Seorang dia antara mereka maju, namun Rama mengulangi ucapannya.


"Berikan Aslan atau aku ledakkan kepalanya!" dia berteriak.


Alvaro memberikan isyarat untuk menghentikannya, kemudian menyentakkan kepala, menyuruh Aslan untuk di serahkan.


Anak itu di dorong ke arah depan di mana Rama berada.


"Lari Aslan! cepat!" katanya, dan dia menurut.


Aslan segera bersembunyi di belakang Rama, berpegangan pada ujung rompi anti pelurunya. Sedangkan Rama masih menawan Anna di bawah todongan senjata.


Dia hampir mencapai tangga menuju ke permukaan ketika Alvaro kembali berbicara.


"And what happen to your sister is they're plan too.( dan apa yang terjadi dengan adikmu adalah rencana mereka juga.)" katanya, dan itu sukses menghentikan Rama.


"She just a tinny little thing, but verry danger to what i build. (Dia hanya hal kecil, tapi sangat berbahaya untuk apa yang tengah aku bangun.)"


Dan Rama tertegun karenanya.


*


*


*


Bersambung ...


selamat hari vote gaess ...