Kopassus And Me

Kopassus And Me
Latihan Tinju



*


*


"Permisi, Mas Rama? Mbak Kay? Permisi, ini bu Fatma." Panggilan tetangga sebelah itu menginterupsi kegiatan panas di kamar utama, ketika mereka baru saja memulai.


"Umm, ... Ram, Bu Fatma ..." Kaysa mendorong dada telanjang pria itu yang semakin menempel kepadanya.


Rama mengangkat kepala sebentar, melihat ke arah jendela yang tertutup tirai tebal, lalu kembali menjelajahi leher jenjang Kaysa. Sementara kedua tangannya asyik menyentuh setiap bagian tubuh perempuan itu yang menggeliat-geliat di bawahnya.


"Permisi!! Mas Rama, Mbak Kay?" Suara Fatma terdengar lagi, membuat Kaysa mendongak ke arah pintu. Jantungnya kebat-kebit padahal tidak ada yang mungkin sembarangan masuk ke dalam rumah mereka tanpa permisi.


"Ram, itu ... um ... ah!" Kaysa memekik ketika merasakan senjata pria itu menerobos pusat tubuhnya. Sedangkan Rama tetap mencumbui leher dan dadanya.


"Biarkan saja, nanti juga pergi sendiri." Rama berbisik di telinganya.


"Ugh, ..." Kaysa mengembalikan perhatian pada pergumulan yang terus memanas seiring sentuhan dan hentakan yang seirama.


"Oh, sayang ..." Tubuh Kaysa melengking dan bergerak tak karuan menahan hentakan yang segera saja menggila sejak awal. Dia merasakan seluruh tubuhnya berdesir hebat, dan miliknya berdenyut kencang. Membuat Rama betah berlama-lama berpacu diatasnya.


Apa lagi melihat reaksi Kaysa setiap kali dia menyentuh bagian sensitif di tubuhnya, hasratnya menjadi semakin terbakar, di tambah suara des*hannya yang terdengar begitu merdu di telinganya. Dan itu menyenangkan.


Melecut semangatnya menjadi semakin menggebu-gebu, dan gairahnya yang semakin berkobar.


Des*han Kaysa terus mengudara seiring semakin intensnya sentuhan dan pergumulan itu. Tubuhnya bahkan melengkung-lengkung tak karuan, membuat dada indahnya semakin membusung dan puncaknya kian mencuat. Membuat Rama merasa semakin gemas karenanya.


Dia tak bisa mendiamkan benda menggemaskan itu begitu saja, tanpa mempermainkannya seperti yang biasa di lakukannya.


Bibir Kaysa terlihat bergetar, lalu dia menggigitnya keras-keras untuk menahan erangan agar tak keluar dari mulutnya. Dan segera saja, rasa frustasi menyerangnya seiring dengan kian menanjaknya hasrat di dalam jiwa tatkala Rama mengobrak-abrik bagian terdalam dari dirinya. Tanpa melepaskan sesapannya dari kedua dadanya.


"Oh, Rama!!" Dia merangkul pundak pria itu dengan erat, kemudian kedua tangannya merayap ke kepalanya. Meremat rambutnya yang sudah menebal untuk menyalurkam perasaannya yang semakin tak karuan.


Kedua kakinya kadang terangkat, kadang menghentak tempat tidur. Dan terkadang lagi dia lingkarkan di pinggang Rama untuk menambah sensasi hentakannya agar menjadi semakin dalam, namun nyatanya tak juga membuat pria itu akan menyudahi pergumulan tersebut.


Bahkan ketika Kaysa hampir mencapai klim*ks, Rama masih saja menghentak dengan keras.


"Oh, cepatlah!!" Racaunya, seraya mengangkat pinggul ketika pelepasan itu menghantamnya tanpa ampun, diikuti seluruh tubuhnya yang mengejang hebat. Ujung kakinya bahkan sampai menukik setelah Rama benar-benar menjebol pertahannya.


Namun rupanya pria itu belum mencapai puncak, dia malah berhenti lalu menarik diri dari Kaysa, kemudian membalikkannya sehingga perempuan itu tertelungkup di bawahnya dalam keadaan lemas.


Lalu tanpa aba-aba, dan memberinya kesempatan untuk bernapas terlebih dahulu, Rama kembali menautkan miliknya dengan Kaysa dari belakang.


"Oh, Rama!" Kaysa meremat kain di bawahnya dengan kencang ketika pria itu kembali menghentak.


Wajahnya dia benamkan ke permukaan tempat tidur untuk meredam erangan keras yang keluar dari mulutnya. Manakala hentakan Rama membuatnya merasakan sakit dan ngilu di bagian bawah tubuhnya. Namun ada perasaan lain setelahnya, dan dia menyukainya.


"Oh, ..." Kaysa mengerjap-ngerjap untuk meraih kesadarannya. Dia sudah lelah tapi masih menikmatinya. Hasratnya tiba-tiba saja bangkit lagi dalam posisi seperti ini, dan dia tak mampu menahan diri.


Apa lagi ketika Rama menariknya sehingga kini tubuhnya menjadi tegak. Sebelah tangan pria itu menahannya agar tak ambruk ke atas tempat tidur, sementara tangan yang lainnya kembali menyentuh dadanya secara bergantian. Dia bahkan terkadang menyentuh miliknya juga.


Napas pria itu berhembus panas di tengkuknya, dan sesekali Kaysa mendengar dia menggeram.


"Ya Kay, begitu ..." Bisik Rama ketika merasakan denyutan kencang di bawah sana.


Dadanya meletup-letup dengan gairah yang terus bergolak. Dia bahkan merasakan senjatanya yang semakin mengeras bagai di cengkeram kuat oleh Kaysa.


Semakin lama pria itu semakin tak mampu menahan diri, bahkan hentakannya pun kini sudah tak terkendali. Namun dia mati-matian menahannya untuk membuatnya menjadi lebih lama.


Tapi racauan dan des*han Kaysa membuatnya semakin tak sabar. Dan tubuh perempuan itu yang kembali mengejang membuatnya memacu dirinya sendiri menjadi lebih cepat.


Dan Kaysa menjerit ketika pelepasan kembali menghantamnya, seiring hujaman Rama yang begitu keras dan dalam di pusat tubuhnya saat dia juga mengalami hal yang sama. Diakhiri geraman tertahan di tengkuknya bersamaan dengan pancaran yang memenuhi rahimnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mama nggak ikut?" Aslan berlari begitu melihat mobil ayah sambungnya tiba di depan gerbang sekolah.


"Tidak."


"Lagi masak ya?" Anak itu melirik jam di pergelangan tangan Rama.


"Mungkin." Pria itu segera melajukan mobilnya menjauh dari area sekolah.


"Dadah Aslan!!" Seorang anak perempuan melambaikan tangan saat mereka melewatinya, dan Aslan balas melambai.


"Duh, sudah punya pacar ya?" Rama tertawa karenanya.


"Apa?" Aslan menoleh dengan kening berkerut.


"Pacar."


"Pacar itu apa?"


"Teman perempuan."


"Oh, ... Maira?"


"Yang tadi itu namanya Maira?"


"Hu'um, ... dia katanya baru pindah dari Bandung."


"Oh ya?"


"Iya, sebangku sama aku."


"Wah wah, ... hebat sekali."


"Hebat apaan? kan dia temen sebangku aku."


Rama tergelak.


"Kok ketawa? emang ada yang lucu ya?" Aslan menatap curiga.


"Tidak, ..."


"Terus kenapa papa ketawa?"


"Kamu baru masuk sekolah sudah punya teman baru lagi, padahal dulu sebelum berhenti bahkan tidak sedekat itu dengan teman-temanmu?"


"Ya nggak tahu. Kasihan tahu Maira itu." Aslan berujar.


"Kasihan kenapa?"


"Dia kan tadi di kerjain sama kakak kelas, bekalnya di ambil." adu Aslan kepadanya.


"Masih ada kejadian seperti itu?"


"Ada, tapi tadi udah aku hajar orangnya. Pergi deh." anak itu dengan bangganya.


"Benarkah? berani sekali kamu ini ya?" Rama mengusap puncak kepalanya.


"Hebat-hebat. Tapi hati-hati, jangan terlalu keras ya?"


"Nggak, cuma aku pukul kepalanya sedikit."


"Pakai apa? pakai kayu seperti waktu itu?"


"Nggak, pakai ini." Aslan mengepalkan tangannya, dan menunjukkan area yang memerah di antara bulatan tinjunya.


"Aduh?"


"Tapi abis ninju dia tangan aku sakit." anak itu mengusap-usap area yang memerah.


"Lain kali lebih baik jangan begitu ya nak? laporkan saja kepada guru." Rama memperingatkan.


"Kenapa? kan bagus aku hajar anak nakalnya? kali dia kapok?"


"Takutnya dia lapor kepada orang tuanya, terus mengadukan yang tidak-tidak. Nanti kamu yang dapat masalah."


"Ah, cemen ngadu-ngadu!"


"Aslan tidak boleh begitu lagi ya? harus menggunakan keberaniannya untuk hal yang baik."


"Emangnya nolongin temen nggak baik?"


"Baik, tapi sebisa mungkin tidak sekeras itu." Mereka tiba di pekarangan rumah.


Aslan terdiam di tempat duduknya.


"Aslan dengar papa bilang apa?" Rama mematikan mesin mobil.


"Denger papa."


"Terus kenapa diam?"


"Aku salah ya tadi?"


"Menolong temannya tidak salah, tapi caranya tidak terlalu tepat. Bukan apa-apa, takutnya nanti kamu yang di salahkan kalau caranya begitu."


Anak itu terdiam lagi.


"Aslan mengerti?"


"Mengerti papa."


"Nanti kalau ada kejadian itu lagi lebih baik lapor ke ibu guru ya? tidak boleh kamu yang bertindak sendirian."


"Oke."


"Ya sudah, ayo masuk rumah." Mereka pun turun dari mobil.


"Mas Rama?" tetangga sebelah kembali muncul, kali ini dari balik pagar setelah mendengar suara mesin mobil berhenti di pekarangan.


"Ya bu?" Rama menoleh.


"Tadi ibu panggil-panggil nggak ada orang?"


"Oh ya? kapan?" Rama pura-pura lupa, padahal dia ingat persis perempuan itu beberapa kali menggedor pintu rumahnya.


"Tadi."


"Oh, ...


"Ini lho, ibu bikin kue. Mau di antar tadi nggak ada orang, ya sudah ibu bawa lagi." Fatma menyodorkan sebuah kotak berwarna putih berukuran sedang kepada Rama.


"Mungkin sudah dingin, tapi lumayan lah buat cemilannya Aslan."


"Terimakasih Bu." ucap Rama yang segera menerima kotak tersebut, kemudian mereka sama-sama masuk ke dalam rumah.


***


"Mama?" Asla meletakan tasnya di sofa, begitu juga Rama.


"Kok sepi sih? mama ke mana?"


"Tidak tahu, mungkin masih tidur." Pria itu menjawab sambil berjalan menuju kamarnya yang tertutup rapat. Dia kemudian membuka pintunya perlahan dan mengintip lewat celah yang terbuka sedikit.


Rama mendapati Kaysa yang masih bergelung di bawah selimut dengan AC yang menyala. Dia yakin perempuan itu masih telanjang dan belum bangun sejak dirinya pergi untuk menjemput Aslan.


"Tidur? siang-siang begini?" Anak itu hampir saja menerobos pintu, namun Rama segera menutupnya.


"Eh, jangan! Mama sedang tidur." katanya, yang menghalangi Aslan untuk masuk.


"Biarkan saja mamamu tidur, jangan di ganggu." Dia menggiring Aslan ke ruang makan.


"Lebih baik kita makan dulu, apa kamu tidak lapar?"


"Tapi mama?"


"Sudah, biarkan saja. Mamamu kelelahan." Rama mendorongnya untuk duduk di kursinya.


"Emangnya abis ngapain?"


"Umm, ... latihan." jawab Rama, sekenanya.


"Latihan tinju?"


"Eeee ... begitulah, hehe ... cepat makan!" dia mengisi piring Aslan dengan nasi dan lauknya yang sudah Kaysa siapkan sebelumnya.


*


*


*


Bersambung ...


tunju Aslan, tinju.


iya, tinju di ranjang 🤣🤣🤣


biasa atuh gaess like komen sama hadiahnya di antos 😉


lopelope sekebon korma 😘😘