Kopassus And Me

Kopassus And Me
Penghargaan



*


*


"Cukup Kay." Rama menolak makanan yang di suapkan Kaysa ke mulutnya. Rasanya dia sudah tidak kuat lagi tapi perempuan itu terus memaksanya untuk tetap makan.


"Ayolah, agar kamu bisa cepat pulih dan kita pulang ke Indonesia." bujuk Kaysa kepadanya.


"Tapi aku sudah kenyang, tidak bisa di paksa lagi!" protes Rama kepadanya.


"Baru separuh, tapi sudah kenyang?" perempuan itu memperlihatkan piring makanannya.


"Tetap saja, kalau aku bilang sudah kenyang ya kenyang."


"Hum, ... baiklah kalau begitu." dia meletakan piringnya di atas nakas.


"Apa Aslan baik-baik saja?" Rama bertanya.


"Baik, dia bersama pendamping. Dan bagusnya dia tidak menolak di temani rekanmu padahal tidak kenal."


"Benarkah?"


Kaysa menganggukkan kepala.


"Mungkin karena dia mirip denganmu."


"Mirip?"


"Sama-sama prajurit." perempuan itu terkekeh.


"Sekarang di mana dia?"


"Di luar, mau bertemu?" tawar Kaysa.


"Entahlah, apa dia tidak aka takut?"


"Takut kenapa?"


"Karena keadaanku yang seperti ini."


"Kamu konyol. Walaupun babak belur, tapi kamu masih tampan." ucap Kaysa sekenanya, namun membuat hidung suaminya kembang kempis dan dia mengatupkan mulutnya untuk menahan senyum.


"Biasa saja, jangan begitu." perempuan itu bangkit lalu berjalan ke arah pintu. Membukanya sedikit kemudian berbicara kepada penjaga di depan.


Dia kembali hampir berbarengan dengan kedatangan Aslan di antar pendamping mereka yang keluar setelahnya.


"Aslan mau ketemu om Rama?" tanya perempuan itu kepada putranya yang baru tiba di ambang pintu.


"Mau!!" Aslan setengah berlari.


"Tapi om Ramanya masih sakit." Kaysa bergeser agar putranya bisa melihat keadaan pria itu.


Wajahnya masih agak bengkak dengan beberapa luka lecet bekas pukulan dan sedikit darah mengering. Belum lagi verban yang membalut tubuh bagian atasnya yang membuat dia tampak asing.


"Om Rama?" Aslan mendekat


"Ya Aslan?"


"Om kok kayak mumi sih?" celetuknya, dan itu membuat dua orang dewasa itu terkekeh karena ucapannya. Kaysa bahkan sempat menutup mulutnya untuk menahan tawa.


"Om bisa lihat nggak? matanya pada bengkak." dia lebih mendekat lagi. Lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh verban yang menempel di tubuh ayah sambungnya itu.


"Hati-hati Aslan, om Ramanya masih sakit." Kaysa memperingatkan.


"Kok bisa kayak gini om? orang jahatna nggak bisa om lawan ya? dia tinjunya lebih hebat dari om ya?" Aslan dengan pikirannya yang polos.


"Iya, mereka lebih hebat dari om, jadi om tidak bisa melawan." Rama menjawab.


"Terus kalau udah gitu gimana?"


"Ya berarti om harus latihan lebih giat lagi, biar om lebih hebat dari mereka."


"Kalau latihan terus emangnya bisa lebih hebat?"


"Bisa lah. Semuanya juga bisa, asal rajin dan tekun."


"Gitu ya?


"Iya. Aslan tidak takut melihat om seperti ini?"


"Nggak ih, kenapa harus takut? ini kan om Rama, bukan mumi beneran." anak itu tertawa sambil menusuk-nusukkan ujung jarinya pada lengan Rama.


Dan hal tersebut membuat pria itu kembali tertawa.


Namun interaksi itu harus terjeda ketika seseorang masuk setelah mengetuk pintu. Bimasakti bersama satu orang perwira militer Australia datang untuk berkunjung.


"Pak?" Rama hampir saja bangkit, sementara Kaysa menarik Aslan ke sisinya


"Tetaplah di tempatmu, prajurit!" Bimasakti berucap.


"Kami harap keadaanmu cepat membaik. Dan maaf ini harus terjadi. Seperti yang kita tahu, inilah resiko dari sebuah pengabdian, dan aku harap kau dan keluargamu memahaminya." pria itu mulai berbicara.


"Saya mengerti pak."


"Tapi aku yakinkan setelah ini hidup kalian tidak akan sama lagi." lanjutnya, yang menoleh ke arah Kaysa sebentar.


"Jika sudah pulih nanti, kau akan bertugas seperti biasa, tapi anak dan istrimu akan ada di bawah pengawasan kami."


"Benarkah? kenapa?" Kaysa bereaksi.


"Begitu prosedurnya. Suami anda baru saja berhadapan dengan orang paling berbahaya di dunia, dan identitasnya sudah di ketahui. Yang otomatis membuat semua yang ada di sekelikingnya juga dia tahu. Sebagai anggota pasukan hantu seharusnya itu menjadi rahasia, tapi karena kejadian kemarin segalanya menjadi kacau." Bimasakti menjelaskan.


"Maafkan saya pak, keteledoran saya ...


"Bukan salahmu. Kau bisa saja lari atau mungkin menyerah, tapi kau memilih menghadapinya untuk menyelamatkan yang lain. Dan itu sangat berarti bagi negaramu."


Rama terdiam.


"Dan karena kejadian ini kau dan Junno mendapatkan penghargaan."


"Kami berdelapan bekerja bersama pak."


"Tapi kau dan Junno menghadapi yang lebih berat. Jadi kalian memang pantas mendapatkannya."


"Dan pihak Australia juga ingin menyampaikan beberapa hal kepadamu." pria itu bergeser memberi kesempatan bagi utusan militer negara Australia untuk menyampaikan apa yang di bawanya.


Pria tinggi dengan hidung mancung itu maju, kemudian memberikan semacam lencana kepada Rama.


"Kami menghargai apa yang telah anda lakukan untuk membuat misi ini berhasil Pak." dia berbicara dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih.


"Negara Australia memberikan penghargaan tertinggi untuk Pasukan Hantu Indonesia, terutama anda dan rekan anda. Dan kami berterimakasih atas kerja samanya mengantarkan salah satu orang yang paling di cari pemerintah Australia atas kejahatannya. Sungguh kehormatan bagi kami bisa bekerja sama dengan pasukan yang anda pimpin."


Rama menegakkan tubuhnya seraya menerima benda tersebut. Sebuah lencana kehormatan yang di dapatkannya setelah apa yang dia lakukan.


"Maaf tidak memberikannya secara terbuka, demi keamanan dan keselamatan anda dan keluarga." lanjut pria itu.


Kemudian Rama melakukan gerakan penghormatan seperti biasa.


"Siap pak. Terimakasih!" jawabnya, kemudian pria itu pun pergi.


***


"Lalu bagaimana dengan Junno?" Rama kemudian bertanya. Sejak aksi penyelamatan itu dirinya belum bertemu lagi dengan rekan satu timnya yang memutuskan untuk menemaninya menghadapi para pelaku penembakan.


"Aku dengar dia sudah sadar. Mau menemuinya?" tawar Kaysa.


"Apa sudah boleh?"


"Kamu bisa duduk?"


"Sepertinya bisa kalau hanya duduk." pria itu menjawab, kemudian dia berusaha bangkit dan Kaysa membantunya untuk duduk tegak di tempatnya.


"Baiklah kalau begitu, tunggu sebentar." Kaysa kembali berjalan ke arah pintu dan membukanya sedikit. Lalu berbicara kepada penjaga yang kemudian segera masuk.


Membantu Rama turun dari tempat tidurnya dan berpindah pada kursi roda, lalu mereka keluar dari ruangan tersebut.


Ruangan itu sudah ramai ketika mereka masuk. Bimasakti dan ke enam rekannya sudah berada di ruang perawatan Junno terlebih dahulu begitu mendengar pria itu siuman.


"Kau sudah bisa bangun Ram?" Adam lebih dulu menyapanya.


Rama hanya tersenyum, dan jalan terbuka baginya untuk mendekat kepada rekannya itu.


Dan tampaklah Junno, dalam balutan verban yang sama seperti dirinya, namun lebih rapat. Seperti yang sudah di ketahui bahwa keadaannya memang lebih parah dari Rama karena dia sering melawan. Membuat para penjahat itu memberikan siksaan yang lebih keras kepadanya.


Tapi memang fisik dan mentalnya sudah sangat terlatih, sehingga dia masih bisa bertahan walau mendapatkan siksaan semacam itu.


"Hey, bagaimana keadaanmu kawan?" Rama mendekat sementara Junno tetap berbaring, lalu mereka saling mengadu kepalan tangan.


"Masih hidup, seperti halnya dirimu." Junno menjawab, lalu terkekeh.


"Yeah, kau hebat." Rama berucap.


"Kau juga Ram." balas Junno.


"Dan kalian membuat kami khawatir karena memilih bertarung menghadapi mereka hanya berdua saja." Adam pun mendekat.


"Bukankah harus ada yang tetap di garis depan? dan kami akan memastikan semuanya selamat." Junno menjawab, lalu dia tertawa pelan.


"Dan kau melakukannya seolah kami tidak layak." Garin juga maju, dia tidak mau ketinggalan berdebat seperti biasanya.


"Kita hanya punya bagian masing-masing, dan dalam hal ini bagian kami adalah di garis depan." Rama menimpali.


"Kau benar." Junno mengamini.


"Lain kali aku ikut, dan akan ku pastikan para baj*ngan itu merasakan akibatnya karena sudah menyiksa teman-temanku." jawab Garin lagi dengan raut kesal.


"Tidak ada lain kali." Kaysa bereaksi.


"Aku harap tidak ada lagi yang mengalami hal seperti ini, atau dengan sengaja masuk ke dalam masalah yang sama untuk melakukan pembalasan." perempuan itu pun berucap.


"Tidakkah kalian merasakan apa yang kami, sebagai keluarga kalian rasakan? saat mendengar berita kehilangan atau pun insiden seperti ini. Tahu apa yang kami rasakan?"


Para pria itu terdiam.


"Kami merasa separuh nyawa kami hilang begitu kabar itu kami terima."


"Itu resiko dari ..." Garin hampir saja menyahut.


"Pekerjaan kalian, aku tahu. Tapi setidaknya jangan dengan sengaja menjerumuskan kalian dalam bahaya." tukas Kaysa.


"Hey, bahaya adalah nama tengah kami tahu?" Junno menyahut.


"Lalu kamu pikir apa yang akan terjadi dengan kami jika hal buruk menimpa kalian?"


"Tugas kalian memang untuk negara. Tapi harus di ingat juga bahwa di rumah ada keluarga yang menunggu. Ada anak yang menunggu ayahnya, ada adik yang menunggu kakaknya, ada orang tua yang menunggu anaknya, dan ada istri yang menunggu suaminya. Dan itu tidak mudah."


"Kalau memang kalian harus gugur saat menjalankan tugas, kami bisa menerimanya dengan lapang dada. Tapi tidak dengan cara nekat seperti itu."


"Dan aku harap, seperti halnya juga keluarga kalian, harus lebih hati-hati mulai sekarang."


Dan pria-pria itu terdiam lagi.


*


*


*


Bersambung ...


Nah lu, Masa bapak-bapak diam aja di ceramahin sama satu mamah-mamah?😄😄


biasa genks, like komen sama hadiahnya selalu aku tunggu ya


lope lope sekebon korma.😘😘