Kopassus And Me

Kopassus And Me
Balada Testpack #2



*


*


Kaysa terbangun saat suasana masih cukup gelap. Dia melirik jam dinding yang terdengar berdetak kencang, kemudian menoleh ke belakangnya di mana Rama masih terlelap.


Terdengar dengkuran halus, dan dia memeluknya dengan erat.


"Jam berapa kamu pulang? kenapa aku tidak menyadarinya?" Kaysa berbisik.


Kaysa bangkit seraya menyingkap selimutnya, kemudian turun dari tempat tidur sambil merenggangkan tubuhnya yang serasa remuk.


Dia teringat dengan alat tes kehamilan yang kemarin Rama belikan, kemudian mengambil salah satunya di dalam kantung kresek yang dia simpan di balik cermin kamar mandi.


Kaysa membersikan diri setelah memasukkan alat test kehamilan pada air seni pertamanya yang dia tampung pagi itu. Dan dia keluar setelah beberapa menit dalam keadaan yang lebih segar.


Perempuan itu kembali ke depan wastafel, lalu menghirup napas dan menghembuskannya dengan pelan. Merasa gugup untuk mengetahui hasil dari pengujian kehamilannya.


Padahal ini bukan yang pertama baginya, tapi Kaysa tetap merasa gugup.


"Huffttthhh, ... apa pun hasilnya, semoga yang terbaik ya?" gumamnya seraya meraih benda kecil itu dari penampung.


"Umm, ..." Kaysa menatap benda tersebut lekat-lekat. Dia bahkan membulatkan kedua bola matanya untuk meyakinkan pandangannya.


"Ya Tuhan!" Perempuan itu menutup mulut dengan tangannya.


"Rama!" Dia bergegas keluar dari kamar mandi, menyalakan lampu utama di langit-langit kamar, kemudian kembali ke tempat tidur di mana suaminya masih terpelap.


"Ram?" Kaysa menyingkap selimut lalu merangsek ke dekat Rama. Dia mengguncangkan tubuhnya yang tertelungkup nyaman.


"Rama!" katanya lagi, seraya menepuk-nepuk wajahnya.


Pria itu mengerang, kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Hey, bangunlah." katanya lagi, seraya menunduk.


Aroma mint segera menguar di indra penciuman Rama, begitu juga wangi sabun yang segar. Membuatnya segera tersadar dari tidur lelapnya.


"Ayo, bangunlah." Kaysa menarik pundaknya agar pria itu bangkit.


"Apa Kay? ini bahkan masih pagi!" Rama dengan suara serak khas bangun tidur.


"Cepatlah,"


"Umm, ... kamu sangat tidak sabaran!" Rama terpaksa bangkit kemudian duduk.


"Nah sekarang apa?" Pria itu mengusap wajahnya.


"Mungkin lebih baik kamu cuci muka dulu, terus sikat gigi? atau lebih baik mandi?" ucap Kaysa setelah pria itu menaruh perhatian kepadanya.


"Astaga, tadi kamu mau buru-buru, tapi sekarang malah menyuruhku mandi?"


"Ayo cepatlah Papa! biar kamu lebih segar."


"Hmm ..." Dengan malas Rama turun dari tempat tidur, lalu berjalan ke arah kamar mandi sambil melepaskan pakaian bagian atasnya yang tak sempat dia ganti semalam sepulangnya dari markas.


Namun dia tertegun di ambang pintu kamar mandi saat mendapati sebuah wadah kecil kosong yang di sebelahnya terdapat sebuah benda yang dia ketahui sebagai alat tes kehamilan di wastafel.


Rama segera masuk dan meraih benda itu, kemudian melihatnya dengan teliti.


"Kay!" Dia setengh berteriak, lalu keluar dari ruangan berbilas itu.


"Ini, ... kamu ..." Dan dia mendapati Kaysa berdiri di samping tempat tidur sambil tersenyum.


"Kamu hamil!" katanya, yang menunjukkan testpack dengan tanda garis dua berwarna merah dengan begitu jelas.


Kaysa menganggukkan kepala, dan senyuman belum hilang di bibirnya.


"Oh, Ya Tuhan!" Rama segera menghambur kepada perempuan itu, kemudian memeluknya begitu erat.


"Um, ...


"Kamu hamil, dan kita akan punya anak," katanya lagi, dengan suara parau.


Rama melepaskan rangkulannya, kemudian mendorong tubuh perempuan itu pelan-pelan. Dia menatap wajah Kaysa lekat-lekat dengan matanya yang berkaca-kaca.


Kaysa menggigit bibirnya keras-keras, melihat ekpresi suaminya yang seperti itu membuatnya ingin menangis. Bukan karena kesedihan, melainkan rasa bahagia yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Dia tahu, bahwa Rama juga begitu.


"Benarkah ini? Ya Tuhan!" Rama mengusap wajah dengan kedua tangannya.


Dia kemudian membungkukkan tubuhnya, seiring tawa dan tangis yang keluar bersamaan.


"Oh, aku akan jadi ayah!" Katanya lagi, dan dia berlutut untuk memeluk pinggang perempuan itu dan menciumi perutnya yang masih rata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Janinnya berusia dua minggu." Dokter menunjuk titik hitam di layar monitor, di mana angka-angka dan tulisan tertera di atasnya. Juga gambar keadaan di dalam rahim Kaysa dalam mode empat dimensi.


"Kalau di hitung dari tanggal seharusnya anda datang bulan." lanjut sang dokter yang menoleh kepada Kaysa.


"Kapan anda memakai kb?" Perempuan berkerudung itu kemudian bertanya.


"Tiga hari setelah menikah. Dan seharusnya memang dua minggu yang lalu saya kembali ke sini untuk kb." Kaysa menjawab.


"Belum sempat datang bulan?" Dokter bertanya lagi.


"Belum." Kaysa menggelengkan kepala.


"Hmm ... memang disini bisa kita lihat umur janin, juga dari kondisinya. Selamat, kalian akan menjadi orang tua," ucap dokter, dengan senyumnya yang ikut berbahagia dengan pasangan di depannya.


Obat dan vitamin dokter berikan untuk Kaysa, juga suplemen untuk kesehatan kondisi dia dan janinnya. Juga beberapa nasehat untuk Rama yang belum berpengalaman soal menghadapi perempuan hamil dan segala gejalanya. Termasuk beberapa hal yang biasanya terjadi di awal kehamilan.


"Baik, terimakasih Dokter." Kemudian keduanya pun pamit.


***


Rama terdiam selama dalam perjalanan, dan dia tampak melamun. Sepertinya ada hal serius yang dia pikirkan.


"Ram?" Kaysa menyentuh tangannya ketika mereka sudah kembali ke rumah dan pria itu duduk di sofa ruang tengah.


"Ya?" Pria itu menjawab sambil menoleh.


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa."


"Kamu sepertinya melamun? sejak dari rumah sakit tida berbicara sama-sekali?"


"Benarkah?"


"Hmm ... padahal tadi pagi kamu sangat bahagia waktu pertama kali tahu aku hamil?" Kaysa mengingatkan.


Rama menghela napas pelan. Dia lupa keadaan istrinya saat ini yang tengah berbadan dua, dan itulah yang menyebabkan segala hal berubah-ubah pada dirinya. Terutama perasaan dan suasana hatinya.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Aku hanya sedang berpikir." Rama kemudian menjawab.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Soal pertemuan semalam dengan Adam. Juga teman-teman yang lain."


~ Flashback On ~


"Ada indikasi hukuman bagi mereka akan diperingan oleh jaksa." Adam seperti biasa, menyerahkan sekumpulan data yang di dapatnya dari laporan anak buahnya.


"Kenapa? apa kasusnya sudah P21?" Rama menerima data-data tersebut kemudian membacanya.


"Belum, masih proses."


"Lalu kenapa?"


"Bantuan keluarga, apa lagi?" jawab Junno yang tiba bersama Garin dan empat rekan lainnya.


"Mereka bisa membayar uang jaminan yang sangat besar agar Frans dan Alan tidak di tahan, juga jelas mampu membayar pengacara handal kelas internasional untuk menjadi pembela," lanjut Adam.


"Lalu Fandi?"


"Uang sangat berpengaruh bukan? tidak peduli seberapa kejam kejahatan mereka, dan dampak apa yang di timbulkan dari perbuatan anak-anaknya?" Rama menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Kau sudah mengerti Ram."


Jelas dia merasa kecewa dengan apa yang di dengarnya. Bahkan ketika bukti percakapan dan pengakuannya sebagai saksi yang mendengar langsung dari mulut kedua tersangka tampaknya tidak terlalu berarti.


"Aku salah, seharusnya merekam semua yang mereka katakan. Sehingga ini bisa menambah bukti."


"Aku sedang mencarinya, tapi belum menemukannya di server." Junno menyela. "Ini rumit, karena cctv tampaknya tidak di pasang di ruangan Fandi yang sekarang. Jadi aku sedang mencari celah yang lain."


"Kalaupun ada, apa itu bisa di jadikan bukti? cctvnya bahkan tidak bisa menangkap suara percakapan." Rama tampak putus asa.


"Kau tidak tahu kita memiliki ahli pembaca gerakan mulut ya?" ucap Junno lagi, dan dia sedikit menyeringai.


"Hah? apa?" Rama dan Adam bersamaan.


"Ahli pembaca gerakan mulut." Junno menggendikkan kepala ke arah Garin.


"Kau?" Adan memunjuk rekannya yang satu itu.


"Jangan mengejek!" Garin menjawab.


"Serius? hahaha!" Adam tertawa terbahak-bahak.


"Kau punya bakat juga heh?" Rama pun menambahi.


"Jangan banyak bicara, bawa saja rekamannya, dan akan aku terjemahkan untuk kalian." Garin dengan entengnya.


"Sombong sekali kau ini ya?" ucap Adam.


"Kau tak tahu ya? dia kan polisi paling sombong se Jakarta." sambung Rama.


"Oh ya?" kemudian mereka tertawa.


"Jadi bagaimana selanjutnya? apa tindakan kita setelah ini? Adam kembali serius dengan pembicaraan mereka.


"Kau masih bisa memerintahkan anak buahmu untuk melakukan penyelidikan?" Rama merapikan file data yang di berikan Adam kepadanya.


"Mereka selalu siaga."


"Baiklah kalau begitu, aku hanya akan meminta bantuanmu dalam hal itu."


"Jangan khawatir Ram, kau akan mendapatkan dukungan penuh dariku, juga rekan yang lain." Dia melirik ke enam rekannya yang hadir malam itu, yang mengangguk-angguk tanda mengiyakan ucapannya.


"Terimakasih, aku tidak akan melupakannya." Rama pun melakukan hal yang sama.


"Kami yakin, jika hal yang sama terjadi kepada kami, maka kau pun akan melakukan apa yang kami lakukan, bukan?"


"Tentu saja."


"Dan jawaban itu saja sudah cukup."


"Ya, tapi sepertinya aku harus melakukan sesuatu dulu sebelum mengawal proses hukum terhadap pembunuh adikku."


"Apa itu?"


"Aku akan keluar dari kesatuan. Berhenti, mengundurkan diri, dan melepaskan semua yang berhubungan dengan kepolisian."


"Apa?" Semua rekannya serentak.


"Aku rasa aku harus melakukannya."


"Kenapa harus keluar?"


"Aku rasa tidak ada manfaatnya aku berada di sana. Selain gelar dan pangkat yang mungkin juga hanya kebohongan ini. Kalian sendiri tahu prosesnya seperti apa."


"Tapi Ram?"


"Aku merasa bahwa semua yang aku dapatkan adalah kebohongan, jadi sekarang rasanya tidak terlalu membanggakan lagi memilikinya. Menjadi polisi, aparat penegak hukum yang jadi andalan negara. Rasanya mengecewakan setelah ada di posisi ini."


"Kau jangan putus asa lah, ..." Garin maju untuk menyemangatinya.


"Aku tidak putus asa, hanya saja sudah kehilangan kepercayaan diriku untuk yang satu itu." tukas Rama, tegas seperti biasanya.


"Kalau kau berhenti, lalu bagaimana dengan kami?" Latief, yang selama ini tak pernah buka suara selain menerima perintah seperti tiga temannya yang lain pun maju.


"Kalian teruskanlah, ini tidak ada hubungannya dengan pasukan hantu. Hanya saja aku punya urusan pribadi dengan hukum yang terkadang tidak adil kepada kami yang tidak memiliki kekuasaan, dan sepertinya aku harus menjadi warga sipil untuk mengurusnya. Karena jika aku masih sebagai anggota, maka akan ada banyak aturan yang melarangku menentang mereka, dan itu tidaklah bagus,"


"Kau serius?"


"Aku tidak pernah bercanda untuk urusan seperti ini, dan adikku harus mendapatkan keadilan." jawab Rama menegaskan segalanya.


~ Flashback Off ~


Pasangan ini sama-sama terdiam.


"Aku sudah membuat surat pengunduran diri, dan mempersiapkan segalanya. Tapi mungkin harus aku urungkan." Rama mendongak kepada Kaysa.


"Kenapa?"


"Kita akan punya anak, belum lagi Aslan yang sudah di pastikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Meskipun Radit akan bertanggung jawab untuknya, tetap saja kita harus jadi yang terdepan untuk merawatnya."


Kaysa mengerutkan dahi.


"Aku akan membatalkan pengunduran diriku dari kesatuan," lanjut Rama, namun Kaysa menyentuh lengannya.


"Tidak usah," katanya.


"Kalau kamu mau mengundurkan diri untuk alasan itu, maka mundurlah. Jangan khawatirkan kami."


"Tapi Kay?"


Perempuan itu menggelengkan kepala.


"Idealismemu ternoda oleh perbuatan kotor mereka, dan itu tidak bisa di toleransi. Kepercayaannmu telah di rusak, tapi mereka dengan seenaknya memperjuangkan kebebasan? aku rasa itu tidak bisa di maafkan. Jadi, ... lakukan sajalah."


"Tapi kan ...


"Hey, uang kita masih ada. Aku rasa itu cukup untuk biaya melahirkanku nanti. Sedangkan urusan Aslan aku rasa kita tidak perlu khawatir, ada papanya, bukan? dan untuk kita, bukankah ada tawaran kerja untukku? dan hasilnya aku rasa cukup, sementara kamu mengurus proses hukum dan mencari solusi lain soal pekerjaan. Kamu ini anggota pasukan hantu, masa sih tidak ada jasamu yang di lihat oleh pihak pasukan khusus? aku rasa negara juga berhutang budi padamu."


"Bukan hanya masalah itu ...


"Dan lagi, sekarang sepertinya aku mengerti soal rizki itu Tuhan yang atur. Kenapa? Karena Dia tahu akan terjadi hal seperti ini, maka aku mendapatkan tawaran kerja yang bagus. Dan Tuhan pun memang tahu akan ada masanya kamu melepaskan ini semua untuk memperjuangkan apa yang kamu yakini. Jadi, ... biar sajalah seperti itu." Kaysa berbicara panjang lebar.


"Kamu yakin?"


"Yakinlah, asalkan kita bersama semua akan baik-baik saja. Jangan khwatir." Perempuan itu mengulurkan tangannya untuk merangkul bahu Rama.


"Hidupmu mungkin akan berat setelah ini." Rama dengan raut sendu.


"Kamu lupa ya, kalau sebelum ini pun hidupku sudah berat? aku hampir kehilangan anak dan suamiku karena berurusan dengan gembong narkoba, internasional lagi? jadi hal buruk apa yang mungkin akan terjadi nanti?"


Rama terdiam menatap wajah perempuan yang baru di nikahinya dalam hitungan bulan ini.


"Kenapa sih kita malah sedih? kita akan punya anak, dan untukku itu adalah sebuah kebahagiaan. Apa kamu tidak?" Kaysa mengalihkan topik pembicaraan.


"Kamu ngaco, mana mungkin aku tidak bahagia? ini adalah hal terbaik dalam hidupku. Setelah mengalami banyak kehilangan yang hampir membuatku gila, maka bertemu denganmu dan Aslan adalah hal paling membahagiakan. Kalian membuatku sempurna." Rama menyentuh perut Kaysa dan mengusap-usapnya dengan lembut.


"Kamu membuat Papa sempurna, sayang." Kemudian dia menunduk untuk mencium perut perempuan itu dengan penuh kasih sayang. Yang di dalamnya kini tengah tumbuh buah cinta mereka.


"Maka jalanilah yang sedang terjadi, dan lakukanlah apa yang menurutmu perlu di lakukan. Karena aku hanya akan mendukungmu." Kaysa mememeluk punggungnya, sehingga kini mereka saling berangkulan dengan perasaan bahagia yang begitu meluap-luap. Seketika Rama merasa tenang, dan kekhawatirannya menguap begitu saja.


*


*


*


Bersambung ...


Uuhhh, so sweet Mama dan Papa 😂😂


udah waktunya vote lho gaes, kita lihat bulan ini bisa masuk ranking nggak? 😉😉